
Siang ini Henry sedang makan siang disebuah restaurant mewah dengan teman juga rekan bisnisnya yang muda-muda tidak beda jauh usianya dengannya.
“Selamat, akhirnya kau akan menikah juga,” kata Mike, pria yang bertubuh gemuk.
“Tidak menyangka setelah pencarian dari sekian banyak wanita akhirnya kau memilih juga salah satu,” ujar Kevin, besar tubuhnya hampir sama dengan Henry.
“Calon pengantinmu yang mana? Saat membaca undangan pernikahanmu, sepertinya aku tidak pernah mendengar kau pacaran dengan yang bernama Shezie?” tanya Septian.
“Aku baru mengenalnya,” jawab Henry.
“Wah hebat kau, pacarannya dengan gadis lain menikah dengan yang baru!” kata Kevin diikuti tawa temannya.
Henry hanya tersenyum saja. Mau bagaimana lagi, tanggung dikira akan menikah kalau tidak jadi bisa tidak punya muka di olok-olok temannya.
“Aku juga sudah bosan dengan pacarku, tapi dia tidak mau diputisin. Diputusin malah tambah posesif, bikin ribet aja, aku ingin cari yang baru,” kata Kevin lagi.
“Kau bosan dengan pacarmu?” tanya Septian.
“Iya, Imelda tidak mau aku putusin, aku sudah bosan padanya,” jawab Kevin lagi.
“Aku dengar ada gadis yang menjual jasa pemutus cinta, kau hubungi saja dia!” ujar Mike.
“Wah boleh juga tuh,” sahut Kevin.
Mendengar perkataan Mike dan Kevin, membuat Henry terkejut, jangan-jangan gadis yang dimaksud Mike adalah Shezie. Bagaimana ini?
“Kita balik sekarang Yuk? Biar rapat cepat selesainya, aku banyak urusan,” ujar Henry, jangan sampai teman-temannya mengorek-ngorek informasi gadis itu.
Disaat mereka berbincang-bincang, tiba-tiba ada suara berisik pertengkaran di meja lain. Merekapun melirik kearah suara ribut-ribut begitu juga dengan yang lain.
“Kau benar-benar wanita penggoda! Pasti kau yang sudah merayu-rayu pacarku kan? Pacarku tidak mungkin selingkuh kalau tidak kau rayu!” maki seorang gadis yang berdri berhadapan dengan seorang gadis.
“Ada apa itu?” tanya Kevin.
“Ah biasa paling-paling pacarnya selingkuh,” jawab Septian.
“Memang kalau sudah bosan masa mau dipertahankan, ya mending selingkuh saja,” kata Mike.
Henry menoleh kearah yang ribut-ribut itu, dan dia membelalakkan matanya saat melihat Shezie sedang dimarahi gadis yang bersama seorang pria. Pastilah Shezie sedang berakting jadi selingkuhan pria itu.
Wajah Henry langsung memerah, dia merasa malu kalau sampai teman-temannya melihat Shezie dan dipernikahan melihat Shezie lagi bersanding dengannya, mau ditaruh dimana mukanya.
“Sudah tidak usah ikut campur urusan orang lain, kita balik sekarang! Lanjut meetingnya biar cepat slesai, aku banyak urusan,” kata Henry mengajak temannya pulang supaya tidak melihat Shezie.
“Iya mending kita balik,” sahut Septian.
Merekapun beranjak meninggalkan meja itu, Henry sempat melihat pertengkaran itu belum usai, bahkan satpam berlarian menuju tempat pertengkaran itu.
“Dasar wanita tidak tahu malu! Kau sengaja menggoda pacarku! Aku tidak percaya kalau pacarku yang selingkuh! Kau wanita yang bla..bla…bla..” gadis itu memaki SHezie dengan sebutan kasar yang tidak enak didengar.
Makin-makian gadis itu jelas terdengar oleh Henry. Dia berusaha bersikap acuh, tapi tiba-tiba Henry mendengar suara tamparan. Dia langsung menghentikan langkahnya. Kenapa hatinya tidak terima Shezie dimaki-maki seperti itu apalagi dia mendengar suara tamparan, apa Shezie ditampar gadis itu? Hatinya semakin tidak terima, dia tahu Shezie bukan benar-benar selingkuh dengan pria itu.
“Kalian duluan saja ke kantor, aku sakit perut mau ke toilet!” kata Henry berbohong, yang diangguki teman-temannya.
Henry berbalik masuk lagi ke dalam restaurant itu, benar saja, sekarang banyak orang yang melihat pertengkaran itu bahkan satpam-satpam menghalangi gadis itu yang akan menyerang Shezie.
“Dasar kau wanita murahanan!” maki gadis itu, dia akan melayangkan tamparannya lagi tapi seseorang menahan tangannya di udara, Henry sudah berdiri didepan Shezie.
“Yang harus kau tampar pacarmu itu!” bentak Henry.
“Kau siapa beraninya ikut campur?” maki gadis itu, sambil menarik tangannya dari pegangan Henry.
