Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-105 Lebih baik atau lebih buruk



Bu Astrid menoleh pada suaminya.


“Pak, Bapak tidak bisa meminta Hanna untuk meninggalkan Damian, mereka sudah menikah,” kata Bu Astrid. Mendengar perkataan ibunya membuat hati Hanna merasa semakin bersalah. Dia telah membohongi orangtuanya. Apa yang harus dilakukannya apakah dia harus jujur?


Pak Louis tidak bisa bicara lagi.


“Cristian juga kan berarti sudah tahu kalau Hanna sudah menikah, iya kan? Masa kita akan memaksakan Cristian menikah dengan Hanna yang pernah menikah dengan orang lain? Kasihan Cristian, dia berhak mendapatkan yang lebih baik dari Hanna,” kata Bu Astrid lagi.


“Apa Cristian tahu kalau kau sudah menikah dengan Damian?” tanya Pak Louis.


Hanna dengan ragu mengangguk.


“Jadi sebenarnya Cristian sudah tahu identitasmu dan dia merahasiakannya?” tanya Pak Louis lagi, menatap Hanna dengan tajam. Hanna terdiam.


“Kalian, anak-anak muda, berani beraninya membohongi orangtua!” keluh Pak Louis sambil menggelengkan kepalanya.


“Aku yang meminta Cristian untuk merahasiakannya, aku minta maaf,” ucap Hanna.


Pak Louispun diam, dia benar-benar kecewa dengan mereka semua. Tiba-tiba dia teringat sesuatu.


“Kalau kau istrinya Damian, berarti sekarang kau sedang hamil?” tanya Pak Louis.


DEG! Bagaikan disambar petir, lagi-lagi Hanna melupakan hal satu itu. Dia ingat kesalahfahaman itu, semua orang mengira dirinya sedang hamil, termasuk Damian waktu itu.


“Apa? Kau sedang hamil sayang? Ibu akan punya cucu?” seru Bu Astrid, langsung saja berlari memeluk Hanna.


Hannapun terdiam. Dia bingung harus menjawab apa.


“Sudah berapa minggu sayang? Hamilmu masih kecil kau belum kelihatan hamil,” kata Bu Astrid, matanya berbinar-binar bahagia.


Tangannya akan meraba perut Hanna, tapi Hanna segera menahannya dengan duluan memegang perutnya jadi Bu Astrid hanya menyentuh tangannya tidak dengan perutnya.


Hanna terdiam, dia bingung harus menjawab apa.


“Apa kau belum periksa kedokter? Ibu antar ya ke dokter, kau jangan tinggal lagi dirumah itu, kau tinggal disini saja, biar ibu bisa merawatmu juga, ini kan kehamilanmu yang pertama, jadi kau belum punya pengalaman, Iya kan Pak? Pak! Hanna dan cucu kita tinggal disini saja, ya Pak!” kata Bu Astrid, saking gembiranya bicara tidak berhenti-henti.


Pak Louis terdiam mendengar perkataan istrinya. Dia memang kesal pada Hanna, tapi mengingat Hanna sedang hamil, hatinya tersentuh, dia juga senang jika putrinya bisa memberinya cucu.


“Ayo, ayo masuk, kau pasti suka buah-buahan kan? Di dalam kulkas ada macam -macam buah-buahan kau mau apa?” tanya Bu Astrid.


Hanna benar-benar bingung dibuatnya. Kalau dia bilang tidak sedang hamil ayahnya masih marah, kalau dikira hamil, bukankah itu bagus? Jadi ayahnya tidak terlalu marah pada Damian dan mungkin saja ayahnya akan berdamai dengan Damian? Tapi apakah semua ini suatu kebaikan atau keburukan? Ini sangat membingungkan.


Bu Astrid menarik Hanna mengajak masuk kedalam rumah. Pak Louis diam saja, tidak melarangnya.


“Yah!” panggil Hanna. Tapi Bu Astrid memotong.


“Sudah jangan bicarakan pekerjaan lagi, kau masuk saja, ayo!” seru ibunya.


Pak Louis hanya menghela nafas panjang.


Langkah Bu Astrid dan Hanna terhenti saat ada suara mobil memasuki halaman rumah mereka. Merekapun melihat kearah yang datang.


Hanna terkejut saat melihat Damian turun dari mobil itu. Wajahnya langsung pucat.


“Siapa itu Pak?” tanya Bu Astrid, dia terkejut saat melihat sosok pria tinggi tegap itu menaiki tangga rumahnya menuju teras. Apa dia tidak salah lihat? Pria ini sekilas mirip dengan Cristian. Tinggi tegap badannya sama, hanya Cristian memiliki kulit lebih pucat.


“Damian!” ucap Hanna.


“Dia suamimu?” tanya Bu Astrid. Hanna terpaksa mengangguk.


“Ap ibu tidak salah lihat ya ibu fikir tadi Cristian,” ucap Bu Astrid.


Hanna terdiam, memang benar, dia pernah salah mengira Cristian adalah Damian saat di Bali.


