
Menjelang sore hari para konsultan sudah pulang, Shezie merasa lelah, diapun masuk kekantornya lalu duduk di kursi kerjanya. Rasanya seperti mimpi benar-benar seperti mimpi, kemarin dia pelayan dicafe ini dan hari ini dia adalah pemiliknya, benar-benar diluar dugaan.
Diambilnya ponsel yang tegeletak di meja kerjanya. Shezie terkejut saat mendapati miscall dari nomor ibunya berulang-ulang juga ada telpon dari Martin. Diapun segera menelpon balik ke nomor ibunya yang diangkat oleh Bi Ijah.
“Ya non Shezie?” tanya Bi Ijah.
“Bi Ijah? Kenapa ponselnya ada di Bi Ijah?” tanya Shezie terkejut.
“Ibu sedang dirawat di rumah sakit, Non,” jawab Bi Ijah, membuat Shezie terkejut.
“Apa? Dirawat? Kenapa?” tanya Shezie dengan panic.
“Dari tadi siang Non, tadi dibawa sama Pak Martin ke rumah sakit,” jawab Bi Ijah.
Mendengar itu, Shezie langsung meraih tasnya, tidak terbayangkan betapa paniknya dia, dia tahu penyakit ibunya sudah parah karena dibiarkan sekian lama tanpa pengobatan yang layak, arimata langsung saja menetes dipipinya. Dia segera keluar dari café itu.
“Pak Erik, saya pulang duluan,” ucapnya pada Manager café, lalu buru-buru keluar dari café itu. Shezie bergegas menuju mobilnya, disana ada Pak Andi yang beristirahat di dalam mobil.
“Pak! Pak!” Shezie mengetuk kaca mobil, membuat Pak Andi terkejut karena dia sedang terlelap.
“Bu!” ucap Pak Andi menoleh kearah Shezie., dan langsung membuka semua kunci pintu.
Shezie langsung masuk kedalam mobil.
“Pak, tolong antar aku ke rumah sakit,” kata Shezie.
“Baik Bu!” jawab Pak Andi, segera menyalakan mobilnya.
Sepanjang jalan Shezie tidak bisa membendung airmatanya, dia terus saja menangis, dia khawatir kondisi ibunya akan semakin buruk. Pak Andi hanya meliriknya sekali-kali, dia tidak mengerti kenapa majikannya menangis sepanjang jalan tapi dia juga tidak berani bertanya.
Sesampainya di rumah sakit, Shezie langsung mencari dimana ibunya dirawat. Dia berjalan dilorong rumah sakit diikuti Pak Andi. Setelah menemukan ruangan ibunya dirawat, Shezie pun masuk keruangan itu.
Pak Andi hanya melihatnya dijendela luar. Dilihatnaya kearah pintu, ada seseorang yang keluar.
Wanita itu yang tiada lain Bi Ijah menatapnya.
“Kau siapa?” tanya Bi Ijah.
“Aku supir,” jawab Pak Andi.
“oh.”
“Siapa yang sakit?” tanya Pak Andi.
“Bu Vina, ibunya Non Shezie,” jawab Bi Ijah pendek, diapun pergi meninggalkan Pak Andi.
Pak Andi teringat perkataannya Henry untuk memberikan laporan kemana Shezie pergi. Diapun pergi meninggalkan tempat itu menuju ke halaman parkir ke tempat mobilnya diparkir, lalu menelpon Henry.
Henry sedang berada diruangannya, dia terlihat sangat gelisah dan tidak focus pada pekerjaannya.
“Kau kenapa Apa aku sakit?” tanya Damian, saat masuk keruangan putranya, dia malah melihat putranya seperti melamun duduk bersandar dikursinya.
“Tidak,” jawab Henry.
“Kau dan istrimu baik-baik saja kan? Kata ibumu kau sudah membeli café itu?” tanya Damian.
“Iya,” jawab Henry, pendek.
“Ada masalah lagi?” tanya Damian, karena melihat Henry masih tidak bersemangat, menatap putranya.
“Ibu menyuruhku cepat-cepat mempunyai momongan, apa memang harus cepat cepat punya bayi?” tanya Henry.
Mendengarnya membuat Damian tertawa.
