Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-83 Henry mencari Shezie ( part 2)



Henry kembali menatap Shezie dan memegang tangannya.


“Sayang katakan ada apa sebenarnya?” tanya Henry.


“Henry aku minta maaf, aku harus bercerai darimu, aku sudah berjanji pada Martin akan menikah dengannya jika bisa membawa ibuku kembali berobat ke rumah sakit,” kata Shezie.


“Kau ini bicara apa? Hanya karena itu kau mengorbankan hidupmu?“ bentak Henry.


“Henry mengertilah, ini demi ibuku, aku takut kehilangan ibuku,” jawab Shezie, balas memegang tangan suaminya dengan erat.


Henry menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu menoleh pada Martin yang tersenyum saja melihat drama didepannya.


“Dia yang menyuruhmu menyanggupi persyaratan konyol ini? Dia yang membujuk ibumu pergi kerumah sakit? Hanya karena itu kau langsung mau menikah dengannya dan meninggalkanku?” tanya Henry dengan nada tinggi.


“Aku minta maaf Henry, aku terpaksa melakukannya, aku ingin ibuku segera dirawat ibuku drop aku takut kehilangan ibuku,” jawab Shezie, dengan bibir yang bergetar mengatakannya, hatinya juga sangat hancur harus menerima kenyataan ini, dia juga mencintai suaminya.


“Tidak, tidak bisa! Aku tidak mau bercerai denganmu, kau juga sudah berjanji tidak akan meninggalkanku,” kata Henry.


“Maaf Henry aku ingkar janji, aku tidak bisa menjadi istrimu lagi,” ucap Shezie, membuat Henry berdiri mematung menatapnya tidak mengerti, apakah pernikahannya dengan Shezie hanya akan seujung kuku?


“Tidak sayang, jangan begitu, ibuku akan tiba besok, ibuku akan melamarmu, aku tidak mau berpisah denganmu,” kata Henry.


“Maafkan aku Henry , aku sudah berjanji pada Martin,” ucap Shezie.


Henry mengabaikan perkatannya SHezie, kedua tangannya memeluk Shezie dan mencium rambutnya, betapa sayanganya dia pada istrinya.


“Sayang, kau istriku, selamanya akan menjadi istriku,” ucapnya.


Melihat ungkapan perasaan Henry semakin membuat Shezie bersedih, dia memeluk tubuh Henry dengan kuat dan menangisinya.


“Eh eh apa yang kalian lakukan? Kalian akan bercerai!” teriak Martin tiba-tiba menepiskan pelukan mereka, sampai pelukan Shezie terlepas.


Henry merasa kesal dengan kelakuan Martin, diapun langsung memukul Martin.


Bugh!


“Aduh!” teriak Martin dengan keras, dia tidak menyangka Henry akan memukulnya.


“Sudah aku katakan jangan ganggu istriku!” maki Henry.


Martin kesal dipukul oleh Henry, dia akan membalas memukul tapi tiba-tiba terdengar suara satpam melerai.


“Hei jangan membuat keributan!” teriak satpam, membuat Martin menghentikan gerakannya.


“Ada apa ini?” tanya satpam, menoleh pada Martin lalu pada Henry.


“Maaf Pak, hanya sedikit salah faham,” Shezie yang menjawab.


“Jangan membuat keributan!” kata satpam lagi, lalu meninggalkan tempat itu.


Martin kembali menoleh pada Shezie.


“Sayang, katakan padanya  surat perceraiannya sedang  dalam proses, tunggu saja dan  jangan lupa ditandatangani,” kata Martin, menahan marahnya ingin balas memukul tidak jadi karena ada satpam.


“Sayang apa maksud semua ini? Aku tidak terima kau ingin bercerai. Kau melakukan ini karena desakan Martin juga ibumu? Aku akan datang kesini besok, kau jangan khawatir, aku akan menunjukkan niat baik menjadikanmu istriku selamanya,” ucap Henry.


