Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH -53 Satria yang Kepo



Mobil Damian memasuki halaman rumahnya. Hanna menatap rumah megah itu. Ada perasan yang tiba-tiba timbul dalam dirinya. Kenapa tiba-tiba hatinya bertanya apa statusnya di rumah ini? Kenapa dia harus kembali ke rumah ini? Mau sampai kapan dia mengikuti kemanapun Damian pergi? Awal perjanjiannya dengan Damian, sama sekali tidak terfikirkan akan mempertanyakan status. Dia hanya ingin pergi dari acara pernikahannya. Hanya itu! Sama sekali tidak terfikir kalau akhirnya harus berperan sebagai istri bohongannya Damian. Apakah satu tahun akan bisa dia lewati dengan mudah? Bagaimana jika mengigau Damian tidak sembuh juga? Apa yang harus  dilakukannya? Dia tidak mungkin selamanya menemani Damian.


“Kau kenapa?” tiba-tiba sebuah suara membuyarkan lamunannya. Damian menatapnya keheranan. Hanna balas menoleh ke arahnya.


“Tidak apa-apa,” jawab Hanna dengan lesu. Damian masih menatapnya, kenapa wanita itu murung? Apakah dia merasa mabuk? Kenapa dia tidak mau ke Dokter? Kalau ke Dokter pasti akan diberi obat anti mual buat ibu hamil. Sepertinya harus benar-benar mengupayakan supaya Hanna mau periksa ke Dokter.


Tiba-tiba pria itu mendekatinya, membuat Hanna menahan nafas, kenapa wajah Damian begitu dekat padanya? Mau apa lagi pria ini? Tidak mungkin mau menciumnya kan? Sepanjang perjalanan tadi dia sama sekali tidak cerewet, jadi tidak mungkin Damian akan menciumnya supaya dia diam. Terus dekat-dekat begini mau apa dia? Jantung Hanna berdetak semakin kencang, dia benar-benar tegang, pria itu mencondongkan tubuhnya ke arahnya. Pipinya begitu dekat dengan wajahnya, membuatnya semakin menahan nafasnya. Dan Crek! Ternyata Damian membukakan sabuk pengamannya.


“Ayo turun,” ajak Damian, kembali ke posisi semula. Hanna langsung bernafas lega.


“Kau kenapa?” tanya Damian, saat melihat Hanna mengurut dada.


“Tidak apa-apa,” jawab Hanna.


“Kau fikir aku akan menciummu?” tanya Damian asal menebak, membuat wajah Hanna memerah.


“Tidak, kenapa aku harus berfikir begitu?” ucap Hanna lalu buru-buru turun dari mobil itu. Damian hanya menatapnya. Bukankah mereka sudah berhubungan berkali-kali tapi kenapa Hanna begitu gugup saat berdekatan dengannya? Damianpun akhirnya turun.


“Halo kakak ipar!” tiba-tiba sebuah suara mengagetkan Hanna yang baru turun. Diapun menatap wajah pria itu, sang adik ipar yang menghampirinya. Langsung saja moodnya menjadi tidak baik, tapi dia berusaha ramah pada adik iparnya itu.


“Halo!” balas Hanna sambil tersenyum.


Damian yang baru keluar dari mobil menatap mereka. Melihat Satria yang terlihat iseng menggoda Hanna, dia segera menghampiri Hanna.


“Ayo sayang,” ajak Damian, meraih tangan Hanna, langsung berjalan menuju rumah, tanpa bicara dengan Satria.


Satria hanya memperhatikan kepergian mereka. Dia teringat dia ada janji bertemu dengan Cristian. Dia benar-benar penasaran dengan kakak iparnya itu.


Di dalam kamarnya, Damian langsung berganti pakaian di ruangan khusus pakaian.


“Kau akan pergi lagi?” tanya Hanna, menatap Damian yang sudah berdandan rapih, balas menatapnya.


