Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-99 Mari berjuang bersama-sama



Damian menatap wanita yang sudah dilamarnya itu. Menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Dia masih merasa mimpi kalau ternyata Hanna adalah putrinya Pak Louis.


“Kau serius dengan apa yang kau katakan itu?” tanya Damian.


“Iya, aku adalah putrinya Pak Louis,” jawab Hanna, menatap Damian dengan perasaan yang cemas.


Damian terdiam beberapa saat, dia masih shock dengan kejujurannya Hanna.


Hanna meraih tangannya Damian, memegangnya erat.


“Aku minta maaf aku tidak menceritakan ini dari awal, aku takut, aku takut kejujuranku akan membuat masalah buatmu,” kata Hanna.


“Aku memang benar-benar terkejut, jadi ini yang kau sembunyikan dariku? Itu makanya kau berdandan aneh saat aku survey lokasi dengan Pak Louis?” tanya Damian, menatap Hanna.


“Iya, waktu itu aku takut ayahku megenaliku, aku ingin melihat bagaimana sikap ayahku padamu, aku senang ayahku sangat baik padamu,” jawab Hanna.


Damian menggeleng.


“Itu hanya pekerjaan Hanna, tidak kalau seandainya ayahmu tahu kalau istriku adalah putrinya,” jawab Damian. Dia berjalan menuju kursi dan duduk disana. Hanna mengikutinya, duduk disamping Damian.


“Aku bingung untuk mengatakan ini semua, aku juga takut semua ini akan mengganggu kerjasamamu dengan ayahku,” kata Hanna, menatap Damian yang kini terdiam, dia terlihat bingung.


“Apa kau masih mau menikahiku kalau kau tahu aku putrinya Pak Louis?” tanya Hanna, menatap Damian dengan was-was. Damianpun menatapnya.


“Tentu saja, aku sudah terlanjur jatuh cinta padamu, aku tidak mau kau pergi dariku,” jawab Damian, mendengarnya membuat hati Hanna lega, dia langsung memeluknya.


“Aku juga tidak mau berpisah denganmu,” ucap Hanna.


Tangan Damian mengusap-usap punggungnya. Diapun berkali-kali mencium rambutnya Hanna, meskipun tadi dia komplen kalau rambutnya bau karena belum mandi.


“Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanya Hanna, sambil melepas pelukannya, menatap Damian. Pria itu balas menatapnya.


“Mari kita berjuang bersama-sama,” jawab Damian.


“Apa maksudmu?” tanya Hanna.


“Kita berjuang untuk cinta kita,” jawab Damian.


Hanna tidak menjawab, dia masih menatap Damian.


“Kita fikirkan apa yang terbaik untuk semua ini,” lanjut Damian.


“Kau akan tetap menemui ayahku untuk melamarku?” tanya Hanna.


“Tentu saja, karena kau putrinya, kecuali kalau kau bukan putrinya, aku tidak akan meminta restunya,” jawab Damian. Hanna jadi tertawa mendengarnya.


“Tentu saja aku putrinya Pak Louis, aku tidak akan membiarkanmu melamar putri Pak Louis yang lainnya,” seru Hanna.


“Memangnya Pak Louis punya putri yang lain?”tanya Damian, mengerutkan keningnya.


“Kenapa kau bertanya begitu? Jangan katakan kau akan melamar putri pak Louis yang lainnya!” tuduh Hanna. Dia langsung cemberut Damian seakan tertarik dengan putri Pak Louis yang lain.


“Kalaupun Pak Louis punya putri satu lusin, aku hanya akan melamarmu saja,” jawab Damian, membuat senyum mengembang dibibir Hanna. Sebuah ciuman mendarat dipipinya.


“Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Hanna.


“Entahlah, aku merasa malas bekerja,” jawab Damian,,membuat Hanna cemas.


“Kenapa? Karena kau tahu aku putrinya Pak Louis? Kau jadi tidak bersemangat membangun real estate itu?” tanya Hanna, tangannya memeluk lengan Damian.


“Bukan, bukan itu,” jawab Damian, menggeleng.


“Kenapa lagi?” tanya Hanna semakin membuat keheranan.


“Aku jadi ingin bermesraan denganmu,” jawab Damian.


