
Setelah mendapat nomor telponnya Andrea, Martin segera menemui ibunya Shezie.
“Shezie sudah pulang,” kata Bu Vina.
“Aku tahu, aku tadi bertemu mereka di lorong,” jawab Martin, sambil duduk di kursi dekat tempat tidur pasien.
“Ada yang ingin aku bicarakan,” kata Martin.
“Tentang apa?” tanya Bu Vina.
“Aku ingin mempercepat pernikahanku,” jawab Martin.
Bu Vina menatap Martin, terlintas dalam bayangannya saat melihat Shezie tidur diatas pangkuannya Henry, dalam hati Bu Vina ada rasa tidak tega kalau ternyata Shezie memang menyukai Henry. Jika benar begitu, putrinya pasti akan menderita kalau berpisah dengan pria yang dicintainya, tapi walau bagaimanapun Martin adalah tunangannya Shezie, sedangkan pria travel itu baru melamarnya itu juga tanpa orangtuanya.
Melihat cara tatap Bu Vina, ada rasa khawatir di hati Martin, dia merasa takut Bu Vina berubah fikiran.
“Aku tidak mau menunda lagi, aku tidak mau hal yang buruk terjadi dalam hubunganku dengan Shezie. Aku sangat mencintai Shezie, aku tidak mau kehilangan Shezie,” ucap Martin, mulai menekan Bu Vina.
“Kau sudah bicara dengan Shezie?” tanya Bu Vina.
“Belum, ibu lihat kan dia sekarang sedang dekat dengan pria travel itu, aku tidak mau ada pihak ketiga yang menghancurkan hubunganku dengan Shezie,” jawab Martin sambil menatap Bu Vina dengan tajam.
Ada perasaan tidak nyaman yang dirasa Bu Vina saat mendengarnya. Pria ini sudah lama mengejar putrinya dan berusaha bersikap baik padanya juga, ada perasaan berhutang budi yang tidak bisa dipungkirinya, apalagi pria ini membiayai pengobatannya.
“Baiklah aku akan bicara dengan Shezie, aku juga ingin melihatnya bahagia,” kata Bu Vina.
“Aku akan langsung mempersiapkan pernikahan kami, karena menunggu bicara dengan Shezie kelamaan, dia selalu labil, apalagi dia didekati pria itu, aku khawatir Shezie berubah fikiran,” ujar Martin.
Bu Vina tidak bicara lagi, apa yang diatakan Martin benar, kalau Shezie menyukai pria Travel itu bisa saja Shezie akan memutuskan pertunangan, apalagi pria itu sudah melamar putrinya yang jelas-jelas sudah bertunangan.
“Baiklah kau siapkan saja pernikahannya, aku akan memberitahu Shezie,” jawab Bu Vina akhirnya menyetujui permintaannya Martin.
Mendengarnya benar-benar membuat Martin senang.
***********
Beberapa hari kemudian Bu Vina sudah kembali ke rumah untuk rawat jalan dan harus control sesuai jadwal control yang sudah ditetapkan oleh Dokter Arfan.
“Aku senang ibu sudah pulang,” ucap Shezie sambil berjongkok di depan kursi roda ibunya yang sedang berada di teras ruamh.
Bu Vina menatap putrinya itu. Putrinya itu terlihat sangat berubah sekarang, dia terlihat lebih rapih, bersih dan cantik, putrinya selalu tampil anggun dan cantik, dia yakin pasti itu juga alasan Martin ingin mempercepat pernikahannya, dia takut calon istrinya diambil pria lain.
“Ada yang ingin aku tanyakan padamu,” kata Bu Vina.
“Soal apa Bu?” tanya Shezie.
“Martin akan mempercepat pernikahan kalian, dia sedang menyiapkannya sekarang,” jawab Bu Vina, membuat Shezie terkejut.
“Maksud ibu apa?” tanya Shezie.
“Ibu ingin kau dan Martin secepatnya menikah, membiarkan kalian bertunangan terlalu lama akan membuat banyak masalah antara kau dan Martin jadi ibu tidak tenang,” kata Bu Vina.
“Maksud ibu apa bicara begitu?” tanya Shezie.
“Ibu takut ibu tidak bisa bertahan, belakangan ini banyak masalah yang membuat Ibu merasa stress. Ibu ingin melihat kau menikah dengan Martin barulah ibu akan merasa tenang,” jawab ibunya.
