Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-93 Merasa kehilangan



Hanna terus saja menangis didalam kamarnya, dia tidak mau menikah dengan Cristian, dia terlanjur jatuh cinta pada Damian.


Satu jam dua jam, sudah  beberapa jam dia menangis, malam ini adalah malam yang menyedihkan dalam hidupnya, membuat matanya bengkak. Saat akan menikah dengan Cristian, dia tidak merasakan begitu mencintai seseorang, sekarang dia mengerti bagaimanna perasaannya Sherli saat terus terusan menangis karena Cristian akan menikah dengannya. Kehilangan orang yang dicintai itu sangat menyakitkan.


Berkali-kali Hanna menghapus airmatanya, berkali-kali juga airmata itu menitik dipipinya. Bayang-bayang pria itu selalu ada dipelupuk matanya, dia teringat Damian pasti malam ini akan terus mengigau karena dia tidak memeluknya.


Tapi ternyata perkiraan Hanna salah, malam ini Damian tidak mengigau. Pria itu duduk di tempat tidur bersandar di sandaran tempat tidurnya. Duduk merenung.


Damian tidak bisa tidur, tidak mau tidur, karena mimpi buruknya akan bertambah buruk,  mungkin dalam mimpinya bukan lagi mimpi berpisah dengan ibunya tapi juga mimpi berpisah dengan wanita yang dicintainya. Kemana dia harus mencarinya, dia sangat merindukannya.


Kamar yang luas ini terasa begitu sepi, sangat sepi. Setiap melihat sudut kamar itu selalu muncul bayang-bayang Hanna.


“Aku tidak bisa tidur tanpa pelukanmu,” gumam Damian, sambil memeluk sikunya. Pandangannya menerawang sepi.


“Kau lihat, aku memakai baju tidur norakmu ini. Kau pasti senang aku memakainya kan? Meskipun norak dan kekanak-kanakan, aku memakainya asal kau senang dan kembali padaku,” ucap Damian lagi, dia bicara sendiri sambil melihat baju tidur Tom&jerry yang dipakainya. Lalu menarik nafas panjang, dia sangat merindukan Hanna.


Malam sudah larut. Bu Astrid terbangun dan merasa haus, diapun keluar kamar akan mengambil air minum di dapur. Saat melewati kamarnya Hanna, dia masih mendengar isak tangis putrinya.


Bu Astrid mendorong pintu kamar Hanna dengan pelan yang ternyata tidak dikunci. Diapun melongokkan kepalanya melihat ke dalam. Dilihatnya putrinya masih duduk bersandar di sandaran tempat tidur menelungkup terisak-isak sambil memeluk bantal yang ada dilututnya.


“Sayang, kau belum tidur?” tanya Bu Astrid.


Hanna tidak menjawab. Melihatnya membuat Bu Astrid semakin sedih.


Diapun segera duduk dinggir tempat tidur, tangannya menyentuh rambutnya Hanna.


“Jangan menangis terus, kau harus tidur, nanti kau sakit,” ucap Bu Astrid.


“Aku tidak bisa tidur, dia juga pasti sedang bermimpi buruk,” kata Hanna.


“Dia, dia siapa?” tanya Bu Astrid, keheranan. Hanna mengangkat kepalanya dan menatap ibunya.


“Aku tidak mau menikah dengan Cristian Bu, aku mencintai pria lain,” jawab Hanna.


“Kau tidak bisa menikah dengan pria itu, ayahmu tidak akan setuju, kau harus bertanggung jawab dengan pernikahanmu dan Cristian, jangan membuat malu keluarga lagi,” kata Bu Astrid.


“Tapi aku mencintai pria lain Bu,” ucap Hanna, bersikeras.


“Ayahmu tidak akan setuju, kau terikat dengan Cristian,” kata Bu Astrid.


“Aku tahu aku salah,aku minta maaf, tapi aku mencintai pria lain,” ucap Hanna lagi.


Hanna menyentuh tangan ibunya, menatap wajah ibunya, airmata kembali menitik dipipinya. Melihat wajah putrinya yang sembab membuat Bu Astrid merasa  kasihan.


