Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH- 76 Status Shezie diketahui orangtua Martin



Tangan wanita itu menyusup ke dadanya Martin yang telanjang. Pria itu hanya diam dengan wajah yang bersemu merah menahan marah dan kesal mendapatkan kabar tidak menyenangkan dari Andrea.


“Kau memikirkan tunanganmu itu lagi?” tanya wanita itu, kini muncul di belakang punggungnya Martin.


“Tidak bisakah kau lupakan saja tunanganmu itu? Aku tidak keberatan menggantikannya,” kata wanita itu bergelayut manja di lehernya Martin.


“Diam kau, berisik,” maki Martin.


Wanita itu melepaskan pelukannya, beringsut pindah duduknya kasamping Martin, menatap pria itu yang masih memegang ponselnya.


“Aku heran, tidak bosan-bosannya mengurusi tunanganmu yang tidak jelas itu? Kau punya tunangan tapi selalu mencari-cariku, payah,” kata wanita itu.


“Jaga mulutmu, jangan ikut campur urusanku!” maki Martin.


Perkataan teman kencannya memang benar, Shezie adalah tunangannya tapi hanya untuk sekedar berkencan saja sangat susah. Apalagi sekarang gadis itu mengatakan sudah sepakat dengan Henry untuk melanjutkan pernikahan, benar-benar membuatnya muak, segala upayanya selama ini benar-benar sia-sia.


“Seperti apa sih tunanganmu yang sok cantik itu, sampai selalu menolakmu?” tanya wanita itu, tangannya langsung merebut ponselnya Martin dan melihat wallpaparnya.


“Ini tunanganmu?” tanyanya, menyentuh layar ponsel.


“Aku seperti pernah melihatnya,” kata wanita itu.


“Kau melihat dimana?” tanya Martin.


Wanita itu kembali melihat foto wallpaper itu dan mengingat-ingat lagi.


“Ini kan wanita yang menikah dengan pengusaha kaya itu, ada foto prewed di acara resepsinya,”  kata wanita itu.


“Kau mengenalnya?” tanya Martin, antusias.


“Tidak, aku menemani teman kencanku ke pesta pernikahannya, masa kau tidak tahu, keluarganya pengusaha kaya raya, memangnya kau tidak diundang? Atau orangtuamu pasti mengenal ayahnya,” jawab wanita itu.


Martinpun merenung ternyata malah banyak yang tahu kalau Shezie menikah dengan Henry. Kenapa orangtuanya bisa tidak tahu? Padahal orangtuanya juga pengusaha di kota ini. Bisa gawat kalau begitu orangtuanya pasti akan melarangnya menikah dengan Shezie, ketahuan Shezie sudah menikah dengan pria lain.


“Orang tuaku ada di Luar negeri,” kata Martin, baru teringat.


“Kau bertunangan dengan wanita yang sudah menikah? Buat apa? Buang-buang waktu,” kata wanita itu.


Martin terdiam, memang benar buang-buang waktu. Makanya dari itu dia tidak mau waktunya yang terbuang itu tidak membuahkan hasil. Dia tidak rela membiarkan Shezie bahagia dengan pria lain.


“Tentu saja tunanganmu tidak akan melepaskan pria itu, selain tampan, mereka keluarga yang sangat kaya, buat apa menikah denganmu? Meskipun kau kaya, suaminya super kaya, kau kalah darinya,” kata wanita ini, semakin membuat Martin panas hati.


“Mulutmu bisa diam tidak?” maki Martin langsung mengambilny ponselnya, hatinya tambah sebal dibanding-bandingkan dengan Henry.


“Mau sampai kapan kau mengejarnya tidak dapat-dapat? Katanya kau sedang mengurus pernikahannya, tapi kau memanggilku lagi, aku heran,” keluh wanita itu.


“Kau bisa diam tidak?” bentak Martin, hatinya semakin tersulut emosi saja dengan perkataan wanita teman kencannya itu. Membayangkan Shezie bersama pria itu saja sudah membuatnya terbakar cemburu, dia tambah dipanas-panasi seperti ini, rasanya hatinya sudah kebakaran.


Benar saja dengan apa yang difikirkannya. Setelah puas berkencan, Martin pulang ke rumah, orangtuanya langsung memanggilnya.


“Ayah mau bicara,” kata ayah Martin.


“Ibu juga!” ujar ibunya.


“Ada apa sih? Aku capek,” sahut Martin dengan malas.


“Ini soal Shezie, ayah baru tahu ternyata Shezie itu sudah menikah dengan pria lain. Kau ini bagaimana? Bertunangan, menyiapkan pernikahan dengan istri orang? Bikin malu,” hardik ayahnya.


“Aku tidak tahu Shezie menikah, Bu Vina juga tidak tahu, itu cuma penikahan pura-pura, Shezie dibayar untuk pura-pura jadi istri pria itu, mereka sebentar lagi akan bercerai,” kata Martin.


