
Hanna masih memegang handphonenya, memikirkan cara supaya dia tidak bertemu dengan Cristian. Damian pasti memintanya untuk menemui Cristian, masa dia harus repot repot lagi pakai Wig? Itu juga sepertinya Cristian mulai mencurigainya, kalau tidak buru-buru masuk ke dalam rumah mungkin sudah ketahuan.
Tiba-tiba Hanna mendapat ide. Diapun mengirim pesan pada Damian.
“Damian, sepertinya aku tidak enak badan, aku sakit, aku merasa pusing, mual-mual mau muntah, sepertinya aku masuk angin, mabok perjalanan. Jadi aku akan istirahat saja ya di kamar,” tulis Hanna. Pesanpun terkirim.
Tulilit! Handphone Damian berbunyi, Damian langsung membacanya dan dia sangat terkejut, membaca kalau Hanna sakit.
“Ada apa?” tanya Cristian, yang duduk disamping Damian.
“Istriku sakit,” ucap Damian. Lalu beranjak, dan langsung menelpon Hanna.
Hanna terkejut melihat Damian melakukan panggilan, dia fikir Damian hanya akan membalas pesannya saja menyuruh istirahat.
“Sebentar ya,” kata Hanna pada Sherli, diapun berjalan menjauh.
“Halo! Hanna! Sayang!” panggil Damian.
Cie Sayang, cibir Hanna. Dia bisa menebak pasti Damian bersama rekan kerjanya yang lain makanya memanggilnya sayang.
“Ya,” jawab Hanna dilesu-lesukan.
“Kau sakit?”tanya Damian.
“Iya, kepalaku pusing, aku mual mual sepertinya aku mabuk,aku mau istirahat,” jawab Hanna berbohong.
“Apa kau mau ke Dokter?” tanya Damian.
“Tidak usah, istirahat juga sembuh,” jawab Hanna.
“Baiklah kalau begitu, cepatlah ke hotel, dan istirahatlah,” kata Damian.
“Iya,” jawab Hanna, lalu telponpun ditutup. Dia langsung tersenyum. Aman. Sepertinya dua hari ke depan dia tidak perlu bertemu siapa-siapa. Semoga Damian cepat kembali ke kota, fikirnya.
Hanna menghampiri Sherli.
“Sherli, sepertinya aku harus pergi, aku ada urusan,” kata Hanna.
“Kau akan kembali ke kota?” tanya Sherli.
“Sepertinya begitu. Aku minta tolong ya, rahasiakan pertemuan kita ini,” pinta Hanna. Sherli hanya mengangguk. Setelah memeluk Sherli, Hannapun segera meninggalkan pantai itu.
Damian menutup telponnya.
“Nyonya sakit?” tanya pak Indra pada Damian.
“Iya katanya dia pusing-pusing, mual-mual ingin muntah seperti masuk angin,” kata Damian.
Tiba-tiba salah satu karyawannya nyeletuk.
“Wah Pak, itu tandanya istri Bapak sedang hamil!” serunya membuat seisi ruangan menatap Damian. Tentu saja Damian sangat terkejut.
“Benar pak, wah selamat ya Pak, sebentar lagi jadi Ayah!” seru karyawan yang lainnya, malah mereka menyalami Damian segala memberi selamat. Damian hanya terbengong saja, tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
Cristian menoleh pada Damian dan tersenyum.
“Selamat, kau akan menjadi Ayah,” ucapnya.
“Selamat, Pak Damian, kau akan menjadi Ayah,” Pak Loiuis juga ikut-ikutan memberi selamat juga karyawan karyawannya pak Louis.
“Ya ya terimakasih,” jawab Damian, meski kebingungan. Dia lalu berbisik pada pak Indra yang duduk disebah kanannya.
“Tapi pak aku kan belum lama menikah,” tanya Damian.
“ Banyak yang baru melakukan sekali juga langsung jadi. Tidak apa-apa, yang penting menjalaninya sekarang, rumahtangga yang rukun, sayang anak istri,” jawab Pak Indra, semakin membuat Damian bingung. Maksudnya menjalaninya sekarang apa? Pak Indra fikir mereka melakukan hubungan sebelum pernikahan? Semakin membuat fikiran Damian kacau saja.
Selama berjalannya meeting, fikiran Damian terus saja pada Hanna.
“Apa yang harus dilakuakn suami jika istrinya hamil?” tanya Damian lagi disela sela rapatnya, berbisik pada Pak Indra.
“Suami harus lebih perhatian, biasanya istri akan sangat manja dan nyari-nyari perhatian, mereka akan sangat sensitive, moodnya berubah ubah, gampang marah, gampang sedih,” jawab Pak indra.
Damian semakin bingung saja, maksud pertanyaannya bukan kearah sana. Dia bingung, apakah tanpa disentuh wanita bisa hamil? Dia dan Hanna tidak pernah melakukan itu. Atau-atau, jangan-jangan dia pernah memaksa Hanna saat tidak sadar? Tapi Hanna tidak pernah mengeluhkan itu. Tapi kenapa Hanna bisa hamil? Atau jangan jangan Hanna hamil oleh pacarnya? Tapi kalau Hanna hamil oleh pacarnya, kenapa dia pergi dihari pernikahannya? Damian benar-benar pusing memikirkannya.
