
Tidak terlalu lama perjalanan kerumah Martin, yang berada dipusat kota dikomplek perumahan mewah.
“Nyonya, ada tamu,” ujar pelayan pada Ibunya Martin yang kebetulan ada dirumah.
“Siapa?” tanya ibunya Martin.
“Bu Vina,” jawab pelayannya.
Ibunya Martin keheranan mendengar Bu Vina tiba-tiba datang ke rumah mereka, tapi diapun segera pergi keruang tamu.
“Bu Vina? Tumben kemari? Ada apa? Ada yang penting? Kenapa kau tidak tunggu santai saja dirumah, semua urusan menikah sudah diurus oleh WO,” kata ibunya Martin, saat melihat Bu Vina ada didepan rumahnya dengan kursi rodanya yang dipegang oleh Bi Ijah, tanpa mempersilahkannya masuk dahulu.
“Bukan, bukan masalah itu,” ucap Bu Vina, menggelengkan kepalanya.
“Ada siapa Bu?’ terdengar suara Yesi, tiba-tiba masuk keruangan itu.
“Ini ada Bu Vina,” jawab ibunya.
Yesi berdiri menatap Bu Vina dengan sinis.
“Ada apa? Kurang mahar?” tanyanya dengan ketus, membuat hati Bu Vina tersinggung.
“Bukan, bukan itu,” ucap Bu Vina.
“Apalagi kalau bukan masalah uang?” tanya ibunya Martin.
“Mungkin butuh biaya berobat kali Bu, belum menikah saja sudah membuat kakakku jatuh miskin,” keluh gadis yang lebih muda beberapa tahun dari Martin itu.
Mendengarnya membuat Bu Vina semakin sakit hati, ternyata penyambutan keluarga Martin seperti ini, bagaimana Shezie akan bahagia kalau menikah dengan Martin? Sudah pria itu membohongi mereka, sikap keluarganyapun tidak baik, membuat tekadnya semakin bulat.
“Aku kesini ingin membatalkan pernikahannya Shezie dan Martin,” ucap Bu Vina.
“Apa?” ibunya Martin dan Yasi terkejut mendengarnya.
“Kau sudah tidak waras? Tiba-tiba membatalkan pernikahan! Kau tau, berapa biaya yang dikeluarkan kami untuk pernikahan putrimu itu? Semua kami yang menanggung, kau seenaknya saja membatalkan!” hardik Ibunya Martin, dengan marah.
“Saya minta maaf yang sebesar-besarnya, tapi saya tidak bisa melanjutkan pernikahan ini,” jawab Bu Vina, mencoba berabar, dia tahu reaksi keluarga Martin akan seperti ini.
“Pernikahan Martin beberapa hari lagi, kau tidak bisa seenaknya membatalkannya!” kata Ibunya Martin.
“Aku benar-benar minta maaf,” ucap Bu Vina.
“Kau keterlaluan, terus terusan mempermainkan keluarga kami! Kalau bukan karena Martin yang ngotot mau menikah dengan Shezie, aku juga tidak mau berbesanan denganmu!” maki ibunya Martin.
“Aku tahu kau salah,” ucap Bu Vina.
“Kau tahu kosekuensinya apa jika kau membatalkan pernikahan ini? Sebenarnya aku senang Martin tidak jadi menikah, tapi bagaimana dengan biaya yang sudah kami keluarkan? Apa kau mau ganti rugi?” tanya ibunya Martin.
“Saya tahu, saya tidak keberatan kalau saya harus dipenjara,” jawab Bu Vina.
“Apa? Kau benar-benar tidak masalah masuk penjara? Kenapa ? Sangat aneh kau tiba-tia burubah fikiran? Bukankah kau yang ingin punya menantu kaya?” tanya ibunya Martin dengan sinis.
“Martin dan Shezie tidak bisa menikah, karena Shezie sedang hamil,” jawab Bu Vina, membuat Ibunya Martin dan Yesi terkejut.
“Apa? Hamil? Hamil anak siapa? Bukan Martin kan?” tanya ibunya Martin.
“Anaknya Henry, mantan suaminya,” jawab Bu VIna.
“Huh! Apes benar Martin. Mau menikah dengan orang miskin, janda, hamil lagi, belum lagi ibunya yang sakit-sakitan,” keluh Ibunya Martin.
