Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-27 Make over



Siang ini Henry datang ke café yang sudah ditentukan oleh Shezie. Saat memasuki café ternyata gadis itu sudah ada diantara para pengunjung.


Henry langsung menghampirinya dan duduk disebrangnya Shezie.


“Kau sudah mengambil keputusan?” tanya Henry to the point, sambil menatap Shezie.


“Sudah,” jawab Shezie.


“Jadi?” Henry masih menatap gadis itu.


“Aku setuju,” jawab Shezie, membuat Henry lega.


“Aku tahu kau pasti setuju,” ucap Henry.


“Tahu darimana?”tanya Shezie.


“1 M itu sangat banyak, pasti banyak gadis-gadis yang mau kalau aku tawari uang segitu,” jawab Henry.


“Kau mulai menyebalkan! Aku mau karena aku memang membutuhkan jumlah uang sebesar itu, dan aku belum mampu mengumpulkannya dalam waktu dekat” kata Shezie, sambil memberengut.


“Ya sudah, ayo kita berangkat,” ajak Henry, akan beranjak tapi ditahan Shezie.


“Tunggu dulu, aku ada permintaan,” kata Shezie, membuat Henry kembali duduk.


“Aku sedang sibuk, aku meninggalkan meeting sekarang,” ucap Henry.


“Seperti yang aku katakan kemarin, aku punya kehidupan sendiri, jadi aku harap kau tidak ikut campur urusan pribadiku,” kata Shezie.


“Iya aku tahu, kau juga harus ingat, aku yang membayarmu jadi kau milikku sekarang, kau harus menurut padaku,” kata Henry, sambil kembali bangun dari duduknya dan melihat jam tangannya.


“Apa maksudmu milikmu? Bicaramu semakin menyebalkan saja!” keluh Shezie.


“Aku sedang sibuk, kau menyita waktuku, ayo!” ajak Henry tanpa menunggu Shezie bicara dia sudah meninggalkan tempat itu, terpaksa Shezie mengikutinya sambil memberengut.


“Mentang-mentang kau membayarku, sekarang kau seenaknya padaku,huh!” umpat Shezie, tapi kakinya


terus mengikuti langahnya Henry. Pria itu langsung menuju mobilnya.


“Masuk!” kata Henry sambil masuk ke mobilnya, Shezie mengikutinya, dia fikir Henry akan membukakan pintu untuknya, ternyata tidak.


Setelah Shezie masuk Henry menyalakan mobilnya meninggalkan café itu.


“Kita akan kemana? Ini bukan jalur ke rumahmu,” tanya Shezie.


Henry tidak menjawab, dia melajukan mobilnya sangat cepat, untung  mobil bagus, jadi tidak terasa kalau sebenarnya mengendarainya agak ngebut.


Mobil memasuki sebuah gedung besar. Shezie menatap gedung itu yang ternyata gedung perawatan kecantikan.


“Kita mau apa kesini?” tanya Shezie. Henry tidak menjawab, dia membuka pintu mobilnya.


“Ayo turun!” ajaknya, sambil turun dan menutup pintu.


Shezie bingung dengan sikap Henry yang tidak menjawab pertanyaannya. Tapi tidak ada yang bisa di katakannya selain mengikuti pria itu yang sudah duluan mesuk ke gedung itu.


Shezie melihat isi gedung itu yang sangat luas. Banyak pintu-pintu berderet dengan tulisan berbagai jenis perawatan kecantikan.


Dilihatnya Henry sedang bicara dengan seorang wanita yang terlihat sangat cantik, kulit wajahnya sangat kinclong lengkap dengan riasan wajahnya yang tebal.


 “Sini!” panggil Henry, melambaikan tangannya pada Shezie yang baru masuk. Gadis itu segera menghampiri.


Henry menatap Shezie yang juga menatapnya lalu menoleh pada wanita itu.


“Kau dandani dia,  buat lebih cantik, juga ini nih,” Henry menarik helaian rambutnya Shezie seperti biasa selalu dalam keadaan agak acak-acakan karena angin.


“Kau urus rambutnya supaya lebih rapih, terserah mau kau potong atau apa kau sesuaikan saja,  aku tidak suka dengan rambutnya yang seperti jarang di shampo,” kata Henry lalu melepaskan helaian rambut Shezie yang tadi dipegangnya.


