
Malam telah larut, Damian masih berkutat dengan pekerjaanya. Sudah jadi kebiasaaan, dia akan duduk berselonjor dengan laptop yang disimpan diatas bantal yang ada dipangkuannya.
Hanna berbaring ditempat tidur belum memejamkan matanya, bukan televisi yang dia tonton, tapi suaminya yang suduk di sofa itu. Tidak ada kata yang Hanna ucapkan, seharian ini dia malas bicara dengan suaminya itu, suaminya sudah tidak jujur padanya, suaminya sudah menduakannya dengan perhatian pada wanita lain.
“Kenapa kau tidak tidur juga?” tanya Damian, tanpa menoleh, matanya masih ke layar laptopnya.
“Aku hanya sedang berfikir,” jawab Hanna.
“Berfikir apa?” tanya Damian, masih tanpa menoleh.
Hanna tidak menjawab, dia hanya berganti arah berbaringnya membelakangi Damian.
Damian menghentkan mengetiknya, menatap istrinya itu, tapi dia tidak bicara agi dan kembali bekerja.
“Kenapa lai-laki itu selalu bersalingkuh?” tanya Hanna tiba-tiba.
Damian kembali menghentikan gerakannya dan menatap istrinya. Apa istrinya sedang cemburu padanya, mengira dia berselingkuh?
“Kenapa kau bicara begitu?” tanya Damian.
“Kenapa bagi laki-laki itu berselingkuh adalah hal yang wajar?” tanya Hanna.
“Sebenarnya apa yang sedang kau bicarakan? Kau mengira aku berselingkuh? Buat apa aku berselingkuh? Seluruh hatiku sudah penuh oleh cintamu,” jawab Damian.
“Huh Damian, menggombal,” gerutu Hanna.
“Sudahlah sudah malam, sebaiknya kau istirahat, perjalanan ke ibu kota sangat lama nanti kau lelah dan sakit,” ucap Damian.
Hanna tidak bicara lagi, dia mencoba memejamkan matanya. Di dengarnya suara tuts tust lembali ditekan.
Keesokan harinya Hanna kembali ke tanah air seorang diri, meskipun dia masih ingin mengawasi Damian, tapi urusan putranya lebih penting.
******
Sehari telat lewat..
Malam itu Henry semalaman tidak bisa tidur. Dia terus memikirkan Shezie, dia bisa tahu kalau Shezie tertekan dengan semua ini. Yang Henry tidak habis fikir adalah ibunya Shezie saat menekan Shezie untuk meniakh dengan Martin, seharusnya biasanya seorang ibu itu lebih mementingakn anaknya bahagia daripada dirinya sendiri tapi tidak dengan ibunya Shezie yang justru Shezielah yang harus mengikuti keinginannya.
Shezie gadis yang baik, dai sangat menyayangi ibunya, seharusnya ibunya lebih peka dan membicarakan putrinya bahagia.
Henry berada dikamarnya sendirian, merasa lelah. Dia sedang membuka-buka album foto pernikahannya, dia begitu menyukai foto-foto itu, dia sangat rindu Shezie disisinya. Dia merasa takut kehilanga Shezie.
Bahkan saat Henry tidurpun, tangannya masih memeluk album foto itu.
Hingga terdengar ketukan di pintu.
Tok tok tok!
“Sayang,” panggil suara seorang wanita.
Hampir saja Henry mengira itu Shezie yang datang kalau tidak tersadar dia menjatuhkan album yang semalam dipeluknya, diapun terkjeut melihat album foo pernikahannya jatuh kelantai, apa ini pertanda buruk?
“Henry!” Panggil suara itu.
Henry langsung tersenyum, dia hafal betul suara siapa itu, ya suara ibunya.
“Ibu!” serunya sambil bangun dan berlari menghampiri pintu lalu dibukanya.
“Ibu!” panggilnya saat dilihatnya wanita yang berdiri itu memang ibunya.
Henry langsung memeluk ibunya, melihat ibunya bagaikan sebuah cahaya terang dalam hidupnya.
“Aku benar-benar menunggu ibu,” kata Henry.
“Ibu tahu kau sudah tidak sabar menunggu ibu, kita menemui ibunya Sezie agak siang sedikit atau sore, ibu masih lelah akan beristirhaat dulu,” ucap Hanna, sambil mengusap punggung putranya.
“Jadi Shezie tidak pulang?” tanya Hanna karena karena tidak ada lagi penghuni lain di kamar itu.
“Tidak Bu, dia bersama ibunya,” jawab Henry.