“Hii, dikirain apa,” ucap Hanna sambil tertawa. Tapi Damian sama sekali tidak tertawa.


“Jadi kau akan tetap menemui ayahku?” tanya Hanna.


“Mau tidak mau, aku harus menemui ayahmu,” jawab Damian, tangannya membelai rambutnya Hanna.


“Tapi aku takut Damian, aku takut ayahku marah dan tidak merestui kita,” ucap Hanna.


“Tentu saja, ayahmu pasti marah dan tidak merestui kita, apalagi dia menginginkanmu menikah dengan Cristian, ini tidak akan mudah bagi kita,” jawab Damian.


“Jadi kita harus bagaimana? Aku tidak mau berpisah dengamu,” ucap Hanna, sambil menyandarkan kepalanya di lengan Damian.


“Apapun yang akan terjadi, kita harus menemui ayahmu,” jawab Damian.


“Ayahku kan tahunya aku istrimu, apa kita akan berterus terang kalau kita sebenarnya belum menikah?” tanya Hanna.


“Baiknya gimana ya, sepertinya kita jangan bicara dulu soal itu, biarkan saja ayahmu mengira kita sudah menikah, kita lihat reaksi ayahmu dulu, kalau kau sudah menjadi istriku bagaimana?” kata Damian, kepalanya masih terus berfikir  apa yang harus dilakukannya jika bertemu dengan Pak Louis nanti.


“Bagaimana kalau tidak setuju?” tanya Hanna.


“Ayahmu tidak akan menyuruh kita bercerai kan?” jawab Damian.


“Aku juga tidak tahu, tapi aku tidak yakin kalau ayah akan merestui kita. Ayahku sangat menyukai Cristian,” ucap Hanna.


“Ya pantas saja menyukai Cristian, dia pria yang baik, dan aku juga tahu kalau dia sangat tulus mencintiamu,” jawab Damian.


“Kau berfikir begitu tentangnya?” tanya Hanna.


“Iya,” Damian mengangguk.


“Tapi kenapa kau cemburuan pada Cristian?” tanya Hanna.


“Kata siapa aku cemburu pada Cristian?” Damian balik bertanya dan menatap Hanna.


“Kata Satria, katanya kau bekerja dalam diam, kau menyuruhnya menjagaku jangan sampai aku hilang, juga karena kau cemburu pada Cristian,” kata Hanna.


“Kau mau saja dibohongi Satria, memangnya kau anak kecil sampai-sampai aku harus menugaskan orang untuk menjagamu supaya tidak hilang?” gerutu Damian.


“Jadi…Satria bebohong? Hii Satriaaa!! Awas kau ya kalau aku bertemu denganmu! Kau mengerjaiku!” teriak Hanna denagn kesal, dia sebal pada adik iparnya yang mengerjainya.


Waktu itu adik iparnya mengatakan penuh dengan keseriusan kalau Damian menugaskannya untuk menjaganya, ternyata dia berbohong, Damian tidak menyuruh dia menjaganya, Ih Satria menyebalkan! Padahal waktu itu dia merasa sangat bahagia Damian perhatian padanya, ternyata bohong.


“Kau benar-benar cemburu pada Cristian?” tanya Hanna.


“Karena aku tahu dia baik, aku takut kau kembali padanya,” jawab Damian dengan serius. Lagi-lagi Hanna merasa terharu dengan ucapannya Damian.


“Kau tahu Damian?” tanya Hanna.


“Apa?” tanya Damian.


“Beribu-ribu kumbang ditaman, hanya satu yang beda,” jawab Hanna.


“Artinya?” tanya Damian.


“Beribu-ribu pria yang tampan, hanya satu yang ku cinta,” jawab Hanna.


“Siapa kumbangnya?” tanya Damian.


“Ya kau lah, siapa lagi?” gerutu Hanna, Damian tidak peka amat.


“Aku disamakan dengan kumbang ya,”gumam Damian.


“Ya itu kan perumpamaan pantun, Damian, kau ya kau, kumbang ya kumbang,” ucap Hanna, menggerutu, melihat wajah Damian yang datar-datar saja.


“Jadi kumbang ini akan kau apakan?” tanya Damian.


“Aku akan mencintainya seumur hidupku,” jawab Hanna.


