
Henry menerima panggilan dari Shezie.
“Halo sayang, sebentar lagi aku menjemputmu, aku lagi sarapan,” kata Henry yang masih ada di rumah, sedang menyantap sarapannya dengan Hanna dan Damian.
“Henry, aku akan kerumah sakit,” kata Shezie.
“Ke rumah sakit?” tanya Henry, keheranan.
“Ibu tidak sadarkan diri! Aku akan membawa ibu sekarang,” kata Shezie, dengan panic.
“Ya ya, aku akan menyusul kesana!” jawab Henry, sambil menutup ponselnya.
“Ada apa?” tanya Hanna.
“Ibunya Shezie tidak sadarkan diri, jadi dibawah ke rumah sakit,”kata Henry.
“Ya sudah kalau begitu, kita ke rumah sakit saja,” ujar Damien.
Hanna langsung melirik tajam suaminya, kenapa suaminya semangat sekali mengajak kerumah sakit?
“Mungkin sakitnya tidak parah, mungkin hanya control saja,” kata Hanna, bibirnya langsung memberengut.
Damian dan Henrypun diam.
Henry bingung apakah Ibunya akan bisa menerima Ibunya Shezie? Meskipun Ibunya sempat mengalah dan melamar Shezie untuknya, tapi dia juga tahu kalau Ibunya suka cemburu.
Damian menoleh pada Hanna.
“Sayang,sebaiknya kau jangan cemburuan begitu, nanti rumah tangganya Henry dan Shezie akan terganggu,” kata Damian.
Hanna tidak menjawab, bibirnya mengatup rapat dan mengaduk-aduk makanannya. Bagaimana tidak cemburu, namanya juga mantan pasti mereka punya kenagan indah, batinnya.
Henry mengulurkan tangannya memegang tangan ibunya.
“Henry mohon Bu…, Ibu tidak perlu sering-sering bertemu dengan Ibunya Shezie. Henry hanya minta restu Ibu. Ibunya Shezie sudah merstui kami, makanya…Henry mau mengajak mereka kesini hari ini,” ucap Henry.
Hanna tidak menjawab, dia memasukkan makanan kemulutnya.
“Ya Bu?” pinta Henry.
Hanna diam saja.
“Bu, ini demi Henry, demi cucu ibu juga,” ucap Henry, membuat Hanna terkejut dan langsung menatap Henry juga Damian.
“Cucu?” tanya Hanna.
“Iya, Shezie sedang hamil sekarang, bayiku!” jawab Henry.
Hanna dan Damian langsung tersenyum.
“Ternyata Shezie sedang hamil? Rasanya aku seperti sangat tua,” seru Hanna.
“Selamat ya sayang, kau akan jadi ayah,” kata Damian.
“Iya yah,” jawab Henry.
“Terus bagaimana Martin?” tanya Hanna.
“Shezie dan Ibunya sudah membatalkan pernikahan mereka, makanya sekarang Martin sedang ada dikantor polisi, pengacaraku yang mengurus,” kata Henry.
“Tunggu maksudnya bagaimana?” tanya Damian, keheranan.
“Martin kesal pada Shezie karena membatalkan pernikahan mereka, makanya Martin menjaual
Shezie kepada Pak Jodi, rekan bisnis ayah,” jawab Henry.
“Apa?” Damian dan Hanna tampak terkejut.
“Keterlaluan sekali Martin!” gerutu Hanna.
“Untung aku bisa menyelamatkan Shezie, aku tidak tahu apa yang terjadi nanti kalau sampai aku terlambat. Shezie sedang hamil bayiku dinodai pria hidung belang, aku tidak bisa membayangkan itu,” kata Henry.
“Ternyata Martin itu sangat jahat,” keluh Hanna.
“Jadi kau akan ke rumah sakit sekarang?” tanya Damian.
Hanna kembali mendelik.
“Kenapa sih ingatnya rumah sakit terus?” tanya Hanna.
“Aku cuma bertanya saja,” jawab Damian. Dia langsung mencondongkan tubuhnya ke dekat Hanna.
“Mau apa?” tanya Hanna.
“Mau menciummu,” jawab Damian dan langsung mencium pipinya Hanna.