Hingga sore hari tiba, Damian dan karyawannya yang lain berdatangan ke hotel Marbella, mereka hanya tinggal mengambil kunci yang ada di receptionis. Damian melihat hotel itu sangat strategis dekat dengan pantai. Sepertinya ini hotel termewah di pantai ini.
Damian menatap Cristian yang mengantarnya, mereka ada diluar pintu masuk Loby.
“Terimakasih kau mau mengantar. Kau juga memberikan potongan harga untuk semua kamar,” kata Damian pada Cristian.
“Sama-sama, semoga kau dan karyawan-karyawanmu nyaman ya. Besok kita meninjau lokasi Real estatemu, kita bertemu di kantor Pak Louis,” kata Cristian.
“Ya. Sampai ketemu besok. Aku minta maaf, kau tidak bisa bertemu istriku dia sedang sakit,”ucap Damian.
“Ya tidak apa-apa. Semoga istrimu bisa melewati awal awal kehamilan dengan baik. Kata orang ini masa-masa rawan, masa-masa berat ibu hamil, kau harus menjaganya dengan baik,” kata Cristian.
“Ya terimakasih, aku akan selalu menjaganya,” ucap Damian.
“Ya, aku yakin. Kau pasti sangat mencintainya kan?” kata Cristian.
“Ya aku sangat mencintainya,” Damian mengangguk. Tapi setelah itu mengernyitkan dahinya. Mencintainya? Mencintai Hanna?
“Baiklah kalau begitu, aku pulang, sampai ketemu besok,” kata Cristian.
“Ya, sampai jumpa,” balas Damian.
Cristianpun meninggalkan hotel itu. Damian hanya memperhatikan kepergiannya. Dia kembali teringat pada Hanna, apa yang harus dilakukannya pada Hanna? Bagaimana cara dia tahu Hanna hamil sama siapa? Sama dirinya? Bagaimana kalau benar bayi itu adalah bayinya? Apa yang harus dilakuaknnya? Apakah dia harus menikahi Hanna dengan sebenarnya? Tapi..aaaah membingungkan. Kalau benar Hanna hamil olehnya, kasihan sekali Hanna.
Ketika mendengar suara pintu seperti ada yang membuka, Hanna buru-buru berlari ke tempat tidur dan berselimut. Sebelumnya dia sudah mencuci muka dengan air dingin supaya wajahnya terlihat agak pucat.
Melihat Hanna berselimut membelakangi, Damian menghampiri, berjalan dengan pelan.
Diapun duduk disamping tempat tidur. Dia masih terus berfikir bagaimana cara supaya tahu Hanna hamil oleh siapa.
“Hanna, apa kau sudah lebih baik sekarang?” tanya Damian dengan lembut. Kata pak Indra, ibu hamil suka senstitive dan mudah tersinggung, jadi dia harus bicara dengan lemah lembut.
Mendengar nada bicara Damian yang lembut, membuat Hanna mengernyitkan dahinya, kenapa suara pria itu berubah jadi lembut? Biasanya ketus ketus saja. Kesambet apa di kantor ayahnya?
Tangan Damian menyentuh kakinya Hanna yang berselimut.
“Sudah agak mendingan, aku tadi sudah minum obat warung,” jawab Hanna.
“Jangan!” teriak Damian, membuat Hanna kaget dan membelalakkan matanya. Kenapa pria itu melarangnya minum obat? Tapi ditahannya rasa ingin protesnya, dia harus berpura-pura lesu dan akan tidur.
Damian tersadar dia bereaksi berlebihan. Dia kembali merendahkan suaranya. Sepertinya Hanna tidak tahu kalau dia sakit ciri-ciri ibu hamil, batinnya. Pantas di perjalanan tadi Hanna diam saja, mungkin ada yang dia rasa tapi tidak mau berterus terang padanya.
“Maksudku, lebih baik ke dokter saja, jangan minum obat sembarangan,” ucap Damian.
“Nanti saja ke dokternya, aku mau istirahat saja,” ucap Hanna dengan suaranya di pelan-pelankan, jadi terdengar lirih dan lesu, seperti orang yang benar-benar sakit.
Damian kembali berfikir, bagaimana cara mengorek ngorek supaya dia tahu Hanna hamil oleh siapa.
“Hanna,” panggil Damian, dengan hati-hati, tangannya masih memegang kakinya Hanna, matanya menatap wanita yang tidur membelakanginya itu. Dia hanya melihat sebelah pipinya Hanna yang pucat.
“Hemm?” tanya Hanna dengan lemah.
“Mmm..” Damian mengusap mukanya beberapa kali, mengumpulkan kata-kata yang nyaman buat Hanna, jangan sampai Hanna marah atau tersinggung.
“Hanna, ada yang ingin aku tanyakan,” kata Damian.
