
Satria berjalan semakin mendekati Hanna.
“Kau mau apa?” tanya Hanna, entah kenapa melihat sikap Satria yang mencurigainya membuatnya merasa khawatir.
“Kenapa kakakku menikahimu? Sangat aneh,” gumam Satria, masih menatap Hanna, mengerutkan keningnya.
“Apa maksudmu bicara begitu?” Tanya Hanna.
“Kau tidak menggunakan guna-guna untuk memikat kakakku kan?” tuduh Satria, menatap Hanna dengan serius.
“Kau ini bicara apa?” tanya Hanna lagi, terkejut mendengar perkataan Satria.
“Kakakmu mencintaiku. Kami saling mencintai, aku tidak menggunakan guna-guna. Kau fikir aku ini wanita apa?” jawab Hanna dengan kesal.
“Memangnya aku terlihat seperti wanita yang suka ke dukun? Kau bicara sembarangan!” Lanjut Hanna, mendelikkan matanya dengan sebal pada Satria.
“Aku merasa aneh saja.Kau bukan tipe kakakku, bagaimana bisa kalian menikah,” ulang Satria, sambil mengerutkan keningnya seperti sedang berfikir.
“Memangnya aku kenapa?” tanya Hanna, menatap curiga pada Satria.
“Satria! Jangan mengganggu kakak iparmu!” tiba-tiba Ny.Sofia menyela.
Hanna buru-buru berjalan mendekati Ny.Sofia, dia mencoba menghindari Satria.
“Bu, ini cincinnya,” kata Hanna memberikan kotak cincin itu. Ny. Sofia menerimanya dan membukanya.
“Kau suka?” tanya Ny.Sofia. Hanna mengangguk.
“Baguslah. Aku yakin kau memiliki banyak barang mewah di rumahmu, jadi aku membelikan yang istimewa untuk cincin pernikahannya,” kata Ny.Sofia sambil tersenyum, kembali memberikan kotak cincin itu pada Hanna.
“Jadi cincin yang tadi kau coba dijariku, itu cincin pernikahan kakakku?” tanya Satria, mendekati mereka. Hanna melangkah mundur, dia tidak suka dengan sikap curiganya Satria.
“Kapan kau datang?” tiba-tiba terdengar suara pria memasuki ruangan itu, ternyata Damian pulang. Hanna langsung tersenyum senang melihat suami palsunya pulang. Berada diantara ibu mertua dan adik iparnya dia merasa dikuliti.
“Sayang, kau sudah pulang?” sambut Hanna, segera menghampiri suami palsunya itu. Damian tersenyum, disambut seperti itu. Diapun memeluk Hanna dan mencium keningnya. Cup! Seketika mereka tertegun. Kenapa mereka bersikap seperti suami istri? Merekapun kembali menjadi canggung, Hanna melepas pelukannya.
“Ehm! Kenapa malu begitu?” tanya Satria, meledek.
“Ku fikir kau tidak akan pulang,” kata Damian, menutupi rasa gugupnya.
“Tentu saja aku pulang. Aku diberitahu ibu, kakakku tercinta akan mengadakan resepsi besok, jadi aku cepat-cepat pulang,” ucap Satria, menatap kakak se ayah beda ibu ini.
“Mudah-mudahan saja kau tidak mengacaukan resepsinya,” ucap Damian, Satria malah tertawa.
“Setelah makan malam nanti, kalian langsung istirahat, supaya besok pagi kalian tidak kelelahan,”kata Ny.Sofia, menatap Damian dan Hanna.
“Ayo, Sayang,” ucap Damian, memeluk pinggang Hanna, tanpa menjawab perkataan ibu tirinya. Satria tampak tersenyum mencurigakan pada Hanna, yang segera memalingkan mukanya.
Begitu sampai di kamar mereka…
“Hari ini aku lelah sekali. Aku mau mandi setelah itu kau peluk aku, aku mau tidur,” ucap Damian, sambil membuka jasnya, langsung masuk ke kamar mandi.
“Aku juga belum mandi,” kata Hanna. Kepala Damian kembali muncul di balik pintu kamar mandi.
“Kau mau mandi denganku?” tanyanya.
Sebuah bantal melayang ke pintu kamar mandi yang segera di tutup Damian.
Pluk! Bantal itu jatuh mengenai pintu itu.