“Iya, aku ada kerjaan,” jawab Damian. Hanna terdiam, Kenapa wanita itu terlihat sedih? Fikir Damian.


“Kau sedih aku pergi?”tanya Damian.


“Tidak, aku hanya tidak tahu apa yang harus aku kerjakan disini?”tanya Hanna.


“Tidak ada. Kau beristirahat saja. Kalau kau butuh sesuatu kau bisa minta tolong Pak Wardi,” jawab Damian, menatap Hanna, dia masih berfikir cara mengajak Hanna ke Dokter kandungan, supaya mendapat obat buat ibu hamil juga bisa membeli susu buat ibu hamil.


“Kau kenapa?” tanya Hanna.


“Aku mengkhawatirkan kesehatanmu, kalau urusanku beres, kita ke dokter ya,” jawab Damian.


“Tidak, tidak, aku sudah sembuh,” tolak Hanna.


“Benar kau sudah sembuh?”tanya Damian.


“Iya,” jawab Hanna, lalu beranjak dan langsung masuk ke kamar mandi. Damian menatap kepergiannya.


“Aku berangkat ya,” ucapnya.


“Ya,” jawab Hanna dari kamar mandi. Setelah mendapat jawaban dari Hanna, Damianpun keluar kamar, berangkat ke kantornya.


Hanna bolak balik di kamar dengan jenuh. Lagi-lagi dia harus diam di kamar, semakin membosankan. Akhirnya dia memilih keluar dari kamar, dia baru ingat kalau dia belum hafal betul rumah Damian ini. Sepertinya pergi ke taman akan mengurangi rasa bosannya. Hannapun pergi ke luar rumah, menuju taman diamping rumah yang ternyata ada dua ayunan disana. Tidak jauh dari ayunan itu ada satu set meja kursi dari besi berwarna putih.


Diapun berayunan di ayunan itu. Ternyata sangat menyenangkan ayunan sendiri, seperti masa kecil saja. Tiba-tiba ada yang mengayunkan talinya lebih kencang.


“Seharusnya kau mengajak kakakku bermain ayunan.” Terdengar suara pria, membuat Hanna menahan kakinya ke tanah supaya ayunan berhenti, diapun menoleh kearah suara.


“Satria? Sedang apa kau disini?”tanya Hanna, sambil turun dari ayunan.


“Kenapa kau turun? Kau membuatku merasa bersalah saja,” jawab Satria.


“Tidak perlu,” kata Hanna, diapun beranjak tapi langkahnya terhalang oleh Satria.


“Kenapa kau seperti menghindariku?”tanya Satria.


“Tidak, aku tidak menghindarimu, aku mau duduk disana,” jawab Hanna beralasan. Entah kenapa tatapannya Satria itu seperti yang mencurigainya. Diapun berjalan kearah kursi itu.


“ Ada yang ingin aku tanyakan padamu!” kata Satria.


“Apa?” tanya Hanna masih terus berjalan, Satria mengikutinya.


“Aku jadi ingin tahu bagaimana kakakku menyatakan cinta padamu,” jawab Satria membuat Hanna kaget. Menyatakan cinta? Sejak kapan Damian menyatakan cinta? Pria itu mengajaknya menikah tiba-tiba tanpa mengatakan cinta padanya.


Hanna mengabaikan pertanyaan Satria diapun duduk di kursi itu. Satria mengikutinya, duduk di kursi yang lain.


“Kau tidak mau cerita padaku? Kau tidak ingin akrab dengan adik iparmu?” tanya Satria, duduk santai dikursi itu.


“Dia…ya  begitulah, seperti pada umumnya pria menyatakan cinta pada kekasihnya,” jawab Hanna, diplomatis. Padahal dalam benaknya sama sekali tidak terbayang Damian akan menyatakan cinta padanya.


“Begitu?” tanya Satria. Hanna mengangguk.


“Dia pasti sangat lucu kan saat mengatakannya,” kata Satria.


