
Pagi-pagi bangun, Damian melihat wanita itu tidur di sofa. Dia mengerutkan keningnya keheranan, kenapa Hanna memilih tidur di sofa yang sempit?
Terdengar suara ketukan di pintu kamarnya. Ketika dibukanya, Pak Wardi sudah berdiri disana.
“Periasnya sudah datang,” kata Pak Wardi.
“Tapi istriku masih tidur,” ucap Damian.
“Resepsinya mulai jam 9” kata Pak Wardi lagi.
“Ya nanti aku bangunkan. Tunggu!” Damian menutup pintu kamarnya. Dia segera menghampiri Hanna. Diapun berjongkok di dekat sofa disamping tubuh Hanna yang tidur miring menghadapnya.
Menatap wanita itu yang tertidur nyenyak, melihat wajah yang terlihat lelah itu Damian merasa tidak tega untuk membangunkannya, pasti Hanna semalaman tidak tidur karena menungguinya.
Disingkapkannya helaian rambut yang menutupi wajahnya.
“Kenapa kau menggangguku tidur? Aku sangat mengantuk,” gumam Hanna.
Damian terkejut mendengarnya, diapun menghentikan tangannya. Tapi ternyata Hanna masih memejamkan matanya, padahal tadi dia bicara. Sepertinya dia mengigau. Tangan Damian kembali menyentuh rambutnya.
“Stop!” teriak Hanna mengagetkan, membuat Damian menghentikan tangannya lagi. Ternyata Hanna masih tertidur. Dia merasa aneh kenapa Hanna tau setiap gerakannya. Damian kembali menggerakkan tangannya menyibakkan rambut Hanna.
“Kau kurang kerjaan!” maki Hanna, tapi matanya masih terpejam. Damian berfikir Hanna mengerjainya pura-pura mengigau padahal sudah bangun, diapun berniat membalas mengerjai Hanna.
“Apa aku harus menciummu supaya kau bangun?” tanya Damian. Ternyata Hanna diam saja.
“Kau diam sekarang? Kau benar-benar ingin aku menciummu?” Tanya Damian lagi. Dia mengerutkan keningnya kenapa wanita itu tidak bicara lagi? Wanita ini benar-benar mengerjainya, fikirnya. Sepertinya dia memang harus membalasnya.
“Sepertinya kau ini benar-benar ingin aku menciummu,” ucapnya. Hanna masih diam. Damian jadi berfikir,apakah kalau dia menciumnya wanita ini akan bicara? Sama saat dia menyentuh rambutnya? Diapun mendekatkan wajahnya akan menciumnya. Dekat, semakin dekat, wanita itu tidak bereaksi apa-apa. Dia mengerutkan keningnya, kembali menjauhkan wajahnya. Kenapa wanita itu diam saja? Tangannya kembali menyentuh rambut itu.
“Jangan sentuh!” ucap Hanna masih memejamkan matanya. Damian kembali mengerutkan keningnya. Disentuh rambutnya dia bicara, kenapa mau dicium dia diam saja? Dia jadi penasaran, apa kalau menciumnya wanita itu akan menghentikannya?
Damian mendekatkan wajahnya pada wajah yang sedang tertidur itu. Dekat…, semakin dekat…masih tidak bicara. Kok dia diam saja? Damian kembali mendekatkan wajahnya, dekat… semakin dekat…, masih tidak ada reaksi apa-apa. Ini wanita benar-benar ingin dia menciumnya? Kenapa dia diam saja? Dekat…, semakin dekat…, kenapa jantungnya jadi berdetak kencang begini? Wajahnya semakin dekat, kini nafas Hanna terasa berhembus ke hidungnya, hanya tinggal satu centi dia akan menyentuh bibir itu. Ditatapnya wajah yang begitu dekat dengan wajahnya, wajah itu masih terpejam polos didepannya. Apa dia benar-benar akan menciumnya? Ada dorongan kuat dalam dirinya, melihat bibir wanita itu begitu sangat menggodanya. Diapun mendekatkan bibirnya akan menciumnya, dan Tok tok tok…Hampir saja dia benar benar menciumnya, saat terdengar suara pintu diketuk.
“Damian! Apa kau sudah bangun? Perias sudah menunggu kalian! Istrimu sudah bangun?” terdengar teriakan ibu tirinya.
Damian menghentikan gerakannya, tepat disaat dia benar-benar hampir menempelkan bibirnya pada bibir wanita itu. Tiba-tiba Hanna bergerak, Damianpun menjauh.