Hanna kembali tiduran di sofa pavoritenya itu. Si Sofa empuknya. Kembali dibukanya handphonenya dan melihat-lihat rumah di tepi pantai itu. Sudah berkali kali dia mencari-cari rumah itu, kenapa tidak ada yang benar-benar membuatnya jatuh cinta. Semua rumah itu indah, dia suka tapi dia belum merasakan ada yang benar-benar sesuai dengan hatinya. Apakah karena dia belum mempunyai pasangan? Sementara ini pekerjaannya memeluk Damian selama satu tahun tidak boleh berhubungan dengan pria lain. Hemmm merepotkan.
Sedang asyik asyiknya melihat rumah rumah di ponselnya, tiba-tiba sebuah wajah ada di depannya. Hampir saja dia berteriak kalau tidak keburu sadar kalau itu Damian yang sudah selesai mandi dan berpakaian santai.
“Kau mengagetkanku, ada apa?” tanya Hanna, memelototkan matanya.
“Cepat mandi. Aku lelah, aku ingin dipeluk, aku ingin istirahat,” ucapnya, menatap Hanna, seperti permintaan anak kecil. Hanna balas menatapnya, tidak ada tanda-tanda becanda di wajah pria tampan itu. Diapun mengangguk, segera bangun dan menyimpan handphonenya.
Setelah mandi dan berpakaian, dilihatnya Damian sudah berbaring di tempat tidur dengan memejamkan matanya.
“Apa kau sudah tidur?” tanya Hanna.
“Belum, cepatlah kesini, aku mau tidur,” jawab Damian ,suaranya lirih tidak seperti biasanya. Hannapun yang biasanya menolak kalau memeluk sebelum tidur, akhirnya menghampirinya, naik ke tempat tidur, karena tidak biasanya Damian seperti ini, mungkin dia benar-benar lelah dan butuh istirahat.
Damian langsung meletakkan kepalanya di pangkuan Hanna, memeluk kakinya. Membuat Hanna sedikit terkejut.
“Apa kau baik-baik saja? Apa kau kurang sehat?” tanya Hanna.Tidak ada jawaban apapun, yang terdengar suara lirih nafas Damian yang teratur, tidur di pangkuannya. Ternyata pria itu langsung tertidur.
Tangan Hanna menyentuh kepalanya Damian, mengusap rambutnya.
“Kau tidur seperti anak kecil,” ucapnya. Diapun bersandar ke sandaran tempat tidur, berusaha membuat badannya senyaman mungkin tanpa harus membuat Damian terganggu.
“Jangan tinggalkan aku …jangan pergi…” terdengar Damian mulai mengigau. Hanna yang hampir mau ikut tertidur, segera tersadar bangun dari ngantuknya.
“Tidurlah, tidur,” ucapnya sambil mengusap usap kepala Damian. Setelah beberapa kali mengigau, akhirnya Damian tertidur nyenyak.
Hanna menatap pria yang ada dipangkuannya itu. Dia jadi berfikir apa dia akan sanggup menemani Damian setiap malam seperti ini? Bagaimana kalau setelah satu tahun Damian masih belum lepas dari mimpi buruknya. Apakah dia akan benar-benar meninggalkannya? Atau memperpanjang masa kerjanya? Mau sampai kapan?
Tangannya kembali mengusap rambut hitam Damian, diapun tersenyum.
Hanna menghitung hitung hari kerbersamaannya dengan Damian. Selalu bersama pria itu setiap hari setiap malam, akankah suatu saat nanti jika Damian lepas dari mimpi buruknya, dia tidak akan merasa berat meninggalkannya? Hanna kembali mengusap rambut pria yang tidur itu. Tiba-tiba dia menghentikan gerakannya.
Kenapa menyentuh kepala Damian rasanya berbeda malam ini? Apakah dia mulai menyayangi pria ini? Jangan Hanna, Jangan, perjanjiannya tidak boleh jatuh cinta atau kena finalti. Uangnya harus dikembalikan pada Damian, uangmu akan hangus. Suara-suara itu kembali mengingatkannya. Tetapi tiap malam seperti ini, membelai rambut pria ini, memeluknya, apakah yakin tidak akan jatuh cinta?
Hanna menggeleng-gelengkan kepalanya. Menghapus segala macam yang muncul di fikirannya.
Tulilit tulilit bunyi handphonenya Damian, sepertinya ada pesan masuk. Hanna mencari sumber suara. Ternyata Handphone Damian tergeletak tidak jauh di samping tubuhnya Damian. Hanna pun segera mengambilnya. Handphone itu terus berdering.
Hanna bingung memilih antara menerima atau merijectnya, dia khawair Damian terbangun karena suara dering handphone itu.
Hanna menekan tombol menolak panggilan itu. Lagi-lagi handphone itu berdering. Begitu beberapa kali. Sudah di tolak menelpon lagi ditolak menelpon lagi. Akhirnya Hanna terpaksa menerimanya.
