Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-52 Sikap Henry semakin aneh



Shezie menoleh lagi ke belakang menatap Henry, lalu menggambar lagi, lalu menarik tangan Henry supaya tegak memegang cerminnya berkaca sebentar lalu menggambar lagi.


Barulah Henry tahu ternyata Shezie sedang menggambar wajahnya dan wajah Shezie lalu disatukan.


“Aku mengambil bentuk wajah dan hidungmu juga bibirmu buat bayi kita, matanya aku, ini kalau anak laki-laki, lihat jadinya begini!” kata Shezie sambil memegang gambar itu lalu tertawa melihat hasilnya.


Henry menatap gambar itu.


“Kenapa bayinya jadi aneh?” keluhnya.


“Aku yakin kalau bayi yang sesungguhkan akan sangat tampan,” keluhnya lagi, langsung memasang wajah usut. Shezie masih tertawa.


“Bisa kita ubah, misalnya matanya kamu, hidungnya aku, coba jadinya seperti apa,” kata Shezie, dia kembali menggambar. Lagi-lagi hasilnya membuat Shezie tertawa, Henry hanya memberengut saja, karena hasill gambar itu jadi aneh-aneh.


“Bagaimana kalau anak perempuan? Rambutnya seperti rambutku saja,” ucapnya, lalu menggambar lagi. Gadis itu tertawa-tawa saja melihat hasil gambar- gambarnya.


Henry menatap punggung dan rambut yang ada didepannya itu. Jarang sekali melihat gadis itu terlihat bahagia. Mungkin ini pertama kalinya dia dan Shezie bisa sedekat ini. Apa dia akan sanggup jika bercerai dengan gadis ini?


“Lihat kalau kita punya anak perempuan, ternyata cantik!” serunya sambil merentangkan kedua tangannya kedepan, kepalanya miring kanan miring kekiri.


“Cantik bukan?’ tanyanya tapi Henry tidak menjawab, dia hanya memperhatikan Shezie saja. Merasa rame sendiri, Shezie menoleh pada Henry.


“Gambarnya tidak bagus ya?” tanya Shezie, menatap Henry. Yang ditatapnya malah menatapnya lagi, dua pasang mata itu bertemu.


“Lebih bagus kalau aslinya,”jawab Henry.


“Ini kan hanya kira-kira saja,” jawab Shezie.


Tangan Henry menyentuh rambutnya Shezie.


“Iya bagus, cantik,” jawab Henry.


Shezie terdiam saat Henry menyentuh rambutnya itu, jantungnya berdebar semakin kencang saja, apalagi Henry tidak melepaskan pandangannya masih menatapnya, wajahnya langsung memerah.


“Bagaimana kalau aku melamarmu pada ibumu?” tanya Henry.


“Apa? Melamar?” tanya Shezie, terkejut. Henry terdiam.


“Kau suka bercanda, aku ini tunangannya Martin,” jawab Shezie, sebenarnya jantungnya hampir saja copot mendengarnya, apa maksudnya Henry bicara begitu? Apa dia ingin pernikahannya benar-benar dilanjutkan?


“Sebaiknya kau istirahat, besok ibumu kemo kan? Kau jangan kelelahan malam ini,” kata Henry, sambil mengambil kertas-kertas dan disimpan diatas meja yang ada disebelah tempat tidurnya. Dia juga mengambil bantal yang ada diatas kaki Shezie, lalu menipiskan bantal dibelakangnya.


Shezie hanya diam saja melihat kelakuannya. Sikap Henry benar-benar aneh.


“Ayo kita tidur,” ucap Henry, dia langsung memeluk bahunya Shezie bersamaan dia juga berbaring, membuat tubuh Shezie juga jadi berbaring dipelukannya.


Shezia semakin terkejut dengan sikap Henry ini, tubuhnya mendadak tegang, merasakan tangan kiri pria itu memeluk punggungnya.


“Henry!” panggilnya. Henry tidak menjawab, akhirnya SHezie kembali diam.


Lama-lama Shezie menjatuhkan kepalanya ke bahu Henry, merasakan tangan pria itu memeluknya semakin erat. Pelukan yang  dirasanya begitu nyaman.


“Henry,” pangggil Shezie lagi, dengan keringat dingin mulai menyerangnya, apalagi jantungnya berdebar semakin kencang, dia sangat gugup tidur dipelukan pria itu.