“Aku calon suaminya,” jawab Henry, sambil meraih tangannya Shezie yang memegang pipinya yang merah bekas tamparan itu. Gadis itu terkejut mendengar jawabannya Henry.
“Apa? Calon suami? Gadis ini punya calon suami tapi pacaran dengan pacarku?” tanya gadis itu sambil mencibir dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Benar-benar murahan!” cibirnya dengan sinis.
“Jangan sembarangan bicara! Asal kau tahu pacarmu yang tidak menginginkanmu lagi! Dan meminta calon istriku ini untuk pura-pura jadi pacarnya! Jadi tanpa ada yang menggoda pacarmu, memang pacarmu sudah tidak menyukaimu lagi!” bentak Henry.
Gadis itu semakin terkejut dan menoleh pada pacarnya.
“Eueueu..bukan begitu sayang, pria itu berbohong,” kilah pria itu, dia terlihat ketakutan pada pacarnya.
“Berbohong apa? Kau benar..benar…” gadis itu tidak melanjutkan bicaranya, dia langung memukul dada pria itu lalu meraih tasnya meninggalkan restaurant.
Melihat pacarnya pergi, pria itu malah mengejarnya, mengabaikan semua orang memperhatikannya.
“Sayang, sayang tunggu! Kau salah faham!” seru pria itu.
Shezie terkejut melihat pria itu malah mengejar pacarnya.
“Hei! Kau kan yang minta putus dengannya! Mana bayaranku?” teriak Shezie dengan kesal, pria itu malah kabur.
Henry menoleh pada Shezie dan menatapnya, dilihatnya tamparan itu membekas di pipinya Shezie. Shezie pun menoleh pada Henry tanpa bicara, tapi kemudian dia terkejut saat tiba-tiba Henry menarik tangannya keluar dari restaurant itu.
“Henry! Lepaskan!” seru Shezie.
Henry mengabaikannya, terus membawa Shezie menuju mobilnya dan langsung membuka pintu mobilnya.
“Masuk!” perintah Henry.
Terpaksa Shezie masuk , pintupun ditutup Henry sedangkan dia berjalan memutar masuk ke pintu sebelahnya dan duduk di belakang stir.
“Apa kau tahu apa yang sudah kau lakukan?” tanya Henry.
Shezie tidak menjawab, dia mengambil sesuatu dari dalam tasnya lalu dioleskan pada pipinya yang merah sambil menunduk.
Henry memiringkan tubuhnya menghadap Shezie, memperhatikan gadis itu, rupanya Shezie sudah siap sedia dengan membawa obat luka.
Tangan Henry meraih dagunya Shezie dan memutar kearahnya untuk melihat bekas tamparan itu. Shezie menepis tangan Henry, kembali mengoles lukanya.
Henry kembali menatapnya.
“Stop berpura-pura menjadi selingkuhan orang lain!” kata Henry.
“Ini sudah jadi pekerjaanku,” jawab Shezie.
“Untuk apa kau melakukan pekerjaan ini? Kau membiarkan dirimu dimaki-maki orang seperti itu? Bahkan kau juga ditamparnya? Kau berbohong padaku kan, pekerjaanmu tidak selalu berhasil?” tanya Henry.
“Aku sudah terbiasa,” jawab Shezie.
“Apa katamu sudah terbiasa? Sudah dimaki-maki, ditampar, kau juga tidak dapat uangnya!” ucap Henry dengan kesal. Dia tidak habis fikir dengan pekerjaan yang Shezie pilih.
“Kau mengagalkannya Henry, seharusnya aku mendatapkan uangnya,” jawab Shezie.
“Aku tidak bisa membiarkan orang lain memakimu seperti itu!” kata Henry.
Shezie berbalik menghadap Henry.
“Untuk apa kau memikirkan itu?” tanya Shezie. Ditanya begitu Henry kebingungan, apa alasan dia tidak rela Shezie dimaki orang?
“Karena kau calon istriku, besok kita menikah, jangan membuat masalah,” jawab Henry, mencari-cari alasan.
Shezie menatap Henry.
“Kita bekerja profesional Henry, jangan melibatkan perasaan, kau membayarku hanya untuk jadi pengantin besok,” ucap Shezie.
Dikatakan begitu membuat Henry bengong.
“Kau ini kepedean, aku hanya tidak suka ada wanita yang dimaki-maki, sedangkan aku tahu kau bukan selingkuhan pria itu!” elak Henry.
“Sesuai perjanjian, kita hanya rekan kerja, apapun yang terjadi padaku, itu bukan urusanmu. Jangan ikut campur lebih jauh,” kata Shezie.
“Aku akan datang besok pagi tepat waktu,” lanjut Shezie, sambil membuka pintu mobil keluar dari mobilnya Henry.
Henry tercenung dengan kepergiannya Shezie. Apa yang gadis itu katakan? Dia terlalu ikut campur? Tapi… Henrypun tersadar. Apa benar dia telah bersikap berlebihan? Dia memang yang membayar Shezie dan mereka tidak ada hubungan apa-apa, seharusnya dia tidak peduli kehidupan Shezie diluar bekerja padanya.
*******