Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-69 Aku minta maaf,Cristian



Angin berhembus agak kencang, ombak masih bergulung gulung berlarian ke pesisir dan sebagian menerjang batu karang.


Seorang pria bertubuh tinggi berjalan menuju pantai, langkahnya semakin pelan saat mendekati seorang wanita yang duduk di bongkahan pohon kelapa yang tumbang.


Pria itu kemudian duduk disamping wanita itu.


“Kau menungguku sudah lama?” tanya pria itu.


Wanita itu menoleh ke arahnya, menatap pria itu sebentar kemudian mengalihkan pandangannya lagi menatap ombak yang semakin meninggi.


“Tidak, Cristian,” jawab wanita itu yang tidak lain Hanna.


Cristian tidak bicara apa-apa lagi, diapun memandang kearah yang sama.


“Kenapa kau tiba-tiba menelponku dan mengajak bertemu denganku?” tanya Cristian, tanpa menoleh.


Hanna diam. Setelah dia mendapat ijin dari Damian untuk bicara dengan Cristian, Hanna memberanikan diri menelpon Cristian dan mengajaknya untuk bertemu. Sebenarnya dia masih ragu, dan tidak tega untuk menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi, apa yang menyebabkannya pergi meninggalkan Cristian, dia takut apa yang akan dikatakannya menyakiti pria itu. Bukan dia tega membiarkan Cristian bertanya-tanya, tapi dia merasa bingung harus mengatakan apa supaya Cristian juga tidak merasa sakit hati ketika mendengarnya.


“Suamimu tahu kau menemuiku?” tanya Cristian.


“Tahu,” jawab Hanna, Cristian juga semua orang tidak tahu kalau sebenarnya dia dan Damian bukan pasangan suami istri, mereka tidak menikah. Semua terjadi hanya karena kesalahfahaman yang berbuntut panjang. Dan Hanna tidak ingin Cristian tahu soal kebohongan itu, biarlah itu akan menjadi rahasianya berdua dengan Damian.


“Sebelumnya aku minta maaf Cristian, aku sudah lari dihari pernikahan kita, aku minta maaf,” ucap Hanna, menatap pria disampingnya itu lekat-lekat, kenapa setiap melihat Cristian dari arah samping sekilas dia merasa melihat Damian? Mungkin karena dia menyukai Damian, jadi sering melihat pria itu seperti mirip Damian. Tapi ko melihat Pak Indra tidak mirip Damian ya? Apalagi duduk berdekatan seperti ini, rasanya seperti ada sosok Damian disampingnya.


Kini Cristian menoleh kearahnya, menatapnya. Mendapat tatapan dari Cristian, membuat hati Hanna kembali ciut, dia merasa dihakimi, diapun mengalihkan pandangannya menatap kearah ombak yang bergulung-gulung itu.


“Ada apa? Sebenarnya apa yang telah terjadi? Aku menunggu jawaban darimu,” tanya Cristian.


Hanna menoleh pada Cristian dan menatapnya.


“Aku benar-benar minta maaf. Ternyata aku salah mengartikan perasaanku padamu, aku tidak benar-benar mencintaimu, aku minta maaf,”kata Hanna.


Cristian sangat terkejut mendengarnya,tatapannya sangat menusuk hati Hanna. Hati Hanna semakin diliputi perasaan bersalah.


“Aku..aku…” Hanna tidak bisa berkata-kata lagi.


“Kenapa kau tidak mengatakan itu dihari-hari sebelumnya? Kenapa kau menerima lamaran ku jika ternyata kau memang tidak mencintaiku,” tanya Cristian.


Hanna menundukkan kepalanya, dia bingung harus bicara apa lagi pada Cristian.


“Karena aku menyadarinya di malam sebelum pernikahan kita. Aku sadar ternyata aku menyayangimu selayaknya seorang adik kepada kakaknya, bukan cinta seorang wanita pada seorang pria,” ucap Hanna, terbata-bata dia takut ucapannya menyakiti Cristian.


“Tidak ada kejadian yang lain? Yang kau sembunyikan padaku?” tanya Cristian.


“Tidak,” jawab Hanna, menggeleng.


“Kau berbohong lagi. Katakan sejujurnya, ada apa?” tanya Cristian. Hanna menatap Cristian.


“Aku, aku tidak berbohong,” ucap Hanna.


“Ada hal lain yang kau sembunyikan. Aku sangat mengenalmu, jujurlah padaku,” kata Cristian.


Hanna terdiam lagi, mendapat perkataan seperti itu membuatnya kalah di depan Cristian, ya dia selalu kalah di depan Cristian, karena di depan Cristian dirinya hanya seorang anak kecil yang lemah yang akan selalu dia lindungi.


“Baiklah, sebenarnya malam itu Sherli menemuiku,” kata Hanna.


