Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-127 Melamar gadis yang sama



Setelah Damian pulang, Pak Louis menatap Hanna.


“Ayo duduklah Nak, ayah mau bicara,” ucap Pak Louis, kemudian berjalan ke kursi tamu, duduk dikursi panjang bersama Bu Astrid.


Hanna mengikuti dengan lesu, dia merasa sedih nasib cintanya dengan Damian harus seperti ini.


Pak Louis menatap Hanna lagi setelah Hanna duduk di sofa disebrangnya.


“Sebenarnya ayah sangat bingung harus bicara apa, tapi semua terserah padamu, kau fikirkan baik-baik sekarang, kalau besok Damian benar-benar datang bersama ibunya kesini, berikan jawaban yang tepat buat kau, Cristian dan Damian,” ucap Pak Louis.


Hanna terdiam mendengarkan perkataan ayahnya, dia sangat bingung kalau seandainya Damian besok datang bersama ibunya, apa yang harus dia lakukan? Jawaban apa yang tidak akan menyakiti semuanya?  Dia mencintai


Damian tapi dengan Cristian, diapun tidak mau mengecewakan orang tuanya, mempermalukan keluarga Cristian lagi.


Bu Astrid menoleh pada Pak Louis, apakah Hanna harus tahu kalau Damian dan Cristian adik kakak?


Pak Louis mengerti arti tatapan Bu Astrid, tapi dia hanya diam, jadi Bu Astrid juga diam, mereka kebingungan untuk menyampaikannya.


“Iya ayah,” jawab Hanna. Ayahnya tidak bicara lagi, dia bangun meninggalkan Anak dan istrinya.


Bu Astrid menatap Hanna, diapun memilih untuk merahasiakannya dulu, karena dia ingin tahu jawaban apa yang akan Hanna ambil besok.


Malam ini benar-benar malam yang sulit buat Hanna. Di Dalam kamarnya dia hanya menatap handphone-nya.


Dia sama sekali tidak berniat menghubungi Damian, dia sedang pusing sekarang, jawaban apa yang akan dia berikan pada Damian besok? Dia juga mencintai Damian, dia ingin menikah dengan Damian, bisa kah sekarang dia memutuskan Cristian lagi?


********


Keesokan harinya, di rumah Pak Sony.


Cristian akan berangkat ke kantornya saat dilihatnya ibunya sedang memasukkan makanan ke dalam rantang-rantang susun.


“Makanan buat siapa?” tanya Cristian, melongokkan kepalanya melihat rantang rantang itu, membuat Bu Sony terekjut.


Cristian menatap ibunya yang terlihat terkejut dan tidak langsung menjawab.


“Ibu ada acara makan dengan ibu-ibu yang lain,” jawab Bu Sony berbohong.


“Kenapa tidak ke restaurant saja?” tanya Cristian. Seingatnya dia tidak pernah melihat ibunya membawa bekal makanan.


“Hanya sesekali saja membawa masakan sendiri,” ucap Bu Sony, mencari alasan yang tepat.


Cristian tidak memperpanjang rasa herannya.


“Bu, aku berangkat,” ucapnya sambil mencium pipi ibunya.


Bu Sony hanya mengusap kepala putranya itu, lalu menatapnya  menjauh dari ruang makan itu.


Sebenarnya dia ingin mengatakan pada putranya kalau dia akan membawa makanan untuk putra sulungnya, kakaknya Cristian, tapi bagaimana kalau Cristian bertanya soal ayahnya, apakah satu ayah atau tidak dengan Damian? Ingin dia jawab seayah dengan Damian, tapi bagaimana suaminya? Suaminya tidak menyukai itu.


Setelah Cristian dan Pak Sony pergi dari rumah, barulah Bu Sony juga keluar rumah. Mengendarai mobilnya menuju rukannya Damian. Dia sudah kangen dengan putra sulungnya itu.


Bu Sony sampai di rukannya Damian bersamaan dengan Damian yang keluar dari rumahnya akan ke kantornya. Dilihatnya ibunya berjalan sambil membawa kantong yang berisi makanan.


“Ibu!” panggil Damian sambil tersenyum dan langsung memeluk ibunya.


“Sayang!” ucap Bu Sony sambil mencium kening Damian. Kedua tangannya mengusap pipinya Damian.


