
Sesampainya di rumah, Hanna melihat mobilnya Henry terparkir di depan teras. Kebetulan sekali Henry datang ke rumah, jadi dia bisa bertanya pada Henry tentang statusnya Shezie yang sebenarnya.
Bergegas dia masuk ke rumah menuju ruang kelurga, ternyata Henry sedang duduk berdua dengan Damian menonton televisi.
“Henry, kebetulan sekali kau datang kemari, apa kau bersama istrimu?” tanya Hanna.
Henry dan Damian menoleh pada Hanna yang menghampiri mereka.
“Tidak Bu, aku datang sendiri,” jawab Henry.
“Kita perlu bicara,” jawab Hanna, sambil duduk di sofa disebrang Henry dan Damian. Putra dan suaminya itu menatapnya dengan keheranan. Damian mengecilkan suara televisi.
“Ada apa? Kau terlihat sangat serius,” kata Damian.
Hanna menatap putranya dengan tajam.
“Berjanjilah kau berkata jujur pada ibu dan juga ayah,” kata Hanna.
“Soal apa?” tanya Henry, semakin tidak mengerti.
“Kau membayar Shezie untuk pura-pura menjadi istrimu?” tanya Hanna, tentu saja pertanyaannya membuat Henry sangat terkejut juga Damian.
“Sayang, kau ini bicara apa? Jangan bergosip,” kata Damian.
“Aku tidak bergosip, Bu Yogi memberitahukan kalau kau membayar Shezie untuk pura-pura menjadi istrimu, apa itu benar?” tanya Hanna.
Damian kinimenoleh pada Henry yang tampak bingung.
“Katakan yang sejujurnya Nak, apa itu benar? Kau jangan membohongi orang tuamu lagi,” kata Hanna.
Henry masih diam, dia bingung untuk menjawabnya. Dia takut perceraian akan terjadi, dia masih menginginkan pernikahan ini berlanjut.
“Henry, kenapa kau diam? Katakan yang sejujurnya!” seru Hanna, sangat tidak sabar.
“Nak, katakan yang sebenarnya, jangan ada yang ditutup-tutupi lagi,” ucap Damian, tangannya menyentuh lengannya Henry.
Henry menghela nafas panjang mencoba membuat dirinya tenang.
“Iya,” jawab Henry membuat kedua orang tuanya shock.
“Jadi benar kau membayar Shezie untuk jadi istrimu?” tanya Hanna hampir berteriak.
“Sayang, tenanglah!” kata Damian, menoleh pada Hanna.
“Sayang, coba kau ceritakan yang jelas maksudnya apa?” tanya Damian, kembali memegang tangannya Henry.
Putranya itu malah menatapnya lalu beralih menatap ibunya.
“Aku dan Shezie waktu itu memang tidak punya hubungan apa-apa. Aku terpaksa membayarnya karena aku tidak mau keluarga kita malu karena aku tidak menikah,” jawab Henry.
Hanna langsung pindah duduknya disamping Henry dan memegang tangannya.
“Sayang, seharusnya kau tidak perlu melakukan itu. Kau ini sangat tampan, ibu yakin banyak gadis yang menyukaimu,” kata Hanna.
“Aku merasa bersalah karena telah membuat ibu dan ayah malu,” jawab Henry.
“Tapi sekarang malah semuanya semakin runyam, karena stutus Shezie sudah bocor, kenapa Bu Yogi dan Andrea bisa tahu soal ini?” tanya Hanna.
“Bu Yogi? Andrea?” tanya Henry, tidak mengerti.
“Mereka yang mengatakan itu semua di tempat arisan tadi, dan ibu yakin pasti berita ini sudah menyebar kemana-mana,” jawab Hanna.
“Mau sampai kapan kau membayar Shezie?” tanya Damian, menatap putranya.
“Aku tidak tahu,” jawab Henry.
“Kenapa tidak tahu? Kau membayarnya pasti ada batas waktu kan?” tanya Damian lagi.
“Aku tidak menentukan batas waktunya, aku hanya menunggu waktu yang tempat untuk bercerai,” jawab Henry.
Damian menoleh pada Hanna yang menunduk lesu.
“Tapi aku dan Shezie menikah dengan resmi Bu, aku benar-benar sudah menikahinya dengan sah,” ucap Henry.
“Sah secara tertulis tapi rumah tanggamu tidak sehat kalau begini,” kata Hanna.
“Shezie minta cerai sekarang,” ujar Henry, membuat orang tuanya terkejut.
“Cerai? Dia ingin bercerai?” tanya Damian.
“Iya,” jawab Henry.
Tidak ada seorangpun yang bicara, ruangan itu mendadak hening.
“Kalau kalian becerai bukankah itu akan semakin membuat keluarga kita malu?” tanya Hanna.
“Aku sudah berusaha untuk menahannya hanya saja Shezie bersikeras untuk bercerai,” kata Henry.
“Kenapa? Kau memberinya uang sedikit?” tanya Hanna.
“Bukan itu, dia akan menikah dengan pria lain,” jawab Henry.
“Apa?” Entah sudah berapa kali ucapan Henry membuat orang tuanya terkejut.
“Kalau kalian bercerai secepatnya justru akan membuat opini public kalau gosip itu benar, kalian tunda saja perceraiannya,” kata Damian.
“Aku sudah mencoba menahannya, tapi dia bersikeras ingin bercerai,” jawab Henry.