“Benar Bu, kak Martin benar-benar apes, tapi bagaimana dengan pesta itu? Kan malu Bu, undangan sudah disebar,” kata Yesi.
Ibunya Martin langsung meraih ponselnya dan menelpon Martin.
Martin yang saat itu sedang ada di ruang kerjanya melihat panggilan di ponselnya langsung diangkat.
“Ada apa Bu?” tanyanya.
“Calon ibu mertuamu membatalkan pernikahan. Katanya Shezie hamil!” jawab ibunya.
“Apa? Membatalkan pernikahan? Tidak bisa! Shezie harus menggugurkan kandungannya! Pernikahan tidak boleh batal.
“Memangnya kau sudah tahu kalau Shezie hamil?” tanya ibunya terkejut.
“Iya aku tahu,” jawab Martin.
“Terus apa yang akan kau lakukan?” tanya Ibunya.
“Aku belum tahu, aku malu, uang yang aku keluarkan juga sudah banyak,!” jawab Martin.
“Benar kan kata Ibu? Menikah dengan orang biasa, tidak tahu etika. Seenaknya main batalkan saja. Lagian Shezie pake hamil segala, kau rugi harus menikahi janaa beranak satu!” kata Ibunya.
“Bu, aku tidak mau pernikahanku gagal! Aku malu!” teriak Martin dengan kesal.
“Tapi kan Shezie hamil!” jawab ibunya.
“Gugurkan saja! Pokoknya terserah ibu mau pakai cara apa, yang pasti gugurkan!” kata Martin.
Ibunya Martin menatap Bu Vina tajam setelah telpon Martin ditutup.
“Martin menolak membatalkan pernikahan. Dia minta Shezie gugurkan kandungannya!” kata Ibunya Martin.
“Maaf Bu, aku tidak bisa meminta Shezie melakuan itu,” ucap Bu Vina.
“Aku tidak akan membiarkan Martin mengasuh apalagi membiayai anak Shezie, ih amit amit, pokoknya kau yang ikut aturan kami. Shezie tetap menikah dan gugurkan kandungannya, secepatnya sebelum pesta pernikahan,” kata ibunya Martin.
“Maaf Bu, aku tidak bisa,” Bu Vina kembali menggelengkan kepalanya.
“Tidak bisa bagaimana? Kau tahu kan resikonya? Aku benar-benar akan menuntutmu dan memasukkanmu ke penjara, kalian benar-benar mencoreng nama baik keluarga kami!” maki Ibunya Martin semakian kesal.
“Ya terserah kalau begitu, siap-siap saja membusuk dipenjara!“ ucap ibunya Martin.
Bu Vina melirik pada Bi Ijah lalu pada Ibunya Martin.
“Kalau begitu saya permisi,” ucap Bu Vina.
“Pergi sana!” usir ibunya Martin dengan wajah yang masam.
Tida ada kata lagi yang diucapkan Bu Vina, dia meminta Bi Ijah mendorong kursi rodanya meninggalkan rumah itu dan kembali memanggil taxi.
“Sebenarnya ibu senang mereka batal menikah tapi kenapa Martin tidak mau? Bagaimana sih Martin? Masa menikahi wanita yang sedang hamil oleh orang lain,” keluh ibuya Martin, saat Bu Vina sudah pergi.
Martin duduk di kursinya dengan kesal. Bu Vina meminta dibatalkan pernikahannya karena Shezie sedang hamil, dia benar-benar marah. Kenapa begitu sulitnya mendapatkan Shezie? Malah ujung-ujungnya wanita itu membuatnya malu lagi.
Sebagian teman-temannya tahu Shezie hamil, apa lagi kalau ada yang tahu Shezie pernah menikah dengan pria lain, mau ditaruh dimana mukanya? Masa dia menikahi wanita yang hamil oleh pria lain? Kalau batal menikah, dia juga malu! Baru juga dia pamer pada teman-temannya, mereka tambah mencemooh saja.
Terus bagaimana dengan biaya pernikahan yang sangat besar? Karena dia ingin pernikahan yang mewah, biayapun gila-gilaan. Shezie benar-benar membuatnya rugi kalau begitu. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Kalau pernikahannya batal, bagaimana cara mengembalikan uangnya dalam waktu singkat?