“Tidurlah, kau harus bangun beosk pagi,” ucap Henry.


Shezie hanya mengangguk, merekapun tidak ada yang bicara lagi, mencoba tidur tapi hati dan fikiran mereka berbicara kemana-mana. Hingga mereka terlelap.


Saking nyamannya tidur dipelukan Henry, Shezie bangun keesokan harinya kesiangan. Saat membuka mata suaminya sudah tidak ada. Dia pun melamun, apa tidak salah semalam dia tidur dalam pelukannya Henry. Pelukannya membuat dirinya tenang. Dia tahu suaminya itu adalah pria yang baik. Berbeda dengan Martin, dia selalu merasa curiga pada Martin, jangankan dipeluk seperti yang Henry lakukan semalam, dipegang tangannya saja dia malas.


Shezie segera keluar kamar mencari Henry, ternyata pria itu sudah rapih dan sedang berdiri diteras.


“Kau sudah bangun?” tanya Henry, menoleh kearah pintu, saat mendengar langkah mendekat.


“Orangtuamu sudah pulang? Pagi-pagi sekali,” ucap Shezie, melihat Pak Satpam yang menutup gerbang.


“Bukan pagi-pagi, tapi ini sudah sangat siang,” kata Henry, menatap Shezie yang masih menggunakan baju tidur dan belum mandi.


“Maaf aku sangat lelah, jadi aku bangun kesiangan,” ucap Shezie.


“Lelah atau nyenyak karena ku peluk?” tanya Henry.


“Apa? Kau ini bicara apa? Tidak begitu,” elak Shezie dengan wajah yang memerah, Henry tidak menghiraukan pembelaan Shezie, dia masuk saja ke dalam rumah melewati tempat Shezie berdiri.


“Henry!” panggil Shezie, dia tidak mau Henry berfikir gara-gara dipeluknya tidurnya jadi nyenyak, bikin malu saja.


“Henry! Aku memang kelelahan kemarin sangat capek, bukan karena kau peluk tidurku jadi nyenyak,” Shezie mencoba menjelaskan sambil mengikuti langkah Henry.


“Iya juga tidak apa-apa, aku akan memelukmu setiap malam supaya kau tidur nyenyak,” ucap Henry, terus berjalan diikuti Shezie.


Mendengarnya tentu saja membuat Shezie kaget, wajahnya semakin memerah.


“Apa? Setiap malam? Setiap malam kau akan memelukku?” tanya Shezie lalu menghentikan langkahnya, mencoba memahami maksud dari perkataan Henry itu. Pria itu semakin aneh saja, fikirnya.


“Cepatlah mandi dan bersiap-siap ke rumah sakit, aku akan menemanimu,” kata Henry, semakin membuat Shezie terkejut.


“Apa? Kau akan menemaniku? Kau tidak bekerja?” tanya Shezie kembali melangkahkan kakinya mengikuti Henry.


“Iya,” jawab Henry.


“Kenapa?” tanya Shezie.


“Kau kan istriku, tentu saja aku akan menemanimu,” jawab Henry.


Shezie kembali menghentikan langkahnya lagi, ini pria benar-benar aneh.


“Dandan yag cantik, meskipun ke rumah sakit kau harus terlihat cantik,” kata Henry, lalu membalikkan badannya melangkah lagi.


Shezie tidak menjawab, dia semakin bingung dengan sikapnya Henry. Akhirnya diapun kembali melangkahkan kaki menuju kamarnya untuk bersiap-siap ek rumah sakit.


**********


Sesampainya di rumah sakit, Shezie mendampingi proses kemo ibunya, sedangkan Henry dengan sabar menunggunya diruang tunggu. Pria itu tidak banyak bicara tidak banyak tingkah, hanya sesekali menerima telpon dari kantornya.


Saat sedang berada diruang tunggu, tiba-tiba ada seseorang yang menghampirinya.


“Apa yang kau lakukan disni?” tanya orang itu, membuat Henry menoleh, ternyata Martin.


“Aku menemani Shezie,” jawab Henry.


Martin melangkah mendekat dan berdiri didepan Henry yang sedang duduk.


“Heh, aku kan sudah mengatakan berkali-ali, aku tunagannya. Aku yang berhak menemai Shezie,” kata Martin.


