Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-74 Mulai terciumnya pernikahan palsu



Pagi-pagi sekali Cristian sudah datang ke kantornya, dia langusng menemui sekretarisnya yang baru saja tiba.


“Pagi Pak Cristian,” sapa Bu Dela, sekretarisnya Cristian.


“Apa ada yang penting,Pak? Anda datang pagi sekali,” lanjut Bu Dela sambil menyimpan tas di mejanya.


“Aku butuh bantuanmu,” jawab Cristian, menatap sekretarisnya itu.


“Bantuan apa,Pak?” tanya Bu Dela balas menatap Cristian.


“Kau menyimpan arsip tabloid Bisnis ibukota?” tanya Cristian.


“Iya pak, semua tersimpan lengkap di ruang pengarsipan,” jawab Bu Dela.


“Kalau begitu aku minta tabloid sekitar 3-4 bulan terakhir ini,” kata Cristian.


“3-4 Bulan terakhir?” tanya Bu Dela lagi.


“Iya,” jawab Cristian.


“Baik Pak, nanti saya cari,” kata Bu Dela.


“Tidak nanti, tapi sekarang. Aku membutuhkannya sekarang,” jawab Cristian, dia sudah tidak sabar ingin mengetahui kebenaran yang terjadi tentang pernikahannya Hanna dengan Damian.


“Baik, Pak,” jawab Bu Dela.


“Atau mungkin kau tahu ada berita di tabloid tentang pernikahan pengusaha muda di ibukota?” tanya Cristian.


“Ada beberapa Pak, biasanya disimpan di kolom serba serbi,” jawab Bu Dela.


“Kalau begitu barangkali kau ingat ada artikel pernikahan pengusaha muda bernama Damian,” kata Cristian, menatap Bu Dela.


“Oh itu, ada Pak, beliau menikah dengan maaf, namanya sama dengan calon pengantin Bapak itu, Bu Hanna,” jawab Bu Dela. Sontak saja membuat Cristian semakin tidak sabar membacanya.


“Kau membaca artikel itu?” tanya Cristian.


“Iya Pak, pernikahannya sangat mewah,” jawab Bu Dela.


“Coba kau cari artikel itu. Aku tunggu sekarang,” perintah Cristian.


“Baik Pak,” jawab Bu Dela, diapun langsung meninggalkan Cristian, pergi menuju ruangan pengarsipan yang berada di belakang mejanya.


Cristian masuk ke ruangannya dengan tidak sabar, dia benar-benar sangat gelisah. Dia harus tahu apa sebenarnya yang terjadi dengan pernikahannya juga pernikahannya Damian. Dia harus tahu alasan kenapa Hanna tiba-tiba menikah dengan Damian. Apakah Hanna berselingkuh atau ada alasan lain? Dia tidak yakin kalau Hanna berselingkuh jadi dia harus tahu alasan lain itu.


Diapun teringat temannya, Bobby yang mengajaknya ke pesta pernikahannya Damian. Kalau saja waktu itu dia bisa melihat pengantin wanitanya, mungkin dia bisa mengenali apakah itu Hanna atau bukan, karena di foto Prewed yang tepampang disetiap sudut gedung itu pengantin wanitanya mirip dengan Hannanya.


Cristian menghela nafas panjang. Dia mencoba menenagkan diri. Dia tahu dia sadar Hanna sudah terang terangan mengatakan mencintai Damian, tapi dia tetap ingin tahu ada apa dibalik kejadian ini? Seandainya bertemu lagi dengan Hanna yang masih sendiri, mungkin dia tidak akan securiga ini. Tapi kenyataannya dia bertemu Hanna dengan status istri orang dalam waktu yang singkat, itu yang tidak dia mengerti.


Cukup lama Damian menunggu, terdengar langkah menuju ruangannya yang semakin medekat. Munculah Bu Dela di depan pintu dengan membawa setumpuk tabloid bsnis mingguan itu.


“Sudah ada?” tanya Cristian, sambil berjalan mendekati Bu Dela.


Bu Dela menyimpan tabloid Bisnis itu diatas meja tamu di ruangan Cristian.


“Kalau tidak salah Pak Damian itu menikahnya tidak lama setelah pernikahan anda, Pak,” kata Bu Dela.


“Kau ingat itu?” tanya Cristian.


“Tentu saja ingat Pak. Maaf kejadian diperniakahn itu pasti akan teringat oleh semua orang yang hadir di pesta,” jawab Bu Dela.


Cristianpun terdiam. Dia jadi teringat saat Hanna lari dihari pernikahan mereka disaat tamu-tamu sudah berkumpul untuk menyaksikan mereke mengikat janji pernikahan. Cristian mengusap keningnya. Masih teringat sedih dan kecewanya Cristian ditinggalkan oleh Hanna yang pergi dengan menumpang sebuah mobil mewah entah kemana.


Bu Dela duduk di sofa diikuti oleh Cristian, diapun mulai memilih milih tabloid di meja itu.


“Kita cari dari bulan Bapak menikah ya Pak,” ucap Bu Dela. Cristian mengangguk.


