
Damian terus mengalihkan perhatiannya pada koran yang dibacanya, padahal hati dan fikirannya membanyangkan hal-hal yang akan dilakukan oleh istrinya. Dalam benaknya pasti istrinya akan merayu-rayu supaya dia tidak marah lagi. Kalau sudah dirayu begitu apalagi dengan lingeri yang dipakai Hanna, apakah pertahanannya akan tetap kuat atau runtuh?
Damian menghapus keringat di keningnya. Jantungnya masih berdebar kencang. Sebenarnya dia ingin melirik pada istrinya tapi bagaimana kalau dia tergoda? Pasti istrinya itu akan merasa menang. Huh!
“Damian!” panggil Hanna.
Damian sama sekali tidak menoleh, dia masih menunduk membaca korannya. Jantungnya semakin berdebar kencang saja, membayangkan melihat Hanna dengan balutan lingerinya yang sexy. Meskipun Hanna tidak memiliki tubuh seperti model internasional, tapi istrinya itu juga cantik, dan yang pasti dia tertarik karena dia sangat mencintainya bukan karena fisik semata.
“Saayaang!” panggil Hanna lagi, merubah panggilannya.
Damian mendengar langkah istrinya mendekatinya, dia semakin tegang saja. Bayangan-bayangan erotis istrinya semakin mengumpul dibenaknya, membuat hasratnya semakinmmenumpuk, sepertinya pertahanannya akan runtuh sebelum dimulai.
Damian masih berlindung dibalik korannya, dia belum berani menatap istrinya. Dirasakannya Hanna naik ke tempat tidur, bahkan Damian bisa merasakan istrinya merangkak diantara dua kakinya yang berselonjor, jantungnya semakin berdebar kencang saja, rasanya dia tidak kuat membendung hasratnya.
“Saayaang!” panggil Hanna lagi.
Damian masih tidak menjawab. Dirasanya lagi Hanna merangkak semakin dekat ketubuhnya. Istrinya benar-benar sudah membangkitkan gairahnya dengan bayang-bayang erotisnya.
“Kau masih marah padaku?” tanya Hanna. Kepalanya menyembul diatas korannya Damian. Pria itu masih tidak mau meliriknya.
Hanna benar-benar kehilangan akal merayu Damian. Diapun duduk dipangkuannya Damian, dengan kedua kakinya disamping kiri dan kanan kakinya Damian.
“Damian, aku tidak suka kau seperti ini!” teriak Hanna, sambil mengambil koran yang ada ditangan Damian, mau tidak mau Damian harus menatapnya daaan…
“Mana lingerimu?” tanya Damian spontan saat melihat ternyata Hanna menggunakan pakaian yang tadi dia pakai.
“Apa? Lingeri?”tanya Hanna, terkejut.
“Tadi kau bilang akan memakai lingeri yang baru kau beli?” tanya Damian dengan kecewa, membuat Hanna tertawa.
“Aku hanya bercanda! Tadi aku tanya kau diam saja! Makanya jangan marah-marah, tidak jadi deh pakai lingerinya!” jawab Hanna, masih tertawa dengan kedua tangannya menarik pipinya Damian, mencubitnya dengan gemas.
Wajah Damian langsung saja masam. Dari tadi dia membayangkan istrinya menggodanya dengan lingeri itu ternyata malah memakai bajunya yang tadi.
“Aku tidak mau kau marah,” ucap Hanna, mengulurkan tangannya memeluk tubuhnya Damian, wajahnya menengadah lebih dekat ke wajah suaminya itu. Damian hanya menatapnya. Tanpa memakai lingeri pun, wanita ini sudah begitu menggodanya.
“Apa yang harus aku lakukan supaya kau tidak marah lagi?” tanya Hanna. Damian terdiam, merasakan hembusan nafas istrinya didekat wajahnya. Merasakan dada istrinya menempel ditubuhnya, semakin membangkitkan hasratnya.