Shezie merasa sedih mendengar ucapannya Henry, bibirnya tidak sanggup bicara, hanya airmata yang menjawabnya terus menetes di pipinya.


“Sayang,” panggil Henry.


“Aku minta maaf Henry aku telah ingkar janji,” kata Shezie, dia tidak punya pilihan lain selain menikah dengan Martin sesuai dengan keinginan ibunya.


“Kau takut pada ibumu? Kau sabar aku akan datang besok bersama ibuku, kau sabar jangan mengambil keputusan terlalu cepat,” ujar Henry.


“Maafkan aku Henry aku tidak bisa, aku tidak bisa menolak permintaan ibuku,”ucap Shezie dengan serius semakin membuat Henry terkejut saja. Pernikahannya yang baru seumur jagung kandas ditengah jalan.


“Sayang , besok aku dan ibuku akan datang,” ucap Henry, bersikeras, dia tidak mau kehilangan Shezie.


Martin menatap Henry.


“Apa perkataannya tidak jelas juga? Dia ingin bercerai, kau tunggu surat cerainya, tidak perlu memaksa membawa ibumu untuk melamarnya, kau tidak akan diterima,” kata Martin.


Henry kembali menatap Shezie.


“Sayang,ini hanya bercanda kan? Kau tidak ingin bercerai denganku kan?”  tanya Henry, kembali mendekati SHezie.


“Sudah aku katakan kalian akan bercerai,” gerutu Martin.


Henry mengabaikan perkataannya Martin. Kedua tangannya kembali meraih tangan Shezie.


“Sayang, jangan terburu-buru ambil keputusan. Kau tunggu aku besok, aku besok kesini dengan ibuku, kita akan kembali bersama,” kata Henry, terus berusaha meyakinkan Shezie.


“Tidak perlu, aku tidak menerima kedatanganmu atau juga kedatangan keluargamu.”  Tiba-tiba ada suara yang bicara di pintu ruang rawatnya Bu Vina.


Semua mata menoleh kearah pintu, ternyata Bu Vina berdiri disana dengan wajahnya yang pucat, tangan kanannya memegang pintu dan tangan kiri dipegang Bi Ijah.


“Ibu!” seru Shezie, sambil berlari menghampiri ibunya dan langsung memegang tangannya.


“Ibu, ibu istirahat saja!” serunya, tapi Bu Vina mengegeleng.


“Aku harus bicara dengan suamimu,” jawab Bu Vina.


Henry mendekati Bu Vina yang tidak melihat dia mendekat.


“Kau diam saja, aku lebih tahu mana yang terbaik untuk putriku,” jawab Bu Vina dengan kesal.


“Jadi menurutmu yang terbaik adalah putrimu menikah dengan pria yang tidak dicintainya?” tanya Henry.


“Sudah aku katakan jika ibu merasa berhutang pada Martin, aku bisa mengaganti semuanya,” lanjut Henry dengan kesal.


“Simpan saja uangmu! Aku bukan pengemis!” teriak Bu Vina, dan langsung terbatuk-batuk.


“Bu! Ibu!” teriak Shezie lalu menoleh pada Bi Ijah.


“Bi, bawa ibu masuk,” kata Shezie, dia khawatir ibunya drop lagi. Dia dan Bi Ijah membawa ibunya masuk keruangan itu dan membaringkannya.


Martin mendekati Henry.


“Sudah aku katakan kau tidak diterima disini, pergi sana!” usir Martin.


Henry mendorong bahunya Martin dan langsung masuk keruangan itu.


“Henry!” teryata Shezie sudah menghadangnya, menghalangi langkahnya.


“Henry tolonglah, ibuku sedang sakit. Aku bukannya tidak mencintaimu, tapi ini pilihan yang sangat sulit bagiku. Aku sangat menyayangi ibuku, aku akan membahagiakan ibuku dengan menuruti apapun keinginannya,” kata Shezie.