Henry hanya tertawa melihatnya.
“Ibumu itu sangat cemburuan,” keluh Damian.
“Iya. Setelah makan aku langsung ke rumah sakit,” sahut Henry.
****************
Di rumah sakit…
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Dr. Arfan, saat Bu Vina sudah dibaringkan ditempat periksa.
“Aku tidak tahu Dokter, aku menemukan Ibuku sudah tidak sadarkan diri di kamarnya,” jawab Shezie, dengan wajah pucat, dia sangat cemas.
Dr. Arfan hanya mengangguk lalu dengan beberapa asistennya masuk keruangan itu yang segera ditutup pintunya.
Shezie dan Bi Ijah menunggu diruang tunggu dengan gelisah.
“Yang sabar ya Non,” ucap Bi Ijah.
“Iya makasih Bi,” jawab Shezie.
Setelah cukup lama menunggu ibunya diperiksa, akhirnya Dr. Arfan keluar dari ruangan itu.
Shezie langsung menghampirinya dengan cemas.
“Bagaimana Dok? Apa ibu sudah sadar?” tanya Shezie.
“Belum, kondisinya sangat lemah,” jawab Dr. Arfan menatap Shezie.
“Maksud Dokter?” tanya Shezie.
“Aku khawatirnya pasien tidak bisa bertahan, karena sel kanker ini emang sudah menyebar kemana-mana, dengan bertahan sampai sekarang saja sebenarnya itu sudah sangat bagus,” kata Dokter Arfan.
“Terus aku harus bagaimana Dok? Apa bisa langsung membawa ibuku ke Luar Negeri?” tanya Shezie.
“Bisa saja, hanya saja tidak tahu apakah itu terlambat atau tidak, karena daya tahan pasienpun sangat lemah,” jawab Dokter Arfan.
“Apa sebeIumnya sedang stress?” tanyanya kemudian.
“Stress?” Shezie tampak merenung.
“Iya mungkin saja Dok. Dokter tahu kan Martin? Ibu ingin melihat aku menikah dengannya tapi ternyata Martin bukan pria yang baik, Ibu sangat shock,” jawab Shezie.
Dokter Arfan mengangguk-angguk, memahami pemicu dropnya Bu Vina.
Shezie mengangguk, dan segera melihat ke dalam. Airmata sudah terus menetes di pipinya. Ditatapnya wajah Ibunya itu yang berbaring tidak berdaya.
Dia sudah melakukan pekerjaan apapun meskipun nyeleneh semua demi mendapatkan uang cepat untuk pengobatan Ibunya, tapi ternyata sepertinya apa yang dilakukannya sia-sai, ternyata Ibunya masih terbaring lemah seperti ini.
Terdengar ponselnya berdering. Shezie segera keluar dari ruangan itu.
“Bagaimana Ibumu? Aku akan ke rumah sakit,” kata Henry.
“Kondisi Ibu sangat memprihatinkan, aku takut Henry,” ucap Shezie.
“Takut?” tanya Henry.
“Aku takut Ibu pergi.. Ibu tidak bangun bangun,” jawab Shezie, sambil terisak.
“Ada apa?” tanya Hanna pada Henry yang tadi katanya akan berangkat kerumah sakit tapi ternyata belum pergi.
“Ibunya Shezie parah Bu,” jawab Henry.
Hannapun diam.
“Ada apa?” tanya Damian sambil turun dari tangga bersiap siap berangkat bekerja.
“Ibu Shezie parah,” jawab Hanna, menatap suaminya.
Damianpun menghentikan langkahnya, menatap putranya.
“Apa ayah akan kesana?” tanya Henry, balas menatap putranya.
Damian menoleh pada Hanna, dari tatapan matanya seakan minta ijin pada istrinya itu.
“Tidak, kau saja yang pergi,” jawab Damian, dia tidak mau menyakiti istrinya dengan kepergiannya menengok Ibunya Shezie. Meskipun dia dan Bu Vina tidak ada hubungan apa-apa tapi tetap saja dia tahu istrinya akan cemburu. Dia lebih punya kewajiban membahagiakan Hanna daripada rasa simpatinya pada ibunya Shezie.