“Bukankah ini posisi yang bagus?” tanya Damian.
“Posisi apa?” tanya Hanna, tidak mengerti.
“Kau merayuku tidak total,” jawab Damian.
“Memangnya aku harus apa?” tanya Hanna.
Ditanya begitu Damian tidak menjawab, menatap wajahnya Hanna yang tepat ada didepannya dengan tubuhnya yang menempel saja sudah membuatnya sangat bergairah.
“Aku sedih kau marah padaku,” ucap Hanna dengan pelan.
“Aku tidak suka kau perhatian pada pria lain,” jawab Damian, kini tangannya menyentuh wajah istrinya, diusapnya dengan lembut. Wajah yang selalu dirindukannya setiap saat.
“Aku minta maaf kalau kau merasa begitu,” ucap Hanna, sambil mendekatkan bibirnya dan menempelkannya di bibirnya Damian.
“Aku mencintaimu,” ucap Hanna dengan bibir yang masih menempel, hembusan nafasnya begitu terasa.
Damian merasakan sentuhan lembut bibir itu, dia sangat menyukai istrinya bermanja-manja seperti ini, tidak ada kata yang diucapkannya, dia hanya merasakan sensasi sentuhan bibir istrinya. Tangannya saja yang mulai memeluk punggung istrinya.
“Sekarang kita sudah menikah kan?” tanya Hanna.
“Kenapa bertanya begitu?” Damian balik bertanya.
“Tidak apa-apa kan kalau aku bermanja-manja padamu,” ucap Hanna, masih menempelkan bibirnya di bibir Damian.
“Tidak apa-apa tapi kau harus bertanggung jawab,” ucap Damian.
“Bertanggung jawab apa?”tanya Hanna.
Mata Damian melirik kebawah membuat Hanna pun mengikuti pandangannya. Dia tersadar kalau dia duduk berada diantara kakinya Damian.
“Maaf, tadi aku hanya menggodamu,” jawab Hanna, beringsut mundur, tapi tiba-tiba tangan Damian menariknya dengan cepat ke dekatnya membuat tubuhnya kembali menempel pada tubuh suaminya itu. Kedua tangan Hanna spontan memeluk punggung Damian.
“Kau mau apa?” tanya Hanna, masih terkejut dengan gerakannya Damian. Rasa terkejutnya berlanjut saat Damian tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya berbaring ketempat tidur.
“Da..” baru juga Hanna akan protes, mulutnya sudah penuh oleh bibirnya Damian, tidak ada lagi kata-kata yang bisa diucapkannya, karena pria itu menciumnya sangat dalam.
“Damian, aku tidak bisa bernafas!” ucap Hanna sambil mendorong tubuh Damian agak menjauh karena Damian menciumnya terlalu lama. Tapi tenaganya tidak mampu mengusir tubuh besar pria itu yang mengunci tubuhnya.
“Kau banyak bicara,” keluh Damian,tidak menerima protes istrinya, dia malah kembali mencium istrinya, membuat Hanna tidak bisa protes lagi, dia juga tidak bisa berontak dibawah kungkungan tubuh pria itu yang kokoh. Akhirnya dia hanya bisa pasrah mengikuti keinginannya Damian. Entah berapa kali pria itu mengulang lagi dan lagi tidak bosan bosannya.
*********
Ting Nung! Ting Nung! Terdengar suara bel pintu berbunyi.
Hanna yang sedang memeluk suaminya yang bertelanjang dada, menajamkan telinganya.
“Siapa lagi yang bertamu?” keluhnya, mengangkat wajahnya menatap suaminya yang tertidur, suaminya terlihat sangat lelah. Diapun tersenyum dan mencium pipinya.
“Aku bahagia selalu bersamamu,” ucapnya, sambil mengusap wajahnya Damian. Tidak pernah terbayangkan akhirnya pria tampan itu menjadi suaminya.
