
Henry menoleh pada Shezie yang masih berbaring. Dilihatnya gadis itu ada pergerakan, Henry segera menghampirinya. Shezie pura-pura baru bangun dan menggeliatkan tangannya, dia tidak mau Henry tahu kalau dia mendengar percakapan Henry dengan ibunya.
Begitu membalikkan badan, ternyata pria itu sudah berdiri didekatnya dan menatapnya.
“Sebaiknya kita pulang dulu, kau harus membersihkan diri,” kata Henry.
Shezie bangun dari tidurnya, dia tidak mau beradu tatap dengan Henry. Tatapan mata pria itu terasa beda di hatinya dan itu sangat membuatnya gugup dan salah tingkah.
“Ibu sudah bangun?” tanyanya sambil mendekati tempat tidur ibunya, membuka gordennya.
“Bagaimana keadaan ibu?” tanya Shezie menatap ibunya, yang juga menatapnya dan tersenyum.
“Duduklah!” kata Bu Vina, tangannya menepuk tempat disampingnya, Shezie menurut dan duduk disana.
Bu Vina menyentuh kepalanya Shezie, mengusap rambutnya lalu pipinya. Dia selalu ingin putrinya bahagia.
“Ibu sudah lebih baik. Sebaiknya kau pulang, membersihkan diri,” kata ibunya.
“Iya Bu, kalau ibu merasa lebih baik, aku akan pulang dulu, kalau ada apa-apa telpon aku,” ucap Shezie. Ibunya mengangguk.
Shezipun berdiri.
“Kau akan pulang diantar pria itu?” tanya Bu Vina.
“Iya Bu,” jawab Shezie.
Bu Vina tidak bicara lagi.
Shezie menoleh pada Henry yang sudah berdiri di pintu, diapun melangkah keluar dari ruangan itu, berjalan beriringan. Tidak ada yang mereka bicarakan, apalagi Shezie, ditelinganya masih terngiang perkataannya Henry untuk melamarnya.
Dia sungguh bingung dengan sikap pria itu, yang tanpa bicara padanya tiba-tiba saja melamarnya pada ibunya, bahkan tanpa ungkapan cinta sedikitpun. Kalau Henry melamarnya berarti Henry mencintainya, tapi ini boro-boro menyatakan cinta malah ingin membuatnya hamil mengandung anaknya. Apa maksud dari semua itu?
Tiba-tiba langkah mereka terhenti saat berpapasan dengan Martin di belokan.
Martin terkejut melihat Henry masih ada di rumah sakit itu.
“Apa-apaan ini? Kau tidak pulang semalaman?” tanya Martin menatap Henry.
“Bukan urusanmu!” jawab Henry.
Martin menoleh pada Shezie.
“Kau ini tunanganku tapi kau berdua-duaan terus dengannya!” maki Martin.
“Kau berani membentak-bentaknya, tunangan macam apa kau?” Henry balas memaki Martin.
“Bukan urusanmu!” jawab Martin.
“Tentu saja urusanku!” kata Henry.
Martin menatap Henry.
“Kau benar-benar ingin berperang denganku? Walau bagaimanapun kau tidak akan menang, ibunya Shezie lebih memilihku,” kata Martin.
“Sudahlah, kalian jangan betrengkar!” ucap Shezie, menatap dua pria itu.
Martin menoleh pada Shezie.
“Kau akan pulang? Ayo aku antar pulang,” kata Martin, sambil tangannya mengulur kearah Shezie, tapi dia terkejut saat Henry menarik tangan Shezie duluan dijauhkan dari tangannya.
“Shezie pulang bersamaku,” potong Henry, membuat Martin kesal.
“Heh, dia tunanganku!” bentak Martin.
“Dia istriku!” balas Henry.
“Istri palsu! Kalian bukan benar-benar suami istri!” umpat Martin.
“Terserah katamu, tapi Shezie istriku!” kata Henry, sambil kembali menarik tangan Shezie melangkah meninggalkan Martin, Shezie mengikuti langkahnya Henry.
“Tunggu!” Seru Martin, membuat Henry dan Shezie menghentikan langkahneya.
Martin mendekati Shezie dan menatapnya.