“Apa? Istri bayaran? Bikin malu saja! Ibu tidak setuju kau melanjutkan pernikahan dengan Shezie, apaan menikah dengan bekas istri orang, kaya tidak ada wanita lain saja,” kata ibunya, mencibir.


“Tapi aku terlanjur menyukainya Bu, aku tetap ingin menikah dengannya,” ujar Martin.


“Sudahlah, cari gadis lain saja, cantik juga biasa saja, kaya tidak, buat apa?” bentak ibunya.


Martinpun diam, memang benar yang dikatakan ibunya, tapi entah kenapa dia selalu menyukai Shezie meskipun dia sudah berkencan dengan banyak gadis cantik.  Menyukainya sudah sekian lama, rasanya tidak puas kalau tidak bisa mendapatkannya.


“Justru ayah dan ibu yang harus menekan Bu Vina supaya menikahkanku lebih cepat dengan Shezie,” kata Martin memuat orangtuanya terkejut.


“Apa? Buat apa?” tanya orang tuanya bersamaan.


“Karena aku tidak akan menikah kalau tidak dengan Shezie,” ucap Martin.


“Keterlaluan! Kau sudah buta!” gerutu ibunya.


“Pokoknya ayah dan ibu harus menekan Bu Vina untuk mengurus perceraian Shezie dan menikah denganku, kan malu kalau sampai tidak jadi menikah dengan Sheize. Teman-teman kuliahku tahu aku menyukai Shezie. Aku tidak mau kalah dari pria itu! Shezie itu milikku!” teriak Martin dengan kesal, lalu meninggalkan orang tuanya.


Tidak lama kemudian terdengar suara barang-barang dibanting dari kamarnya Martin.


“Pak, bagaimana ini?” tanya ibunya Martin, wajahnya langsung saja pucat.


Ayahnya Martin diam saja.


“Aku tidak mengerti guna-guna apa yang digunakan wanita itu, sampai Martin terus saja mengejarnya padahal masih banyak gadis cantik lain diluar sana yang sederajat dengan kita,” kata ibunya Martin.


Ayahnya masih belum bicara.


“Aku tidak mau kalau sampai Martin tidak menikah-menikah Pak, aku malu, nanti dia dicemooh bujangan tua, dikira anak kita tidak laku, aku malu,” ujar ibunya Martin lagi.


“Nanti kita fikirkan jalan keluarnya,” kata ayahnya Martin.


Ibunya Martin duduk disofa dengan tampang cemberut, dia tidak menyukai Shezie tapi kalau sampai Martin tidak menikah juga dia lebih tidak mau.


Kamarnya Martin bernatakan, barang-barang dibanting kelantai sampai pecah berserakan. Hatinya kesal, dia juga cemburu, Andrea mengatakan Shezie dan Henry semakin mesra padahal mereka tidak direstui Bu Vina, dia semakin merasa putus asa, segala usahanya gagal total.


Henry dan Shezie keluar dari Resto setelah menghabiskan makan malamnya. Tangan Shezie memeluk lengannya Henry, dia sangat bahagia sekali malam ini. Merekapun menuju mobilnya Henry, tapi sebelum Henry membukakann pintu mobil buat Shezie, dia berdiri di depan Shezie dan menatapnya.


“Ada apa?” tanya Shezie, balas menatap Henry.


Henry menatap Shezie lekat-lekat, lalu meraih kedua tangan Shezie.


“Maukah kau berjanji sesuatu?” tanya Henry.


“Berjanji apa?” tanya Shezie.


“Berjanjilah apapun yang terjadi kau tidak akan pergi dariku,” kata Henry.


“Kau suamiku sekarang, tentu saja aku tidak akan pernah pergi darimu,” jawab Shezie.


Henry balas tersenyum sambil melepaskan tangan Shezie, lalu memeluknya dengan erat.


“Aku berharap ibumu bisa cepat merestui pernikahan kita,” kata Henry, Shezie pun mempererat pelukannya.


Tiba-tiba terdengar suara dering ponselnya Shezie.


“Ada telpon, siapa ya,” ucap Shezie . kini melepaskan pelukannya lalu membuka tasnya dan mengambil ponselnya. Dia terkejut saat melihat yang menelpon itu ternyata Martin.


“Martin, mau apa dia menelpon?” tanya Shezie.


“Sudah abaikan saja,” kata Henry.


Shezie pun mereject panggilan Martin.


“Benar-benar keterlaluan, “ gerutu Martin, berada di kamarnya yang berantakan, lalu melakukan panggilan lagi.


Henry sudah masuk ke mobilnya saat ponsel Shezie berbunyi lagi.


“Dia masih menelpon?” tanya Henry, dari dalam mobil.