“Kita pergi melihat kesana, tunggu sebentar Ibu mengambil tas dulu,” kata Hanna, diapun langsung beranjak naik ke lantai atas.
Damian menatap Henry yang tidak bicara apa-apa lagi, dan segera menutup telpon dari Shezie.
Setelah menelpon Henry, Shezie duduk dikursi itu terus-terusan memegangi tangan Ibunya.
“Bu…bangun Bu,” ucapnya dengan sedih, diusap-usapnya tangan Ibunya itu.
“Bu… bangun Bu, aku tidak mau Ibu pergi, aku tidak punya siapa-siapa lagi selain Ibu,,” ucapnya, lalu membenamkan wajahnya ke samping tempat tidur itu dan menangis.
Entah berapa lama, Shezie meratapi Ibunya yang belum sadar juga. Hatinya semakin cemas dan gelisah. Dokter memintanya menunggu perubahan ibunya, jika lebih baik akan dibawa berobat ke Luar negeri, tapi ternyata Ibunya bangun juga tidak.
Terdengar suara ketukan dipintu, Shezie menoleh kearah pintu , ternyata Henry sudah berdiri disana tidak sendiri tapi ada ayah dan Ibu mertuanya.
Shezie langsung menghampiri sambil menghapus airmatanya.
“Sayang, bagaimana Ibumu?” tanya Henry dengan pelan.
“Ibu belum bangun bangun,” jawab Shezie, sambil menghapus airmatanya.
Semuapun terdiam.
Tiba-tiba Henry berseru.
“Sayang, sepertinya Ibumu bangun,” ujar Henry.
Shezie langsung membalikkan tubuhnya melihat kearah Ibunya.
“Ibu..Ibu,,Ibu bangun..” serunya sambil berlari menghampiri Ibunya.
Ibunya membuka matanya dengan pelan, terlihat sangat berat hanya membuka mata sajapun.
“Bu… Ibu bangun, kata Dokter, kalau Ibu baikan kita akan bawa ibu berobat keluar negeri,” kata Shezie sambil tersenyum penuh semangat.
Bu Vina menggelengkan kepalanya.
“Ti tidak sayang…” ucap Bu Vina, hampir tidak terdengar.
“Ke kenapa Bu? Ibu jangan khawatir, uangku cukup untuk biaya hidup kita disana, Ibu jangan khawatir,” kata Shezie.
Henry berjalan mendekati Shezie.
“Iya Bu, Ibu jangan khawatir aku akan menanggung semua biaya pengobatan Ibu disana,” kata Henry.
Tatapan mata Bu Vina beralih pada Henry lalu menggelengkan kepalanya.
“Pengantin..” ucapnya.
“Pengantin?” tanya Shezie.
“Ibu..ingin…” ucap Bu Vina.
“Ingin?” tanya Shezie.
“Baju… pengantin,” kata Bu Vina.
“Baju? Pengantin?” tanya Shezie, kebingungan.
Bu Vina mengangguk.
“Ibu ingin melihat aku memakai baju pengantin?” tanya Shezie.
Bu Vina mengangguk dengan pelan.
Shezie menoleh pada Henery, dengan mata yang kembali menetes deras, hatinya sangat gelisah dengan permintaaan Ibunya yang aneh ini.
“Baju pengantin apa?” tanya Henry.
“Ibu ingin melihat aku memakai baju pengantin,” jawab Shezie.
Kemudain matanya beralih pada Bi Ijah.
“Bi ambilkan baju pengantinku di lemari paling bawah, dibungkus kain batik,” kata Shezie dengan lirih, disertai airmata yang terus menetes dipipinya.
Henry menoleh pada Bi Ijah.
“Ayo Bi, aku antar,” kata Henry, sambil berjalan keluar diikuti Bi Ijah.
Tatapan Bu Vina kini beralih pada Damian.
Damian masih berdiri bersama Hanna. Dia sama sekali tidak beranjak dari berdirinya, sama sekali tidak mendekat.
Bu Vina menatapnya. Damian masih diam, dia tahu Bu Vina ingin bicara dengannya, tapi dia tidak akan mendekat jika Hanna belum memberinya ijin.
************
Jangan lupa like ditiap bab.
*****