
Malam ini Hanna berdandan cantik dengan gaun yang dibelikan oleh Damian. Senang rasanya Damian memperhatikannya. Padahal dia tiap hari bersama pria itu tapi diajak kencan seperti ini tetap saja membuatnya gugup.
Pintu kamarnya diketuk beberapa kali. Hanna buru-buru membuka pintunya, tangannya agak gemetar saat memegang pegangan pintu, dia benar-benar gugup.
Saat pintu terbuka, Damian sudah berdiri menatapnya. Pria itu terdiam, membuat Hanna semakin merasa gelisah, apakah dia tidak cocok dengan gaun yang Damian belikan?
“Apa aku…” kata Hanna belum melanjutkan bicaranya.
Damian masih menatap wanita yang di depannya, Hanna terlihat cantik dengan gaun pilihannya. Tapi dia merasa lucu karena wanita itu tampak sekali tegang. Diapun tersenyum.
“Kau sangat cantik,” pujinya, membuat wajah Hanna memerah. Apa Damian benar-benar memujinya atau hanya untuk menyenangkannya? Hu uh kenapa suasana tegang begini? Tenang Hanna..tenang Hanna. Hanna terus mencoba menenangkan dirinya.
Tiba-tiba Damian sedikit menunduk mendekatkan wajahnya ke wajahnya, Hanna semakin gugup saja dan benar-benar tegang. Apa yang akan dilakukan pria itu? Banyak pertanyaan muncul di kepalanya. Damian semakin mendekatkan wajahnya dan sebuah ciuman mendarat pipinya. Deg! Hanna benar-benar Manahan nafasnya. Seperti mimpi rasanya pria itu mencium pipinya. Bibir sexi Damian terasa lembut dipipinya, Hanna semakin tidak mempunyai muka.
“Ayo kita berangkat,” ajak Damian. Hanna masih mematung, sangat terkejut, tidak menyangka Damian akan mencium pipinya.
Pria itu mendekatkan sikunya pada Hanna. Hanna tambah bingung. Apa maksudnya ini? Damian ingin dia memeluk tangannya? Damian melirik ke arahnya yang masih terdiam.
“Ayo,” ajaknya. Buru-buru Hanna mengangguk. Benar-benar dia tidak bisa berkutik malam ini. Tangan Hanna kini melingkar disikunya Damian. Kondisi-kondisi seperti ini benar-benar membuatnya stress. Hannapun melangkah mengikuti Damian sambil memeluk tangannya, berjalan bergandengan seperti ini, terasa begitu romatis. Tidak terasa tangan kirinya mengusap pipi yang tadi dicium Damian, benar-benar tidak bisa dipercaya. Hanya sebuah ciuman dipipi saja membuatnya tegang begini, apalagi kalau mencium yang lain? Apa? Mencium yang lain? Maksudnya apa mencium yang lain? Bibirnya? Tiba-tiba jari Hanna menyentuh bibirnya. Tidak bisa dibayangkan kalau Damian mencium bibirnya, apa yang akan dilakukannya? Membiarkannya menciumnya atau memarahinya, menamparnya, atau membalasnya? Apa? Membalasnya? Membalas ciumannya Damian? Ah tidak, tidak.
“Kau kenapa?” tanya Damian mengejutkan, melihat Hanna menyentuh bibirnya.
“Apa?” tanya Hanna terkejut, apalagi Damian menghentikan langkahnya dan menatapnya.
“Kau ingin aku mencium bibirmu?” tanya Damian, tangannya menurunkan tangan Hanna yang menempel di bibirnya.
“Tidak, tidak,kau ini bicara apa?” ucap Hanna, gugup. Wajahnya semakin memerah. Jantungnya langung berdebar kencang, bagaimana kalau Damian benar-benar menciumnya sekarang? Tatapan mata pria itu semakin aneh, terasa menusuk ke dalam hatinya.
“Kalian akan keluar?” sebuah suara mengagetkan mereka. Hanna dan Damian terkejut dan menoleh keruangan dibawah tangga. Ternyata ada ibu tirinya Damian dan Satria duduk disofa, sepertinya sedang menonton tv.
Hanna benar-benar terkejut bagaimana kalau tadi Damian benar-benar menciumnya? Pasti malu sekali dilihat ibu mertua dan adik iparnya.
“Iya,” jawab Damian, lalu menoleh pada Hanna.
“Ayo sayang,” ajaknya. Hanna mengangguk, kembali memeluk tangannya Damian, merekapun menuruni tangga.
“Pulangnya jangan terlalu malam, istrimu kan sedang hamil, nanti dia sakit,” kata Ny.Sofia.