“Baiklah kalau begitu,nanti kita kesana,” kata Hanna.
Henry mencium pipi ibunya, dia senang ibunya tiba.
“Jadi ibu benar-benar pulang sendiri?” tanya Henry.
“Iya sayang, tapi sudahalah, tidak apa-apa, ayahmu sedang sibuk, nanti kita buat jadwal lagi bertemu ibunya SHezie kalau ayahmu tidak sibuk,” jawab Hanna.
“Terimakasih Bu,” ucap Henry sambil memegang tangan ibunya.
“Kau putra ibu satu-satunya, ibu ingin melihat kau bahagia,” kata Hanna, sambil menyentuh pipinya Henry, mengusap pipi dan dagunya Henry.
Melihat wajah Henry mengingatkannya pada Damian, bentuk wajah dan tulang rahang juga hidung mancungnya sangat mirip Damian, raut wajah Manly dan Macho.
Diusap-usapnya pipi putranya, hatinya menjadi sedih, pria yang begitu dicintainya telah berbagi perhatian dengan wanita lain. Meskipun mereka tidak berselingkuh, tapi Damian tidak jujur padanya sama saja dengan berselingkuh. Meskipun perhatin Damian pada wanita itu bukan perhatian yang romantic, tetap saja wanita itu sudah membuat suaminya memperhatikannya, dia sangat kecewa pada Damian.
*********
Di rumah sakit…
“Bagaimana keadaan matamu sekarang?” tanya Dokter Arfan.
Bu Vina tersenyum, tangannya menggapai-gapai kesekitarnya.
“Sudah mulai ada cahaya Dok,” jawab Bu VIna.
“Baguslah, lambat laun keadaan matamu akan pulih, meskipun tidak akan benar-benar pulih, dalam kondsi tidak vit dan kritis mungkin pandangannya akan kembali terganggu, tidak akan stabil, tapi kalau pengobatan rutin, minimal bisa melihat lagi,” kata Dokter Arfan lagi.
“Jadi ibu sudah mulai bisa melihat lagi Dok?” tanya Shezie.
“Iya meskipun hanya masih berupa cahaya-cahaya lambat laun kalau kondisi ibumu sudah membaik akan bisa melihat lagi tapi sewaktu-waktu kejadian tidak bisa melihat masih kemungkinan ada, karena area saraf mata sudah terganggu,” jawab Dokter.
“Meskipun begitu aku senang jika ibu bisa melihat lagi, aku janji akan memberi semangat ibu supaya pengobatannya berjalan lancar,” kata Shezie.
“Baiklah kalau begitu, saya permisi,” jawab Dokter Arfan, sambil beranjak keluar dari ruangan itu.
Shezie menoleh pada ibunya yang juga melihat kearahnya, meskipun tidak jelas, tapi matanya bisa melihat ada pergerakan didekatnya.
Shezie duduk didekat ibunya.
“Ibu dengar kan kata Dokter, mata ibu akan berangsur-angsur pulih,” kata Shezie, menyentuh tangan ibunya dengan senang.
“Aku sayang ibu,” ucap Shezie, menatap ibunya lekat-lekat. Dari kecil yang selalu menemaninya adalah ibunya.
“Aku tidak mau kehilangan ibu,” ujar Shezie lagi.
Bu Vina mengerjapkan matanya, riak-riak wajah putrinya mulai membayang. Disentuhnya pipi Shezie.
“Ibu juga ingin kau bahagia,” ucap ibunya.
Shezie memegang tangan ibunya yang ada dipipinya. Diapun tersenyum. Bu Vina menarik tubuh putrrinya kedalam pelukannya.
Menjelang sore hari, Shezie masih menemani ibunya di kamarnya, sungguh membosankan hari- harinya selalu dirumah sakit tapi dia tidak mengeluh itu, melihat ibunya masih ada di dunia ini saja sudah cukup membahagiakannya. Dia mengotak atik ponselnya dengan menggunakan nomor yang baru. Dilihatnya tidak ada nomornya Henry yang disimpan di dalam simcard. Dia sangat merindukannya.
Terdengar suara ketukan dipintu yang tertutup. Bi IJah membukakan pintu dan melihat ada dua orang yang bertamu.
“Bu, ada tamu!” kata BI Ijah, menoleh pada Bu Vina.
Bu Vina menoleh kearah pintu begitu juga Shezie. Bu Vina mengerjap-ngerjapkan matanya, dia tika begitu jelas melihat siapa yang datang, dia hanya melihat sosok yang bergerak saja disana.