Shezie langsung mendelik pada Henry, apaan dia bilang rambutnya jarang di shampoo. Keterlaluan Henry.


“Dia juga bau keringat, pakaikan parfum yang bagus,” ucap Henry lagi.


Wanita itu mengangguk-angguk sambil menatap wajahnya Shezie.


“Jangan lama, aku buru-buru!” kata Henry.


“Oh iya, ini juga!” Henry meraih tangannya Shezie, menyentuh jari-jarinya.


“Rapihkan kuku-kukunya, tapi yang instan, jangan lama-lama,” ucap Henry lalu melepaskan tangan Shezie.


“Juga kakinya,” kata Henry lagi, sambil menunjuk kakinya Shezia, membuat wanita itu juga Shezie menunduk melihat sepatu ketsnya.


“Kaki?” wanita itu melihat pada kaki Shezie yang tertutup sepatu.


“Aku yakin dibalik sepatunya itu kakinya tidak terawat, kau urus dia dari ujung rambut sampai ujung kaki, tapi harus cepat, aku tidak punya banyak waktu. Cuma satu jam bisa?” kata Henry.


Shezie memberengut lagi, pria itu mengatakan kakinya tidak terawat, sok tahu.


“Mari ikut aku!” kata wanita itu. Shezie segera mengikutinya, dia sempat melihat ke arah Henry, pria itu pergi ke kursi tunggu lalu duduk disana, sama sekali tidak bicara padanya.


“Ayo!” ajak wanita itu lagi pada Shezie.


Shezie mengikuti langkah kaki wanita itu masuk kedalam suatu ruangan yang sangat luas, disana ada kamar -kamar lagi. Wanita itu mengajaknya memasuki sebuah ruangan, tidak berapa lama berdatangan wanita-wanita dengan membawa berbagai jenis peralatan kecantikan.


Shezie disuruh duduk disebuah sofa, dan wanita-wanita itu bergerak cepat mengurusi dirinya dari ujung rambut sampai ujung kaki.


Salah seorang wanita itu membuka sepatunya yang mengeluarkan aroma kurang sedap karena seringnya dipakai. Kakinya dimasukkan ke sebuah baskom air hangat.


Seorang lagi mengurus kuku tangannya, yang lain menata rambutnya juga wajahnya. Shezie dikerubuti wanita-wanita itu, dia merasa seperti boneka saja. Tapi dia tidak bicara apa-apa, dia hanya mengikuti keinginannya Henry.


Henry menunggu diruang tunggu dengan kesal, ponselnya terus saja berbunyi, dia menerima telpon tidak henti-hentinya.


Henry menatapnya, gadis itu sudah berubah sekarang, dia sudah di make up dan rambutnya ditata rapih dengan gelombang besar di bawahnya, dia terlihat cantik.


Dilihatnya lagi ke bawah, kakinya Shezia menggunakan sandal salon. Kakinya terlihat bersih dan kukunya juga mengkilat.


“Bagimana?” tanya wanita itu.


“Bagus,” ucap Henry.


Tiba-tiba seorang wanita menghampiri mereka dengan menenteng sepatu putihnya Shezie.


“Nona! Sepatunya ketinggalan!” serunya, mengulurkan sepatu itu.


“Buang saja!” kata Henry.


“Apa? Buang? Enak saja dibuang!” umpat Shezie, sambil meraih sepatunya, dia kesal pada Henry yang seenaknya seperti itu.


 “Trimakasih!” kata Henry pada wanita itu tanpa menoleh, dan melangkah menjauh menuju pintu keluar.


“Datang lagi ya!” teriak wanita tadi sambil tersenyum.


Shezie masih mengikuti langkahnya  Henry, berjalan dengan sandal salonnya, tangannya masih ditarik oleh Henry menuju parkiran.


“Henry masa aku memakai sandal ini?” tanya Shezie, sambil melepaskan tangannya Henry.  Shezie menunduk akan memakai sepatunya, tapi tangannya diraih lagi oleh Henry.


“Jangan memakai sepatu itu lagi!” cegah Henry, sambil kembali menarik tangan Shezie menuju mobilnya.