“Halo!” sapa Hanna. Terdengar suara pria disebrang sana.
“Dengan Bapak Damian?” tanya suara di sebrang.
“Mm aku istrinya,” jawab Hanna, dengan ragu.
“Aku dari agen penjualan rumah di pulau wisata,” kata suara tersebut.
“Iya, ada pesan apa?” tanya Hanna, penasaran kenapa ada agen penjualan rumah menelpon Damian.
“Semua proses jual beli sudah selesai, jadi tinggal mengambil kunci dan sertifikat. Tadi saya menghubungi pengacaranya tidak bisa dihubungi. Maaf jadi saya menghubungan nomor pak Damian langsung,” kata pria itu.
“Sebentar, tunggu, maksudmu suamiku membeli rumah di pulau wisata?” tanya Hanna.
“Benar bu. Di tepi pantai, rumahnya benar-benar bagus. Ibu Bapak pasti senang jika melihatnya langung,” ucap suara disebrang itu.
Hanna sejenak terdiam, jadi Damian membeli rumah di tepi pantai dipulau wisata? Untuk siapa?
“Berapa harga rumah itu? Bisakah kau mengirim gambar rumah itu ke nomor handphone yang lain?” tanya Hanna, sambil menyebutkan nomor handphone pribadinya.
“Harganya 200 M,” jawab pria itu.
“Apa?” Hampir saja handphone itu terlepas dari tangan Hanna saking terkejutnya. Harga rumah itu 200M. Yang benar saja? Damian membeli rumah semahal itu? Terbuat dari apa rumah itu? Apa karena lokasinya di tempat wisata? Membayangkan angkanya saja membuat kepala Hanna berdenyut denyut.
“Gambarnya sebentar lagi saya kirim, bu.” kata suara agen itu.
“Ya, ya terimakasih,” jawab Hanna. Telponpun ditutup.
Tangan Hanna masih gemetar karena kaget dengan informasi itu. Tapi tunggu dulu, jangan geer dulu, belum tentu rumahnya buat Hanna, bisa saja itu buat orang lain atau mungkin Damian punya kekasih? Dan mereka berencana seperti dirinya membeli rumah dipantai? Tidak mungkin kan Damian membelikan rumah semahal itu untuknya yang bukan siapa-siapa Damian? Sepertinya Damian punya kekasih, makanya dia membeli rumah itu. Seketika hati Hanna menjadi lesu. Kenapa dia merasa tidak suka bagaimana kalau ternyata Damian memiliki kekasih yang sebenarnya?
Hanna menarik nafas panjang. Kenapa dia tidak suka jika membayangkan Damian dengan wanita lain.
Kenapa tidak suka Hanna? Damian bukan kekasihmu, bukan juga suamimu, kau hanya bekerja memeluknya setiap tidur, menjaganya dari mimpi buruknya, hanya itu, kau hanya bekerja untuknya! Ingat itu! Suara-suara itu kembali menyadarkannya.
Hanna menggeleng gelengkan kepalanya menghilangkan berbagai fikiran yang tidak karuan.
Terdengar suara handpohenya di tergeletak di sofa berdering, ada pesan yang masuk. Pasti orang itu yang menyampaikan gambar rumah di tepi pantai itu.
Dilihatnya Damian sudah tertidur dengan nyenyak. Hanna mengambil bantal, menatanya senyaman mungkin, kemudian memindahkan kepala Damian ke bantal itu juga menyelimuti tubuhnya.
Hanna segera turun dari tempat tidur dan mengambil handphonenya yang ada di sofa tadi. Segera dibukanya pesan itu. Muncul gambar sebuah rumah di tepi pantai yang sangat indah. Hanna terharu melihatnya.Diapun duduk di sofa sambil mengscroll gambar-gambar yang dikirim agen penjualan rumah itu, bagian sisi kiri kanan, depan, belakang, lengkap dikirim, bahkan ruangan ruangan interiornya juga, ruang tamu, ruang keluarga, kamar, dapur, toilet, semua dikirim.
Mata Hanna berkaca-kaca, dia merasa terharu. Tapi kemudian dia tersadar kembali, rumah itu bukan untuknya. Buat apa Damian membelikan rumah semahal itu untuknya, mustahil bukan?
*********************
Maaf ya author tidak bisa balas komen satu persatu, di my secretary lebih banyak lagi komen yang tidak terbalas, tapi tetap author baca kok, terimakasih atas apresiasinya, jadi jangan ragu untuk like dan komen.
Lanjut besok…
Baca juga”My Secretary” season 2(Love Story in London)