“Ada yang ingin aku tanyakan padamu,” kata Martin.
“Soal apa?” tanya Shezie.
“Aku ingin tahu berapa pria ini membayarmu sampai kau mau menjadi istri pura-puranya?” tanya Martin.
“Bukan urusanmu!” jawab Shezie, dia kembali melangkah meninggalkan Martin, membuat pria itu semakin marah saja.
“Katakan padaku berapa kau dibayarnya?” teriak Martin, sampai orang-orang yang berada di sekitar mereka menoleh kearah mereka.
Shezie tidak menghiraukan perkataannya Martin, dia terus berjalan mengikuti Henry.
“Katakan berapa? 10 juta? 20 juta? 100 juta? 200 juta? Tidak mungkin satu Milyar kan?” teriak Martin lagi.
Henry menjadi kesal mendengar teriakan-teriakan Martin. Dia menghentikan langkahnya akan berbalik tapi Shezie manahan tangannya.
“Lihat saja nanti, kalian akan menyesal!” teriak Martin, dia benar-benar kesal, Shezie memilih bersama pria itu daripada dirinya.
Shezie tidak mengatakan apa-apa lagi, merekapun berjalan keluar dari rumah sakit itu.
Sepanjang jalan tidak ada yang mereka bicarakan, semuanya diam sampai tiba dirumahnya Henry.
Henry hanya memperhatikan gadis itu menaiki tangga dengan menunduk lesu. Diapun mengikutinya. Tapi Saat masuk kamarnya, gadis itu sudah masuk ke kamar mandi.
Martin kesal bukan main melihat mereka yang pergi begitu saja tidak menghiraukannya. Diapun berbalik dan terkejut saat melihat ada seorang agdis yang berdiri menatapnya.
“Ada apa ya?” tanya Martin.
“Kau mengenal pria itu?” tanya gadis itu.
“Tentu saja, dia itu suami pura-puranya tunanganku! Aku heran berapa tunanganku dibayar pria itu sampai mau jadi istri pura-puranya,” jawab Martin, terus menggerutu. Gadis itu tampak terkejut dan menatapnya.
“Gadis itu tunanganku, kami akan segera menikah, jadi bukan benar-benar istri pria itu, “ jawab Martin.
Gadis itu semakin terbelalak kaget saja.
“Eh ngomong-ngomong kenapa kau bertanya mereka? Kau mengenal pria itu?” tanya Martin.
“Aku mantan pacarnya pria itu,”jawab gadis itu yang tiada lain Andrea.
Jawabannya membuat Martin terkejut.
“Aku tidak menyangka kalau gadis itu bukan benar-benar istrinya,” gumam Andrea.
“Kau benar-benar pacar pria itu?” tanya Martin, menatap nelisik gadis cantik itu. Gadis itu sangat cantik, lebiih cantik dari Shezie, kenapa pria itu tidak memperistri gadis ini saja? Sungguh aneh. Jangan-jangan gadis ini gadis mata duitan tidak seperti Shezie yang lugu, batinnya.
“Tepatnya mantan, pantas saja Henry tiba-tiba menikah ternyata hanya pura-pura? Apa-apaan ini?” gumam Andrea.
Tiba-tiba Martin merasa senang mendengarnya.
“Benar, mereka tidak benar-benar menikah, Shezie tunanganku, kami akan segera menikah tapi sepertinya pria itu menghambat langkahku,” ucap Martin.
Andreapun terdiam, bukankah itu kabar yang bagus, ternyata Henry tidak benar-benar memperistri Shezie pantas saja dia dibiarkan bekerja di café.
“Tunanganmu itu kerja di café kan?” tanya Andrea.
“Iya,” jawab Martin.
“Kau mengenal Shezie juga?” tanya Martin.
“Waktu itu dia mengaku selingkuhan pacarku,” jawab Andrea.
Martin menatap Andrea yang juga menatapnya, berbagai pemikiran bermunculan dalam benak mereka.
“Aku ingin mengambil kembali tunanganku, apa kau mau mambantu? Kau bisa kembali pada pacarmu,” kata Martin.