“Iya,” jawab Damian pendek. Hanna hanya mengangguk dan tersenyum pada ibu mertuanya. Tiba-tiba matanya bertemu dengan mata Satria yang menatapnya. Tatapan tengil si adik ipar, yang melirik pada tangannya yang memeluk tangan Damian seakan ingin mengejeknya karena memeluknya sangat erat seperti kakaknya mau pergi saja.
Melihat lirikan Satria ke tangannya, Hanna langsung semakin memperperat pelukannya, mendelik pada adik iparnya itu yang tersenyum mengejek. Buru-buru dia mengikuti langkahnya Damian meninggalkan ruangan itu. Kenapa dia harus mempunyai adik ipar yang reseh? Tampak Satria malah tertawa dan melambaikan tangan.
“Ada apa kau dengan Satria?” tanya Damian. Ternyata dia melihat sikap Diam Hanna dan Satria. Diam yang berbicara.
“Tidak apa-apa,” jawab Hanna. Damian terdiam, kenapa dia merasa Hanna dan Satria ada sesuatu? Dan itu membuatnya tidak suka.
Mobil Damian berhenti disebuah restaurant dengan hiasan lampu warna warni. Sepertinya ini restaurant yang romatis, bisa dilihat dari penataan interior dan suasananya yang terasa tenang dan nyaman.
Turun dari mobil, Hanna hanya bediri memperhatikan beberapa pengunjung yang juga baru turun dari mobil mereka.
Dilihatnya banyak pengunjung juga rata-rata berpasangan, saling bergandengan tangan, saling tatap penuh cinta, sepertinya pengunjungnya memang orang-orang yang sedang dimabuk cinta. Apa? Dimabuk cinta? Apa dia juga sedang dimabuk cinta? Bagaimana dengan Damian? Jangan jangan hanya perasaannya saja yang merasa ini benar-benar disebut kencan.
Damian mendekatinya.
“Kau juga boleh memeluk tanganku terus,” ucap Damian, seperti tahu apa yang difikirkan Hanna.
Hanna menatap pria tampan itu dan tersenyum. Damian sudah mengulurkan sikunya, buru-buru Hanna memeluknya. Bukankah semua ini sangat membahagiakan? Kakinya melangkah menjajari langkahnya Damian. Berjalan bersama pria setampan Damian, rasanya selangit! Sebenarnya bukan tampannya, tapi pria ini adalah pria yang dicintainya. Ups! Apa yang difikirkannya? Apa benar dia diam-diam mencintai Damian? Bagaimana dengan Damian? Mungkin Damian hanya main-main saja dengan kencannya ini. Dia tidak pernah mengatakan menyukainya apalagi mencintainya, apalagi sampai menjadikan pernikahan bohongan ini menjadi pernikahan yang sebenarnya. Semua itu hanya mimpi disiang bolong. Kini Hanna tertunduk. Dia tidak boleh terbawa perasaan suasana romantis ini, dia tidak boleh berfikir terlalu jauh.
Mereka duduk disebuah meja kursi yang juga ditata sangat romantic. Membuat Hanna semakin bertanya-tanya. Apakah Damian akan mengucapkan cinta padanya? Atau melamarnya? Kenapa dia mengajaknya makan di tempat seromantis ini? Hanna semakin merasa gugup dan bingung, dia merasa aneh dengan semua ini.
“Kau mau makan apa?” tanya Damian.
“Terserah kau saja,” jawab Hanna, matanya beredar kesana kemari memperhatikan orang-orang yang juga berpasangan dengan meja yang juga dihias romantis, ada bunga dan lilin, seperti dalam film-film. Belum pernah Cristian mengajaknya makan seromantis ini, fikir Hanna. Dia tiba-tiba teringat Cristian. Mereka pacaran lama cenderung nongkrong ditempat kuliah atau makan di café-café itupun bertiga dengan Sherli, apakah mereka bisa disebut pacaran?
“Tidak bisakah kau hanya menatapku saja?“ tanya Damian, menatap Hanna, yang segera beralih menatapnya. Lagi-lagi dia terkejut dengan perkataan Damian. Tatapannya itu membuat jantungnya dag dig dug tidak beraturan. Jangan romantis-romantis Damian, aku tidak kuat, batinnya.
“I iya,” jawab Hanna, terus-terusan gugup. Tenang Hanna! Tenang Hanna! Hanna terus berusaha menguasai dirinya. Dia bertanya-tanya dalam hati apa mungkin Damian akan menyatakan cinta padanya? Jangan katakan cinta Damian, aku tidak kuat, batinnya terus bicara.
“Kenapa kau membawaku kesini?” tanya Hanna, sambil berusaha menenangkan hatinya supaya tidak gugup terus.
“Ini namanya kencan, bukankah kau ingin kencan denganku?” jawab Damian.
Hanna langsung mencibir. “Kenapa kau selalu bicara begitu?” keluh Hanna.