“Ya dia sangat lucu,” jawab Hanna sambil tersenyum yang dibuat-buat. Dia tidak tahu bagaimana ekspresi Damian kalau benar-benar menyatakan cinta padanya.


“Kenapa kakakku jatuh cinta padamu?” tanya Satria.


“Kenapa kau bertanya begitu?” Hanna balik bertanya.


“Sebenarnya aku masih heran, kenapa kakakku menikahimu?” jawab Satria terus terang, membuat Hanna merasa gelisah, takut kebohongannya yang pura-pura jadi istri Damian terbongkar.


“Jujur saja, kau bukan tipe kakakku,” jawab Satria, membuat Hanna menoleh ke arahnya, dia jadi merasa tertarik bagaimana Damian dimata adiknya.


“Memangnya seperti apa tipe kakakmu itu?” tanyanya jadi penasaran ingin tahu pribadi Damian. Satria merubah posisi duduknya, membuat Hanna semakin penasaran.


“Apa kakakmu memiliki banyak pacar di tiap kota yang dia kunjungi?” tanya Hanna, malah dia sendiri yang kepo.


Satria masih tidak menjawab.


“Katakan padaku, adik ipar,” ucap Hanna.


Satria menatap kakak iparnya.


“Soal itu, kau tanya saja pada kakakku, aku tidak tahu,” jawab Satria.


“Kau pasti berbohong. Dari mana kau tahu tipe kakakmu kalau kau tidak melihat wanita yang bersamanya?” tanya Hanna.


“Kau serius ingin tahu?”tanya Satria. Hanna mengangguk dengan semangat.


“Kenapa baru sekarang kau bertanya? Harusnya kau bertanya pada kakakku sebelum kalian menikah,” ucap Satria membuat Hanna kesal, bicara dengan satria berbelit-belit. Hannapun berdiri, sepertinya percuma bicara dengan Satria.


“Kakakku suka wanita yang cantik dan sexi,” jawab Satria, membuat Hanna terdiam, kenapa jawaban itu terasa menyakitkan baginya?


“Wanita yang tubuhnya seperti model, tinggi, bodi berlekuk yang sexi,” lanjut Satria. Hanna menoleh pada Satria.


“Kau serius?”tanya Hanna. Satria mengangguk. Kenapa melihat anggukan dari Satria membuat hatinya menjadi sedih.


Hanna jadi teringat dengan Maria yang cantik dan sexi itu. Damian pasti berbohong kalau Maria itu pria jadi-jadian, pasti dia menutupinya dari dirinya kalau Maria adalah pacarnya kalau sedang ada di Bali. Mengingat kenyataan itu,kenapa dia menjadi ingin menangis? Apakah dia mearasa kecewa ternyata Damian tidak menyukai wanita seperti dirinya? Yang tidak secantik model model kelas atas?


Berarti yang Damian katakan dia tidak cantik itu benar, yang Damian katakan tubuhnya kurus benar, dia tidak menarik dimata Damian. Pantas saja Damian tiba-tiba mengajak menikah tanpa mengucapkan kata cinta. Buat apa dia mengajaknya menikah tiba-tiba? Mungkin karena Damian bergantung dari pelukannya. Kenapa pelukan wanita yang sexi itu tidak membuatnya nyaman?


Tanpa bicara apa-apa lagi, Hanna meninggalkan Satria yang tampak kebingungan dengan sikapnya.


Di dalam kamarnya, Hanna menyalakan acara tv yang lucu-lucu untuk menghibur kekecewaannya. Kenapa akhir akhir ini Damian sangat perhatian padanya? Perhatian yang akhirnya akan membawanya dalam kekecewaan. Tiba-tiba airmata mengalir dipipinya. Menyadari Damian tidak mungkin jatuh cinta padanya, kenapa rasanya sekarang begitu sakit? Apa dia semakin menyukai Damian?