“Ya, “ jawab Hanna pendek.
“Mmm.. apakah..apakah..” Damian berhenti bicara. Membuat hati Hanna kesal, sebenarnya pria ini mau bicara apa? Ah mending tidur saja, dari pada nanti Damian memaksanya pergi ke dokter, ketahuan kalau dia tidak sakit. Hannapun mencoba terlelap, untuk tidak mendengarkan perkataaannya Damian.
Cukup lama Damian terdiam. Dia bingung bagaimana cara mengatakannya, takut Hanna tersinggung dan marah. Kata pak Indra, wanita Hamil moodnya suka berubah ubah. Diapun menarik nafas dalam-dalam, lalu mulai bicara lagi. Tidak diperhatikannya apakah wanita itu sudah tidur atau tidak.
“Hanna!” panggil Damian. Hanna tidak menjawab. Damian terdiam lagi.
Beberapa menit kemudian...
“Hanna!” panggilnya lagi, tanpa menoleh pada Hanna. Hanna masih tidak menjawab.
“Apakah..apakah aku pernah melakukan sesuatu padamu?” tanya Damian.
“Apa…? Melakukan apa..?” tanya Hanna dengan lesu.
“Melakukan itu, maksudku melakukan itu,” jawab Damian, bingung harus menggunakan kata-kata apa. Tidak ada jawaban dari Hanna.
“Apakah aku pernah melakukannya padamu? Maksudku mungkin aku tidak sadar melakukannya,” kata Damian dengan hati-hati.
“Berkali-berkali…,” jawab Hanna dengan lirih.
“Ha?” Damian terkejut dengan jawaban Hanna. Berkali-kali? Berkali-kali apanya? Kenapa dia tidak ingat satupun. Apa dia suka memaksa Hanna dengan tidak sadar? Memeluknya dan ternyata lebih dari memeluk, sehingga Hanna hamil sekarang? Damian langsung pucat. Apa jangan jangan alasan dia tertarik untuk mencium Hanna karena memang dia pernah melakukan yang lebih dari itu?
“Berkali-kali?” tanya Damian mengulang perkataannya Hanna.
“Hem…,” jawab Hanna.
Damian terdiam. Jadi bisa jadi itu bayinya? Tapi mereka belum lama bertemu. Tapi kata pak Indra, banyak yang sekali melakukan langsung jadi. Damian benar-benar bingung. Apa yang harus dilakukannya sekarang?
“Kenapa selama ini kau tidak bicara padaku?” tanya Damian, dengan suara pelan.
“Aku malu,” jawab Hanna. Damian terdiam lagi, sudah dia duga pasti Hanna malu, tidak bercerita kalau dia sudah…ah kenapa dia tidak ingat satupun?
“Besok kita ke dokter ya,” bujuk Damian.
“Aku malu…,” jawab Hanna, suaranya masih lirih. Damian juga sudah menduga makanya Hanna tidak mau ke Kokter pasti malu kalau ketahuan hamil dan dia belum menikah.
“Tidak usah malu, aku akan menemanimu,” ucap Damian.
“Aku malu,” ucap Hanna lagi.
“Tidak usah malu, tidak apa-apa,” ucap Damian lagi, kembali menyentuh kakinya Hanna yang berselimut. Dia merasa bersalah kalau benar telah menodai Hanna.
“Aku malu…” ulang Hanna. Damian mengerutkan keningnya lagi, kenapa Hanna bicara itu terus? Ah dia tidak mau berdebat, biarkan saja Hanna beristirahat.
“Ya sudah kau istirahat saja,” ucap Damian, lalu bangun dari duduknya, berdiri menatap Hanna yang memejamkan matanya. Diapun segera ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Selah mandi dan berpakaian, dia menghampiri Hanna lagi, dilihatnya Hanna sudah tidur. Diapun kembali duduk di pinggir tempat tidur. Terus berfikir apa yang harus dilakuannya? Dia benar-benar menghamili Hanna? Diliriknya wanita itu. Kasihan sekali Hanna, merahasiakan apa yang dilakukannya padanya. Tapi kenapa dia tidak ingat satupun? Dia hanya ingat tiap bangun tidur, dia merasakan badannya segar karena tidurnya nyenyak, itu saja. Kenapa jadi tiba-tiba Hanna hamil? Hanna tidak mau dibawa ke Dokter, dia harus memastikan Hanna hamil atau tidak, tapi bagiamana caranya ? Akhirnya Damian naik ke tempat tidur, membuka handphonenya searching ciri-ciri ibu hamil, mengidam, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan ibu hamil, juga apa yang harus dilakukan suami jika istrinya hamil.
*************************
Hiks..hiks.. reader, author ingatkan kembali ya..ini cerita seru-seruan saja, jadi kalau ada yang ganjal dan tidak masuk akal, abaikan saja..oke? Ini cerita untuk hiburan saja..
Jangan lupa like, vote dan komen
Yang belum baca karya author yang lain, buruan baca !
- “My Secretary” season 2 (Love story in London)
- “Kontes menjadi istri Presdir”