
Shezie menatap kepergian Henry dari rumahnya. Berat rasanya berpisah dengan suaminya meskipun hanya sebentar, padahal mereka masih dalam satu kota, tapi tinggal berbeda rumah itu rasanya begitu jauh.
Tidak ada pilihan lain, dia memang harus bisa membujuk ibunya untuk mau berobat. Saat melewati kamar ibunya, tidak terdengar apa-apa , sepertinya ibunya sedang tidur. Diapun masuk ke kamarnya. Seharusnya dia mengurus cafenya tapi melihat kondisi seperti ini dia tidak bisa focus bekerja, dia hanya mempercayakan cafenya pada managernya.
Di dalam kamarnya, Shezie membuka lemari pakaiannya yang tidak pernah dikunci, diambilnya gulungan kain batik panjang itu, lalu disimpan diatas tempat tidur dan membukanya, ada gaun pengantin disana dan juga kotak yang berisikan cincin pernikahan. Shezie melihat cincin dijari tangannya, dia menyentuh cincin yang baru diberikan Henry tadi malam. Diapun tersenyum, lalu diciumnya cincin itu. Dia merasa sangat bahagia sudah menemukan belahan jiwanya. Dia berharap akan selalu bersama Henry selamanya.
Shezie terdiam sesaat, menatap jendela yang terbuka. Kalau mengingat ibunya, kenapa ibunya begitu keras hati tidak mau menerima Henry, padahal Henry sudah berusaha sebaik mungkin berhubungan dengan ibunya. Dia juga berencana meminta orang tuanya untuk menemui ibunya. Apa yang kurang dari Henry? Tidak ada.
Selain tampan, Henry juga sangat kaya, dia juga sangat pengertian.
Ibunya Shezi duduk dipinggir jendela, sekarang dia tidak bisa melihat, cahaya hidupnya telah mati. Dia juga tidak bisa melihat putrinya menggunakan gaun pengantin karena putrinya sudah menikah diam-diam tanpa restunya. Padahal itu adalah hari yang sangat ditunggu-tunggunya. Dia malah menikah dengan pria itu, pria kaya yang suka bersikap seenaknya, pria kaya yang suka memandang rendah orang lain pria kaya yang tega menyakiti orang lain. Perlahan airmata menetes dipipinya Bu Vina.
Sekarang keluarga Martin tidak terima dengan kondisi ini, dan merasa dirugikan, tapi Shezie sudah memilih menjalani pernikahannya dengan Henry. Kepalanya terasa semakin pusing saja karena berfikir terlalu keras, rasa pusing itu tidak tertahankan.
Bu Vina menggapai-gapaikan tangannya mencoba untuk berpindah ke tempat tidur. Satu langkah, dia memegang apa saja yang disentuh tangannya. Dua langah, kepalanya semakin terasa berat, tiga langkah sakit dikepalanya tidak tertahankan, dan brugh! Tubuhnya terjatuh ke lantai.
Bi Ijah selesai menyiapkan makan siang untuk majikannya di ruang makan. Lalu pergi ke kamarnya Bu Vina mengetuk pintunya beberapa kali.
“Bu! Waktunya makan siang,” kata Bi Ijah.
Diketuknya lagi pintu itu.
“Bu!” panggil Bi Ijah lagi, tidak ada jawaban dari dalam.
Shezie yang baru terbangun dari tidur siangnya, mendengar Bi Ijah mengetuk-ngetuk pintu kamar ibunya, diapun keluar.
“Ada apa Bi?” tanya Shezie, melongokkan kepalanya keluar pintu kamarnya.
“Ibu Non, saatnya makan siang, diketuk-ketuk tidak menjawab,” jawab Bi Ijah.
“Mungkin masih tidur,” kata Shezie.
Bi Ijah mengetuk lagi pintu itu.
“Coba dibuka saja Bi, mungkin pintunya tidak dikunci,” kata Shezie.
Bi Ijah mendorong pintu kamar itu.
“Dikunci non,” ujar Bi Ijah.
“Coba lihat dijendela Bi, mungkin jendala dibuka,” kata Shezie.
Bi Ijahpun pergi ke belakang rumah, berjalan memutari rumah itu dan menuju jendela kamarnya Bu Vina. Saat melongokkan kepalanya ke jendela itu, Bi Ijah terkejut karena melihat Bu Vina terbaring di lantai.
“Bu! Bu! Bu Vina!” teriak Bi Ijah.
Shezie terkejut mendengar Bi ijah berteriak-teriak. Diapun berlari kaluar rumah memutar dan sampai dijendela kamarnya Bu Vina. Saat melihat ibunya ada di lantai dia juga menjerit histeris.
