
Hari sudah pagi, Henry bangun dari tidurnya. Semalam karena kelelahan dia tertidur tanpa tahu apakah Shezie kembali ke kamarnya atau tidak. Hanya saja sekarang gadis itu tidak ada dikamarnya.
Tiba-tiba Henry bangun, jangan-jangan Shezie kabur dengan gaun pengantin itu! Dia langsung turun dari tempat tidur dan melihat kamar mandi ternyata gadis itu tidak ada, kemana dia? Henry segera keluar dari kamarnya mencari keberadaan Shezie
Shezie juga terbangun di kamar itu merasa kaget, karena dia tertidur dikamar itu masih dengan gaunnya. Dia terkejut saat seseorang tiba-tiba membuka pintu kamar itu dan berteriak kaget saat melihat ada Shezie dikamar itu.
“Nona! Apa yang nona lakukan disini?” tanya wanita yang membuka pintu itu.
“Aku ketiduran!” jawab Shezie, sambil bangun dan menghampiri wanita itu.
“Ada apa Bi?” terdengar suara seseorang mendekat.
“Non Shezie tidur disni, Bu!” jawab wanita itu.
“Kenapa tidur disitu?” tanya suara itu yang tiada lain Hanna.
Hanna menghampiri pintu kamar tamu itu, sedangkan wanita tadi pergi lagi ke belakang.
“Kenapa kau tidur disini?” tanya Hanna, saat melihat Shezie muncul di pintu kamar tamu itu.
“Ada apa?” tanya Damian yang tiba-tiba datang, dia sudah rapih dengan pakaian kerjanya.
“Shezie tidur di kamar tamu!” jawab Hanna.
“Kenapa sampai tidur di kamar tamu?” tanya Damian tidak mengerti. Hanna dan Damian kini menatap Shezie yang merasa bingung menjawabnya.
“Ada apa ini?” terdengar suara Henry yang sedang mencari Shezie. Dilihatnya Shezie berdiri dipintu kamar tamu ada juga kedua orangtuanya.
Tiba-tiba Shezie menangis keras.
“Huh u hu…” Tangisnya, tersedu-sedu, membuat semua orang terkejut.
“Ada apa? Kenapa?” tanya Hanna, kebingungan.
“Aku mau bercerai!” jawab Shezie.
“Apa?” Hanna dan Damian terkejut.
“Kau ini bicara apa?” tanya Hanna , menghampiri Shezie.
Henry tampak terkejut dengan tingkah Shezie itu, tapi kemudian dia sadar sepertinya Shezie sudah mulai beracting.
“Ternyata Henry berselingkuh! Aku tidak mau melanjutkan pernikahan ini lagi! Aku mau bercerai!” kata Shezie, sambil masuk ka dalam kamarnya.
Hanna dan Damian langung menghampirinya. Gadis itu mengambil ranselnya.
“Aku mau pulang! Aku tidak terima dihianati!” kata Shezie.
“Kalau mau pulang, ya sudah pulang saja sana!” usir Henry dengan ketus. Dia ingin drama dengan Shezie cepat selesai dan dia segera bebas.
Damian menoleh pada Henry.
“Henry! Ingat kau baru menikah! Tidak baik kau bicara begitu pada istrimu!” maki Damian, membuat Henry diam.
“Baik, aku akan pergi!” kata Shezie, dia akan keluar kamar tapi ditahan oleh Hanna.
“Sayang, tidak boleh seperti itu, kalian baru menikah masa bercerai? Kalau marahan ya wajar tapi jangan bercerai,” kata Hanna, sambil menyentuh bahunya Shezie.
“Henry sudah berselingkuh, aku tidak bisa terima, selama ini dia membohongiku, bahkan setelah kami menikahpun ternyata dia masih berhubungan dengan wanita itu!” ujar Shezie.
Hanna langsung menoleh pada Henry.
“Henry apa yang telah kau lakukan? Kau harus memutuskan pacarmu itu!” maki Hanna, dia tidak suka dengan sikapnya Henry yang tidak setia pada istrinya.
“Aku bosan kalau cuma dengan satu wanita saja!” jawab Henry.
