
Pak Louis menatap Damian lekat-lekat. Mau Damian serindu apapun pada Hanna, putrinya itu akan menikah dengan Cristian, jadi Damian tidak seharusnya menemui Hanna lagi.
“Aku bukannya tidak mengerti, tapi Hanna akan menikah dengan Cristian, kau tidak bisa menemuinya,” kata Pak Louis.
Damian menunduk dengan lesu, dia ingin sekali bertemu dengan Hanna, dia ingin sekali memeluknya, bukan itu saja inginnya dia menikahinya segera karena ibunya sudah ditemukan.
Damian mengangkat kapalanya menatap Pak Louis.
“Aku ingin melamar Hanna,” ucap Damian, membuat Pak Louis dan Bu Astrid terkejut.
“Kau kan sudah melamarnya, dan kau juga sudah mendapat jawabannya,” kata Pak Louis.
“Aku sangat mencintainya, aku tetap ingin menikahinya, aku sudah berjanji padanya untuk menikahinya jika ibu sudah ditemukan. Sekarang aku sudah bertemu ibuku jadi aku akan mengajaknya menemui ibuku dan menikahinya,” kata Damian.
Pak Louis dan Bu Astrid semakin pusing saja melihatnya.
“Kami sudah memberi jawaban atas lamaranmu, kami tidak bisa menerimamu,” kata Pak Louis menggelengkan kepalanya.
“Tapi Hanna mencintaiku, dia tidak mencintai Cristian,” protes Damian.
“Aku juga harus memikirkan perasaannya Cristian dan keluarganya, mereka sudah lebih dulu melamar Hanna,” ucap Pak Louis.
Semuapun terdiam.
“Kalau Cristian melamar Hanna satu kali, maka aku akan melamar Hanna dua kali, jika Cristian melamar Hanna dua kali, aku akan melamar Hanna berkali-kali. Aku akan membawa ibu kandungku untuk melamar Hanna besok. Aku tidak akan menyerah,” kata Damian, tidak mau menyerah.
“Tapi..” ucapan Pak Louis dipotong Damian.
“Aku akan membawa ibu kandungku melamar Hanna besok. Aku sudah berjanji pada Hanna akan menikahinya saat ibuku sudah ditemukan!” kata Damian lagi bersikukuh, membuat Pak Louis dan Bu Astrid kebingungan.
“Kalau Cristian melamar Hanna dengan keluarganya, aku juga akan melamar Hanna bersama ibuku. Biarkan Hanna memilih sendiri lamaran siapa yang akan Hanna terima,” lanjut Damian.
Pak Louis saling pandang dengan Bu Astrid, mereka tidak bisa membayangkan jika itu terjadi. Tentu saja Bu Sony akan terkejut kalau Damian mengajaknya ke rumah ini
untuk melamar Hanna.
“Besok, tolong berikan waktu untukku dan ibuku akan datang kesini melamar Hanna. Tolong biarkan Hanna memilih. Jika Hanna menolakku, katakan didepan ibuku, aku sudah menepati janjiku untuk membawanya menemui ibuku,” kata Damian lagi.
Pak Louis dan Bu Astrid masih terdiam, mereka bisa melihat keseriusan Damian tapi mereka tidak boleh mengecewakan keluarga Cristian lagi.
“Sekarang bolehkah aku bertemu Hanna?” tanya Damian.
“Maaf, tidak bisa!” kata Pak Louis.
“Sebentar saja,” pinta Damian bersikeras.
“Tidak Bisa,” ucap Pak Louis.
“5 menit saja, aku tidak mau pulang kalau tidak bertemu dengannya. Aku tidak bisa tidur tanpa memeluknya,” ucap Damian, sudah tidak memikirkan lagi malu atau tidak bicara seperti itu di depan orang tuanya Hanna.
Mendengar perkataan Damian, Hanna yang masih berdiri dibalik tembok merasa sedih, airmata menetes di pipinya. Ini adalah pilihan yang sulit baginya. Dia mencintai Damian, tapi dia juga sekerang tidak bisa lari lagi dari pernikahannya.
Pak Louis akan bicara lagi tapi Hanna segera muncul di balik tembok itu.
“Biarkan Damian menemuiku yah,” ucap Hanna.
Pak Louis dan Bu Astrid menoleh pada Hanna yang menghampiri mereka.
Damian langsung tersenyum melihat kedatangan Hanna, hatinya merasa senang bisa melihat langsung wanita yang dirindukannya itu.
Damian melangkah maju akan memeluk Hanna, tapi tangan Pak Louis merentang menghalangi Damian.
“Kau tidak boleh memeluknya, kau hanya bisa melihatnya 5 menit,” kata Pak Louis.
Damian yang ingin memeluk Hanna jadi menghentikan langkahnya. Dia hanya bisa berdiri berhadapan dengan Hanna.
“Kalau kau memeluk putriku, kau akan sulit melupakannya, sebaiknya dari sekarang kau harus membiasakan diri untuk menjauhi putriku,” kata Pak Louis lagi.
Hanna menatap pria yang berdiri di depannya itu. Dia merasa sedih melihat penderitaannya Damian. Pria itu begitu ingin menepati janjinya membawanya menemui ibunya, mengajaknya menikah dengan dihadiri oleh ibunya.
Bu Astrid menarik tangannya Pak Louis supaya menjauh dan membiarkan Hanna bicara dengan Damian.
