Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-43 Program Hamil



Keesokan harinya Henry baru bangun padahal sudah siang, karena hari ini libur dia ingin bermalas-malasan saja dan bersantai di rumah.


Terdengar sebuah mobil memasuki pekarangan, membuatnya terpaksa bangun dan melihat keluar, dilihatnya ada sebuah taxi masuk, apa Shezie pulang? Fikirnya. Diapun kembali ke tempat tidurnya dan berbaring lagi sambil memejamkan matanya, mencari posisi senyaman mungkin.


Tidak berapa lama dia mendengar suara melangkah mendekati kamarnya dan mendengar pintunya terbuka.


Shezie menatap pria yang sedang berbaring itu. Melihat mata Henry yang terpejam, dia mengira pria itu sedang tidur. Shezie berjalan mendekati tempat tidur lalu duduk dipinggir tempat tidur.


Henry membuka matanya sedikit mengintip apa yang dikerjakan oeh Shezie. Gadis itu memakai baju dan celana jinsnya, itu artinya  Shezie naik bis dulu baru memakai taxi ke rumah ini. Dilihatnya gadis itu hanya diam saja seperti sedang melamun.


“Kau sudah pulang?” tanya Henry, tidak sabar ingin menyapanya.


“Iya, aku fikir kau tidur,” jawab Shezie sambil menoleh pada Henry yang sekarang membuka matanya menatap Shezie.


“Apa kau baik-baik saja,” tanya Henry sambil bangun dari duduknya dan menatap Shezie, mata gadis itu tampak sayu mungkin tidak tidur semalam.


“Iya,” jawab Shezie, tapi tidak bicara apa-apa lagi.


“Sekarangkan hari libur, ibu mengundang makan siang di rumah,” kata Henry.


“Kita akan ke rumah ibumu?” tanya Shezie.


“Iya, aku akan bersiap-siap,” jawab Henry sambil bangun dari tempat tidur.


Henry heran bukankah dia sudah membayar biaya pengobatan ibunya Shezie? Tapi kenapa Shezie masih kelihatan bersedih? Ternyata Shezie bukankah wanita yang cengeng yang gampang berkeluh kesah.


Shezie hanya menatap kepergian pria itu, pria yang sudah menjadi suaminya sekarang.


Setelah mandi Henry melihat kesekeliling kamar tenyata gadis itu tidak ada. Diapun segera bergegas berpakaian dan setelah itu keluar dari kamarnya, mencari-cari gadis itu. Ternyata Shezie sedang duduk di teras depan rumah sendiri saja, sambil melamun. Membuat Henry bertanya-tanya apalagi yang difikirkan gadis itu?


“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Henry, menatap Shezie, ternyata gadis itu sudah berganti pakaian, menggunakan dress yang ada di rumah ini.


“Aku menunggumu,” jawab Shezie sambil menoleh.


“Kau terlihat pucat, apa kau sakit?” tanya Henry.


“Tidak, aku baik-baik saja,” jawab Shezie, sambil tersenyum.


Henry terdiam, kenapa sekarang senyum itu terlihat begitu manis?


“Baiklah, ayo kita berangkat,” ajak Henry.


Shezie mengangguk sambil bangun dari duduknya. Merekapun menuju mobilnya Henry yang sudah terparikir didepan teras.


“Ada acara apa ibumu mengundang makan?” tanya Shezie.


“Hanya rindu denganku saja,” jawab Henry, membuat Shezie tersenyum.


Melihat gadis itu tersenyum lagi, Henry merasa sedikit lega, dia merasa ikut sedih kalau melihat gadis itu murung. Sebenarnya apa yang difikirkan Shezie? Henry semakin penasaran saja.


Satu jam kemudian mobilnya Henry memasuki rumah orang tuanya. Di halaman tampak banyak sekali mobil-mobil diparkir.


“Sepertinya sedang banyak tamu,” kata Shezei.


“Iya, mungkin tamu ayah,” jawab Henry, sambil menjalankan mobilnya memasuki halaman setelah satpam membuka gerbangnya.


“Ada tamu siapa?” tanya Henry pada satpam yang kembali menutupkan gerbang.


“Tamu arisan ibu,” jawab satpam.


Ternyata tamu arisan, batin Henry. Diapun tidak bicara apa-apa lagi, terus menjalankan mobilnya mencari tempat parkir yang kosong.


Henry dan Shezie memasuki rumah itu, mereka melihat Di ruang tamu itu berkumpul banyak ibu-ibu, saat mereka masuk semua mata menoleh kearah mereka.


“Itu putraku baru tiba, sebentar ya?” terdengar suaraa Hanna diantara ibu-ibu itu.


“Sayang, kemari sebentar!” panggil Hanna sambil menarik tangannya Henry mengajak mendekati ibu-ibu yang berkumpul.


“Ada apa?” tanya Henry mengikuti langkah ibunya diikuti oleh Shezie.


“Henry, tolong jelaskan pada ibu-ibu ini kejadian yang sebenarnya,” kata Hanna.