“Apa kau sudah sarapan? Ibu bawa makanan untukmu,” kata Bu Sony.


“Aku sudah sarapan Bu, makanannya untuk makan siang saja, aku ingin mengajak ibu ke suatu tempat,” ucap Damian, sambil menggandeng ibunya masuk kembali ke rumahnya.


Ibunya menyimpan makanannya di atas meja yang ada diruang tengah.


“Memangnya kau mau mengajak ibu kemana?” tanya Ibunya, menatap Damian, tangannya mengusap kepala putranya.


“Aku mau minta tolong pada ibu,” ucap Damian.


“Minta tolong apa?” tanya Bu Sony.


“Melamarkan gadis untukku,” jawab Damian.


“Apa? Melamar?” tanya Bu Sony terkejut.


“Iya Bu, aku tahu dia akan menikah dengan pria lain, tapi aku sangat mencintainya dan dia juga sama. Aku tidak ingin kehilangan dia, makanya aku mengajak ibu melamarnya untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Aku akan menerima apapun keputusannya, karena aku berjanji untuk menikahinya disaat ibu sudah ditemukan,” jawab Damian.


“Kau akan melamar gadis yang akan menikah dengan pria lain?” tanya Bu Sony, terkejut.


“Aku sudah bicara dengan orang tuanya kalau akan melamarnya lagi dengan Ibu,” jawab Damian.


“Tapi sayang, masa kau melamar gadis yang akan menikah?” tanya Bu Sony lagi.


“Dia mencintaiku Bu, tolonglah Bu. Jika dia menolak lamaranku sekarang aku sudah berjanji aku akan pergi selama-lamanya dari kehidupannya,” jawab Damian.


Bu Sony menatap Damian, dia merasa sedih, kenapa Damian harus mencintai wanita yang akan menikah?


“Ayolah Bu,” pinta Damian.


“Aku sangat mencintainya,” ucap Damian lagi.


Meskipun sebenarnya hati Bu Sony keberatan Damian melamar gadis yang akan menikah dengan pria lain, tapi kerena baru sekarang Damian meminta bantuannya, diapun akhirnya mengangguk. Dia ingin tahu seperti apa gadis itu, dia ingin tahu apa jawaban gadis itu?


“Meskipun sebenarnya ibu tidak setuju, tapi baiklah ibu mau melamarkan gadis itu, tapi kau harus berjanji,” kata bu Sony.


“Berjanji apa?” tanya Damian.


“Melamar gadis yang akan menikah itu tidak baik Nak. Jadi kalau misalkan gadis itu menolakmu kau harus berjanji untuk melupakannya. Ibu tahu itu akan sulit, tapi itu artinya dia bukan Jodohmu, dan nanti kau pasti akan mendapatkan jodoh yang lebih baik,” jawab Ibunya, masih menatapnya.


“Ya Bu, Aku mengerti, aku akan menerima apapun keputusannya. Aku sudah berjanji kalau ternyata dia tidak menerima lamaranku maka aku akan pergi,” kata Damian.


Bu Sonypun mengangguk, diapun mengusap lengan putranya memberi semangat.


Akhirnya mereka berdua meninggalkan rukannya Damian, menuju rumahnya Hanna.


“Kau sangat mencintai kekasihmu? Kalian kenal dimana? Kenapa dia akan menikah dengan pria lain?” tanya Bu Sony, saat mereka sudah di jalanan.


“Dia tidak mencintai calon pengantin prianya, dia kabur dihari pernikahannya,” jawab Damian, sambil focus menyetir.


Mendengar jawaban Damian membuat Bu Sony terkejut. Kabur dari hari pernikahannya? Cristian juga ditinggalkan oleh Hanna saat mereka akan menikah.


“Sekarang dia sudah kembali pada orang tuanya dan akan melanjutkan   pernikahan mereka,” kata Damian lagi.


Bu Sony semakin merasakan hati yang gelisah. Kenapa ceritanya sama dengan Cristian?


“Aku sangat mencintainya Bu, rasa cintaku ini tidak pernah aku rasakan pada gadis lain, aku benar-benar mencintainya Bu, aku ingin menikah dengannya. Sebenarnya aku sudah melamarnya lalu tiba-tiba ayahnya menemukannya dan menyuruhnya untuk menikah lagi dengan calon pengantin prianya,” lanjut Damian.