“Tubuhku pegal sekali!” ucap Hanna, sambil mengangkat tangannya ke atas, merubah posisi tidurnya membelakangi Damian.
“Jadi kau benar-benar masih tidur?” Tanya Damian.
“Hampir saja aku kena finalti karena menciummu,” gumam Damian.
“Ya, aku segera keluar!” teriak Damian pada ibu tirinya.
“Bangunkan juga istrimu!” teriak ibu tirinya lagi.
Damian menoleh pada Hanna yang membelakanginya.
“Hanna bangun!” ucapnya. Tidak ada jawaban.
Tangannya menyentuh bahu Hanna, “ayo bangun,” ucapnya lagi, menggerak gerakkan bahunya Hanna.
“Aku masih mengantuk,” ucap Hanna.
“Perias sudah datang, ayo bangun,” kata Damian.
“Apa? Perias?” Tanya Hanna.
“Iya, ayo bangun,” jawab Damian.
“Baiklah, aku bermimpi buruk,” ucap Hanna sambil bangun dan menggeliatkan tangannya ke atas, membukakan matanya dan menguap. Damian memperhatikannya.
“Aku mimpi buruk,” kata Hanna.
“Mimpi apa?” Tanya Damian. Hanna menatap Damian.
“Ada apa?” Tanya Damian. Dia masih berjongkok di depan Hanna yang duduk di sofa.
“Aku mimpi sangat buruk,” kata Hanna, masih menatap Damian.
“Iya mimpi buruk itu mimpi apa?” Tanya Damian.
“Aku mimpi kau mau menciumku!” jawab Hanna. Hampir saja Damian jatuh terduduk saking kagetnya, wajahnya langsung memerah.
“Kau benar! Mimpimu sangat buruk!” ucapnya, sambil berdiri.
Hanna mengangguk, “ kau benar, sangat buruk!” ulang Hanna.
“Iya, sangat buruk,” ucap Daimian lagi, membalikkan badannya mencoba menutupi rona merah diwajahnya.
“Kenapa mimpi itu terasa seperti nyata ya? Ah tidak, tidak, sungguh mimpi yang buruk,” Hanna kembali menggeleng gelengkan kepalanya. Damian terdiam.
Tiba-tiba Hanna berseru.
“Tidak buruk!” serunya sambil berdiri, membuat Damian menoleh.
“Apa yang tidak buruk?” Tanya Damian, keheranan, menatap wanita itu.
“Tentu saja tidak buruk. Kalau kau menciumku, berarti kau kena finalti. Kau harus membayar 2x lipat, uangku berarti semakin banyak!” seru Hanna, wajahnya langsung berseri-seri.
“Apa maksudmu kau bicara begitu? Bilang saja kau mau aku menciummu! Tidak akan! Aku tidak akan menghambur hamburkan uangku untuk menciummu!” kata Damian, menutupi keadaan yang sebenarnya. Hannapun mencibir.
“Kau mau kemana?” Tanya Hanna, saat dilihatnya Damian menuju kamar mandi.
“Mau mandi,” jawab Damian.
“Bukankah kau sudah mandi?” Tanya Hanna keheranan, membuat Damian tersadar, saking gugupnya dia salah melangkah.
“Cepat mandinya! Perias menunggu!” kata Damian, sambil menutup pintu.
“Tingkahmu sangat aneh,” gumam Hanna, menatap pintu yang tertutup itu.
*************
Damian, Satria dan ibu tirinya sudah bersiap siap di teras rumah, menunggu Hanna.
“Kenapa dia lama sekali?” keluh Damian.
“Kenapa? Kau tidak sabar melihat istrimu?” goda Satria sambil tertawa
“Tidak, aku sudah sering melihatnya. Aku kesal saja menunggunya,” keluh Damian.
“Jangan begitu, nanti kalau aku menculik pengantin wanitamu kau akan menyesal,” kata Satria ditengah tawanya.
“Kau tidak akan berani melakukannya!” kata Damian.
“Siapa takut?” tantang Satria.
“Kau ini merusak resepsiku saja!” keluh Damian lagi. Lagi-lagi Satria tertawa.
“Apa aku harus berangkat duluan?” Tanya Damian, setelah beberapa menit.
“Kau tidak sabaran sekali, tunggulah. Lihat istrimu!” kata Satria.
“Aku sudah sering melihatnya!” ucap Damian.