“Apa?” Hanna terkejut mendengar perkataan Henry.
“Aku mau bercerai, aku mau pulang sekarang!” kata Shezie, sambil kleuar dari kamar itu dengan membawa ranselnya.
Henry yang melihat Shezie mau berangkat, langsung berseru.
“E e ganti dulu bajumu, kau mau memakai baju pengantin itu?” teriaknya.
Shezie menoleh pada gaun yang dipakainya, lalu menoleh pada Hanna.
“Nyonya lihat kan? Aku memakai gaun ini juga tidak boleh!” Adu Shezie.
Hanna menoleh pada Henry.
“Henry kau ini apa-apaan? Gaun itu dibuat untuk Shezie, gaun itu milik Shezie, kenapa kau melarangnya? Sikapmu sangat buruk pada istrimu!” keluh Hanna.
Hanna langsung menoleh pada Shezie.
“Gaun pengantin itu milikmu, aku membuatnya khusus untukmu,” kata Hanna, membuat hati Shezie berbunga-bunga.
“Benar Nyonya? Nyonya sangat baik!” seru Shezie.
Henry kesal dalam hati, Shezie hanya mendelik pada pria itu, dia senang majikannya Henry memberikan gaun itu. Tapi Saat Shezi akan pergi, Hanna kembali memanggilnya.
“Tapi kau tidak boleh pergi!” kata Hanna, membuat Shezie menoleh.
“Kenapa Nyonya?” tanya Shezie menatap Hanna.
“Kau istrinya Henry, buat apa kau pergi? Aku tidak mengijinkan kalian bercerai!” jawab Hanna.
“Tapi Bu, aku tidak mau mempunyai istri yang tidak pengertian,” kata Henry, Hanna langsung menatap Henry.
“Tidak pengertian bagaimana? Membiarkanmu berselingkuh begitu? Tidak ada istri yang menginginkan suaminya selingkuh! Apalagi kau baru menikah! Kau harus merubah sikapmu!” ujar Hanna dengan kesal.
“Sudahlah Nyonya, aku tidak apa-apa. Aku tidak keberatan bercerai dengan Henry. Aku tidak mau mempunyai suami yang tidak setia, aku akan bercerai dengan Henry, aku akan pulang sekarang,” kata Shezie lagi, membalikkan badannya tapi sekarang Damian yang bicara.
“Berilah kesempatan pada Henry, dia akan berubah, kalian tidak boleh bercerai,” ujar Damian.
“Tidak ayah, aku juga ingin bercerai, biarkan saja dia pergi!” kata Henry.
“Tuh kan Nyonya, Tuan, kami memang tidak cocok , jadi aku akan pergi!” sahut Shezie.
Damian mengelengkan kepalanya.
“Tidak ada perceraian, kalian baru menikah kemarin! Kalian selesaikan masalah kalian berdua tapi tidak bercerai!” kata Damian dengan tegas.
“Tapi Tuan,” Shezie akan bicara lagi, tapi Hanna sudah mendekatinya dan meraih tangannya.
“Kau tidak boleh pergi! Pernikahan kalian baru seumur jagung, kalian masih butuh pengenalan satu sama lain, tidak bisa setiap bertengkar langsung bercerai begitu saja,” ucap Hanna.
“Tolong maafkan Henry, dia pasti mau berubah dan mau meninggalkan pacarnya, iya kan Henry?” lanjut Hanna, lalu menoleh pada Henry.
“Henry, sekarang kau sudah menikah, jadi jangan main-main lagi! Bawa istrimu masuk!” kata Hanna.
“Tapi Bu,” Henry memotong.
“Henry, masuk!” kata Damian pada putranya.
Hanna langsung menarik Shezie mendekati Henry, tangan kanannya menyentuh punggungnya Henry mendorongnya supaya membawa istrinya ke kamarnya.
“Bawa istrimu masuk, berjanjilah kau akan setia pada istrimu!” ujar Hanna.
“Tidak bisa Bu! Aku ingin banyak gadis dalam hidupku!” jawab Henry.
