
Hanna menatap Bu Yogi, dalam hatinya menebak-nebak ada kabar apalagi dengan ibu yang suka bikin ribut itu?
“Ngomong-ngomong ko Bu Yogi ada disini?” tanya Hanna.
“Kebetulan mampir saja. Oh ya saya mengundang Bu Damian juga ibu-ibu yang lain ke rumah besok siang,” kata Bu Yogi, membuat Hanna mengerutkan keningnya, ada angin apa Bu Yogi mengundang ke rumahnya?
“Saya akan senang kalo ibu-ibu semua mau datang kerumah saya. Terutama Bu Damian, datang ya Bu, jangan tidak,” ucap Bu Yogi menoleh pada Hanna.
Hanna terdiam, merasa aneh dengan sikap Bu Yogi ini.
“Tidak perlu menatap saya begitu, saya tahu saya ini banyak membuat kasalahan pada Bu Damian. Tapi percayalah, saya sudah berubah, saya fikir tidak ada bagusnya juga memperpanjang masalah yang seharusnya dilupakan saja,” kata Bu Yogi.
Hanna mengangguk sambil tersenyum meskipun dalam hati dia masih bingung dan merasa aneh dengan sikapnya Bu Yogi. Tapi Hanna tidak banyak berdebat, dia harus memaafkan itu lebih baik daripada harus memperpanjang permusuhan, yang penting Bu Yogi mau berbuah lebih baik saja.
Pulang dari bertemu dengan teman-temannya, Hanna kembali menelpon Damian.
“Sayang kira-kira kau besok sampai rumah jam berapa? Aku ada acara dengan ibu-ibu, aku diundang oleh Bu Yogi ke rumahnya,” kata Hanna.
“Kalau kau ada acara dengan teman-temanmu, kau ikut saja, tidak perlu menungguku,” jawab Damian.
“Baiklah, nanti kita ke rumahnya ibunya Shezie bersamaku,” kata Hanna.
“Mm tidak, biar aku saja sendiri,” ucap Damian.
“Kau sendiri? Kau kan tidak tahu ibunya Shezie ada dimana,” kata Hanna sambil tertawa.
Damianpun teridam ,dia lupa kalau Hanna tidak tahu kalau dia tahu keberadaan ibunya Shezie.
“Kau kenapa sayang? Apa kau sakit?” tanya Hanna, karena Damian malah diam.
“Tidak apa-apa sayang, aku hanya lelah,” jawab Damian.
“Baiklah, kalau begitu kau istirahat saja, jangan terlalu capek, aku ingin kau segera pulang dan mengurus Henry, jangan sampai kau sakit dan tidak bisa kesini,” ucap Hanna.
“Iya,” jawab Damian.
“Baiklah, I Love U sayang,” ucap Hanna.
“I Love U too,” jawab Damian. Pembicaraanpun berakhir.
Hanna menatap ponselnya yang sudah mati, dia berharap pertemuan Damian dengan ibunya Shezie akan membuahkan hasil yang baik, semoga ibunya Shezie mau menerima lamarannya Henry kalau Damian yang bicara, batinnya.
********
Keesokan harinya…
Sesuai dengan keinginan Damian, Hanna tetap pergi ke rumahnya Bu Yogi, disana sudah ramai ibu-ibu yang di undang Bu Yogi. Sebenarnya dalam hati Hanna bertanya-tanya kira-kira Bu Yogi akan membuat kehebohan apalagi? Dia tidak bisa mempercayai Bu Yogi 100 persen.
Begitu dia tiba, Bu Yogi langsung menyambutnya dengan hangat, bahkan sangat ramah.
“Tante!” terdengar suara seorang gadis dari atas tangga. Hanna menoleh kearah tangga itu, ternyata Andrea yang dengan senyum manisnya menghampirinya.
“Tante datang juga? Aku fikir Ibuku berbohong kalau tante akan datang,” ucap Andrea, sambil memeluk Hanna.
“Kebetulan tante sedang tidak ada acara,” jawab Hanna, balas memeluk Andrea.
“Bagaimana kabar Henry?” tanya Andrea yang langsung mendapat sikutan dari ibunya.
“Oh maaf,” ucap Andrea.
“Henry baik, dia sedang bekerja sekarang,” jawab Hanna sambil tersenyum.
“Maafkan Andrea,dia lupa kalau Henry sudah menikah, maaf,” kata Bu Yogi.
“Tidak apa-apa,” jawab Hanna.
Seorang satpam masuk ke ruangan itu.
“Non, sudah ditunggu didepan,” kata satpam itu pada Andrea yang langsung menoleh pada Hanna.
“Saya permisi dulu tante, saya mau keluar,” kata Andrea, lalu melirik pada ibunya.
Hanna mengangguk dan tersenyum pada Andrea yang segera pergi.
“Sebenarnya saya sedih melihatnya,” ucap Bu Yogi, menatap kepergiannya Andrea.
“Sedih kenapa?” tanya Hanna menatap raut muka Bu yogi yang berubah sedih.
“Sebentar lagi Andrea akan bertunangan, dengan pacarnya yang barusan menjemputnya,” kata Bu Yogi.
“Benarkah? Itu bagus,kenapa harus sedih?” ujar Hanna.
“Sebenarnya saya yang memaksanya untuk cepat-cepat bertunangan,” kata Bu Yogi.
“Kenapa?” tanya Hanna tidak mengerti.
“Karena saya ingin Andrea melupakan Henry. Saya tidak tega melihatnya murung terus. Saya sudah menjelaskan pada Andrea kalau Henry itu sudah menikah, tidak mungkin dia kembali lagi pada Henry,” jawab Bu Yogi.
Hanna terdiam mendengarnya.