Damian tersenyum, lalu meraih tangan Hanna ke atas meja dan menggenggamnya. Membuat jantung Hanna berhenti berdetak. Mau apa lagi pria ini? Apa Damian tidak tahu dia sudah sport jantung dari saat akan berangkat tadi? Jangan terlalu manis, Damian, jangaaan.
“Iya, aku yang ingin berkencan denganmu,” ucap Damian, mengusap tangan Hanna dengan lembut. Rasanya Hanna ingin pingsan mendengar ucapannya itu. Akhirnya pria itu mau jujur bilang mau berkencan dengannya. Apa sebentar lagi dia akan mengatakan cinta? Wah kalau benar begitu, dia benar-benar akan pingsan. Tentu saja dia harus pingsan yang cantik, ini tempat umum, banyak orang yang melihatnya pingsan nanti.
Beberapa pelayan datang membawakan menu pesanannya Damian. Pelayan itu menyimpan sebuah piring di depannya Hanna juga Damian, tidak lupa dua gelas minuman diatas meja, jadi empat, tadi saat mereka datang, dua gelas air putih disajikan dahulu di meja.
Hanna menatap menu itu, sepiring steak daging sapi. Dia menatap piringnya itu. Lalu menatap Damian. Apakah akan ada cincin didalam steak itu?
“Kenapa?” tanya Damian, menatap Hanna yang juga menatapnya. Pelayan-pelayan itu sudah meninggalkan mereka.
“Ini…”gumam Hanna, melihat ke piringnya.
“Iya, kenapa?” tanya Damian keheranan. Hanna tidak menjawab.
“Ayo makan,” ucap Damian, karena melihat Hanna bengong saja. Pria itu mengambil pisau dan garpunya, mulai memotong steak.
Hanna masih ragu-ragu, tangannya juga mengambil garpu dan pisau. Tapi kemudian menatap Damian lagi yang tampak tenang memakan steaknya. Dia baru sadar kalau Damian terlihat sangat tampan malam ini, kenapa si tampan itu malah tenang-tenang saja menyantap steaknya? Apa dia tidak tahu kalau jantung ini rasanya berpacu semakin kencang dan siap-siap akan copot dari dalam dadanya?
“Kau kenapa? Kau tidak suka?” tanya Damian, menatap Hanna yang malah menantapnya. Dia takut didalam steak itu akan ada cincin buatnya, seperti yang di film film, bagaimana jika itu terjadi?
Hanna tidak menajwab, dia kembali menatap steaknya, mulai mengiris dari yang paling pinggir. Kenapa irisan steak ini semakin membuatnya deg-degan? Lalu dimakanny perlahan steak itu. Enak, batinnya.
“Kau kenapa? Kalau tidak suka, aku akan mengganti memesankan yang lain,” kata Damian.
“Memesan yang lain? Tidak, tidak, aku suka steak,” jawab Hanna, menggeleng. Buru-buru dia memotong lagi pinggiran Steak dan langsung memakannya, biar Damian tahu kalau dia suka steaknya.
Damian masih menatapnya.
“Apa kau berfikir yang aneh-aneh?” tebak Damian.
“Mm tidak,” jawab Hanna, berbohong.
“Benar begitu?” tanya Damian.
“Benar,” jawab Hanna.
“Kau fikir ada cincin didalam steak itu?” tanya Damian lagi, membuat Hanna shock, wajahnya langsung merah, kenapa Damian bisa menebak fikirannya? Oh dia lagi-lagi lupa kalau Damian bisa telepati, bisa membaca fikirannya.
“Ah tidak, kau mengada-ada, tidak mungkin ada cincin didalam steak itu. Kau tidak mungkin memberiku cincin di dalam staak, paling-paling nanti akan tertelan olehku,” jawab Hanna sambil tertawa, bercanda garing, dipaksakan. Dia merasa malu bukan main kalau Damian sampai tahu dia berfikir seperti itu.
“Kau benar, aku sudah menduganya. Jadi aku tidak mungkin menyimpan cincin di dalam steak. Kau tidak akan menemukannya, dan malah menelannya, sudah aku duga,” jawab Damian. Membuat Hanna keki.
Ini pria kenapa jadi bicara begitu? Tidak jadi deh romantis romantisnya, gerutunya dalam hati.
“Jadi aku menyimpannya ditempat yang lain,” lanjut Damian.
“Apa?” Hanna terkejut.
********************
Wkwkwk..author jadi deg deg seer sendiri..ga tau deh pembaca. Ah suka suka author saja nulisnya hehe…
Jangan lupa like vote dan komen
Baca juga karya author yang lain
- “Kontes menjadi istri Presdir”
- “My Secretary 3” Always Loving You (Jodoh yang Tertukar)