Bu Dela mengambil 4 buah tabloid, dibukanya satu persatu, begitu juga cristian.


Tabloid pertama setelah tanggal pernikahannya Cristian, ternyata tidak ada berita pernikahan, tabloid minggu berikutnya juga tidak ada, berikutnya lagi tidak ada, beritkutnya lagi masih tidak ada, di tabloid yang keempat barulah ditemukan berita resepsi pernikahannya Damian dan Hanna.


“Ini hanya berita resepsi saja Pak, jadi Pak Damian menikah di tanggal yang berbeda, tanggal pastinya tidak dicantumkan, hanya dikatakan diluar pulau, itu saja,” kata Bu Dela.


“Ternyata kau hapal ya,” puji Cristian.


“Maaf Pak, saya tertarik karena nama pengantinnya sama dengan pengantin wanita Bapak,” jawab Bu Dela.


Cristian membukan tabloid itu, dan mulai membacanya. Dia datang ke resepsi itu bersama Bobby, tapi dia tidak mengira kalau pengantin wanitanya Hannanya.


Cristian menatap foto pengantin Damian dan Hanna yang ada ditabloid itu.


“Benar kan Pak, Mirip Bu Hanna,” kata Bu Dela.


“Kau benar,” jawab Cristian.


“Namanya juga sama, hanya orangtuanya yang berbeda, jadi saya fikir itu hanya mirip saja,” kata Bu Dela.


“Orangtuanya?” ucap Cristian.


“Iya, namanya juga beda dengan orangtua Bu Hanna,” kata Bu Dela lagi.


Cristian melihat lagi foto mempelai dengan kedua orangtua mereka di kanan kiri pengantin. Dilihatnya foto orangtua Hanna bukan Pak Louis dan Bu Astrid. Dibaca lagi artikelnya mencari siapa tahu mencantumkan nama orangtua penganitin perempuan. Tercantum nama Sanjaya dan Sulastri.


Cristian terdiam dan berfikir, itu artinya Hanna membawa orangtua palsu. Kenapa Hanna bisa melakukan hal seperti itu? Bagimana kalau Pak Louis dan Bu Astrid tahu? Mereka pasti akan kecewa dengan kebohongan ini. Kenapa Hanna bisa berbuat senekat itu? Kalau dia mencintai Damian dan ingin menikah dengan Damian, kenapa tidak meminta restu langsung pada orangtuanya dan malah membawa orangtua palsu? Ada apa ini? Apa ada hal lain yang disembunyikan? Cristian semakin tidak mengerti dan berbagai pertanyaan terus keluar dari kepalanya.


Cristian menoleh pada Bu Dela yang duduk tidak jauh darinya.


“Bu Dela, menurutmu, jika aku mkasudku kalau aku butuh seseorang yang bisa aku sewa untuk berpura-pura menjadi seseorang, aku harus mencari kemana?” tanya Cristian. Bu Dela tampak terkejut mendengar pertanyaan Cristian itu.


“Seseorang yang disewa untuk perpura-pura? Maksudnya berakting begitu?” tanya Bu Dela.


“Benar," jawab Cristian.


“Kalau itu sih bisa ke agency artis artis piguran Pak, mereka terbiasa untuk berakting diacara-acara televisi,” jawab Bu Dela.


“Agency artis?” tanya Cristian.


“Iya Pak, keponakan saya juga ikut gabung dengan agency artis di ibukota, ya masih figuran sih,” jawab Bu Dela. Tiba-tiba Cristian mendapatkan titik cerah mendengar perkataan Bu Dela.


“Bu dela, tolong bantu aku untuk meminta bantuan keponakanmu barangkali bisa mengenali orang-orang di foto ini,” kata Cristian sambil memperlihatkan foto Pak Sanjaya dan Bu Sulastri.


“Bapak ingin tahu orangtuanya pengantin wanita ini?” tanya Bu Dela, sambil menatap Crsitian.


“Iya aku ingin tahu, apakah keponakanmu mengenal mereka,” jawab Cristian.


Bu Dela mengeluarkan handphone ditangannya lalu memfoto foto yang ada di tabloid, diapun mengirimkan foto itu lewat pesan pada keponakannya di ibukota.


“Sudah saya kirim Pak, nanti kalau ada balasannya saya kabari,” kata Bu Dela.


“Iya. Terimakaih Bu Dela. Kau bisa membereskan kembali tabloid ini,” ucap Crsitian.


Bu Dela mengangguk, diapun mengumpulkan taloid yang berserakan diatas meja, dan dibawa kembali keruang pengarsipan, sedangkan tabloid yang ada foto pernikahan Damian dan Hanna disimpan diatas meja kerjanya Cristian.


Cristian duduk di kursi kerjanya dengan  gelisah. Dibiarkannya pekerjaannya bertumpuk diatas meja. Dia benar-benar ingin tahu semua teka teki ini. Dia ingin tahu kejadian dibalik semua ini, meskipun dia sudah kehilangan Hanna. Setidaknya hatinya tidak terus dihantui rasa penasaran atas semua yang telah terjadi.


*************


Setelah menemi Bu Susan, Damian dan Hanna kembali ke tempat kerja mereka.