“Beribu-ribu bunga yang cantik,” ucap Damian, kini menghadap Hanna.


“Aku tahu lanjutannya,” potong Hanna, juga menghadap Damian.


“Apa?” tanya Damian.


“Beribu-ribu bunga yang cantik, hanya satu yang ku suka, beribu-ribu wanita cantik hanya satu yang ku cinta,” jawab Hanna.


Damian malah menggeleng.


“Bukan? Kan biasanya begitu pantunnya,” kata Hanna, keheranan.


“Beribu-ribu bunga yang cantik, hanya satu yang kusuka. Beribu-ribu wanita cantik, hanya Hanna yang kucinta,” jawab Damian, membuat Hanna tertawa lebar.


“Kau sedang merayuku!” serunya.


Damian mendekatkan wajahnya ke wajah Hanna.


“Aku mencintaimu Hanna,” ucapnya.


“Aku juga,” jawab Hanna.


“Aku akan menemui ayahmu apapun yang terjadi, aku ingin manjadikanmu istriku yang sesungguhnya, aku ingin kau selalu ada disampingku,” ucap Damian.


“Kau siap apapun yang terjadi?” tanya Hanna.


“Iya, aku siap, aku tidak akan mundur, mari kita berjuang bersama-sama untuk mewujudkan cinta kita, kau mau kan?” tanya Damian. Wajahnya begitu dekat, hidungnya menempel dihidungnya Hanna, nafasnya tercium harum di hidung Hanna.


Hannapun mengangguk tanpa mengucapkan sepatah katapun.


“Kenapa kau tidak bicara?” tanya Damian.


Hanna  malah menggeleng.


“Kenapa kau malah menggeleng?” tanya Damian lagi keheranan.


Lagi-lagi Hanna menggeleng.


“Bicara saja,” jawab Damian.


“Mulutku bau belum gosok gigi,” jawab Hanna. Benar saja begitu Hanna bicara, Damian mencium bau tidak sedap di mulutnya diapun langsung menjauh.


“Kau benar, mulutmu bau,” keluhnya. Hanna tertawa melihat pria itu itu menjauh dari wajahnya.


“Jadi kapan kita akan bertemu ayahku?” tanya Hanna.


“Kita cari waktu yang tepat ya, aku juga akan menelpon Pak Indra,” jawab Damian.


“Damian!” panggil Hanna,


“Ya!” jawab Damian, sambil berdiri dan merapihkan pakaiannya. Hannapun ikut berdiri.


“Aku khawatir dengan pekerjaanmu,” jawab Hanna.


Damian berdiri menatapnya.


“Ya sebenarnya semua akan kacau, kalau ayahmu tidak merestui kita, proyekku akan gagal, karena ayahmu punya pengaruh besar di daerah sana. Pemilik-pemilik tanah itu tidak akan mau menjual tanahnya padaku, dan itu artinya ‘Hanna Grand Lakeside’ tidak akan terwujud,” jawab Damian. membuat Hanna diam beberapa saat.


“Jadi bagaimana ini? Kita tidak mungkin menikah tanpa restu orangtuaku, aku tidak mau pernikahan kita bermasalah karena tidak ada restu dari orangtua, aku tidak mau wakin lari,” ucap Hanna, terlihat dari matanya dia merasa cemas.


“Kau jangan banyak fikiran dulu, asal kita mau berjuang bersama-sama, semua masalah pasti terlewati. Kau tenang saja, nanti kita fikirkan jalan yang terbaik,” jawab Damian.


Hanna tersenyum lebar, dia senang mendengarnya, ternyata pria ini sangat mengagumkan. Semoga ayahnya tahu kalau Damian juga bisa lebih baik dari Cristian.


Hanna langsung memeluk Damian.


“Kau terus-terusan memelukku, membuatku tidak ingin berangkat bekerja,” keluh Damian, sambil memeluk Hanna dengan erat.


Hanna buru-buru melepaskan pelukannya.


“Bekerjalah yang rajin!” seru Hanna, sambil tersenyum.


“Aku berangkat ya,” jawab Damian, lalu mencium keningnya Hanna.


Hanna hanya menatap kepergian suami palsunya itu. Dia menghela nafas panjang, semoga dia dan Damian bisa bersama.


******************