
Di halaman rumah Damian tampak sudah berjejer beberapa mobil yang siap akan berangkat. Tapi orang-orang itu masih berkumpul di halaman seperti sedang menunggu seseorang.
“Pak Damian, apa kita akan berangkat sekarang? Hari sudah terlalu siang,” tanya pak Indra.
“Tunggu dulu sebentar, istriku mau ikut,” Jawab Damian, kemudian dia menoleh kearah tangga. Terlihat seseorang membuka pintu rumah dilantai atas.
“Nah itu dia!” seru Damian. Orang-orangpun menoleh kearah tangga rumah itu. Reaksi pertama yang ditunjukkan adalah mengerutkan keningnya, termasuk Damian,juga Satria. Cristian baru keluar dari mobilnya, dia baru saja datang.
Sosok yang keluar dari pintu itu menggunakan payung jadi wajahnya tidak terlihat, hanya dressnya saja yang terlihat. Hanna sengaja memilih baju yang agak longgar karena karyawannya Damian mengira dia sedang hamil.
“Itu istriku, ayo kita berangkat,” ucap Damian. Orang-orang itupun mengangguk dan mulai memasuki mobil mereka.
Sosok yang berpayung itu menghampiri Damian.
“Katanya aku akan mamayungi hatimu, ko bawa payung?” sindir Damian.
“Ini bukan buat menahan panas tapi hujan,” jawab sosok berpayung itu.
“Lipat payungnya! Masa di dalam mobil pakai payung,” ucap Damian lagi sambil menepuk payung itu yang menutupi wajahnya Hanna.
Hannapun melipat payungnya dan Damian terkejut melihatnya.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Damian, begitu juga Satria yang belum masuk ke mobil. Dia terkejut karena Hanna berdandan menggunakan wignya berwarna merah kecoklatan dan dia menggunakan kacamata.
Cristian yang akan kembali masuk ke mobilnya dengan beberapa orang rekannya menghentikan langkahnya, dia menatap sebenar pada Hanna yang memakai wig seperti saat di Bali. Ternyata Hanna benar-benar ingin melihat sikap ayahnya kepada Damian. Tapi setelah itu Cristian masuk ke mobilnya diikuti yang lain.
“Kau menyamar lagi untuk menutupi siapa?” tanya Damian menatap Hanna.
“Aku masih malu pada orang-orang itu gara-gara kejadian tadi,,” jawab Hanna, pura-pura, padahal dia menyamar supaya ayahnya tidak mengenalinya.
“Kenapa harus malu, mereka malah lebih sering digoda istrinya,” kata Damian.
“Ah pokokknya aku malu,” ucap Hanna. Damian masih menatapnya.
“Kenapa? Aku terlihat jelek?” tanya Hanna.
“Tidak ,kau sangat cantik,” jawab Damian. Hanya dipuji cantik saja rasanya seperti mau terbang, hati berbunga-bunga, Hannapun tersenyum senang.
“Ayo masuklah,” jawab Damian, tangannya menyentuh punggung Hanna.
Hanna sempat menoleh kearah Cristian yang sudah ada didalam mobilnya sedang memperhatikannya.
“Ayo,” ajak Damian. Hanna buru-buru masuk ke dalam mobilnya Damian.
Sepanjang jalan hati Hanna merasa gelisah, dia merasa was was ayahnya mengenalinya. Tapi tidak ada jalan lain, dia harus memastikan melihat sikap ayahnya pada Damian. Semoga saja benar kata Cristian kalau ayahnya menyukai Damian. Dia takut ayahnya tidak menyukai Damian dan malah menyuruhnya kembali kepada Cristian.
“Kau kenapa?” tanya Damian, melirik Hanna yang sepertinya tidak bisa diam.
Hanna menoleh kepada Damian.
“Apa kau masih mengenaliku?” tanya Hanna sambil menurunkan kacamatanya, matanya menatap Damian.
“Tentu saja,” jawab Damian. Hati Hanna langsung menjadi lesu, apa penyamarannya tidak akan berhasil?
Dilihatnya Damian bicara dengan pak Indra yang duduk di depan, sedangkan Satria duduk sendiri di belakang.
Satria mendekatkan wajahnya di tengah tengah Hanna dan Damian.
“Kakak, kelak nanti kalau aku menikah, aku ingin punya istri yang normal,” ucap Satria. Hanna langsung memukul kepalanya Satria. Buru-buru Satria mundur ke belakang menghidari pukulan Hanna.
Damian tidak menjawab, dia malah tersenyum membuat Hanna menoleh ke arahnya.
“Kau juga mau bilang aku tidak normal?” bentak Hanna pada Damian.
“Kau yang bilang ya bukan aku,” jawab Damian, membuat Hanna kesal.