Terdengar lagi ponselnya berbunyi, ternyata ibunya yang menelpon.
“Calon mertuamu tetap ingin membatalkan pernikahan dan tidak mau menggugurkan kandungannya
Shezie, dia memilih masuk penjara,“ ucap Ibunya, sontak membuat Martin semakin naik darah.
“Apa? Benar-benar…”
Braaak! Martin melempar seluruh barang yang ada di mejanya hingga menimbulkan bunyi yang beragam.
“Martin! Ada apa itu? Kau harus bersabar! Ibu bisa mencarikan pengganti pengantinnya!” kata Ibunya Martin, dengan cemas.
“Halo! Halo! Halo!” teriak Ibunya karena Martin tidak menjawab, karena sudah menutup telponnya.
“Ada apa Pak?” tanya sekretarisnya yang kaget mendengar suara berisik itu sambil melongok kedalam ruangan.
“Pergi kau! Jangan menggangguku!” teriak Martin.
Sekretarisnya semakin takut saja, segera menutup pintu ruangannya Martin.
Martin kembali melempar barang yang tersisa dimeja ke lantai sampai berserakan dan menjadi barang pecah belah.
Dia marah, sangat marah, waktunya yang dipergunakan untuk mengejar Shezie benar-benar tidak berguna. Shezie benar-benar sudah sangat mengecewakannya. Pengorbanannya memperhatikan Ibunya Shezie juga seperti tidak ada bekasnya, hatinya semakin marah.
“Shezie, aku tidak terima dengan perbuatanmu padaku! Kau harus membayar semuanya!” teriaknya dengan kesal.
Langkah kakinya mondar-mandir menahan marah yang semakin bertumpuk dihatinya. Dia boleh kehilangan Shezie, bagaimana dengan uangnya? Uang biaya pernikahan? Dia rugi besar!
Diraihnya ponselnya menelpon seseorang.
“Halo Pak Jodi! Kau sedang ada dimana?” tanyanya pada orang di seberang.
“Aku ada workshop di Hotel Berlin,” jawab Pak Jodi.
“Wah kebetulan sekali kau ada di kota ini,” ucap Martin, dengan semangat.
“Memangnya ada apa?” tanya Pak Jodi.
“Ada barang baru,” jawab Martin.
“Barang baru apa? Paling bekasmu, kau bosan kau lempar padaku!” kata orang disebrang.
“Tidak, dia barang baru, aku saja tidak perneh menyentuhnya,” jawab Martin.
“Kau serius?” tanya Pak Jodi.
“Iya tapi aku minta bayaran yang besar kali ini,” jawab Martin.
“Memangnya berapa?” tanya pria itu sambil tertawa, terus Martin menyebutkan sejumlah uang.
“Kau gila! Itu sangat besar!” kata Pak Jodi.
“Memang sih, tapi wanita ini sangat special buatku jadi aku tidak mau menjual murah,” jawab Martin.
“Spesial apa maksudmu?” tanya Pak Jodi.
“Dia calon pengantinku,” jawab Martin.
“Ternyata kau lebih dari gila! Kau menjual calon pengantinmu?” Pak Jodi tampak terkejut.
“Iya makanya harganya sangat mahal. Aku batal menikah dengannya, kau mau? Aku tidak mau rugi dengan biaya pernikahan yang sudah aku keluarkan,” jawab Martin, membuat pria itu tertawa.
“Oke, oke, itung itung aku membantumu mengembalikan uangmu. Aku setuju,” kata Pak Jodi
“Oke, nanti Shezie, namanya Shezie, akan menemuimu di Hotel Berlin,” ucap Martin. Tidak berapa lama telponpun ditutup dengan senyum sinis di bibirnya.
Martin kembali berfikir uang itu masih tidak seberapa dengan biaya pernikahannya. Dia butuh beberapa pria lagi yang mau membayar mahal. Martinpun kembali menghubungi seseorang.
“Ada barang baru,” ucapnya pada pria disebrang itu, melanjutkan percakapannya seperti pada Pak Jodi tadi.
*******
Readers, bagi yang sudah mendoakan Ibu mertuaku, terimakasih banyak...
**********