Hanna dan Damian saling menatap, lalu Hanna menoleh pada Henry.
“Mungkin ibu harus bicara dulu dengannyya, sekarang suasananya tidak memungkinkan untuk kalian bercerai,” ucap Hanna.
“Aku sudah menyetujui permintaannya untuk bercerai, aku tdak bisa memaksanya,” kata Henry.
“Kau tambah saja uang bayarannya,” seru Hanna.
“Sebenarnya Shezie bukan gadis yang seperti ibu Bu. Aku sudah membujuknya dengan uang tambahan tapi dia menolak karena sebenarnya dari awal dia sudah menolak permintaanku ini,” jawab Henry.
“Jad dia akan menikah dengan pria lain?” tanya Damian, mulai bersuara.
“Iya Ayah, aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi, itu haknya untuk menikah dengan siapapun, jadi aku sudah menyetujuinya untuk bercerai,” jawab Henry menundukkan kepalanya.
“Jadi dia tidak mau meskipun kau akan menambah bayarannya?” tanya Hanna pada Henry.
“Iya, tapi ya sudahlah memang mungkin seharusnya aku dan Shezie bercerai,” jawab Henry dengan lesu menundukkan kepalanya.
Hanna menatap putranya itu, dia bisa melihat raut kesedihan di wajah putranya itu.
“Kau menyukai gadis itu?” tanya Hanna, membuat Henry terkejut dan Damian juga menatapnya.
“Aku…tidak, aku tidak menyukainya,” jawab Henry, berbohong.
“Aku ingin istirahat Bu, Ayah,” kata Henry, lalu beranjak meninggalkan orang-tuanya yang masih terbengong menatapnya.
Hanna menoleh pada Damian.
“Apa menurutmu Henry menyukai gadis itu?” tanya Hanna pada Damian.
“Tadikan Henry sudah mengatakan kalau dia tidak menyukainya,” jawab Damian.
“Kau ini bagaimana sih? Henry berbohong! Masa kau tidak melihat raut wajahnya yang sedih? Dia bersedih Shezie meminta cerai!” kata Hanna, kesal pada suaminya.
“Apa benar begitu?” tanya Damian.
“Iya, dia sedang bersedih.” Jawab Hanna.
Damianpun terdiam, dia tidak terlalu memperhatikan apakah putranya menyukainya atau tidak.
“Ya suka juga kalau gadis itu ingin bercerai, mau apa lagi?” kata Damian.
“Aku tidak mau mereka bercerai!” seru Hanna.
“Kenapa? Mereka menikah bukan dasar cinta, buat apa diteruskan?” tanya Damian.
“Kalau mereka bercerai, orang-orang akan semakin yakin kalau gossip itu benar,” jawab Hanna.
“Kau selalu memikirkan gossip,” keluh Damian, kembali menonton televise.
“Aku juga harus menjaga nama baik Henry, orang-orang mencemooh karena dia pelit pada gadis, jadi tidak ada gadis yang mau menikah dengannya. Kalau ternyata tersiar kabar Shezie itu istri bayaran dan kemudian bercerai sedangkan pernikahan mereka seumur jagung, itu akan semakin memperkuat gossip itu,” kata Hanna, panjang lebar.
“Sudah aku katakan jangan mengurusi gossip. Semua terjadi karena gossip, jadi Henry melakukan itu semua supaya kita tidak malu, akhirnya kebohongan terbongkar juga. Sudahlah kalau memang mereka memilih untuk bercerai, ya sudah, buat apa dilanjutkan pernikahan yang main-main seperti ini?” ujar Damian, bersikukuh.
“Tapi aku tidak setuju kalau mereka bercerai, mereka harus tetap bersatu, kalau mungkin mereka harus cepat cepat punya anak, maka orang-orang tidak akan mencemooh lagi, dan gossip itu terpatahkan dengan kehamilannya Shezie” seru Hanna.
“Sayang, Shezie itu ingin bercerai dan dia akan menikah dengan pria lain, kau jangan menghalangi langkahnya menikah dengan pria lain, karena dia juga terikat pada putra kita bukan karena menikah yang sebenarnya, biarkan dia menjalani hidupnya sendiri, nanti juga putra kita cepat melupakannya, “ kata Damian.
“Damian, kau tidak mengerti juga? Henry menyukai gadsi itu,” seru Hanna dengan kesal, Damian malah setuju Henry dan Shezie bercerai.
“Kalau menyukai gadis itu memangnya kenapa? Gadis itu akan menikah itu artinya gadis itu tidak menyukai Henry, kita tidak bisa memaksanya,” kata Damian, bersikukuh dengan pendapatnya.
Hanna meraih remote ditangannya Damian dan mematikan televise.
“Tidak, putraku itu sangat tampan dan kaya, aku tidak yakin Shezie tidak menyukai putraku. Pokoknya mereka tidak boleh bercerai, aku harus membujuk Shezie,” kata Hanna, sambil beranjak.
“Sayang, jangan bertindak ceroboh!” teriak Damian. Tapi istrinya tidak menghiraukannya, istrinya itu bergegas naik ke tangga menuju kamarnya, dibiarkannya suaminya berteriak-teriak memanggilnya.
Hanna tidak ingin putranya bercerai apalagi dia bisa melihat kalau Henry menyukai Shezie, tidak bisa, dia tidak akan membiarkan perceraian itu terjadi. Dia harus bisa mencegah Shezie bercerai dari Henry.
***********