Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-79 Bekerja dalam Diam



Hanna duduk disebuah batu yang ada dibawah pohon yang rindang. Pohon itu terletak tidak jauh dari sebuah warung, sebuah botol minuman sedang dipegangnya, dia merasa lelah sekali, hari sudah mulai gelap, para Bapak-bapak itu tidak juga selesai, bahkan mereka rapat dadakan, berkumpul dimana saja mendapat tempat teduh.


Dilihatnya dikejauhan Damian masih bersama ayahnya dan yang lainnya, juga berkumpul di deretan pohon yang rindang. Entah apalagi yang mereka bicarakan.


Puk! Puk! Hanna menepuk nepuk nyamuk yang mulai mengigit kakinya.


“Kenapa Damian lama sekali?” keluhnya sambil mengusap keringat di keningnya, kemudian menepuk nepuk lagi nyamuk yang tambah banyak.


Ada seseorang yang berjongkok disampingnya. Diliriknya orang itu ternyata Satria.


“Kau bukannya bersama kakakmu malah mengikuti terus,” keluh Hanna.


“Tadi kan aku sudah bilang, kakakku menugaskanku untuk menjagamu biar tidak hilang,” ucap Satria.


“Kau serius bicara begitu?” tanya Hanna, menatap adik iparnya itu.


“Tentu saja, tanyakan saja pada kakakku,” jawab Satria.


“Ah Damian kurang kerjaan, masa aku harus dikuntit terus,” keluh Hanna.


“Kau tahu sendiri kan kakakku diam-diam pencemburu. Tampangnya saja kaya yang adem ayem, tenang, tidak peduli, padahal…” Satria menghentikan bicaranya.


“Padahal apa? “ tanya Hanna.


“Bekerja dalam diam,” jawab Satria dengan nada yang serius.


“Maksudnya apa itu?” tanya Hanna.


“Ya begitulah,” ucap Satria.


“Bekerja dalam diam, dia cemburu dengan siapa?” tanya Hanna.


“Siapa lagi kalau bukan itu..” Satria menunduh dengan kepalanya kearah Cristian yang juga bersama Damian dan Pak Louis.


“Dia cemburu pada Cristian?” tanya Hanna sambil mendekatkan kepalany kearah Satria, bicara dengan pelan seakan takut terdengar padahal merake berada jauh.


“Siapa lagi?” ucap Satria.


“Kenapa dia cemburu pada Cristian?” tanya Hanna.


“Tentu saja karena dia mantan pacarmu kan, kakakku sudah tahu dia mantan pacarmu dulu,” jawab Satria.


Hanna menatap Satria, dia jadi teringat kalau Damian ternyata tahu kalau Satria itu pengantin prianya.


“Satria, kau tau sesuatu tidak?” tanya Hanna.


“Soal apa?” tanya Satria tanpa menoleh.


“Kakakku tahu kalau Cristian mantan pacarku darimana?” tanya Hanna.


“Waktu itu dia kan mengikutimu ke pantai saat bertemu Cristian, dia tahu Cristian mantan pacarmu,” jawab Satria.


“Kakakmu bicara padamu?” tanya Hanna.


“Iya,” Satria mengangguk.


“Terus kakakmu bicara apa lagi?” tanya Hanna, dia takut Damian mengatakan kalau Cristian adalah pengantin prianya dulu.


“Ya cuma itu kalau Cristian mantan pacarmu,” kata Satria.


Hanna menghela nafas panjang, jadi ternyata Damian sebenarnya cemburu pada Cristian? Tapi kalau melihat sikapnya Damian pada Cristian, sama sekali tidak terlihat dia cemburu atau apa, dia bersikap biasa saja. Itu yang dimaksud Satria Bicara dalam diam?


“Jadi kakakmu menyuruhmu menjagaku?” tanya Hanna, menoleh pada Satria.


“Ya begitulah. Jarang-jarang kakakku besikap begitu,” ucap Satria.


“Memang bicaranya kakakmu bagaimana?” tanya Hanna, dia jadi penasaran apalagi yang akan Satria katakan, asal jangan soal wanita yang badannya sexy saja.