“Sherli?” Ada apa Sherli menemuimu?” tanya Cristian.


“Dia mengungkapkan isi hatinya, dia menangis, dia kecewa aku akan menikah denganmu. Ternyata selama ini dia mencintaimu,” jawab Hanna.


“Apa?” Cristian tampak terkejut.


“Ya, Sherli mencintaimu Cristian, selama ini dia memendam perasaannya padamu, aku juga baru tahu malam itu,” ucap Hanna.


“Terus, kau jadi kasihan padanya, dan kau meninggalkanku begitu?” tuduh Cristian, menatap tajam Hanna.


“Tidak bukan begitu, aku…” Hanna belum melanjutkan bicaranya, Cristian langsung memotong.


“Kau keterlaluan Hanna, aku sangat mencintaimu, aku tulus mencintaimu, kau tega meninggalkanku dihari pernikahan kita hanya karena Sherli mencintaiku? Apa kau tidak berfikir kalau aku tidak mencintai Sherli, menikah denganmu atau tidak, aku tidak mencintainya,” kata Cristian. Dia bangun dari duduknya berjalan beberapa langkah menjauh dari tempat duduk Hanna.


“Tidak, bukan begitu Cristian,” ucap Hanna, jadi merasa serba salah.


Cristian membalikkan badannya menatap Hanna.


“Jadi apa?” tanya Cristian.


“Malam itu setelah bertemu Sherli, barulah aku menyadari kalau aku tidak pernah sedalam itu mencintaimu, ternyata aku menyayangimu karena kau selalu ada disisiku, aku menyayangimu seperti adik pada kakaknya. Kau kan tahu aku anak tunggal, aku senang kau selalu melindungiku, seperti itu,” jawab Hanna, menatap Cristian, berharap Cristian mengerti perasaannya.


Cristian berjalan beberapa langkah mendekati Hanna.


“Apa kau mencintai Damian?” tanya Cristian. Ditanya begitu membuat Hanna terkejut, dia pun merasa gugup.


“I iya,” jawab Hanna.


“Kau mencintainya seperti apa? Seorang wanita pada seorang pria?” tanya Cristian. Hanna mengangguk, kini dia tidak berani menatap matanya Cristian.


“Tahukah Hanna, aku sangat mencintaimu, aku benar-benar mencintaimu,” ucap Cristian. Hanna terdiam dan menunduk.


“Tapi semua itu percuma dibicarakan sekarang bukan? Karena kau sudah menikah dengan Damian, kau juga sedang hamil,” ucap Cristian.


Hanna terdiam, dalam hatinya dia menjawab kalau dia belum menikah dengan Damian dan dia tidak hamil oleh Damian. Tapi dia tidak akan mengatakan itu pada Cristian, tidak akan.


“Kau tidak ingin bertemu orangtuamu?” tanya Cristian, membuat Hanna terkejut.


“Ti tidak, aku belum siap bertemu ayah,” jawab Hanna. Cristian diam.


“Maukah kau berjanji padaku untuk tidak mengatakannya pada orangtuaku kalau aku ada disini?” tanya Hanna.


Cristian tidak menjawab, dia kembali menatap kearah ombak yang terlihat semakin pasang.


“Itu urusanmu dengan orangtuamu, aku tidak akan ikut campur,” ucap Cristian.


Hanna terdiam, kenapa dari kata-kata Cristian itu seakan Cristian menjadi tidak peduli padanya? Terlihat jelas kalau Cristian sangat kecewa padanya.


Hanna turun dari temat duduknya itu, berjalan mendekati Cristian, menatap pria itu.


“Cristian, bisakah aku minta tolong padamu?” tanya Hanna.


Cristian tidak menjawab.


“Kau tahu alasanku kenapa aku tidak mau mengakui kalau aku Hanna? Aku juga tidak berterus terang pada Damian siapa dirimu sebenarnya?” tanya Hanna. Cristian masih tidak menjawab.


“Karena aku tidak mau urusan pekerjaan kalian terganggu olehku. Aku takut masalah ini membuat kerjasama kalian jadi berantakan. Damian seorang pekerja keras, aku tidak mau mengganggu pekerjaannya,” ucap Hanna.


Cristian menatap Hanna.


“Jadi itu alasannya kau kucing-kucingan denganku? Demi suamimu itu?” tanya Cristian.


“Aku minta maaf,” ucap Hanna sambil mengangguk.


“Kau sangat mencintai suamimu?” tanya Cristian.


Hanna mengangguk lagi. Cristian tidak bicara lagi, dia kembali melihat kearah ombak, begitu juga Hanna. Mereka saling diam.


“Kurasa pembicaraan kalian sudah cukup,” tiba-tiba ada suara dibelakang mereka yang membuat Hanna dan Cristian menoleh. Mereka sangat terkejut saat melihat orang yang berdiri disana, Damian.