“Aku sangat merindukanmu,” kata Damian. Mereka saling bertatapan.
“Aku tidak bisa tidur tanpa memelukmu, mungkin semalaman ini aku tidak akan bisa tidur,” ucap Damian.
“Kau sudah melihatku, kau bisa tidur dengan nyenyak,” hibur Hanna.
Mereka saling diam lagi.
“Sudah 5 menit,” tiba-tiba Pak Louis mengingatkan.
Hanna menatap Damian lekat-lekat, dia merasa sedih melihat Damian seperti ini.
“Aku juga rindu,” ucap Hanna.
“Jangan!” tiba-tiba Damian berseru.
“Kenapa?” tanya Hanna terkejut.
“Rindu itu berat, kau tidak akan sanggup menanggungnya, biar aku saja,” jawab Damian.
Perkataan Damian membuat Hanna tersenyum, kadang-kadang pria itu lucu juga.
“Kau mengutip kata-kata dari film,” ucap Hanna.
“Aku rindu senyummu,” ucap Damian dengan serius menghentikan senyumnya Hanna.
“Aku rindu tawamu, aku rindu saat saat bersamamu, aku merasa kesepian,” lanjutnya.
Hati Hanna rasanya tercabik-cabik mendengar keluh kesahnya Damian.
“Aku sudah terbiasa kau ada disisiku, rasanya begitu hampa kau tidak ada disisiku lagi,” lanjut Damian.
Mata Hanna menjadi merah bekaca-kaca, bibirnya terasa kelu menahan tangisnya.
“Besok, aku akan membawa ibuku untuk melamarmu, aku harap kau menentukan pilihanmu yang terakhir kalinya. Jika kau menolakku besok, aku akan pergi selama-lamanya dari dalam hidupmu, aku akan pergi jauh,” kata Damian.
Airmata itu tidak bisa tertahankan lagi menetas dipipinya Hanna, dia juga sedih kehilangan Damian. Biasanya setiap bangun tidur yang dilihatnya Damian, tapi sekarang mereka terpaksa harus berpisah.
“Aku mencintaimu,” ucap Damian. Hanna benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi, hatinya semakin sedih mendengar setiap kata yang diucapkan Damian.
“Sekarang aku sudah melihatmu, aku akan pulang,” kata Damian, lalu menoleh pada Pak Louis.
“Terima kasih sudah memberiku waktu untuk menemui putrimu. Aku sangat mencintainya,” ucap Damian.
Pak Louis berjalan mendekati Damian, menatap pria itu yang ternyata kakaknya Cristian.
“Besok aku akan datang lagi bersama ibuku. Aku sudah berjanji akan mempertemukan Hanna dengan ibuku, aku sudah berjanji akan menikahi Hanna jika ibuku ditemukan, jadi aku tetap akan membawa ibuku besok kesini,” kata Damian memutuskan. Lalu dia menoleh pada Hanna kemudian pada Pak Louis lagi.
“Biarkan Hanna yang memilih besok. Dia akan menerima lamaranku atau Cristian, dan aku harap jika Hanna memilihku, restui pernikahan kami. Jika Hanna memilih Cristian, aku akan pergi selamanya dari kehidupannya,” kata Damian lagi masih menatap Pak Louis.
Pak Louis masih terdiam mencerna perkataannya Damian. Dia bingung, apakah memang masih ada pilihan buat Hanna? Bagaimana dengan Cristian dan keluarganya? Hanna sudah menyakiti Cristian dan keluarganya masa hal itu akan terulang lagi untuk yang kedua kalinya? Rasanya sangat tidak mempunyai perasaan. Persahabatannya dengan Pak Sony yang sudah berpuluh-puluh tahun hancur gara-gara kelakuan putrinya.
Seandainya Hanna tidak kabur waktu itu ya seandainya, tapi nasi sudah menjadi bubur akhirnya ceritanya seperti ini sekarang, ada pria lain melamar putrinya, apa yang harus di lakukannya? Apalagi dua pria itu kakak beradik.
Sekarang Damian menoleh lagi pada Hanna.
“Aku pulang, aku harap kau memikirkan lagi apa yang aku katakan tadi, aku harap kau memberikan jawaban yang tepat besok,” ucap Damian.
Hanna tidak menjawab, semua tidak ada yang bicara. Hening.
“Aku mencintaimu,” ucap Damian. Sebenarnya dia ingin memeluk Hanna tapi Pak Louis tidak mengijinkannya.
Damianpun membalikkan badannya berjalan menjauh meninggalkan rumah Pak Louis. Pria itu memarkir mobilnya diluar gerbang. Saat Damian membalikkan bandannya menoleh pada Hanna, Pak Louis menutup pintu rumahnya. Bayangan Hanna yang masih berdiri menatapnya perlahan menghilang tertutup pintu itu.
Akhirnya Damian segera masuk ke dalam mobilnya. Besok ibunya akan menemuinya, dia akan mengajak ibunya untuk bertemu Hanna dan melamar Hanna lagi. Setelah itu, setelah itu dia harus menguatkan dirinya kalau ternyata Hanna menolak lamarannya. Dia akan pergi jauh, jauh sejauh jauhnya sampai dia bisa melupakan Hanna, meskipun itu sulit dilakukannya.
***********
Readers jangan lupa vote ya