“Masalahnya di mana? Itu usul yang bagus, daripada menunda-nunda, akan lebih baik punya momongan lebih cepat,” kata Damian.
Henry memberengut, Damian tersenyum dan berjalan mendakati meja putranya.
“Kau jangan khawatir, mempunyai bayi itu menyenangkan. Kau tahu dari kecil kau lebih dekat pada ayah daripada ibumu,” kata Damian.
Henry menatap ayahnya.
“Iya, ibu terlalu cerewet,” jawab Henry sambil tertawa diikuti ayahnya.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ada nomor Pak Andi disana. Henry segera mengangkatnya.
“Ya halo!” sapa Henry.
“Pak, ada yang ingin saya beritahu,” kata pak Andi.
“Soal apa?” tanya Henry.
“Ibunya Bu Shezie sedang dirawat dirumah sakit, saya sekarang sedang menunggu di rumah sakit,” lata Pak Andi, membuat Henry terkejut.
“Kau tahu kenapa?” tanya Henry.
“Tidak tahu, Pak,” jawab Pak Andi.
“Baiklah aku akan kesana,” kata Henry, sambil menutup telponnya, lalu menoleh pada ayahnya yang sedang membaca tabloid sambil duduk di sofa di ruangan itu.
“Ayah, aku keluar dulu sebentar, aku ada urusan!”ujar Henry.
“Meeting sebentar lagi, jangan terlalu lama,” kata Damian.
“Tidak, hanya sebentar, paling aku telat meeting beberapa menit,” jawab Henry, dia langsung keluat dari ruangan itu. Damian hanya menatap kepergian putranya dengan tanda tanya, Henry tidak mengatakan kenapa dia pergi.
Sesampainya di rumah sakit, Henry langsung menemui Pak Andi yang ada di halaman parkir.
“Ibu ada dimana?” tanya Henry.
“Dia ruangan Melati nomor 53,” jawab Pak Andi.
“Jangan katakan pada Ibu kalau aku kesini,” kata Henry.
“Baik Pak,” jawab Pak Andi.
Henrypun bergegas ke ruangan yang disebutkan oleh Pak Andi, dia penasaran apa yang terjadi sebenarnya, apakah memang ibunya Shezie itu sakit kanker?
“Kata Dokter Arfan, ibu harus membuat jadwal kemo lagi,” kata Shezie, sambil menghapus airmatanya.
“Tidak apa-apa sayang, ibu akan segera pulih,” kata ibunya.
“Pulih bagaimana? Pengobatan ibu sudah lama tertunda jadinya begini, satu kali kemo tidak cukup,” ucap Shezie.
“Kita tidak ada uang untuk biaya kemo lagi, apalagi kau berhutang pada temanmu yang bekerja ditravel itu,” kata ibunya dengan suara yang lemah.
“Aku akan mencari uang untuk jadwal ibu kemo berikutnya,” kata Shezie.
Dia teringat baju pengantinnya dan cincin pernikahan yang di lemari itu, mungkin dia akan menjualnya saja, meskipun sebenarnya berat untuk menjualnya. Dia masih ingat Henry keberatan cincin itu dijual tapi tidak ada cara lain. Lagipula sudah terlanjur Henry mengira cincinnya itu sudah dijual.
Dibalik jendlea, Henry terdiam mendengarkan percakapan mereka. Hatinya menjadi sedih, ternyata benar Shezie bekerja yang aneh-aneh itu demi untuk membiayai ibunya, termasuk menjadi istri bayarannya.
Henry melihat jam tangannya, dia harus segera kembali kekantor untuk meeting, ayahnya sudah mewanti-wanti jangan telat.
Diapun beranjak tapi tidak langsung pulang, melainkan pergi menju kasir.
“Aku ingin deposit,” kata Henry, membuat petugas kasir mengerutkan keningnya, jarang-jarang ada keluarga pasien yang mau deposit.
“Deposit untuk siapa Pak?” tanya kasir.
“Pasien di Ruangan Melati nomor 53, kira kira berapa biaya yang akan dibutuhkan untuk perawatannya, biaya kemo dan lain-lain,” jawab Henry.
“Kita belum tahu perkembangan kesehatannya Pak,” kata kasir, sambil mengetikkan sesuatu.
“Baiklah, aku Deposit 100 juta,” kata Henry sambil mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya.