“Yang aku tahu sih tidak ada yang awet pacaran dengan kakakku, dia juga hanya beberapa kali membawa wanita ke rumah dan sepertinya tidak ada yang benar-benar pacaran lama. Dia juga kan tinggalnya pindah pindah aku tidak tahu dia pacarnya yang mana,” jawab Satria.


Hanna diam mendengarkan.


“Makanya aku heran dia tiba-tiba sudah menikah denganmu, wanita yang bukan tipenya,” ucap Satria.


“Kau selalu bilang begitu, apa aku ini jelek?” keluh Hanna.


“Kata kakakmu aku cantik,” ucap Hanna, apa dia berbohong?


“Kenapa kau bicara begitu? Mau kau cantik atau tidak, kau kan yang dinikahi kakakku, kau istrinya, tidak perlu memikirkan cantik atau tidak,” kata Satria.


Hanna terdiam, Satria bicara begitu karena mengira dirinya benar-benar menikah dengan Damian. Hanna jadi gelisah, apa dia benar-benar bisa menikah dengan Damian? Tapi sepertinya Damian tidak pernah terlihat menelpon wanita lain atau bagiamana, Bu Susan juga ternyata ibu-ibu tua, ah masabodoh masalalu Damian, semua orang punya masa lalu, yang penting Damian sekarang harus setia padanya, katanya dia cinta, kalau cinta ya harus setia, batin Hanna.


“Lihat, sepertinya mereka sudah selesai, sebentar lagi kita pulang, kau sudah lelah kan?” kata Satria sambil berdiri.


“Iya, tadi panas sekarang banyak nyamuk,” keluh Hanna, sambil ikut berdiri dan merapihkan bajunya yang kotor kena rumput.


Satria malah menatapnya.


“Ada apa?” tanya Hanna.


“Aku hanya tidak habis fikir saja kenapa kakakku jatuh cinta padamu?” kata Satria.


“Memang kakakmu jatuh cinta padaku?” tanya Hanna, dia semakin ingin tahu saja apa yang dikatakan Damian pada Satria.


“Kau ini bagaimana, kalau tidak jatuh cinta, dia tidak akan menikahimu,” jawab Satria.


Hanna kembali diam, Satria bicara begitu karena tidak tahu kalau mereka belum menikah. Tiba-tiba kata-katanya Satria menyadarkannya, benar kata Satria, seharusnya Damian menikahinya kalau memang cinta padanya. Tapi kan Damian ingin menemukan ibunya, ingin pernikahannya di saksikan ibunya, entah kapan dia akan menikahinya.


“Ayo kita kesana,” ajak Satria, sambil berjalan duluan, Hannapun mengikutinya. Mereka menuju tempat Damian berkumpul. Pak Louis tampak sudah masuk ke mobilnya bersama karyawannnya juga beberapa orang yang bersama mereka yang tidak semobil dengannya.


Kini tinggal Crsitian dan rekan-rekannya masih bersama Damian. Pria itu menoleh padanya saat dia datang bersama Satria.


“Baiklah, Damian, Satria, aku pamit dulu,kita lanjut pekerjaannya besok,” kata Cristian, diapun bersalaman dengan Damian dan Satria begitu juga dengan rekan-rekan yang lain. Setelah itu mereka menuju mobilnya. Tiba-tiba Hanna ingat sesuatu. Diapun berlari mengejer Cristian.


“Cristian, tunggu!” panggil Hanna.


Cristian menoleh dan menatapnya.


“Ada apa?” tanya Cristian.


Hanna menatap Cristian.


“Terimakasih,” ucap Hanna.


“Terimakasih apa?” tanya Cristian.


“Terimakasih kau merahasiakanku pada ayah,” jawab Hanna.


Cristian hanya mengangguk, diapun akan masuk ke mobil tapi membalikkan lagi badannya menghadap Hanna.


“Kalau kau jenuh, kau bisa main ke rumah kakek, ada ibuku di rumah kakek,” kata Cristian pada Hanna.


“Ada ibumu?” tanya Hanna.


“Ibuku baru beberapa hari yang lalu pulang, kau jarang bertemu dengan ibuku kan,” kata Cristian.


“Apa kau cerita soal aku pada ibumu?” tanya Hanna.


“Tidak, ibuku tidak tahu. Kau bisa menemui ibuku sebagai istrinya Damian,” jawab Cristian. Hannapun diam. Dia semakin terharu saja, temannya itu sangat pengertian padanya.