Hannapun menangis. Hari ini seharian dia tidak keluar kamar, mengurung dirinya. Airmatanya mengalir terus menerus, tidak bisa diajak kompromi.


Hingga malam tiba dan seseorang membuka pintu kamarnya. Hanna hanya berbaring dengan berselimut, dia sudah berkali-kali mencuci mukanya supaya tidak terlihat habis menangis. Terdengar langkah mendekatinya, dan suara tempat tidur yang bergerak karena ada yang duduk di dekatnya.


“Apa kau baik-baik saja? Kata Pak Wardi kau belum makan,” ucap yang datang itu ternyata Damian. Hanna tidak menjawab, dia pura-pura tidur. Tapi Damian bisa melihat bulu matanya yang bergerak gerak pasti pura-pura tidur.


“Apa kau sakit? Aku panggilkan Dokter?” tanya Damian.


“Aku baik-baik saja, aku hanya ingin istirahat,” jawab Hanna.


Damian terdiam, apa dia tidak salah dengar kalau suara wanita itu agak serak. Apa dia menangis? Kenapa? Ada apa? Apa sekarnag Hanna menyadari kalau dia hamil? Bagaimana ini? Bagaimana cara supaya Hanna tidak membencinya? Banyak pertanyaan bermunculan dari benaknya Damian.


“Hanna, apa kau menangis?” tanya Damian. Tangannya menyentuh bahu Hanna yang berbaringmemunggunginya. Hanna tidak menjawab.


“Kau baik-baik saja kan? Aku sangat khawatir,” jawab Damian.


Mendengar ucapan Damian yang mengkhawatirkannya, membuat Hanna semakin sedih, diapun terisak,


membuat Damian kaget.


“Kau menangis? Kenapa? Ada apa?” tanya Damian, dia berpindah duduknya, memutar jadi duduk di arah depan Hanna berbaring. Dilihatnya airmata menitik dimata wanita itu.


“Kau menangis?” tanya Damian, hatinya semakin merasa bersalah, pasti Hanna sekarang menyadari kalau dia sedang hamil. Wanita itu semakin terisak.


“Sayang, kau jangan menangis, kau jangan khawatir, aku akan bertanggung jawab, aku minta maaf kalau selama ini aku berbuat tidak pantas padamu, aku benar-benar minta maaf,” ucap Damian. Tangannya menyentuh rambutnya Hanna.


Mendengar perkataan Damian membuat Hanna terkejut. Diapun menatap Damian.


“Bertanggungjawab?” tanya Hanna, sambil menghapus airmatanya.


“Iya aku akan bertanggungjawab atas kehamilanmu, kau jangan khawatir,” jawab Damian, masih mengusap-usap rambut Hanna.


Tentu saja Hanna semakin terkejut mendengarnya, dia langsung terduduk dan menatap Damian.


“Apa maksudmu? Bertanggungjawab atas kehamilan siapa?” tanya Hanna.


“Tentu saja kehamilanmu, kau jangan khawatir, jangan menangis lagi, aku akan bertanggung jawab,” ucap Damian.


Seketika Hanna Shock mendengarnya. Jadi kenapa sikap Damian berubah itu karena dia mengira dirinya hamil? Makanya Damian tiba-tiba mengajaknya menikah?


“Apa maksudmu? Kau fikir aku hamil?” tanya Hanna tidak percaya.


Damian menatapnya tidak kalah terkejutnya.


“Tentu saja, bukankah kau sedang hamil anakku?” tanya Damian. Hanna semakin terkejut saja mendengarnya.


“Damiaaan! Aku tidak hamil!!” Teriaknya, membuat Damian terbengong-bengong.


*****************


Jangan lupa like Vote dan Komen.


 


Info bagi yg baca “My secretary” season 3, kemarin author sudah up tapi masih review sampai skr, jadi author tidak akan up dulu.


Bagi yang tidak baca, infonya abaikan saja.