“Bu! Bu!” teriaknya.
Diapun dengan Bi Ijah kembali masuk ke rumah, mendobrak-dobrak pintu. Karena tenaga perempuan pintu itu tidak kebuka-buka juga.
“Bagaimana ini Bi?” tanya Shezie.
“Kita coba lagi Non, Bibi cari alat di dapur,” jawab Bi Ijah, sambil berlari ke dapur, mencari apa saja yang bisa membantu untuk mendobrak pintu itu.
Tidak berapa lama Bi Ijah membawa golok yang entah bekas apa. Merekapun mencongkel kunci pintu kamar itu dengan golok sambil di dorong dorong sebisanya. Setelah cukup lama dan banyak mengeluarkan tenaga, akhirnya pintu itu berhasill di jebol.
Shezie langsung berlari memburu ibunya yang tergeletak di lantai.
“Bu!” panggil Shezie, sambil memeluk dan mencium ibunya, disertai airmata yang terus saja menetes dipipinya.
Bu Vina membuka matanya dengan lemah tapi tidak ada yang bisa dilihatnya karena pandangannya gelap.
“Bu kita ke Dokter ya, sekarang,” kata Shezie.
Ibunya menggeleng.
“Bi!” malah Bi Ijah yang di panggilnya.
“Iya Bu, ayo kita pindah ke tempat tidur,” kata Bi Ijah lalu mencoba mengakat tubuhnya Bu Vina berbaring ke tempat tidur dibantu Shezie.
Airmata Sezie langsung tumpah saja melihat kondisi ibunya seperti itu.
“Bu, kita ke rumah sakit,” ajak Shezie dengan suara tersekat.
“Bu, kita kerumah sakit,” kata Bi Ijah. Bu Vina menggelengkan kepalanya.
Shezie menangis sesenggukan, melihat kondisi ibunya yang semakin melemah. Dia berkorban bekerja apa saja tidak memikirkan dicemooh orang hanya satu keinginannya, ingin membuat ibunya sembuh, ingin mebawa ibunya berobat ke luar negeri meskipun biayanya mahal dia mencoba untuk mengumpulkan uangnya.
Dari hasil bekerja di café tidak menghasilkan apa-apa hanya cukup buat makan saja, Shezie pun berhenti kuliah dan mencari sampingan pekerjaan yang tidak umum bagi orang, menjual jasa pemutus cinta.
Kemudian bertemu Henry, menerima tawarannya menjadi istri bayarannya dengan imbalan 1 M. Uang yang diperkirakan cukup untuk membawa ibunya ke luar negeri, tapi ternyata belum batas waktunya tiba, ibunya terlanjur mengetahuinya dan tidak merestui pernikahannya dengan Henry.
Sheziepun menangis lagi, dia terlanjur mencintai Henry, dia tidak menyukai Martin, tapi ibunya begitu mempercayai Martin karena selama ini hanya dia pria yang mau membantu dan menerima kondisi ibunya.
“Non, bagaimana ini? Ibu sangat lemah, bibi takut kenapa-napa,” ucap Bi Ijah.
Shezie mendekati ibunya dan mencium pipi ibunya.
“Bu, tolong jangan seperti ini, kita ke rumah sakit sekarang ya, aku ingin ibu sembuh, hanya ibu satu-satunya keluargaku, “ kata Shezie. Tapi ibunya sama sekali tidak menanggapinya.
Shezie menatap lagi ibunya, begitu sakitkah perasaan ibunya karena perilakunya? Sampai ibunya memilih tersiksa dengan penyakitnya daripada berobat ke rumah sakit bersamanya.
“Bu,” panggil Shezie, sambil menghapus airmatanya.
Dia sangat bingung bagaimana membujuk ibunya? Kalau sampai ibunya tidak tertolong dan meninggal, dia akan menyesal seumur hidupnya karena tidak bisa membuat ibunya bahagia.
Apa yang harus dilakukannya sekarang? Siapa yang bisa membujuk ibunya? Shezie pun terus berfikir.
Siapa lagi kalau bukan Martin? Martin? Kemarin pria itu menertawakannya dia akan membutuhkannya, apa ini yang dimaksud Martin? Apa benar begitu? Apa sekarang dia membutuhkan pria brengsek itu?
Dengan tangan yang gemetar, Shezie mendial nomornya Martin.
Derrrtt..Derrt… ponsel Martin yang tergeletak diatas meja kerjanya bergetar dengan dering yang tadi terlalu nyaring.
