Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-92 Bertemu orangtua Hanna



Terdengar suara pengumuman dari informasi di mall itu bahwa mall akan ditutup 30 menit lagi. Sontak saja pengumuman ini membuat orang-orang yang berbelanja menjadi panic, mereka buru-buru berbelanja bahkan banyak yang tidak melanjutkan belanjanya dan memilih keluar saja dari mall itu.


Hiruk pikuk di mall itu bukan lagi soal banyak yang berbelanja, tapi terburu-buru meninggalkan mall. Kasir bekerja dengan cepat, merasa gelisah dengan pengumuman yang tiba-tiba itu, semakin membuat banyaknya yang mengantri dikasir.


Damian masih menunggu di kantor mall itu, dia terus mengotak-atik handphone-nya. Hampir tiap menit tiap detik dia menelpon Hanna. Dia benar-benar gelisah. Sebelumnya Hanna pernah beberapa kali menghilang, itu karena dia ketiduran, tapi kenapa menghilangnya Hanna sekarang menyisakan rasa yang berbeda, dia merasa benar-benar akan kehilangan Hanna.


Setelah mall kosong, semua karyawan dikerahkan untuk mencari Hanna dimanapun berada, disetiap sudut gedung itu dilihat, barangkali Hanna tertidur disana. Counter-conter di periksa, mungkin Hanna tertidur disudut sudut rak juga digudang gudang logistic. Toilet yang berjajar itu dibuka satu persatu, tiap ruangan di semua lantai gedung mall itu disapu bersih sampai keatap gedung, Hanna dicari, tapi hasilnya nihil.


“Maaf Pak, semua area sudah bersih, dan istri Bapak tidak ditemukan,” kata Mgr.Hotel.


“Bagaimana dengan cctv?” tanya Damian.


“Sampai detik ini belum ditemukan Pak, hanya ada istri Bapak di counter pakaian saja, kami masih butuh waktu mencari dengan teliti lagi karena hari ini pengunjungnya sangat penuh,” jawab Mgr. Mall.


Mendengarnya hati Damian semakin hancur, bukan hancur karena patah hati, atau ditolak cinta, tapi hancur karena kehilangan. Pertama kehilangan ibunya, kedua kehilangan istri palsu tercintanya. Dua orang yang dia miliki hilang begitu saja. Kemana dia harus mencari Hanna?


Dengan lesu Damian meninggalkan mall itu. Dia tidak peduli dalam beberapa jam uang milyarannya hilang dalam sekejap. Kehilangan uang sebanyak itu tidak membuatnya khawatir, tapi kehilangan orang yang dicintainya, hidup terasa hampa, uang yang dimiliki sekian banyaknya tidak bisa membuat hatinya bahagia, dia ingin orang-orang yang dicintainya kembali.


“Kemana istrimu? Kau pulang sendiri?” tanya ibu tirinya saat Damian datang.


“Dia sedang kerumah orangtuanya,” jawab  Damian berbohong. Dia terus saja masuk ke kamarnya.


Di dalam kamarnya dia merenung sendiri, menatap tempat tidur yang kosong, dilihatnya bayangan Hanna tidur berselimut disana. Melihat sofa, Hanna sedang bermain handphone. Melihat meja rias, Hanna sedang duduk menyisir rambutnya. Senyumnya tawanya seakan tidak lepas dari ingatannya. Wanita itu sumber kebahagiaannya, bagaimana dia bisa tidur tanpa pelukannya?


“Beberapa jam kau menghilang, aku sangat merindukanmu,” gumam Damian, terduduk ditempat tidur.


“Kau dimana?” gumamnya lagi.


Dilihatnya kantong-kantong belanjaan Hanna itu, lalu dikeluarkannya isinya baju-baju tidur stelan celana panjang. Diambilnya baju couple-an Tom& Jerry itu. Damian tersenyum getir, wanita itu membeli baju tidur couple-an segala.


Ditatapnya baju itu.


“Kau ingin aku memakai baju norak ini? Tidak apa-apa akan kupakai setiap hari jika kau mau, asal kau kembali padaku,” ucapnya, sambil menyentuh baju-baju itu.


Malam semakin larut, Damian terus mencoba menelpon Hanna tapi tidak tersambung, wanita itu hilang lenyap bagaikan ditelan bumi.


*******************


 


Hanna merasakan sakit kepala yang amat sangat, tengkuk bekas pukulan keras itu terasa sakit. Dia mencoba bangun tapi ternyata tangannya diikat dan mulutnya disumpal. Diapun kembali tidur, dua orang itu benar-benar tidak membiarkannya lolos.