“Kau sangat mencintai pria itu?” tanya Bu Astrid. Hanna mengangguk.


“Tapi Cristian juga sangat mencintaimu, dia sudah begitu baik padamu selama ini, apa kau tega menyakitinya?” kata Bu Astrid.


“Aku tahu Cristian baik Bu, tapi aku menyukainya hanya sebagai kakak bukan seorang kekasih,” ucap Hanna , mencoba menjelaskan lagi.


Bu Astrid terdiam lagi.


“Aku tidak ingin menyakiti Cristian dan membuat keluarga malu, tapi aku mencintai pria lain, aku harus bagaimana? Aku sedih berpisah dengannya,” kata Hanna, dia kembali menangis, tangannya sibuk menghapus airmatanya yang terus keluar.


Bu Astrid menatap wajah putrinya, sepertinya putrinya benar-benar mencintai pria yang dikatakannya itu.


“Kau sangat mencintai pria itu?” tanya Bu Astrid.


Hanna mengangguk.


“Apa kah pria itu mencintaimu juga?” tanya Bu Astrid.


Mendapat pertanyaan itu Hanna terdiam. Dia bertanya-tanya apakah Damian juga memliki rasa cinta yang sama? Pria itu mengatakan cinta saja saat dia tidur, kenapa pria itu begitu pelit mengatakan cinta?


Mata Hanna melirik cincin yang dipakainya. Satu cincin pernikahannya dan satu cincin yang ada dilaci itu. Bu Astrid melihat arah wajah Hanna.


“Apakah itu cincin dari pria itu?” tanya Bu Astrid, meraih tangan Hanna, melihat dua cincin melingkar dijarinya. Dia mengerutkan keningnya, melihat cincin berlian yang bagus itu dia bisa menebak harganya sangat mahal.


“Ini cincin dari pria itu?” tanya Bu Astrid, menatap Hanna lalu pada tangan Hanna yang sedang dipegangnya.


Hanna juga menatap cincin itu, dia tidak bisa bilang pada ibunya kalau satunya adalah cincin penikahan, dan satu lagi cincin yang sebenarnya terpaksa Damian masukkan ke jarinya karena dia pura-pura menangis.


“Dia melamarmu?” tanya Bu Astrid.


Ditanya begitu Hanna bingung lagi, apa benar Damian melamarnya? Haa, pria itu sih, melamar tidak ada romantis-romantisnya, cincinnya malah disimpan saja dilaci.


Dengan ragu Hanna mengangguk.


“Ada yang bisa kau lakukan supaya kau tidak jadi menikah dengan Cristian,” kata ibunya. Membuat Hanna mendongak menatap wajah ibunya.


“Bawa pria itu bertemu ayahmu, suruh dia melamarmu pada ayahmu,” jawab ibunya.


Hanna terdiam. Bagaimana cara Damian melamarnya? Ayahnya tahunya Damian sudah menikah dengan wanita yang bernama Hanna yang memakai wig itu. Semua sangat membingungkan.


“Dia harus melamarku pada ayah?” tanya Hanna.


Kepalanya langsung pusing saja, bisa-bisa ayahnya ngamuk kalau bertemu Damian, apalagi kalau pernikahan palsunya terbongkar.


“Aku harus melakukannya?” tanya Hanna.


“Tentu saja, kalau dia pria yang baik, dia akan melamarmu. Kau tahu kan kenapa ayahmu ngotot menikahkanmu dengan Cristian?” tanya ibunya.


Hanna terdiam.


“Karena Cristian sudah terbukti bisa menjagamu. Bertahun tahun dia berteman denganmu, kalian juga pacaran, dia bisa diandalkan, itu yang membuat ayahmu yakin Cristian adalah pria yang terbaik buatmu,” ucap Bu Astrid panjang lebar.


Hanma masih diam mendengarkan.


“Nah sedangkan pria itu, melihat batang hidungnya saja ayahmu tidak melihatnya, bagaimana ayahmu bisa merestui kalian?” lanjut Bu Astrid.