Damian segera duduk di kursinya. Hanna berjalan kaki dengan agak diseret, menuju sofa yang tidak jauh dari tempat duduk Damian.


“Apa masih sakit?” tanya Damian.


“Ya,” jawab Hanna.


“Lebih baik kau pulang saja istirhat,” kata Damian, menoleh pada Hanna yang membuka sepatunya. Damian bangun dari duduknya, menghampiri Hanna dan duduk disamping Hanna.


“Hanna!” panggil Damian.


“Apa?” tanya Hanna, tanpa menoleh, dia membuka satu sepatunya lagi.


“Katakan padaku, sebenarnya buat apa kau melakukan ini semua?” tanya Damian.


“Melakukan apa?” tanya Hanna sambil menoleh pada Damian.


“Kau meliburkan Pak Indra, dan susah payah menggantikannya, sebenarnya untuk apa?” tanya Damian dengan serius, menatap Hanna.


“Ah tidak apa-apa, aku hanya tidak ada kerjaan saja dirumah,” jawab Hanna berbohong, dia mengipas ngipas lecet dikakinya dengan sepatu.


“Katakan saja kalau kau cemburu dan curiga kakakku punya pacar diluar!” tiba-tiba terdengar suara orang bicara, membuat Hanna dan Damian menoleh kearah suara.


Ternyata Cristian masuk sambil menyimpan berkas dimeja Damian.


“Siteplan arsitek, ada yang harus diperbaiki,” kata Satria pada Damian.


Hanna menatap tajam pada Satria, yang juga menatapnya.


“Sudah, jangan sok sok ditutup tutupi lagi, kalau cemburu ya cemburu saja, pusing aku melihatnya,” kata Satria sambil keluar dari ruangan itu.


Mendengar kata-kata Satria membuat wajah Hanna memerah, malu, kesal dan sebal pada Satria. Buat apa Satria bicara begitu. Dia buru-buru menunduk lagi mengipas ngipas kakinya.


“Apa maksudnya Satria? Kau cemburu aku punya wanita lain diluar?” tanya Damian, menatap Hanna.


Hanna benar-benar merasa malu, diapun membalikkan badannya memunggungi Damian.


Damian memegang bahunya Hanna dan memutar tubuh Hanna supaya menghadapnya.


“Katakan ada apa?” tanya Damian, menatap Hanna yang kini menghadap kearahnya tapi kepalanya menunduk.


“Hanna, tatap aku,” ucap Damian.


Hannapun mengangkat wajahnya menatap Damian.


“Jelaskan padaku apa maksudnya Satria tadi?” tanya Damian.


“Tidak, aku hanya..hanyaa..” ucap Hanna dengan lirih, tiba-tiba dia berubah bicara dengan berapi-api.


“Ah Satria kan memang begitu, dia selalu menggangguku, membuatku kesal dan jengkel, dia memang usil orangnya,” lanjut Hanna.


“Kau kan istriku apa yang harus dicurigai?” tanya Damian, sambil bangun dari duduknya, pindah menuju kursi kerjanya.


“Apa?” Hanna tampak bingung dengan perkatan Damian itu apakah itu artinya Damian menganggapnya sebagai istri yang sebenarnya?


“Sekarang kau pulang saja, telpon Pak Indra supaya kembali bekerja,” ucap Damian dengan nada serius.


Sebenarnya Hanna masih ingin bertanya, tapi melihat Damian seserius itu, dia tidak mau mengganggu pekerjaannya lagi.


“Baiklah, aku akan pulang,” jawab Hanna.


“Apa kau bisa berjalan? Aku tidak mau menggendongmu lagi, kau semakin berat,” ucap Damian.


“Apa? Berat?” tanya Hanna terkejut, matanya sampai melotot.


“Hem,” jawab Damian, sambil menulis sesuatu diatas meja.


“Berarti aku tambah gemuk?” tanya Hanna, sambil berdiri memegang pipinya lalu perutnya.


“Apa benar aku gemuk?” tanyanya lagi pada damian.


“Timbang saja sendiri!” jawab Damian.


“Aku tidak mau gemuk, “ keluh Hanna.


“Ah sudah jangan cerewet, kau berisik, aku butuh Pak Indra sekarang, telpon Pak Indra,”ucap Damian dengan kesal karena Hanna malah sibuk memegang megang tubuhnya.


“Baiklah aku pulang,” ucap Hanna, kembali memakai sepatunya, berjalan perlahan keluar pintu.


“Huhu, aku gemuk,” keluhnya sambil berjalan dengan lesu.


“Tapi kau semakin cantik,” terdengar suara Damian dari dalam ruangan. Mendengarnya membuat Hanna terkejut dan berbunga-bunga dipuji cantik, Senyum langsung mengembang dibibirnya, lalu menoleh ke belakang yang dilihatnya adalah  pria itu sedang sibuk menulis. Diapun kembali cemberut.


Kenapa sih memuji tidak sambil menatapnya gitu, tidak tulus amat, batinnya. Diapun meninggalkan ruangannya Damian.


 


*************


Jangan lupa like vote dan komen