“Ibu ingin kau menjauhi pria itu dan berheti bekerja di travel, kau siapkan pernikahanmu dengan Martin. Ibu akan segera menelpon Martin memberitahunya kalau kau siap menikah dengannya dalam waktu dekat,” kata Bu Vina.
Shezie merasa shock mendengar kata-kata ibunya, kalau dia harus menikah dengan Martin secepatnya itu artinya dia harus segera bercerai dari Henry. Apa dia sanggup minta cerai pada Henry sebelum batas waktunya bukankah itu artinya uang 1 M itu akan hangus?
“Kau dengar kan yang ibu katakan?” tanya Bu Vina karena melihat Shezie hanya terdiam saja.
Shezie teringat kalau Henry sudah melamarnya pada ibunya tapi ternyata ibunya tidak bicara apa-apa soal itu dan malah menyuruhnya untuk cepat menikah dengan Martin itu artinya ibunya tidak menerima lamarannya Henry.
“Apa harus secepat itu?” tanya Shezie.
“ Kau ingin ibu bahagia kan?” tanya Bu Vina.
“Iya Bu,” jawab Shezie.
“Ibu akan bahagia kalau kau segera menikah dengan Martin, maka menikahlah dengan Martin. Dia pria yang baik, dia sudah menunjukkan sikap perhatiannya padamu dan juga ibu selama ini,” lanjut Bu Vina.
Shezie kembali terdiam, dia tidak mencintai Martin, ibunya malah mempunyai keinginan seperti itu.
“Apa menurut ibu aku akan bahagia dengan Martin?” tanya Shezie.
“Iya, ibu akan merasa tenang jika terjadi sesuatu pada ibu kau sudah bersama pria yang akan menyayangi dan melindungimu,” jawab Bu Vina.
“Aku..aku harus memikirkannya lagi,” kata Shezie.
“Tidak ada yang harus difikirkan, kau sudah bertunangan dengan Martin, jadi kau haus menerima keputusan ini,” ucap Bu Vina.
Shezie menatap wajah ibunya, wajah pucat dan terlihat lebih tua dari usia yang sesungguhnya. Tatapan ibunya itu penuh harap. Apa yang harus dilakukannya kurang? Apakah dia harus memutuskan pernikahannya pada Henry, bagaimana dengan uang 1 M itu?
“Jadi menurut ibu Martin bisa membahagiakanku?” tanya Shezie.
“Iya, ibu yakin Martin akan membahagiakanmu,” jawab ibunya.
Sheziepun diam, sebenarnya dia ingin bilang pada ibunya soal kelakuan Martin waktu itu tapi melihat ibunya yeng berharap pernikahannya dengan Martin dipercepat, dia tidak bisa mengecewakan ibunya. Dia hanya ingin melihat ibu nya tersenyum jika memang ini adalah hari-hari yang terakhir buat hidupnya, dia takut menyelas nanti jika semasa hidup ibunya dia tidak bisa membuat ibunya bahagia.
Soal Henry, sudah jelas-jelas ibunya tidak mau membahasnya.
“Baiklah aku akan menikah dengan Martin,” ajwab Shezie.
“Ibu senang mendengarnya,” kata ibunya sambil tersenyum.
Shezie beranjak dari jongkoknya, menatap ibunya sekali lagi, lalu melangkahkan kakinya meninggalkan ibunya masuk ke kamarnya. Di tutupnya rapat-rapat pintu itu.
Shezie membuka lemari pakaiannya, mencari gulungan kain yang berisi baju pengantin itu lalu dibukanya.
Ditatapnya gaun itu dan kembali diusapnya, juga dibukanya kotak cincin itu. Cincin pernikahannya. Semua ini akan jadi kenangannya dan kenangan itu akan terkubur dalam-dalam jika dia sudah menikah dengan Martin, dia memang harus menguburnya dan memulai hidupnya yang baru dengan Martin. Dia harus memutuskan hubungan kerjanya dengan Henry, dia akan meminta cerai pada Henry dan menikah dengan Martin.
Meskipun hati Shezie ragu menikah dengan Martin tapi demi kebahagiaan ibunya, dia rela mengorbankan kebahagiaannya sendiri, dia harus melepas uang 1 M nya itu. Apalagi Martin berjanji akan membantu pengobatan ibunya jadi dia tidak perlu mengharapkan uang dari Henry lagi.
.
*************