“Apa-apaan kau ini? Kau harus memutuskan pacar-pacarmu!” maki Hanna, semakin kesal pad sikap Henry.
Mendapat makian dari ibunya tidak ada yang bisa dilakulan lagi Henry selain terpaksa mengalah berjalan masuk menuju kamarnya diikuti Shezie.
Hanna menoleh pada suaminya dan menatapnya tajam.
“Kenapa?” tanya Damian.
“Ini pasti sifat yang kau turunkan pada anakmu!” kata Hanna.
“Kau ini bicara apa?” tanya Damian, terkejut dengan perkataan istrinya.
“Kau memiliki pacar di tiap kota dan mungkin ditiap negara! Itu yang ditiru Henry sekarang! Kau dengar sendiri kan jawaban Henry? Dia ingin banyak wanita dalam hidupnya! Ya ampuun!” jawab Hanna.
“Sayang, aku tidak pernah berselingkuh setelah menikah! Aku hanya mencintaimu saja!” kata Damian, kebingungan karena jadi dia yang kena damprat.
“Lihat, sifat burukmu menurun pada Henry!” kata Hanna sambil cemberut.
“Mungkin Henry belum menyelesaikan urusannya dengan pacar-pacarnya, tapi aku yakin dia akan putus dengan pacar-pacarnya itu, karena dia sudah menikah sekarang,” ujar Damian.
Henry sempat menoleh pada orangtuanya yang bertengkar, dia jadi merasa bersalah telah membuat orang tuanya bertengkar.
Brugh! Henry menutup pintu kamarnya saat Shezie juga sudah masuk ke dalam kamarnya.
“Lihatkan?”ujar Henry menatap Shezie.
“Apa?” tanya Shezie.
“Kau tidak profesional, kau tidak bisa membuat kita bercerai,” jawab Henry.
“Aku sudah berusaha, aku tidak menyangka akan begini!” kata Shezie.
Henry melipat kedua tangan didadanya menatap Shezie.
“Bagaimana selanjutnya? Kau tidak bisa terus terusan disini! Pusing aku melihatmu!” ujar Henry.
“Kau fikir, aku mau tinggal disini? Aku juga mau pulang,” kata Shezie, dia teringat pada ibunya, ibunya akan pulang kerumah dia harus mengurus ibunya.
“Aku membayarmu 100 juta tapi pekerjaanmu seperti ini,” keluh Henry.
“Coba nanti aku fikirkan caranya!” ucap Shezie.
Tidak sengaja matanya menoleh kearah cermin. Di cermin itu dia melihat dirinya masih menggunakan gaun pengantin, dia langsung terseyum.
“Majikanmu memberikan gaun ini untukku!” serunya.
Henry tidak bicara, dia bingung bagaimana cara orang tuanya mengijinkan mereka berpisah? Kenapa jadi sesulit ini hanya untuk berpisah? Dia malah meliaht orang tuanya bertengkar gara-gara dia.
Henry menoleh pada Shezie, ternyata gadis itu tidak ada, kemana gadis itu? Ternyata Shezie pergi mendekati cermin dan bercermin sambil memiringkan badannya kekanan dan kekiri mematut diri dengan baju pengantin itu.
“Heh, kau malah bercermin, bukannya memikirkan bagaimana supaya kita bisa bercerai dan kau cepat pergi dari sini!” kata Henry dengan kesal. Shezie membalikkan badannya menatap Henry.
“Aku sedang berfikir apakah nanti kalau aku menikah dengan kekasihku aku akan memakai gaun seindah ini?” ucap Shezie.
“Kau kan tinggal buat saja gaun seperti itu!” sahut Henry.
“Siapa pria yang mau membuatkan gaun sebagus dan seindah ini?” keluh Shezie, lalu beranjak meraih ranselnya menuju kamar mandi. Henry hanya memperhatikan sikap Shezie itu, kenapa gadis itu begitu pesimis?
“Ya pacarmulah! Siapa lagi?” kata Henry.
Shezie tidak menjawab, dia menutup pintu kamar mandi.
Henry hanya terdiam mematung. Mau sampai kapan gadis itu disini? Batinnya.
*************