Tiba-tiba Hanna menyadari ada seseorang yang sudah berdiri disampingnya. Hannapun menoleh ke orang yang disampingnya, diapun terkejut saat melihat ternyata orang itu Damian, Hannapun tersenyum pada Damian.


“Suamiku, ayo kita pulang!” seru Hanna sambil langsung menggandeng tangannya Damian, dia ingat suaminya itu pencemburu.  Dan ternyata Satria juga berdiri disebelah kirinya.


“Lebay,” ucap Satria sambil berjalan duluan.


“Ih!” gerutu Hanna pada adik iparnya itu, diapun mengikuti langkahnya Damian yang tidak bicara apa-apa.


Hari sudah gelap, saat mobil Damian sampai di rumah.


“Aku mandi duluan ya, badanku lengket sekali,” ucap Damian, sambil membuka pintu kamar mereka.


“Iya,” jawab Hanna, mengangguk sambil menutup pintu kamar. Sempat dilihatnya Satria juga masuk ke kamarnya.


Damian langsung masuk ke kamar mandi, kemudian pintu kamar mandi itu terbuka lagi, melongokkan kepalanya menoleh pada Hanna yang baru masuk ke kamar sambil membuka wignya.


“Apa kau mau mandi sama-sama saja, kita kan suami istri?” tanya Damian.


Hanna langsung mendelik pada pria itu.


“Aku sedang lelah Damian, jangan menggodaku terus,” ucap Hanna dengan lesu, dia merebahkan tubuhnya ke tempat tidur.


“Ya baiklah,” ucap Damian sambil menutup pintu kamar mandi.


Tiba-tiba dia melongokkan kepalanya lagi di pintu itu.


“Kalau kau lelah, aku bisa sambil memijatmu,” ucap Damian.


“Damiaaaan! Berhenti mengangguku!” teriak Hanna, dia akan melempar bantal. Tapi pintu kamar mandi itu sudah tertutup lagi.


“Kau terus saja menggangguku,” gerutu Hanna, sambil memiringkan tubuhnya, mengganjal kepalanya dengan bantal, dipeluknya bantal itu. Dia masih teringat ayahnya,sebenarnya dia ingin semua ini berakhir, dia ingin bertemu dengan orangtuanya dengan normal, tidak dengan sembunyi menyamar segala. Hanna juga teringat ibunya, bagaimana dengan ibunya, dia juga rindu ibunya, tapi dia benar-benar belum siap bertemu mereka dalam kondisi begini.


Hanna melihat cincin di jarinya. Cincin lamaran menurutnya. Diapun tersenyum. Harusnya Damian membuat acara lamaran yang romantic, batinnya. Di bolak baliknya tangannya, diapun tersenyum, cincin itu sangat cantik dijarinya. Dia suka melihatnya. Biarkan saja Satria terus mengejeknya norak karena terus melihat cincin ini.


“Benar kata Satria, kau norak, melihat terus cincin itu,” terdengar suara Damian, sudah selesai mandi dan berpakaian.


“Kau cepat sekali mandinya? Jangan-jangan kau mandi ular,” kata Hanna, tanpa menoleh pada Damian, masih tiduran miring sambil melihat cincinnya.


“Kau saja yang kelamaan melihat cincin itu, tidak bosan-bosannya,” ucap Damian.


“Aku suka cincinnya, kau beli dimana?” tanya Hanna.


“Di toko perhiasan,” jawab Damian.


“Dimana? Aku ko tidak tahu kau membelinya?” tanya Hanna, masih tidak melirik Damian. Cuma dia merasakan tempat tidur bergerak, sepertinya Damian duduk bersandar di belakangnya. Damian tidak menjawab.


“Ukurannya juga cocok dengan jariku, ternyata kau tahu ukuran jariku,” ucap Hanna. Damian masih tidak bicara.


“Damian!” panggil Hanna. Tapi pria itu tidak menjawab. Hanna jadi berbalik ke arahnya. Dilihatnya ternyata pria itu sedang berselonjor dengan laptop diatas bantal yang ada di kedua kakinya.


“Kau bekerja lagi?” tanya Hanna.


“Ini desain rumah yang akan diangun, kau mau lihat?” tanya Damian, sambil membuka sesuatu di layar laptopnya.