Bu Sony menatap Damian yang sedang menatap ke jalanan. Kenapa Damian seperti sedang membicarakan kisah cintanya Cristian? Hatinya semakin gelisah dan dadanya berbedar-debar, seakan-akan ada sesuatu yang buruk yang akan dialaminya.


Bu Sony melihat pada jalanan lagi, kenapa jalan yang ditempuh Damian itu seperti sealamat dengan rumahnya Pak Louis?


“Kekasihmu tinggal di daerah sini?” tanya Bu Sony.


“Iya, sebentar lagi kita sampai,” jawab Damian. Bu Sony mengerutkan keningnya, apakah kekasihnya Damian itu tetanggaan dengan rumahnya Pak Louis? Tapi hatinya semakin tidak karuan saat Damain berhenti di gerbang rumahnya Pak Louis dan berbicara dengan satpam.


“Aku sudah ada janji dengan Pak Louis,” kata Damian pada satpam.


Bu Sony menatap putranya, lalu menoleh pada rumahnya pak Louis. Dia bertanya-tanya kenapa Damian membawa mobilnya ke rumah Pak Louis? Sebenarnya siapa yang akan dia lamar? Pak Louis hanya punya satu putri, Hanna, apakah Damian akan melamar Hanna? Rasanya tidak mungkin.


“Silahkan masuk, Pak Louis sudah menunggu!” kata Pak Satpam sambil membuka gerbang pintu rumah itu.


Mobil Damian memasuki halaman rumah itu.


“Sayang,” panggil Bu Sony dengan perasaan cemas, wajahnya sudah mulai pucat, hatinya sudah benar-benar tidak tahu rasa lagi.


“Iya Bu,” jawab Damian, sambil memarkir mobilnya.


“Ini rumah kekasihmu itu?” tanya Bu Sony.


“Iya,Bu,” jawab Damian.


Bu Sony menatap Damian lekat-lekat, putranya itu mematikan mesin mobilnya.


 “Kau akan melamar putrinya Pak Louis?” tanya Bu Sony.


“Iya Bu, aku akan melamar Hanna,” jawab Damian, sambil memiringkan tubuhnya menghadap ibunya.


Mendengar perkataannya Damian, bagaikan disambar petir disiang bolong, Bu Sony terkejut bukan main. Rasa gelisah cemas yang dirasanya dari tadi ternyata inilah jawabannya. Putra sulungnya ingin melamar calon istri adiknya.


“Hanna?’ taya Bu Sony, dengan ragu. Dia berharap dia salah mengira Hanna yang akan dilamar


untuk Damian.


“Iya,“ jawab Damian, membuat Bu Sony shock, harapannya tidak terkabul. Ternyata kedua putranya mencintai wanita yang sama. Pada putra yang mana dia akan memberikan restu?


“Nama kekasihmu Hanna?” ulang Bu Sony masih tidak percaya dengan jawaban putranya.


“Iya Bu, namanya Hanna. Aku mengajak ibu kesini untuk melamar Hanna,” ucap Damian. Dia agak keheranan melihat ibunya berwajah pucat.


Dari kaca spion Damian melihat Bu Astrid membuka pintu rumahnya.


“Bu, itu ibunya Hanna sudah membuka pintu, ayo kita turun,” ajak Damian, sambil membuka pintu mobilnya.


Bu Sony melihat kaca spion di dekatnya, benar kata Damian, Bu Astrid membuka pintu rumahnya. Dia masih sangat terkejut dengan perkataan Damian, jadi Damian mencintai Hanna, calon istrinya Cristian? Jadi Hanna kabur di hari pernikahannya dengan Cristian itu menumpang mobilnya Damian? Jangan-jangan waktu bertemu Hanna di makam orangtuanya, Hanna juga sedang bersama Damian?


“Bu, ayo!” ajak Damian sambil melongokkan kepalanya ke dalam mobil, dia keheranan karena ibunya hanya diam saja tidak mau turun.


“I iya sayang,” jawab Bu Sony dengan gugup, keringat dingin mulai menyerangnya, tangannya terasa dingin dan gemetaran.


Bu Sony sangat cemas, apa yang harus dilakukannya? Apakah dia harus melamar gadis yang akan menikah dengan putranya untuk menikah dengan putranya yang lain?


**************


 Jangan lupa like dan votenya...