“Hiii adik dan kakak sama saja,” gerutu Hanna, langsung memberengut. Mereka tidak tahu kalau sekarang dia dalam misi penyamaran. Tapi tidak apa ini semua demi melihat ayahnya.
Damian hanya tersenyum saja, Satria malah menertawanannya dibelakang, membuat telinga Hanna rasanya seperti mau pecah karena berisik dengan tawanya Satria.
Setelah cukup lama perjalanan, mereka tiba di lokasi, ternyata lokasi itu menjorok ke pantai. Pasti rumah yang akan diabngun disekitar itu akan mahal harganya.
Hanna berdiri ditanah kering berumput pendek itu menatap kearah pantai dikejauhan. Dia tersenyum senang, dia tidak tahu ternyata ada bagian lain dipantai ini yang lebih indah, rasanya dia belum pernah main kedaerah sini.
“Kau menyukainya?” tanya Damian tiba-tiba ada di samping Hanna.
“Pasti rumah yang dibangun disebelah sini harganya sangat mahal kan? Akan seperti ruamh di Bali, dari lantai atas bisa melihat ke pantai,” jawab Hanna, menoleh pada Damian yang ternyata sedang menatapnya.
“Kau ingin rumah di dekat pantai kan?” tanya Damian, tangannya mengulur melepaskan kacamatanya Hanna, diapun menatap mata yang tidak berkacamata itu.
Hanna balas menatap mata itu. Diapun menggeleng.
“Kenapa? Bukankah uang dariku untuk membeli rumah di pantai?” tanya Damian, merasa heran dengan gelengan kepala Hanna.
“Aku berubah fikiran,” jawab Hanna.
“Maksudmu?” tanya Damian.
“Aku tidak ingin rumah di dekat pantai lagi,” jawab Hanna.
“Ternyata dirumah manapun kita tinggal, asal bisa selalu bersama orang yang kita cintai, rumah itu akan terasa lebih indah,” jawab Hanna, masih menatap Damian.
“Apa maksudmu kita? Kau dan aku?” goda Damian, pura-pura tidak mengerti.
“Bukan!” gerutu Hanna, membuat Damian tersenyum. Lagi lagi wanita itu memberengut dan memalingkan mukanya melihat ke pantai. Dia kesal Damian selalu menggodanya.
“Pak Damian!” terdengar suara Pak Indra memanggil Damian. Damianpun menoleh kearah Pak Indra. Tampak Pak Indra dan beberapa orang lain berdiri berkumpul termasuk Cristian.
“Aku kesana dulu,” ucap Damian, sambil memberikan kacamata Hanna.
“Pakai payungnya, disini panas sekali,” lanjut Damian, membuat Hanna tersenyum senang Damian perhatian padanya.
Hanna buru-buru menggunakan kacamatanya, dia juga akan membuka payungnya, saat adik iparnya itu menghampirinya.
“Mau apa kau? Jangan mengangguku!” maki Hanna pada Satria.
“Aku bukan mau mengganggu, aku mau menjagamu,” ucap Satria,berdiri di samping Hanna sambil melihat pantai.
“Hem, menjaga, yang ada kau selalu menggangguku!” gerutu Hanna.
“Aku serius, aku ikut kesini ditugaskan kakakku untuk menjagamu biar tidak menghilang,” ucap Satria dengan serius, membuat Hanna terkejut mendengarnya.
“Kau disuruh Damian menjagaku?” tanya Hanna, menatap Satria dengan tidak percaya.
“Iya,” Satria mengangguk, tanpa menoleh.
“Kau tahu, kakakku sangat mencintaimu,” ucap Satria, membuat Hanna terkejut lagi.
“Apa? Kau tidak berbohong kan? Kakakmu sangat mencintaiku?” tanya Hanna antara percaya dan tidak percaya mendengarnya, ada rasa bahagia dan haru mendengarnya.
“Iya, dia sangat mencintaimu. Lihat saja kenyataannya,” ucap Satria sambil menghadap Hanna.
“Kenayataan? Kenyataan apa?” tanya Hanna, tidak mengerti, diapun menghadap Satria.
“Wanita seaneh ini saja dinikahi!” jawab Satria.
“Satria! Kau!” Hanna akan memukul Satria, tapi pria itu menghindar, dia mengejarnya. Tiba-tiba ada panggilan dari Damian.
“Hanna!” panggil Damian, menoleh pada istri palsunya itu yang mengejar Satria.
Hanna menghentikan langkahnya dan menoleh pada Damian, seketika dia terpaku.
“Kemarilah!” panggil Damian, melambaikan tangannya pada Hanna.