Hanna lebih lebih sangat terkejut, dia tidak menyangka kalau Damian akan menyusulnya seperti ini. Bukankah Damian mengijinkan dirinya bicara dengan Cristian? Kenapa sekarang menyusulnya?


Cristian tidak menjawab, apalagi Hanna.


Damian menatap Cristian.


“Apa kau sudah mendapatkan jawaban dari istriku?” tanya Damian dengan pedenya menyebut Hanna istri.


Cristian menatap Damian, berjalan selangkah lebih dekat.


“Aku sangat mencintai Hanna,” ucap Cristian. Damian terdiam.


Hanna langsung pucat melihat mereka saling berhadapan seperti itu. Dia merasa khawatir akan ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi.


“Damian aku sudah selesai bicara dengan Cristian, ayo kita pulang,” ajak Hanna, dia takut Damian dan Cristian berkelahi.


Damian akan bicara lagi, tapi Hanna menarik tangannya dengan keras, supaya meninggalkan Cristian. Mau tidak mau Damian mengikutinya.


“Ayo kita pulang saja,” ajak Hanna, berjalan terus sambil memegang tangan Damian jangan sampai lepas dan balik lagi menemui Cristian. Lagian kenapa Damian menyusulnya segala? Katanya dia memberi waktu untuk bicara dengan Cristian ko malah menyusulnya? Membuatnya jadi khawatir saja.


Damian tidak bicara apa-apa lagi, dia terpaksa mengikuti langkah Hanna meninggalkan pantai.


 Sesampainya di rumah, Damian tidak bicara apa-apa, dia mengambil minum lalu akan keluar lagi.


“Kau mau kemana?” tanya Hanna pada Damian, dia takut Damian menemui Cristian.


“Ke kantor,” jawab Damian.


“Aku ikut,” ucap Hanna.


“Ikut?” tanya Damian, menatap Hanna.


“Iya ikut,” jawab Hanna. Dia masih khawatir Damian akan berkelahi dengan Cristian.


“Aku mau bekerja,” kata Damian.


“Iya aku tahu, aku ikut,” ucap Hanna.


“Kau akan jenuh,” kata Damian sambil melangkah keluar.


“Tidak apa-apa, aku akan menemanimu,” jawab Hanna sambil menutup pintu rumah dan mengikuti Damian yang menuruni tangga. Sepertinya beberapa hari ini dia harus terus bersama Damian kemana pun pergi termasuk jika ada janji dengan Cristian untuk mengerjakan sesuatu, dia harus benar-benar ada disamping Damian.


Damian tidak bicara apa-apa lagi. Hanna mengikuti Damian ke kantornya yang ada di lantai bawah tempat tinggal mereka itu.


 Damian masuk keruang kerjanya, diikuti Hanna. Dilihatnya seorang arsitex sedang menggambar denah rumah rumah.


Hanna ikut berdiri disamping Damian, pria itu meliriknya.


“Apakah ada rumah yang bisa melihat ke arah pantai?” tanyanya.


“Kenapa? Kau ingin memiliki rumah itu?” tanya Damian.


“Tidak, hanya bertanya saja,” jawab Hanna.


Damian bertanya sesuatu pada arsitex itu.


 Hanna melihat ke sekelling ruangan yang dijadikan kantornya Damian itu. Meskipun ruangan itu tidak terlalu luas, tapi sudah cukup dikatakan sebagai sebuah kantor.


Hanna duduk dikursi, dia tidak tahu dia harus melakukan apa dikantor ini?


“Sebaiknya kau pulang saja,” kata Damian pada Hanna.


“Ah tidak, aku akan menemanimu bekerja,” jawab Hanna,


Damian tidak berkata apa-apa lagi. Dia kembali sibuk dengan arsitexnya.


Karena menunggu Damian lama bekerja, kantukpun menyerang Hanna.


Dia sudah mulai terkantuk-kantuk duduk di kursi itu. Ditahan-tahannya kantuk itu jangan sampai dia ketiduran, tapi ternyata dia tidak bisa menahannya, diapun teridur di kursi itu.


*************


Hanna membukakan matanya, dia melihat ke sekeliling, dia keheranan, karena dia ingatnya dia tidur di kantornya Damian, kenapa sekarang ada di kamarnya lagi?


Pria itu juga tidak ada di ruangan ini. Hannapun turun dari tempat tidur, dia merasa khawatir saja kalau Damian bertemu dengan Cristian. Diapun membukakan pintu kamarnya, dilihatnya Satria sedang menonton televisi.


Adik iparnya itu meliriknya dengan sudut matanya, ditangannya ada popcorn. Dia monoton televisi sambil makan popcorn, seperti sedang menonton bioskop saja, fikir Hanna.