Damian sudah berdiri di teras berhadapan dengan Pak Louis. Matanya menoleh pada Hanna yang sedang dipeluk ibunya yang ada di pintu rumah. Kemudian matanya bertatapan lagi dengan Pak Louis.


“Ada apa kau kemari? Aku tidak ada urusan lagi denganmu!” hardik Pak Louis.


“Aku akan menjemput Hanna,” jawab Damian.


“Kau pulang saja! Suamimu menjemputmu!” kata Pak Louis.


Tapi Bu Astrid langung memeluk Hanna dengan erat.


“Tidak Pak, Hanna akan tinggal disini. Dia sedang hamil, apa kau tega membiarkan putri kita tinggal disana sendiri? Dia belum bepengalaman, bagaimana kalau ada apa-apa dengan cucu kita? Ibu tidak mengijinkan!” kata Bu Astrid dengan keras.


“Tapi Bu!” ucap Pak Louis tapi Bu Astrid memotong lagi.


“Sudah Pak, maafkan mereka, restui saja mereka, ada cucu kita sekarang. Hanna putri kita  satu-satunya, hanya dia yang akan memberi kita keturunan,” kata Bu Astrid.


Damian terkejut dengan percakapan calon mertuanya itu. Matanya menatap Hanna menuntut jawaban. Hanna hanya diam.


Damianpun teringat waktu ramai-ramai gosip hamil itu saat itu ada juga Pak Louis dan Pak Louis sempat memberinya selamat atas kehamilan Hanna. Kepalanya tiba-tiba langsung pusing saja.


Mendengar perkataan istrinya, Pak Louis tidak bicara apa-apa lagi, dia menoleh pada Damian sebentar, lalu beranjak meninggalkan teras  menuju mobilnya yang terparkir dihalaman.


“Nak. Masuklah!” ajak Bu Astrid pada Damian yang masih kebingungan. Dilihatnya Pak Louis pergi meninggalkan halaman rumah itu.


Damian kembali menoleh pada Hanna, mereka kebingungan dengan semua ini.


“Ayo masuk!” ajak Bu Astrid lagi pada Damian, sambil membawa Hanna masuk.


“Kalian duduklah, ibu akan membuatkan minum,” kata Bu Astrid, kemudian mendudukkan Hanna di kursi ruang tamu itu. Damian duduk disebrangnya.


Bu Astrid segera pergi ke dapur.


Damian mendekati Hanna lalu duduk disamping Hanna.


“Apa yang kau lakukan? Kau pergi tanpa ijin padaku,” kata Damian.


“Maaf, aku hanya ingin membantumu, aku harus bicara pada ayah,” ucap Hanna.


“Tapi jadinya kan seperti ini!” keluh Damian.


Hanna akan bicara lagi tapi Bu Astrid datang ke ruang tamu bersama asisten rumahtangganya yang membawakan minuman dan buah-buahan.


“Sayang, kau mau buah apa? Ada buah jeruk yang agak asam, kau pasti suka memakannya, bulan-bulan pertama kehamilan memang sangat merepotkan, biasanya paling suka yang asam asam,” ucap Bu Astrid.


Damian bangun dari duduknya dan pindah ke kursi yang tadi.


“Kenapa kau pindah? Tidak apa-apa, kalian kan suami istri. Memang wanita yang sedang hamil biasanya sangat manja,” tanya Bu Astrid pada Damian.


Hanna dan Damian hanya saling tatap, tidak bisa terbayangkan betapa pusingnya kepala mereka.


Bu Astrid duduk disamping Hanna lalu menatap Damian.


“Nak, diminum,” ucap Bu Astrid pada Damian, saat asisten rumahtangganya sudah menyimpan minuman di atas meja juga buah-buahan.


Damian tidak menjawab, dia diam saja, dia terlihat sangat bingung.


Bu Astrid mengambilkan satu buah jeruk dan mengupasnya.


“Jeruk ini lumayan asam, tukang jualnya bilangnya manis, tapi saat sampai rumah dikupas ternyatamasam, tapi buat ibu hamil ini sangat cocok, akan sangat menyegarkan, mengurangi mual,” kata Bu Astrid, sambil mengupas jeruk itu dan disodorkan ke mulutnya Hanna.


Hanna menatap Damian yang juga menatapnya.


“Ayo coba di makan,” kata Bu Astrid. Dengan ragu ragu Hanna memakannya dan benar saja sangat asam. Hampir saja dia memuntahkannya kalau tidak ingat ibunya mengira dia sedang hamil muda.


Meskipun asam dia terpaksa memakannya. Dia jadi teringat pada Damian yang waktu itu makan jeruk yang asam, dia makan jeruk manis. Sekarang dia yang terpaksa harus makan jeruk asam itu.


********************


Jangan lupa like vote dan komen ya readers.


Sejak kemarin novelnya tiba-tiba hilang dan systemnya belum stabil, Viewnya turun drastis, jadi hanya beberapa ribu saja. hilangnya banyak banget.