Terdengar suara langkah keluar dari balik pintu rumah.
“Aku sudah siap,” ucap Hanna. Dua orang pagar ayu memegang gaun belakangnya, dan dua perias mengikutinya.
“Ayo kita berangkat! ” ucap Damian dengan acuh tanpa menoleh ke arah suara. Kakinya melangkah menuju mobil yang ada di depannya.
“Apa kau tidak akan melihat istrimu?” Tanya Satria, yang berdiri melihat kearah pintu.
“Aku sering melihatnya! Ayo!” jawab Damian, tidak berniat melihat Hanna, sejak tadi dia kesal karena menunggu Hanna berdandan sangat lama. Tangannya ditahan Satria.
“Aku akan benar-benar menculik pengantin wanitamu,” ucap Satria.
“Culik saja!” jawab Damian asal bicara.
“Maaf sudah menunggu lama,” terdengar lagi suara Hanna. Damian membalikkan badannya, berniat mengomel.
“Iya kau mem..” ucapannya terhenti saat melihat wanita di depannya itu. Matanya tak berkedip menatapnya. Wanita itu disulap menjadi sangat cantik. Pengantin wanitanya benar-benar cantik, hampir saja dia tidak mengenalinya.
“Maaf kau pasti kesal menungguku,” ucap Hanna, menatap Damian.
“Oh tidak, tidak apa-apa, aku menunggumu ya…cukup lama..oh tidak tidak lama,” jawab Damian dengan belepotan.
Satria langsung mendelik pada kakaknya, tadi katanya tidak mau melihatnya, sekarang bicara saja gugup begitu, fikirnya.
“Kakak ipar, mari,” Satria mendekat, mengulurkan tangannya mau membantu Hanna masuk ke dalam mobil. Pluk!! Sebuah tepukan mendarat di tangannya. Kakaknya memukul tangannya yang terulur.
“Dia pengantinku!” ucap Damian.
“Tadi katanya aku boleh membawa kabur pengantinnya! Kau ini plin plan!” keluh Satria.
Damian mengulurkan tangannya pada Hanna yang langsung meraih tangan Damian, untuk membantunya masuk ke mobil.
“Trimakasih,” ucap Hanna, tersenyum manis pada Damian dengan bibirnya yang diberi lipstick warna merah cabe. Damian tertegun melihat bibir itu, dadanya langsung berdegup kencang, keringat dingin muncul dikeningnya, dia menjadi gugup, ada perasaan aneh muncul dalam dirinya, kenapa melihat bibir itu dia menjadi merasa tergoda untuk menciumnya? Tadi pagi hampir saja dia benar-benar mencium bibir yang kini sangat menggoda itu. Damian menggeleng-gelengkan kepalanya, kenapa dia jadi memikirkan bibir itu terus?
“Apa kau baik-baik saja? Kenapa kau tidak cepat masuk?” Tanya Hanna, karena Damian masih berdiri disamping pintu mobil. Tiba-tiba Satria nyerobot masuk ke dalam mobil duduk disamping Hanna.
“Hei, apa yang kau lakukan?” teriak Damian.
“Kau duduk di depan!” ucap Satria tanpa rasa bersalah.
“Kau ini! Keluar!” teriak Damian, sambil menarik tangan Satria supaya keluar dari mobil itu.
“Aku sudah duduk duluan, kau duduk didepan saja,” kata Satria tidak mau mengalah.
“Ada apa dengan kalian? Ayo kita berangkat!” terdengar teriakan dari mobil dibelakang mobil pengantin.
Damian kembali menarik tangan satria supaya keluar, akhirnya Satria terpaksa keluar.
“Kau mengganggu saja!” gerutu Damian.
“Kau di mobil belakang, jangan ikut mobilku! Atau kau dirumah saja!” hardik Damian. Satria malah tertawa lalu masuk ke mobil belakang bersama ibunya.
Hanna melongokkan kepalanya menengok Satria, tubuh Damian langsung menghalanginya.
“Dia ikut mobil ibu,” kata Damian, sambil buru-buru masuk ke dalam mobil, duduk disamping Hanna.
Mobil pengantin itupun melaju pelan keluar dari halaman rumahnya Damian.
*****************
Wkwwkk…intermezzo sedikit ya pemirsa…hehe…
Jangan dianggap serius..kalau garing abaikan saja.
Jangan lupa like dan komen
Baca juga “My Secretary” Season 2(Love story in London)