Berjam jam perjalanan hampir seharian, bahkan hari sudah gelap, saat mobil itu memasuki pekarangan sebuah rumah yang besar.


Pak Louis dan Bu Astrid sudah berdiri diteras saat diberitahu mobil yang membawa Hanna sudah mau sampai.


Melihat mobil itu datang, Bu Astrid segera turun dari tangga teras, berlari menghampiri.


“Putriku, mana putriku?” tanya Bu Astrid, melongokkan kepalanya ke kaca mobil.


Dilihatnya Hanna diikat dan disumpal mulutnya, diapun berteriak kaget.


“Apa yang kalian lakukan pada putriku?” teriaknya sambil membuka pintu mobil.


Hanna menatap ibunya yang membuka pintu mobil.


“Sayang, kau tidak apa-apa sayang?” tanyanya sambil membangunkan Hanna, melepas sumpalan dimulutnya dan tali ditangannya.


“Bu!” panggil Hanna setelah ikatannya terlepas, dia langsung memeluk ibunya dan menangis, begitu juga dengan ibunya.


“Aku merindukanmu,” kata Hanna.


“Ibu juga, kau kemana saja selama ini? Kau tidak mau pulang?” tanya ibunya, sambil menciumi wajahnya Hanna.


Dua orang itu menghampiri Pak Louis yang masih berdiri diteras, melihat istrinya yang memburu Hanna.


“Kerja yang bagus, uangnya segera ditransfer,” kata Pak Louis pada dua pria itu.


“Ya, terimakasih Pak,” jawab dua orang itu, merekapun kembali ke mobil.


Saat mendekati mobil, Bu Astrid langsung memukul mereka satu satu.


“Kenapa kalian kasar pada putriku?” makinya.


“Maaf Bu, ini perintah dari Pak Louis,” jawab mereka sambil memegang bekas pukulan Bu Astrid.


Bu Astrid memeluk Hanna, mengajaknya menaiki tangga teras. Kaki Hanna terasa berat untuk melangkah, Dia menunduk saja, sedangkan ayahnya menatapnya tajam.


“Sayang ayo masuk,” kata Bu Astrid. Memaksa Hanna melangkah. Akhirnya Hanna melangkahkan kakinya meskipun berat.


Bu Astrid membawa Hanna masuk ke dalam rumah, tanpa bicara pada suaminya. Pak Louis melihat anak dan istrinya masuk, diapun akhirnya masuk.


Bu Astrid mengajak Hanna duduk di ruang tamu.


“Sayang, kau kemana saja?” tanya Bu Astrid, mengusap-usap rambutnya Hanna lalu menciuminya lagi.


Pak Louis masih berdiri menatapnya.


Hanna melihat ada dua orang pria berbadan besar berdiri dipintu rumhnya, sepertinya ayahnya membayar orang untuk menjaganya supaya dia tidak kabur. Hatinya semakin gelisah, apakah ayahnya akan memaksanya untuk menikah dengan Cristian lagi?


Bu Astrid tidak membantah kata suaminya, Hanna memang harus mandi, putrinya terlihat berantakan.


Hanna menatap kamarnya yang sudah bebulan-bulan ditinggalkannya, dia rindu kamarnya, tapi kemudian dia teringat Damian, pria itu pasti mencarinya sekarang. Bagaimana cara supaya bisa menghubunginya? Handphonenya disita pria yang menculiknya itu dan pasti sudah diberikan pada ayahnya. Dia tidak hafal nomornya Damian, karena mereka juga jarang telpon telponan karena tiap hari selalu bertemu.


“Ayo cepat mandi, ibu siapkan baju ganti,” kata Bu Astrid. Hanna tidak bicara apa-apa. Dia bergegas ke kamar mandi.


Saat keluar dari kamar mandi, ternyata ibunya masih menunggu dikamarnya. Ibunya memberikan baju ganti untuk dipakainya.


“Kau kemana saja selama ini? Kenapa kau tidak pulang?” tanya ibunya.


“Aku tinggal di kota,” jawab Hanna sambil berpakaian.


“Dengan siapa?” tanya ibunya.


“Dengan teman,” jawab Hanna.


Ibunya tidak bicara lagi, terus menatap wajahnya.


“Ayo kita makan, kau pasti lapar kan?” ajak ibunya. Hanna menagngguk.