Hanna masih tidak bicara, kata-kata ibunya benar. Damian harus melamarnya pada ayahnya tapi apakah Damian mau? Pria itu ingin pernikahannya dihadiri ibunya.


“Tapi bu…” Hanna menatap wajah ibunya.


“Apa?” tanya Bu Astrid, tangannya mengusap pipi putrinya yang masih basah oleh air mata.


“Dia ingin pernikahannya dihadiri ibunya, tapi sampai sekarang ibunya tidak tahu ada  dimana? Dia berpisah dengan ibunya dari kecil, aku tidak mau menghancurkan impiannya itu,” kata Hanna.


“Jadi dia berpisah dengan ibunya dari kecil?” tanya Bu Astrid, terkejut.


“Iya,” jawab Hanna, mengangguk.


“Kasihan sekali..Tapi kalau menunggu ibunya ditemukan kalian tidak akan menikah-menikah. Bagaimana kalau ibunya maaf ternyata sudah meninggal? Atau tidak ditemukan juga?” Bu Astrid menatap Hanna.


“Aku juga berfikir begitu, tapi aku juga tidak bisa memaksanya untuk cepat-cepat menikahiku,” kata Hanna.


Bu Astrid menghela nafas panjang dan berfikir.


“Bisa, kau bisa menikah dengannya,” kata Bu Astrid, membuat Hanna terkejut dan penasaran.


“Bagaimana caranya Bu?” tanya Hanna.


“Kalian menikah secara hukum saja, nanti kalau ibunya ditemukan barulah kalian membuat resepsi pernikahan. Banyak yang membuat resepsi sudah memilki anak juga, tidak masalah,” jawab Bu Astrid.


Hanna langsung tersenyum lebar, dia senang mendengar perkataan ibunya itu. Benar kata ibunya, dia  bisa menikah dengan Damian tidak perlu ada pesta, nanti pestanya kalau bertemu dengan ibunya Damian. Kenapa tidak terfikirkan olehnya? Batin Hanna.


“Jadi yang harus ku lakukan sekarang membawa dia menemui ayah?” tanya Hanna.


Bu Astrid mengangguk.


“Tapi bu, bagaimana aku keluar dari rumah ini? Pintu sudah ada penjaganya.” tanya Hanna.


Bu Astrid tampak berfikir lagi.


“Baiklah, besok kalau ayahmu berangkat kekantor, kau coba kabur, nanti ibu cari cara supaya penjaga itu tidak ada dipintu,” jawab Bu Astrid.


Hanna menatap ibunya, senyum kini mengembang dibibirnya. Ibunya merasa senang melihat putrinya tersenyum.


Meskipun dia merasa tidak nyaman dengan keluarga Cristian, tapi dia juga tidak tega melihat putrinya terus menangis seperti itu, bagaimana nanti kalau pernikahannya tidak bahagia?


“Ibu akan membantuku mencoba kabur besok?” tanya Hanna.


“Iya, kau bersiap-siap saja. Ingat kau harus membawa pria itu bertemu ayahmu, kau mengerti?” kata ibunya lagi.


Hanna segera mengangguk. Diapun berfikir bagaimana caranya untuk bicara dengan Damian, meyakinkan kalau pria itu serius padanya. Semoga Damian mau melakukannya. Walaubagaimanapun dia juga ingin pernikahannya di restui kedua orang tuanya. Dia tidak mau kawin lari.


“Sekarang tidurlah,” kata ibunya.


Hanna mengangguk.


“Terimakasih Bu,” ucap Hanna, menatap ibunya, dan langsung memeluknya.


“Ibu juga ingin melihat kau bahagia, jangan menangis lagi,” ucap Ibunya sambil mencium kening putrinya.


Hanna mengangguk lagi dan hanya menatap ibunya yang keluar dari kamarnya. Semoga dia bisa melarikan diri besok, dia harus bertemu Damian. Dia harus bisa membawa Damian bertemu ayahnya.


************