“Iya, coba aku angkat saja, mau apa dia,” jawa Shezie, masih berdiri di dekat pintu mobil yang terbuka, diapun mengangkat teponnya Martin.


"Akhirnya kau angkat juga,” ucap Martin.


“Mau apa kau menelponku? Kita sudah tidak punya urusan,” hadik Shezie.


Martin langsung tertawa mendengarnya.


“Sekarang kau belagu, mentang-mentang  kau bersama pria itu,” kata Martin.


“Jangan banyak basa-basi, katakan kau mau apa?” tanya Shezie dengan kesal.


“Jangan terlalu galak padaku, kerena kau sebentar lagi akan membutuhkanku,” jawab Martin.


“Maksud kamu apa?” tanya Shezie.


“Apa lagi kalau soal ibumu,” jawab Martin.


“Sebenarnya kau mau apa sih?” tanya Shezie, setiap kali menyangkut ibunya, dia suka merasa cemas.


“Apa kau tahu ibumu sudah tidak bisa melihat?” tanya Martin.


“Apa? Apa maksudmu bicara begitu?” tanya Shezie, terkejut mendengarnya.


“Ibumu sudah tidak bisa melihat,” jawab Martin.


“Kau berbohong kan?” bentak Shezie.


“Kau kan sudah tahu kalau ibumu akan mengalami kebutaan,” ucap Martin.


Shezie terdiam, airmatanya sudah menggenang dikelopak matanya.


“Dan asal kau tahu, ibumu tidak akan pernah mau berobat ke rumah sakit,” kata Martin.


Shezie tidak bisa bicara apa-apa lagi, dia bersandar di mobilnya Henry.


“Sayang! Masuklah!” panggil Henry, dia heran karena Shezie malah diluar saja.


Mendengar suara isaknya Shezie, Martin tersenyum sinis. Dia kesal sekali pada Shezie, dia tidak bisa membiarkan Shezie bahagia malam ini dengan Henry, biarkan saja makan malamnya gagal total.


“Dan sekarang kau pasti mengerti kan? Kau akan membutuhkanku untuk membujuk ibumu berobat,” kata Martin.


Shezie tidak bisa bicara apa-apa lagi. dia hanya menangis, membiarkan Marin berbicara tanpa didengarnya sampai telponnya terputus.


Melihat Shezie malah diam saja diluar, Henrypun keluar mobil.


“Sayang, ada apa?” tanya Henry, menghampiri Shezie, dia heran istrinya malah menangis seperti itu.


“Ibu sudah mengalami kebutaan sekarang,” jawab Shezie. Henrypun terdiam,dia terkejut mendengarnya.


“Bukankah ibumu tadi siang baik-baik saja?” tanya Henry.


“Matanya sudah sering kabur tapi masih bisa melihat. Dokter Arfan sudah memberitahukan kalau kanker ibuku sudah menyerang saraf mata, maka kemungkinan pandangannya akan terganggu, seharusnya ibu masih dirawat dirumah sakit, tindak lanjut kemo kemarin belum tuntas,” jawab Shezie.


Henry terdiam mendengarnya.


“Kau tau darimana kabar ibumu?” tanya Henry.


“Tadi Martin menelpon,” jawab Shezie.


“Dia lagi,” gerutu Henry, dia kesal juga karena Martin selalu ada bersama ibunya Shezie membuatnya semakin sulit mendapatkan restu dari ibunya SHezie.


Shezie menatap Henry.


“Antarkan aku kerumah ibuku,” kata Shezie.


“Sayang sekarang sudah malam, biarkan ibumu beristirahat, lebih baik besok saja menemui ibumu, bagaimana?” tanya Henry.


Sheziepun diam, dia sangat khawatir pada ibunya, meskipun ibunya marah tapi dia tetap anaknya yang harus memperhatikan ibunya.


“Bagaimana kalau kita pulang saja, besok kita ke rumah ibumu,” kata Henry.


“Baiklah,” jawab Shezie.


Akhirnya Henry membawa Shezie pulang kerumah.


 Acara makan malam yang sangat membahagiakan itu berubah menjadi sendu. Shezie pulang kerumah dengan airmata yang tidak bisa kering dimatanya.


Dia merasa sedih ibunya masih marah padanya, dia sedih ibunya tidak mau menerima Henry, apakah dia telah egois tidak menjalankan keinginan ibunya? Tapi dia juga ingin bahagia bersama pria yang dicintainya, apalagi Martin tidak lebih baik dari Henry. Pria itu benar-benar pria berkepala dua, dia bersikap baik hanya didepan ibunya.


Henry tidak tega melihat Shezie yang terus saja menangis sambil berbaring. Dia hanya bisa menyelimutinya tanpa tahu harus berbuat apa. Rencananya malam ini dia ingin membuat istrinya bahagia, tapi malah mendapatkan kabar begini malah membuat Shezie semakin bersedih.


************