“Baik Pak, akan saya proses, nama Bapak siapa?” tanya kasir.
Henry akan menyebutkan nama tapi kemudian dia fikir-fikir lagi, dia tidak mau Shezie tahu kalau dia membaca ponselnya dan sekarang menyusulnya ke rumah sakit.
“Tida perlu pakai nama bisa kan? Yang penting aku bayar pengobatannya pasien itu,” kata Henry.
“Baik,Pak,” jawab kasir.
Tidak berapa lama proses pembayaran di kasir itu selesai. Henry kembali melirik jam tangannya, diapun segera meninggalkan rumah sakit karena harus kembali bekerja. Saat melewati halaman parkir, dia masih bertemu dengan Pak Andi.
“Kau tunggu Ibu, ada apa-apa kabari aku, ingat jangan bilang aku kemari,” kata Henry.
“Baik Pak,” jawab Pak Andi.
Setelah itu Henry kembali meninggalkan rumah sakit itu.
Shezie masih berada dikamar ibunya, dia merasa sedih dan gelisah, dia takut hal buruk menimpa ibunya, dia takut ibunya tidak bisa bertahan dengan sakitnya ini.
Seorang perawat masuk ke dalam ruangan itu.
“Jadwal pemerikasaan!” kata perawat itu, bersamaan dengan masuknya Dokter Arfan dan Asisten Dokter lainnya.
“Dokter!” paggil Shezie, menghampiri Dokter Arfan. Dokter ini menatap Shezie.
“Kita akan membuat jadwal untuk kemo, tapi saya perlu melihat kondisi pasien dulu,” kata Dokter Arfan.
“Apa Dok? Kemo? Tapi saya belum ada uang untuk biayanya, Dok,” ucap Shezie.
Dokter Arfan menatapnya.
“Saya mendapat laporan keluarga pasien sudah melakukan pembayaran diawal untuk pengobatan ibu Vina, jadi kita bisa melanjutkan pengobatan Bu Vina,” kata Dokter Arfan, membuat Shezie terkejut.
“Siapa yang membayar biaya pengobatan ibu saya?” tanya Shezie, menatap Dokter Arfan dengan bingung.
“Kau bisa menghubungi bagian kasir,” jawab Dokter Arfan, sambil berjalan mendekati Bu Vina dan mulai memeriksanya.
Setelah menunggu Dokter Arfan selesai memeriksa ibunya, Shezie pergi menuju loket kasir.
“Saya mau bertanya apakah biaya pengobatan ibu saya sudah dibayarkan?” tanya Shezie.
“Atas nama siapa?” tanya kasir yang berbeda dengan kasir yang siang hari.
“Ibu Vina,” jawab Shezie.
“Tunggu sebentar,” kasir itu mengecek di komputernya.
“Ada deposit 100 juta Bu, untuk biaya kemo dan pengobatan lainnya,” kata kasir itu.
Mendengarnya membuat Shezie semakin terkejut, membuatnya penasaran siapa yang membayarnya?
“Siapa yang membayarnya?” tanya Shezie.
“Sebentar…” Kasir itu mengecek lagi.
“Tidak dicantumkan siapa yang membayar Bu, mungkian keluarga pasien yang lain,” jawab kasir.
Mendengarnya membuat Shezie bingung, siapa yang membayar itu semua? Diapun kembali ke ruangan ibunya masih dengan kebingungan.
“Kau sudah darimana?” tanya ibunya, menatap Shezie yang baru masuk keruangan.
“Aku mengecek siapa yang membayar biaya pengobatan ibu,” jawab Shezie.
“Mungkin Martin, ibu dengar dia yang meminta Dokter Arfan untuk menyiapkan jadwal kemo,” ucap ibunya Shezie.
“Apa benar begitu?” tanya Shezie.
Ibunya mengangguk, membuat Shezie terdiam.
“Martin pria yang baik, dia mau membantu pengobatan ibu,” ucap ibunya.
“Iya aku harus berterima kasih padanya, tapi aku akan berusaha untuk menggantinya Bu, aku tidak mau merepotkan siapapun,” jawab Shezie yang diangguki Ibunya.
Shezie meraih ponselnya, dia akan memberitahu Henry kalau dia malam ini tidak pulang.
**************