“Aku suaminya,” jawab Henry.


“Suami? Hahahha..” Martinpun tertawa.


“Kau hanya membayar Shezie pura-pura jadi istrimu, kau bukan siapa-siapanya,” kata Martin.


“Kau salah, walau bagaimanapun dia istriku,” ujar Henry.


Martin mencondongkan tubuhnya ke dekat wajahnya Henry yang langsung menatapnya.


“Dengar, jangan main-main denganku, kau harus secepatnya melepaskan Shezie, dia tunanganku dan kami akan menikah. Kau harus sadar kalau Shezie menikah denganmu itu karena uang, bukan karena mencintaimu,” kata Martin.


“Dia juga tidak mencintaimu,” ucap Henry.


“Bukan tidak, tapi belum. Kau harus tahu aku mengejarnya sudah bertahun-tahun, aku tidak mungkin melepaskannya apalagi kami akan menikah,” kata Martin.


“Aku tidak peduli, yang pasti dia adalah iatriku sekarang,” uajr Henry.


“Tapi istri pura-puramu, jada kalian harus bercerai secepatnya,” kata Martin.


“Aku tidak akan bercerai dengan Seezie,” jawab Henry dengan tegas, menatap Martin.


“Apa?” Martin terkejut mendengarnya.


“Apa maksudmu tidak akan bercerai?” tanya Martin.


“Aku akan mempertahankan pernikahanku, aku tidak akan bercerai dengan Shezie, silahkan saja bermimpi menikah dengannya,” jawab Henry.


Martin semakin marah mendengarnya, dia langsung mengepalkan tinjunya akan memukul Henry tapi terhenti saat mendengar suara langkah mendekatinya.


“Martin! Apa yang kau lakukan? Kau akan memukul Henry? Jangan membuat keributan di rumah sakit!” kata Shezie, yang berjalan menghampiri mereka.


Martin berdiri sambil menghela nafas panjang, dia mencoba menenangkan hatinya yang langsung terbakar amarah saat mendengar Henry tidak akan menceraikan Shezie.


Shezie menatap Martin yang tampak kesal.


“Jangan membuat keributan!” ulang Shezie. Martinpun menoleh kearah Shezie.


“Aku minta kau secepatnya bercerai dari pria ini! Aku akan memberimu uang untuk biaya pengobatan ibumu, jadi kau tidak memerlukan uangnya lagi!” kata Martin sambil menatap Shezie, gadis itu semakin hari terlihat semakin cantik, hatinya semakin tidak rela, kelinci buruannya di dapatkan pemburu yang lain.


Shezie terkejut mendengar perkataan Martin itu, diapun menoleh pada Henry yang tampak tenang saja duduk dikursi itu, lalu dia kembali menatap Matin.


“Kau ini bicara apa, Marin? Ibuku sedang kemo, tolong jangan membahas masalah ini,” kata Shezie.


“Aku sedang memikirkan ibuku kau malah meributkan hal itu, kalau begitu lebih baik kau pulang saja!” lanjut Shezie, mengusir Martin.


“Kau mengusirku?” tanya Martin.


“Aku tidak mau kau menggangu proses pengobatan ibuku, lebih baik kau pergi!” kata Shezie.


“Kau mengsuirku padahal aku yang membayar biaya pengobatan itu!” kata Martin.


“Tolong Martin, aku berterimakasih soal itu tapi kalau disini kau malah membuat keributan


lebih baki kau pulang saja,” ujar Shezie.


Mendapat pengusiran dari Shezie membuat Martin kesal, diapun menoleh pada Henry.


“Dengar, masalah kita belum selesai, aku tidak akan membiarkan kau merebut Shezie dariku!” ancamnya, lalu beranjak dan pergi.


Henry tidak bicara apa-apa, dia hanya acuh saja. Shezie langsung menatapnya.


“Sebenarnya apa yang kalian bicarakan?” tanya Shezie.


“Aku hanya mengatakan aku tidak akan menceraikanmu,” jawab Henry.


“Apa?” Shezie sangat terkejut.


*********


Readers, mohon maaf beberapa hari kedepan mungkin aku akan slow update, kalau updatepun paling katanya sedikit, kalian juga pasti sedang sibuk juga kan jadi tidak akan sempat membaca novelku.


*******