“Kenapa tidak boleh?” tanya Shezie, tidak mengerti, mengikuti langkahnya Henry.


Henry tidak menjawab.


“Masuk!” perintahnya sambil masuk kedalam mobilnya diikuti Shezie yang tidak bisa berkata-kata.


“Kita akan kemana lagi?” tanya Shezie.


Henry tidak menjawab, dia terus menjalankan mobilnya dengan ponsel yang terus berdering. Shezie tidak bicara lagi, pria itu terlihat sangat sibuk jadi dia memilh diam.


Ternyata mobil Henry memasuki sebuah butik yang berbeda dengan yang dulu.


“Ayo turun!” ajak Henry, tanpa menoleh, dia langsung turun dan menuju pintu masuk butik itu. Sheziepun segera turun dan menyusul Henry yang sudah masuk duluan.


“Kau carikan baju yang cocok untuknya, pakaian resmi, sepatu juga tasnya,” kata Henry, tangannya menunjuk kakinya Shezie yang masih memakai sandal.


“Baik,” kata wanita itu, lalu menoleh pada Shezie.”Mari” ajaknya.


 Shezie tidak bicara apa-apa lagi, karena pria itu sudah duduk dikursi tunggu sambil menerima telponnya.


Beberapa waktu kemudian Shezie sudah keluar lagi dengan  pakaian resmi yang Henry katakan, juga sudah bersepatu dan sebuah tas kecil terselempang dibahunya.


“Bagaimana?” tanya wanita itu.


Henry menatap Shezie dari atas sampai bawah, gadis itu terlihat cantik dengan menggunakan stelan blazer warna nude dengan rok span sebetisnya juga sepatu talinya berhak sedang.


Ditatap seperti itu membuat Shezie  serba salah dan gugup.


Henry menoleh pada wanita itu.


“Kau sudah tahu ukurannya kan? Siapkan baju -baju dan sepatu untuknya, termasuk baju tidur, baju santai dan gaun, juga pakaian dalamnya, semuanya kirim ke rumahku,” kata Henry.


Saat mendengar pakaian dalam, wajah Shezie langsung memerah mukanya. Buat apa Henry memesan pakaian dalam?


“Baik,” jawab  wanita itu.


Shezie mendekatkan bibirnya ke telinga Henry.


“Kenapa kau memesan pakaian dalam?” bisik Shezie, Henry melirik dengan sudut matanya.


“Memangnya kau tidak akan ganti ganti,” ucap Henry.


“Itu nanti aku beli sendiri,” kata Shezie, dengan wajah masih memerah.


Henry tidak menjawab perkataan Shezie, dia malah membalikkan badannya akan beranjak.


“Ayo” ajak Henry pada Shezie, tapi langkahnya terhenti saat seorang wanita menghampiri mereka dengan membawa sebuah kantong.


“Nona! Baju anda ketingagalan!” serunya.


“Buang saja!” jawab Henry.


“Jangan! Itu bajuku! Kau main buang-buang saja,” kata Shezie sambil meraih kantong itu, dia kesal pada Henry yang main suruh buang-buang saja.


Tapi dia tidak berkata apa-apa lagi karena Henry langsung beranjak berjalan menuju pintu luar butik itu dan Shezie hanya bisa mengikutinya.


“Tadi kau menyuruh membuang sepatu sekarang bajuku!” keluh Shezie setelah mereka ada didalam mobil.


“Kau tidak perlu memakainya lagi!” kata Henry sambil menjalankan mobilnya.


“Aku tidak bisa seanggun ini naik bis,” ujar Shezie.


“Aku sudah membelikanmu mobil baru, jadi tidak usah naik bis lagi, ada supir yang akan mengantar kemanapun kau pergi,” kata Henry.


“Ap..apa? Mobil? Mobil baru?” tanya Shezie terkejut. Seumur-umur dia hanya mengumpulkan uang untuk berobat ibunya, boro-boro berfikir untuk membeli mobil, dan pria itu dengan mudahnya membelikannya mobil baru?


Henry tidak menjawab, dia menjalankan mobilnya semakin kencang ke pusat kota ke  daerah gedung perkantoran.


***************