Martin yang sedang duduk malas dikursi kerjanya menyandarkan punggungnya, melihat ponselnya menyala. Dengan malas diambilnya ponsel itu. Dia terkejut saat melihat nomor yang muncul nomor Shezie, diapun tersenyum.
Mau apa gadis itu menelponnya?
“Halo!” sapa Martin dengan ketus.
“Ma Martin!” panggil Shezie.
“Apa? Kau mengganggu pekerjaanku!” hardik Martin.
“Tolong aku!” ucap Shezie.
“Apa? Tolong? Hahhaa…” Martin tertawa.
“Iya aku minta tolong!” kata Shezie dengan suara yang tersekat.
“Minta tolong apa?” tanya Martin dengan hati yang bahagia, senang sekali mendengar gadis yang angkuh itu meminta pertolongannya.
“Aku minta tolong bujuklah ibuku supaya mau dibawa berobat, aku tidak mau kehilangan ibuku,” ucap Shezie disela isaknya.
Martin terdiam, dia tersenyum senang, akhirnya, penantiannya tidak sia-sia. Dia yakin setelah ini, dia akan dengan mudah menikahi Shezie. Dia akan pamer pada teman-teman kuliahnya yang mencemoohnya bertepuk sebelah tangan karena terus terusan di tolak SHezie.
“Aku fikir kau tidak membutuhkanku lagi,” kata Martin.
“Martin tolonglah, aku serius bujuklah ibuku supaya mau kerumah sakit,” pinta Shezie.
Martin terdiam lagi, dia sangat senang gadis itu tidak berdaya dan memohon mohon padanya.
“Martin tolonglah, aku mohon,” pinta Shezie lagi.
“Tapi ada syaratnya,” ucap Martin.
“Syarat? Syarat apa?” tanya Shezie, dengan hati yang langsung cemas.
“Kau mau tidak? Kalau tidak mau ya sudah, urus saja ibumu sendiri,” kata Martin, sok jual mahal.
Shezie menghela nafas panjang, dia menoleh kearah kamar ibunya, ibunya masih berbaring tidak bergerak, ditunggui Bi Ijah.
“Baiklah,” jawab Shezie dengan berat hati.
“Tapi kali ini aku tidak mau kau ingkar janji, aku sudah bosan kau membuat masalah denganku terus,” kata Martin.
“Baiklah, aku janji,” jawab Shezie, dengan lesu.
“Baiklah, kau tunggu, aku ke rumahmu sekarang,” kata Martin.
“Iya,” ucap Shezie, telponpun ditutup.
Martin tersenyum senang, inilah saatnya inilah saat kemenangannya, dia sudah bosan menunggu dan menunggu, pura-pura baik, bersabar, sangat tersiksa. Diapun bergegas keluar dari kantornya.
Shezie duduk dikursi yang ada di kamar ibuanya itu dengan lesu, melihat ibunya berbaring tidak berdaya, seakan ajal akan segera menjemput. Ibunya sudah tidak mau makan, tidak mau bicara, hatinya serasa tersayat-sayat.
Begitu menyakitkankah apa yang dilakukannya pada ibunya? Begitu tersakitikah hati ibunya akan kelakuannya? Tidakkah ibunya mengerti semua dilakukannya untuk ibunya? Tidak adakah ruang maaf ibunya untuk dirinya?
Shezie menghampiri ibunya, duduk dipinggir tempat tidur.
“Bu, Martin akan dating, dia akan membawa ibu ke rumah sakit, aku tadi sudah menelponnya,” kata Shezie, mencoba membuju ibunya.
Ibunya sedikit bergerak tapi tidak bicara apa-apa, masih terkulai lemas memejamkan matanya. Melihat reaksi ibunya, meskipun sedikit Shezie merasa senang.
“Aku janji aku akan menuruti apapun kemauan ibu, aku tidak akan membantah lagi, asalkan ibu mau menjalani pengobatan lagi, aku mau ibu sembuh, aku sayang ibu,” ucap Shezie, arimata kembali menetas dipipinya.
“Aku tidak pernah berniat menyakiti ibu, aku minta maaf Bu,” ucap Shezie.
Shezie memegang tangan ibunya dengan sedih. Dia juga sedih harus minta tolong pada Martin, kepada siapa lagi dia minta tolong? Semoga saja Martin mau membujuk ibunya berobat. Karena selama ini hanya Martin yang menunjukkan perhatiannya pada ibunya meskipun sebenarnya Shezie tahu itu hanya karena Martin ingin dia menerima cintanya.
*************