Hanna terdiam dan kakinya serasa tidak bisa digerakkan. Disamping Damian ada sosok yang sangat dikenalnya, Ayahnya. Hatinya seketika menjadi sedih, dia rindu ayahnya, beberapa bulan ini dia tidak bertemu dengan ayahnya, dia rindu ingin memeluknya, dia merasa sedih atas masalah yang dibuatnya hingga membuat ayahnya malu di acara pernikahannya. Hampir saja airmatanya tumpah kalau tidak segera sadar kalau dia sedang berpura-pura menjadi istrinya Damian.
“Kemarilah!” panggil lagi Damian.
Hanna buru-buru memasang payungnya, sambil membetulkan kacamatanya, diapun menghampiri Damian, begitu juga dengan Satria. Jantungnya berdebar kencang, dia merasa takut ayahnya mengenalinya.
“Pak Louis, ini istriku, Hanna, dan ini adikku, Satria,” kata Damian, memperkenalkan istrinya dan adiknya pada ayah Hanna.
“Satria!” Satria mengulurkan tangan bersalaman dengan Pak Louis. Hanna melihat tangan pak Louis mengulur padanya, sejenak dia menatapnya, ragu.
“Sayang, ini Pak Louis,” ucap Damian, mengagetkan Hanna.
“Oh ya..Pak Louis, senang bertemu dengan anda,” kata Hanna dengan gugup. Diapun membalas tangan ayahnya itu.
“Senang bertemu denganmu juga, kalau tidak salah kau sedang hamil kan? Selamat ya atas kehamilamu,” kata Pak Louis. Hanna spontan memegang perutnya, hatinya semakin merasa sedih dan bersalah, ayahnya menjadi korban kebohongannya.
Hanna hanya mengangguk dan tersenyum tidak ada kata yang bisa dia ucapkan rasanya mulutnya tersekat untuk bicara.
Tangannya langsung memeluk tangan Damian dengan erat, seperti yang dilakukannya saat bertemu Crsitian ketika bersama Damian. Dia merasa seakan akan ayahnya akan memisahkannya dengan Damian, padahal itu hanya pemikirannya saja.
Melihat tanganya yang dipeluk Hanna, Damian hanya mengusap tangan wanita itu saja. Dia berbicara dengan Pak Louis tentang tanah yang sekarang mereka lihat itu.
Hanna menatap wajah ayahnya dengan sedih. Dia ingin sekali memeluk ayahnya dan mengatakan dia adalah Hanna, dia ingin hidup normal seperti dulu, tapi dia takut, dia takut ayahnya akan marah padanya dan menyuruhnya menikah lagi dengan Cristian, dia terlanjur sudah jatuh cinta pada Damian.
Mengingat hal itu membuat Hanna semakin mempererat pelukan tangannya ke tangan Damian. Damian tidak pernah komplan ataupun banyak bertanya jika Hanna bersikap seperti ini, dia hanya mengusap tangan Hanna dengan lembut.
Ditatapnya Damian yang sedang bicara dengan ayahnya itu. Hatinya senang mereka tampak akrab bicara tentang pekerjaan mereka. Perlahan diapun tersenyum. Dia akan merasa bahagia jika masanya tiba, dia bisa menikah dengan Damian dan orangtuanya merestuinya juga Damian bisa berkumpul dengan ibunya, hari itu kan menajdi hari yang paling indah buatnya dengan Damian. Dan Cristian, Hanna belum bercerita kalau Sherli mencintainya, semoga Cristian bisa menerima cintanya Sherli dan mereka hidup bahagia.
Pak Louis menoleh pada Hanna, Hanna buru buru menunduk, dan sedikit merendahkan payungnya.
“Kau sangat cantik, mengingatkanku pada putriku, kau sedikit mirip putriku,” kata Pak Louis, dia tidak bicara kalau putrinya juga bernama Hanna, dia fikir orang lain juga banyak yang putrinya bernama Hanna. Mendengar perkataan ayahnya membuat Hanna terkejut dan semakin menunduk.
“Ya, terimakasih,” jawab Hanna. Damian mengusap usap tangannya Hanna yang memeluk tangannya
Cristian berdiri dari kejauhan bersama orang-orang yang tadi semobil dengannya. Pria itu menatap kearah Hanna, Damian dan pak Louis. Tidak ada yang bisa dilakukannya, kalau memang Hanna memilih untuk tidak bersikap jujur pada ayahnya, Cristian menghormati keputusannya, meskipun hatinya merasa tidak suka Hanna membohongi orangtuanya.
“Mari kita melihat kearah sana. Harga tanah disini memang sedikit mahal,” kata Pak Louis pada Damian, sambil menujuk kearah lain.
Pak Louis berjalan diikuti oleh Damian, Hanna pun mengikuti langkahnya masih dengan memeluk tangannya Damian. Satria dan pak Indra juga beberapa orang mengikuti mereka di belakangnya.
************
Yang udah like, vote dan ngasih tips, makasih ya atas support kalian.