Henry menatap Shezie.


“Tidak sayang, bercerai bukan solusinya,” Henry menggelengkan kepalanya.


“Tolong berikan aku waktu untuk membuat ibumu merestui kita,” ucap Henry.


Sheziepun terdiam, dia sungguh bingung. Dia tidak bisa memilih antara suaminya atau ibunya.


“Ibuku sudah berjanji pada orang tua Martin untuk menikahkanku dengan Martin,” ucap Shezie.


Henry menatap Shezie lagi, jarinya menyentuh pipinya.


“Aku akan bertahan, sampai kapanpun aku tidak akan menceraikanmu,” kata Henry.


“Henry tolong mengertilah, ibuku sedang sakit,” ucap Shezie.


“Baiklah, aku akan menunggu sampai ibumu lebih baik,” ucap Henry.


“Kau tidak perlu menunggu apapun, aku sudah membuat keputusan, kalian harus bercerai, sudah cukup!” ucap Bu Vina lagi, dia merasa marah dan membuat kepalanya pusing yang amat sangat.


Shezie menatap Henry dengan sedih, dia juga begitu berat berpisah dengan pria yang dicintainya.


“Sebaiknya kau pulang, ibuku harus beristirahat,” kata Shezie.


Henry menghela nafas panjang. Semua ini benar-benar menguras tenaganya.


Shezie meraih tangannya Henry, menggenggam jemarinya, tidak ingin dia melapas pegangan jemari itu.


Henry menatapnya.


“Aku mencintaimu,” ucapnya.


“Sudah kau pergi saja, kau membuat keributan disini,” kata Martin.


Shezie mengangkat kepalanya menatap Henry.


“Aku akan datang besok,” ucap Henry lalu mencium bibirnya Shezie dengan lembut.


Martin semakin sebal saja melihatnya. Dia bena-benar gereget, mereka masih saja bermesraan lagi.


“Pergi sana!” usirnya pada Henry, hatinya semakin terbakar cemburu saja, ditariknya tangan Shezie supaya menjauh dari Henry.


Henry menatap Sezi snbarbt allau apda ibunay SHezie.


“Bu, besok aku datang bersama ibuku,” ucap Henry, lalu membalikkan badannya meninggalkan ruangan itu dengan berat hati.


Saat dipintu dia kembali menoleh lagi pada Shezie yang menatapnya dengan wajahnya yang merah menahan tangis.


“Aku mencintaimu,” ucapnya pada Shezie lalu berbalik dan melangkah keluar.


Shezie tidak bisa menahan tangisnyapun pecah, dia terduduk dilantai.


Bu Vina yang berbaring mendengar tangisan Shezie, tapi dia diam hanya diam, seakan hatinya sudah mati rasa, tidak tersentuh sediitpun dengan tangisan Shezie.


Henry meninggalkan rumah sakit dengan hatinya yang remuk redam, terasa begitu menyakitkan kehilangan orang yang di cintainya.  Harus dengan upaya apa lagi untuk mendapatkan restu ibunya Shezie? Begitu kerasnya hati ibunya Shezie, bahkan putrinya menangispun tidak menggoyahkan pendiriannya untuk menikahkan Shezie dengan Martin.


Besok ibunya akan tiba, dia tidak akan menyerah, dia akan datang ke rumah sakit bersama ibunya. Dia harus membuktikan pada ibunya Shezie kalau dia benar-benar serius mencintai putrinya.


********


Readers maaf ya kalau mungkin sudah ada yang bosan, aku nulis banyak bab tapi itu-itu mulu isinya.


Aku nulis tidak ada proses edit atau baca ulang atau revisi,  nulis selalu jalan terus, tidak pernah mikirin apa apa, tidak pernah lihat kebelakang, nulis saja, jadi pasti banyak sekali kekurangannya.


Tapi enjoy aja ya tidak usah dibikin ribet, lanjuuut...


******