Ibunya langsung berdiri mengulurkan tangannya yang dismbut Hanna, merekapun keluar dari kamar Hanna.


Saat makan malam, tidak ada yang dibicarakan, sangat hening. Hanna sama sekali tidak bicara dengan ayahnya yang juga diam saja.


“Setelah selesai makan, kita bicara,” kata ayahnya, yang duluan selesai makan.


Bu Astrid tidak bicara apa-apa, dia hanya melirik Hanna lalu pada suaminya yang keluar dari ruang makan.


Hanna menoleh pada ibunya.


“Apa Ayah akan menyuruhku menikah lagi dengan Cristian?” tanya Hanna.


“Tentu saja, tidak ada pria yang sebaik Cristian, dia sangat baik padamu dari kau kecil,” jawab ibunya. Hannapun terdiam. Cristian memang baik, tapi dia mencintai Damian.


Setelah makan, ibunya Hanna mengajak Hanna keruang keluarga. Disana ayahnya Hanna sudah menunggu mereka sambil menonton tv.


“Duduklah,” kata ayahnya. Hanna duduk bersama ibunya. Dia masih menunduk saja, tidak berani menatap wajah ayahnya.


“Kau tinggal dimana selama ini?” tanya ayahnya, menatap Hanna.


“Di rumah teman,” jawab Hanna.


“Apa alasanmu kabur meninggalkan pernikahanmu?” tanya ayahnya lagi.


Hanna menatap ayahnya.


“Aku tidak mencintai Cristian yah,” kata Hanna.


“Tidak mencintai bagaimana? Selama ini kau selalu bersamanya, kau juga menerima lamarannya, bagaimana bisa kau bilang tidak mencintainya?” tanya ayahnya dengan nada tinggi, dia mulai marah pada anak gadisnya.


“Kau benar-benar mempermalukan keluarga! Aku malu pada ayahnya Cristian dan keluarganya, kau benar-benar mencoreng nama baik keluarga,” kata ayahnya lagi.


“Aku minta maaf yah, aku salah, aku hanya sadar kalau aku tidak mencintai Cristian,” jawab Hanna, masih menatap ayahnya.


“Mulai sekarang, kau tidak boleh keluar rumah, ayah akan mengurus pernikahanmu dengan Cristian lagi. Tanpa pesta besar-besaran, yang penting meresmikan kalian saja. Dan ingat, jangan sekali-kali mencoba kabur lagi,” kata ayahnya. Membuat Hanna tersentak kaget.


“Tidak yah, aku tidak mau menikah dengan Cristian!” tolak Hanna menatap ayahnya.


“Tidak bisa, jangan membuat hubunganku dengan pak Sony hancur! Apa tidak terbayangkan olehmu, mau ditaro dimana muka ayahmu ini? Kau yang menerima lamaran itu kau juga yang melarikan diri, kau sudah mempermainkan keluarganya Cristian! Untung mereka teman baik ayah, mereka masih bisa diajak bicara. Tapi ayahmu ini, ayahmu ini merasa bersalah telah mempermalukan mereka! Ayah tidak tenang kalau kau belum menikah dengan Cristian. Ayah harus membuat hubungan keluarga kita dengan keluarga Cristian membaik,” kata ayahnya panjang lebar.


Mendengarnya Hanna langsung menangis. Dia tidak mau menikah dengan Cristian. Dia menoleh pada ibunya.


“Sayang, kau kan sama Cristian sudah bersama-sama dari kecil, kalian juga pacaran kan, perbaikilah hubungan kalian. Ibu juga yakin kalian akan dekat kembali., biasanya juga kau selalu bergantung pada Cristian. Cristian juga sangat menyayangimu,” ucap ibunya, membelai rambutnya Hanna.


“Benar kata ibumu,” kata ayahnya.


“Tapi aku mencintai pria lain, yah,” ucap Hanna menatap ayahnya lalu pada ibunya.


Ayahnya menatap wajah Hanna yang berurai airamta.


“Ayah hanya percaya pada Cristian, dia sudah terbukti bisa menjagamu dengan baik,” jawab ayahnya, bersikukuh.


Mendengaranya semakin membuat Hanna sedih, diapun menangis.


“Sudah jangan menangis. Ingat, jangan coba kabur-kabur lagi! Semua pintu sudah ada penjaganya,” kata ayahnya Hanna.


Hanna tidak bicara apa-apa lagi, dia berlari ke kamarnya, menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur dan menangis.


***************


 


Yang sedih sedih dulu ya, udah tanggung masuk konflik.