“Kemana kakakmu?” tanya Hanna pada Satria, sambil berjalan mendekat.


“Aku tidak tahu, tadi dia bicara di telepon lalu keluar,” jawab Satria. Hanna menoleh kearah jendela ternyata sudah gelap.


“Kemana?” tanya Hanna lagi, sambil duduk di dekat Satria.


“Aku tidak tahu,” jawab Satria, masih terus mengunyah popcornnya, sepertinya enak sekali makan makanan itu.


Tangan Hanna mengulur mendekati popcorn yang dipegang Satria itu, dia ingin mencicipinya, tapi Satria malah menjauhkan popcorn itu.


“Ih kau pelit banget,” gerutu Hanna denagn kesal. Tapi Satria cuek saja, dia semakin lahap memakan popcornnya, semakin Hanna ingin mencobanya.


Tangannya kembali mengulur akan mengambil popcorn itu, lagi-lagi Satria menejauhkan popcorn itu dari tangan Hanna.


“Aku mau,” kata Hanna.


“Tidak boleh,” ucap Satria.


“Iih,” umpat Hanna. Dia terus memutar otaknya, bagaimana cara supaya dia bisa mendapatkan popcorn itu. Tiba-tiba dia punya ide.


“Kau benar-benar tidak kasihan pada keponakanmu ya,” ucap Hanna. Satria meruncingkan telinganya, apa maksud Hanna bilang begitu?


“Yang mau popcorn itu bukan aku, tapi bayi diperutku ini, apa kau tidak tahu? Kalau keinginan ibu hamil tidak terpenuhi, bayinya akan terus mengeluarkan air liur, kau tidak kasihan keponakanmu seperti itu?” kata Hanna, mulai bersandiwara.


Satria terdiam, Hanna tersenyum dalam hati, pasti Satria akan terpancing, dan sebentar lagi akan memberikan popcorn itu padanya. Ternyata tidak. Satria masih saja terus mengunyah popcorn itu. Ya ampun punya adik ipar pelit banget, batin Hanna.


Tangannya mengulur lagi pada popcorn itu dan lagi-lagi Satria menjauhkannya. Karena kesal, Hanna akhirnya merebut popcorn itu dari tangan Satria, tentu saja Satria tidak mau menyerah, dia menarik lagi popcorn itu dari tangan Hanna, kini merka malah tarik tarikan popccron itu dan Byuarrr! Popcorn itu tumpah berserakan ke mana-mana.


“Waduh,” ucap Hanna menatap popcorn itu. Bukan saja Hanna dan Satria yang menatap popcorn itu tapi juga sosok yang berdiri tidak jauh dari mereka, Damian.


Hanna menatap Damian yang menatap mereka berdua.


“Apa yang kalian lakukan?” tanyanya melihat popcorn berserakan di lantai.


“Aku hanya ingin popcorn,” jawab Hanna.


“Kau membuat popcornku berantakan,” umpat Satria. Dia mengambil tempat popcorn yang terjatuh.


Damian tidak bicara apa-apa, wajahnya terlihat memerah, pria itu langsung masuk ke kamar.  Hanna diam, apakah Damian marah padanya karena melihat dia rebutan popcorn dengan Satria?  Masa hanya karena itu dia marah?


Satria menoleh pada Hanna.


“Tuh, tanggung saja akibatnya sendiri,” ucap Satria, mencibir, dia kembali memakan popcorn yang tersisa didalam tempatnya itu.


Tangan Hanna akan mengulur lagi pada popcorn itu lagi-lagi Satria menjauhkannya.


“Huh, pelit,” gerutu Hanna, sambil beranjak, tapi Satria masa bodoh.


Hanna masuk ka dalam kamarnya, dilihatnya Damian melepas sepatunya.


“Kau sudah makan? Aku ketiduran ya tadi siang di kantormu,” ucap Hanna.


“Hem,” jawab Damian cuma ber hem saja.


“Kau menggendongku lagi?” tanya Hanna.


“Hem,” jawab Damian masih ber hem.


“Pasti malu ya aku tidur di kantror,” ucap Hanna.


Damian menatapnya.


“Tentu saja, semua karyawan melihatnya kau tidur mendengkur, sangat memalukan,” gerutu Damian.


“Masa sih?” Hanna tidak percaya.


Damian tidak bicara lagi, dia masuk ke kamar mandi. Kenapa Damian ketus sekali? Mata Hannapun tertuju pada meja yang ada di dekat sofa tempat menonton televisi. Dia terkejut saat melihat ada kotak popcorn disana. Siapa yang membeli popcorn? Damian? Pantasan Satria tidak mau berbagi popcornnya, ternyata dia juga dapat bagian. Apa nanti kata Damian, di kamar ada popcorn malah rebutan dengan Satria?


*****************


santai dulu ya. Jangan lupa like dan vote