Tiba-tiba ada angin segar mengingat kenyataan yang sebenarnya Henry tidak benar-benar menikahi gadis itu. Henry masih menjadi sosok pria idaman meskipun memperlakukannya kurang baik dan sering mengacuhkannya. Mendapat berita ini adalah peluang mendapatkan kembali Henry semakin lebar.
“Sepertinya aku bisa cari muka pada orang tuanya Henry,” ucap Andrea.
“Kau dekat dengan orang tuanya pria itu?” tanya Martin.
“Tentu saja aku mengenalnya,” jawab Andrea.
“Menurutmu orang tua pria itu tahu tidak soal mereka?”tanya Martin.
“Sepertinya tidak, karena mereka menikah sangat mewah,” jawab Andrea, yang ada di benaknya adalah orang tua Henry akan membenci Shezie yang ternyata hanya istri bayaran.
Hatinya semakin senang saja, Setelah putus dari Henry, dia kesulitan mencari pria- pria tampan yang kaya, karena kebanyakan pria kaya itu tidak sekaya Henry, yang seorang Milyarder.
“Aku senang bertemu dengamu!” kata Andrea.
“Kau akan memisahkan mereka kan?” tanya Martin.
Andrea menatap Martin.
“Aku tidak mengenalmu, tapi kabar ini sangat menyenangkan bagiku, “ jawab Andrea.
“Kalau begitu, bantu aku memisahkan mereka, aku ingin Shezie kembali padaku,” kata Martin.
“Baiklah, tapi kau harus tahu aku melakukannya bukan untukmu, aku tidak peduli padamu, aku melakukannya untuk diriku sendiri,” jawab Andrea.
“Terserahlah, tapi ambilah pacarmu itu secepatnya, pisahkan mereka, jangan sampai mereka terikat pernikahan lebih lama dan saling jatuh cinta, aku tidak mau kehilangan tunanganku!” kata Martin.
Andrea menatap lagi Martin, melihatnya dari atas sampai bawah.
“Sepertinya kau pria kaya,” kata Andrea.
“Tapi kenapa tunanganmu mau menjadi istri bayarannya Henry?” lanjut Andrea mengerutkan keningnya.
“Entahlah, aku penasaran Shezie di bayar berapa sampai mau menjadi istri bayaran seperti itu,” kata Martin.
“Kalau kau memang kaya, tapi tunanganmu memilih jadi istri bayarannya Henry, itu tandanya Henry membayarnya sangat mahal,”ucap Andrea.
“Apa? Sangat mahal? Memang dibayar berapa? Buat apa membayar mahal mahal hanya untuk jadi istri bayaran? Buang-buang uang saja,” kata Martin.
“Apa kau tidak tahu, Pria itu Milyarder, dia punya uang banyak, kau bodoh tidak bertindak cepat mengambil tunanganmu!” ujar Andrea.
“Apa? Seorang Milyarder?” tanya Martin, sangat terkejut.
“Iya, pasti Henry membayarnya sangat mahal,” jawab Andrea.
Martinpun terdiam, kalau pria itu benar-benar sangat kaya, pasti pria itu akan mempunyai kesempatan lebih mudah mendapatkan Shezie. Jangan-jangan yang membiayai berobat ibunya Shezie adalah Henry? Kepala Martin semakin pusing saja, bayangan kehilangan Shezie semakin terpampang luas.
Martin langung memegang tangannya Andrea.
“Nona, kalau begitu tolong bantu aku, pisahkan mereka, aku ingin tunanganku kembali, kau bisa mendapatkan pacarmu itu lagi,” kata Martin.
Andera melihat tangannya dipegang Martin, Martin buur-buur melepasnya.
“Maaf,” ucap Martin sambil melepaskan tangannya Andrea.
“Baiklah, aku minta nomormu, barangkali nanti aku butuh bantuanmu,” jawab Andrea.
Martin mengangguk, merekapun bertukar nomor telpon.
Hati Martin bercampur aduk antara senang dan was-was. Senang karena Andrea mau membantunya, was-was
karena ternyata Henry sangat kaya, itu artinya Henry bisa saja membantu biaya pengobatan ibunya Shezie sampai sembuh, tidak ada lagi peluang baginya untuk mengikat Shezie.
*************