Shezie terkejut melihat siapa yang datang, pria yang sedang ada dalam benaknya kini ada dipintu dengan seseorang, seseorang itu adalah ibu mertuanya.
“Ibu? Kapan ibu datang dari luar negeri?” sapa Shezie tersenyum senang sambil berdiri dan menghampiri.
Hanna menatap menantunya itu, dia bisa melihat binar-binar dimataanya saat menantunya itu melirik pada Henry. Hatinya merasa sedih melihat mereka berpisah begini.
“Tadi pagi,” jawab Hanna. Shezie langsung memeluknya, Hanna mengusap punggungnya dan mencium keningnya.
Sheize menoleh pada ibunya yang terdiam mendengar siapa yang datang.
“Bu, ini ibunya Henry,” ucap Shezie.
Bu Vina terdiam, ada gejolak rasa yang timbul dalam atinya, rasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, entah rasa apa itu, hanya dia berharap wanita ini tidak pernah datang menemuinya.
“Bu, aku datang bersama ibuku,” kata Henry, berjalan pelan mendekat pada Bu Vina yang terdiam dan mengalihkan pandangannya. Seandainya dia bisa melihat dia tidak ingin melihat wanita itu ada disini.
“Selamat sore Bu, saya ibunya Henry,” sapa Hanna, berjalan mendekati Bu Vina.
“Sore,” jawab Bu Vina, masih seperti tidak mau melihat kehadirannya Hanna.
“Maaf Bu, ibuku penglihatannya tergannggu, kemarin sempat tidak bisa melihat, sekarang penglihatannya lebih baik tapi belum pulih,” kata Shezie, mencoba menjelaskan dia menjaga persaan ibu mertuanya karena sikap ibunya yang seperti itu.
“Maaf, saya tidak tahu kalau ibu sedang dirawat, Henry tidak bercerita apa-apa,” ucap Hanna, karena dia juga tidak mengetahui kalau ibunya Shezie itu dirawat.
“Ibuku menderita kanker sudah lama,” Shezie lagi yang bicara.
“Silahkan duduk Bu,” ucapnya lagi, menyentuh tangannya Hanna, sedangkan Bu Vina sama sekali tidak bicara.
Hanna dan Henry duduk di kursi itu, sedangkan Shezie duduk di kusi lipat yang ada dekat tempat tidur pasien.
“Jadi sudah lama ibumu sakit? Kau tidak ernah cerita,” kata Hanna, menoleh pada Shezie.
“Iya Bu Maaf, sudah bertahun-tahun,” ucap Shezie, matanya melirik lagi pada suaminya, dia sangat senang bisa melihatnya lagi.
“Apakah sangat parah?” tanya Hanna lagi.
“Iya Bu, aku terlambat membawa ibuku berobat,” jawab Shezie.
Hanna akan bicara tiba-tiba Bu Vina menyela.
“Iya terlamat berobat , tidak seperti orang kaya yang sedikit flu saja mendatangkan Dokter spesialis kerumahnya,” ucap Bu Vina dengan ketus.
Hanna terdiam dia bisa merasakan sikap ketusnya Bu Vina.
Shezie menoleh pada ibunya, dia merasa tidak nyaman dengan kata-kata ibunya, dia takut ibu mertuanya tersinggung.
“Tapi ibu juga sedang menjalani pengobatan sekarang,” kata Shezie.
“Syukurlah kalau begitu, penyakit ini memang butuh waktu lama penyembuhannya,” ucap Hanna.
“Iya untung saja Martin selalu ada disaat aku membutuhkannya, dia pria yang sangat baik,” ucap Bu Vina, membuat Hanna merasa tidak enak mendengarnya apalagi Shezie juga Henry.
“Bu,” ucap Shezie menoleh pada ibunya, dia takut ibu mertuanya tersinggung dengan perkataan ibunya yang seperti sengaja bersikap ketus pada mertuanya.
Lalu Shezie menoleh pada suaminya, Henry hanya tersenyum saja mencoba memahami sikapnya Bu Vina.
************
Readers maaaf ya jika aku mengusung tema penyakit ini ada yang rancu atau salah, aku bukan dokter, aku hanya menyisipkan sedikit kisah yang dialami teman SMAku dulu, kabar terakhir matanya sempat tidak bisa meliaht, bahkan satu lagi keluarga rekan kerjaku sudah yang berkali kali kemo tapi tetap tidak bisa disembuhkan. Semoga mereka yang sakit diberikan kesembuhan. Semoga kita semua selalu diberi kesehatan.
*********