Hanna masih tidak bicara, dia agak terkejut mendengar perkataan Bu Yogi ini, kasihan juga Andrea harus bertunangan dengan pria yang tidak dicintainya. Tapi mau bagaimana lagi, Henry sudah menikah dengan Shezie dan sekarang Henry ingin pernikahannya berlanjut dengan Shezie.
“Semoga Andrea bisa melupakan Henry secepatnya dan bisa menerima tunangannya, jika Henry dan Shezie bisa bahagia, Andrea juga harus bisa bahagia dengan suaminya nanti,” kata Hanna.
“Iya,” jawab Bu Yogi mengangguk.
“Mari Bu, bergabung dengan yang lain!” ajak Bu Yogi dengan ramah, sambil memeluk punggungnya Hanna.
“Ibu-ibu perkenalkan ini Bu Damian!” seru Bu Yogi pada teman-temannya yang Hanna tidak kenal.
“Halo Bu Damian! Senang bertemu denganmu! Meskipun kita tidak pernah berbicara langsung kami sangat mengenal Pak Damian dari suami-suami kami,” seru mereka, tersenyum ramah pada Hanna.
“Ternyata Bu Damian datang juga,” kata salah seorang wanita.
“Kan calon besan, putrinya Bu Yogi pacaran dengan putranya Bu Damian,” tiba-tiba ada yang nyeletuk.
“Tidak, mereka sudah putus, Henry sudah menikah dengan yang lain,” kata seorang lagi.
“Oh maaf saya ketinggalan informasi,” ucap wanita yang tadi.
“Apa kau tidak hadir ke acara pernikahan putranya Bu Damian?”tanya yang lain.
“Tidak, aku sedang ada di luar negeri, maaf aku lupa, aku fikir Andrea masih pacaran dengan putra Bu Damian,” jawab wanita tadi.
“Tidak, ibu-ibu itu masa lalu,” ucap Bu Yogi.
“Oh maaf ya Bu, saya tidak tahu padahal mereka pasangan yang serasi loh,” ucap wanita itu.
“Iya benar, tadinya saya fikir waktu mendapatkan undangan itu, putranya Bu Damian akan menikah dengan Andrea, kabar mereka pacaran kan sudah banyak yang tahu,” kata yang lainnya.
Hanna hanya tersenyum saja, dia malah jadi merasa tidak enak orang-orang tahu Henry pacaran dengan Andrea.
“Sudah ibu-ibu, jangan membahas itu lagi, silahkan dicicipi makanannya,” ucap Bu Yogi, lalu menoleh pada Hanna.
“Mari Bu Damian,” ucapnya tidak lepas dari senyumnya yang ramah, Hanna hanya mengangguk, lalu duduk bergabung dengan mereka.
Meskipun Hanna jadi merasa tidak nyaman karena teman-temannya Bu Yogi yang lain membahas pacarannya Andrea dan Henry, tapi dia berusaha bersikap biasa saja, apalagi kemudian berdatangan teman-teman arisannya.
Hingga waktunya pulang, Hanna akan memasuki mobilnya melihat Bu Ema masih saja berdiri diteras rumahnya Bu Yogi.
“Bu Ema? Belum ada yang menjemput?” tanya Hanna.
“Iya, kata supir tadi mobilnya mogok jadi ke bengkel dulu. Padahal saya harus menjemput anak saya ka bandara,” jawab Bu Ema.
“Oh kalau begitu ikut mobil saya saja,” kata Hanna.
“Tidak apa-apa mengantar saya ke bandara?” tanya Bu Ema.
“Tidak apa-apa, saya juga tidak ada acara lain,” jawab Hanna.
“Baiklah kalau begitu saya ikut,” kata Bu Ema.
Hanna membuka pintu mobil buat Bu Ema yang segera masuk, merekapun pegi menuju bandara untuk menjemput anaknya Bu Ema.
Sesampainya di Bandara, seorang pria muda sudah menunggu Bu Ema di sana.
“Bu Damian, saya turun disini saja, itu anak saya sudah menunggu,” kata Bu Ema.
“Tidak sekalian diantar pulang Bu?” tawar Hanna.
“Tidak usah, tadi supir sudah menelpon, dia sudah menuju bandara,” jawab Bu Ema.
“Baiklah,” ucap Hanna.
“Terimakasih atas tumpangannya,” kata Bu Ema.
“Sama-sama,” jawab Hanna.
Bu Emapun segera turun dari mobilnya Hanna. Setelah itu Hanna melihat kearah depan,dia terkejut saat melihat seseorang yang masuk ke dalam taxi.
Dilihatnya pria itu adalah Damian. Hanna keheranan, suaminya itu tidak bilang jam berapa dia sampai. Hanna akan memanggilnya tapi ternyata taxi itu sudah melaju, membuatnya bertanya-tanya, kenapa Damian menggunakan taxi dan tidak minta supir menjemputnya? Atau menelponnya untuk minta dijemput?
Hanna mengeluarkan ponselnya dan menelpon nomornya Damian, tapi ternyata tidak aktif.
“Kenapa nomornya tidak aktif?” Gumamnya.
“Pak bisa susul taxi itu? Bapak sepertinya ada di taxi itu!” perintahnya pada Pak supir.
Tapi kemudian dia berfikir kenapa dia tidak mengikutinya saja? Sepertinya ada yang aneh dengan sikap Damian, tidak pernah Damian menggunakan taxi.
“Tidak usah disusul, ikuti saja,” ralat Hanna.
Kebetulan Hanna memakai mobilnya Shezie yang dibelikan baru oleh Henry, jadi Damian tidak tahu kalau mobil itu mengikuti taxi yang di tumpanginya.
**********