Hannapun bangun dan melongokkan kepalanya ke depan Laptop sampai menghalangi pandangannya Damian.


“Jangan terlalu dekat bisa tidak?” gerutu Damian, karena rambut- rambutnya Hanna jadi menyentuh wajahnya.


Hidung Damian mengendus endus seperti mencium sesuatu.


“Bau apa ini?” tanyanya.


“Bau apa?” tanya Hanna jadi menoleh.


“Kau bau asem, sangat bau, cepat mandi!” kata Damian.


Hanna menarik rambutnya dan diciumnya, diapun tersenyum.


“Iya benar, bau keringat,” ucapnya kemudian tertawa.


“Cepat mandi, nanti lihat model-model rumah yang akan dibangun,” kata Damian.


“Ya baiklah aku akan mandi,” jawab Hanna,sambil turun dari tempat tidurnya.


Tidak berapa lama Hanna sudah selesai mandi dan berpakaian, tidak lupa dia mencuci rambutnya yang bau keringat gara-gara menggunakan wig seharian.


Terdengar suara pengering rambut berbunyi, Hanna mengeringkan rambutnya yang basah. Damian hanya meliriknya sebentar sepertinya dia terganggu dengan suara pengering rambut itu.


“Aku sudah mandi dan harum , mana gambar rumah itu?” tanya Hanna.


“Kemarilah,” ajak Damian, matanya masih tertuju pada gambar di di laptop itu.


Hanna naik ke tempat tidur dan duduk disamping Damian.


“Mana?” tanya Hanna, dia terkejut saat tangan kiri Damian menarik pinggangnya supaya lebih dekat, dia langsung saja gugup duduk menempel dengan tubuh Damian.


“Ini rumah-rumahnya, menurutmu bagus yang mana? Ada beberapa model untuk dipilih,” kata damian.


Tiba-tiba tangan kiri Damian memeluk pinggangnya lagi, membuat jantung Hanna mau copot sekarang. Saat dia merayu-rayu dikantor tidak berfikir akan bagaimana-bagaimana karena dikantor, tapi kalau berdua seperti ini, hanya dipeluk pinggangnya saja membuatnya deg degan.


“Kau suka yang mana?” tanya Damian, tangan kanannya menggeser geser mouse.


“Yang ini,” jawab Hanna, sambil menunjuk  salah satu rumah.


“Kenapa?” tanya Damian.


“Ya karena aku suka saja,” jawab Hanna.


“Ya sudah, besok aku bilang pada arsiteknya kita bangun rumah yang itu,” kata Damian.


“Apa maksudmu bilang begitu? Kau akan bangun model itu karena aku yang pilih?” tanya Hanna. Damian mengangguk.


“Kenapa?” tanya Hanna.


“Karena nama real estatenya juga pakai namamu,” jawab Damian membuat Hanna terkejut saja, diapun menatap wajah Damian yang berada dekat dengan wajahnya, apa benar kata Satria kalau pria ini sangat mencintainya? Damian melakukan sesuatu tanpa banyak bicara.Ternyata tanpa ucapanpun, cinta itu bisa terlihat.


“Ini interiornya,” ucap Damian, tidak menghiraukan tatapannya Hanna.


Tiba-tiba Hanna teringat sesuatu.


“Damian, aku jadi ingat tadi Cristian mengatakan kalau ibunya ada dirumah kakeknya sekarang, apakah aku boleh main ke sana?” tanya Hanna.


Mendengar perkataan Hanna, Damianpun diam. Menghentikan gerakannya pada mouse. Kini dia menatapnya.


“Kau ada perlu dengan ibunya Cristian?” tanya Damian.


“Tidak, aku hanya jenuh dirumah saja, aku ingin berkunjung, aku jarang bertemu dengan ibunya Cristian, karena ibunya Cristian itu selalu pergi-pergi keluar kota juga ke luar negeri mendampingi ayahnya Cristian, “ jawab Hanna.


Damian masih menatapnya, melihat wajah Hanna yang ada didepannya.


****************


Bersambung ya.. udh hampir 2000 kata.


Kalian pasti bosan ya ceritanya itu itu melulu, authornya pengen yang slow slow saja..


Jangan lupa like vote dan komen