Ting Nung! Ting Nung! Bel terus saja berbunyi.
“Sayang, apa kau menunggu tamu?” tanya Hanna, menyentuh pipi Damian yang perlahan bergerak karena sentuhannya.
“Ada apa?” tanya Damian dengan malas tanpa membuka matanya, malah memeluk Hanna lagi semakin kuat.
“Bel pintu berbunyi, siapa lagi yang bertamu?” tanya Hanna.
Damian menajamkan pendengarannya, ternyata benar ada lagi suara bel pintu.
“Siapa lagi yang bertamu? Biarkan saja! Mengganggu saja!” keluh Damian.
Ting Nung! Ting Nung! Lagi-lagi bel berbunyi.
“Coba aku lihat dulu,” kata Hanna.
“Jangan-jangan pria itu!” Damian langsung membuka matanya, dihatinya kembali cemburu setiap mengingat pria itu.
“Tidak mungkin, buat apa Arya kemari lagi?” ucap Hanna.
Damian menatap Hanna yang sedang menatapnya, dia tersenyum melihat istrinya itu.
“Ada apa?” tanya Hanna kebingungan.
“Sepertinya aku mengingkannya lagi,” jawab Damian.
“Aah tidak, aku lelah, kau membuat tubuhku remuk, Damian,” tolak Hanna.
Tapi lagi-lagi protesnya tidak berlaku, pria itu membaringkannya lagi dengan kedua tangannya yang kokoh, Hanna tidak pernah bisa melawannya.
Gerakan Damian terhenti karena bel berbunyi lagi.
Ting Nung! Ting Nung!
“Benar-benar sangat mengganggu, harusnya tidak perlu memasang bel atau aku akan membuat tulisan di pintu, tidak menerima tamu,” gerutunya, membuat Hanna tertawa.
“Mungkin tamu penting, aku lihat dulu,” kata Hanna.
Damian menjatuhkan tubuhnya kesamping, benar-benar banyak gangguan, keluhnya dalam hati.
Hanna bergegas pergi ke kamar mandi dan berpakaian yang simple saja, kemudian segera keluar dari kamarnya.
“Tamu siapa lagi?” gumam Hanna, sambil menuruni tangga menuju pintu rumah itu yang ada dibawah.
Ting Nung! Ting Nung! Bel terus berbunyi. Hannapun membuka pintu rumah itu dan…
“Kau?” tanya Hanna, terkejut melihat kedatangan tamu itu.
“Hai,” sapa seorang wanita yang tidak disukai Hanna, Maria atau Mario, gadis cantik itu membawa sebuah kotak besar dibungkus kertas motif batik.
Wajah Hanna langsung berubah kusut, kenapa ada wanita transgender ini bertamu segala? Membuatnya benar-benar tidak mood.
“Ada siapa?” terdengar suara Damian dari atas tangga.
Maria menoleh kearah Damian, sedangkan Hanna tidak menjawab pertanyaan suaminya, dia memasang wajah cemberut, dia tidak suka ada Maria atau mario, tidak suka!
“Maria!” seru Damian. Pria itu muncul di atas tangga sudah menggunakan mantel pajangnya. Diapun segera turun menghampiri Maria.
“Lama kita tidak bertemu!” seru Maria, langsung masuk ke dalam rumah.
Hanna cemberut saja melihat Damian menghampiri Maria. Dilihatnya Maria akan mencium Damian tapi Hanna buru-buru menarik tangan Maria supaya mundur dari depan Damian.
“Stop! Jangan mencium suamiku!” bentaknya, membuat Maria terkejut juga Damian yang langsung menoleh pada Hanna. Terlihat sekali istrinya itu tidak suka dengan kedatangannya Maria.
*************
Readers yang masih setia, ceritanya yang slow slow saja ya.
Authornya lelah banyak pekerjaan di dunia nyata jadi nulis untuk hiburan saja.
Maaf kalau tidak suka.