“Kejadian apa?” tanya Henry tidak mengerti.


“Itu tentang Shezie jadi pelayan di café itu. Sebenarnya itu selah faham kan, Shezie sebenarya pemilik café itu, dia hanya sedang menyamar saja, ingin tahu karakter para pembeli, benar kan sayang?” Hanna menoleh pada Henry, masih memegang tangan putranya itu. Rupanya ibu-ibu itu bergosip soal Shezie menjadi pelayan cafe.


“Iya, istriku pemilik café itu,” jawab Henry.


Ibu-ibu itu tersenyum dan mengangguk, Henry merasa gerah buat apa juga harus meladeni ibu-ibu.


“Iya ibu-ibu, secara Pak Damian kan orang kaya masa membiarkan menantunya jadi pelayan café, kita salah faham yang benar menantunya pemilik café itu,” terdengar salah satu ibu-ibu bicara.


“Iya benar,” kata yang lainnya.


“Istrimu pucat apa dia sedang hamil?” tanya saah satu ibu-ibu mebuat Henry terkejut begitu juga Shezie.


“Tidak, istriku tidak sedang hamil!” sanggah Henry.


Hanna menoleh pada ibu-ibu yang sedang menatap Shezie.


“Mereka baru menikah, tidak mungkin hamil. Tapi kalau soal program kehamilan, mereka sedang menjalani program kehamilan, supaya cepat dapat momongan,” jawab Hanna berbasa basi.


Henry tambah terkejut saja diapun menoleh pada ibunya, ini ibunya berulah apalagi? Kemarin soal pernikahan sekarang soal kehamilan. Dia tidak sanggup kalau membahas soal kehamilan.


“Wah kau pasti berkonsultasi pada Dokter spesialis kandungan yang bagus di Luar Negeri! Aku jadi tidak sabar ingin lihat hasilnya! Aku yakin pasti dua bulan lagi kau sudah mendapat kabar menantumu hamil,” kata Bu Ema, menoleh pada Hanna.


“Benar, uangmu kan banyak, kau pasti bisa membayar Dokter yang bagus dan hasilnya pasti tidak bisa diragukan lagi,” kata Bu Pian.


“Jadi kepo deh, aku tidak sabar ingin mendengar hasilnya, bisa sekalian minta program jenis kelamin bayi kan? Kau pasti ingin cucu laki-laki,” kata ibu-ibu yang lainnya, membuat Hanna bengong saja mendengar opini mereka.


Apalagi Henry dan Shezie, ini sih gelagat gelasat yang merepotkan lagi.


Henry menoleh pada ibunya.


“Ibu aku masuk dulu,” kata Henry, ingin cepat-cepat keluar dari situasi ini.


“Iya sayang,” jawab Hanna.


Ibu-ibu yang berkumpul itupun menatap Henry sambil tersenyum, jangankan gadis ibu-ibu juga suka melihat wajah tampannya.


“Putramu benar-benar tampan,” kata salah satu ibu-ibu itu.


“Dia mirip ayahnya,” jawab Hanna sambil kembali duduk, merekapun kembali berbincang macam-macam.


Henry beranjak meninggalkan ruangan itu, dia gerah dengan percakapan ibu-ibu itu, kenapa mereka malah membahas kehamilan, apa mereka tidak tahu kalu dia merasa alergi?


Shezie mengikuti kaki suaminya menuju ruang keluarga. Henry duduk di sofa dengan wajah yang masam.


“Kau kenapa?” tanya Shezie.


“Apa kau tidak mendengar apa yang ibu-ibu itu bicarakan?” tanya Henry.


“Dengar sih tapi kanapa kau seperti tidak suka?” tanya Shezie.


“Karena ujung-ujungnya ibuku akan menyuruhku supaya membuatmu cepat hamil,” jawab Henry, membuat Shezie terkejut.


“Apa? Hamil?” tanya Shezie menatap Henry.


“Iya, kemarin ibuku sudah mewanti-wanti supaya kau tidak terlalu lelah mengurusi café agar kau cepat hamil,” kata Henry.


Shezie terdiam, Henry menoleh kearahnya dan menatapnya.


“Apa?” tanya Shezie. Henry tidak menjwab.


“Jangan katakan kau akan membayarku supaya mengandung anakmu!” tuduh Shezie.


“Aku tidak mau,” lanjut Shezie, wajahnya langsung saja pucat.


Henry tidak menjawab, dia bersandar di sandaran sofanya. Bagaimana dia akan bisa bercerai kalau harus membuat Shezie hamil.


Diliriknya gadis itu kini yang cemberut. Melihat wajah yang cemberut itu malah membuatnya merasa lucu.


“Kenapa? Kau takut hamil?” tanya Henry.


“Kalau aku hamil, bagaimana kita bisa bercerai? Kau membayarku hanya untuk menunda perceraian kan, kita tetap akan bercerai nanti,” jawab Shezie.


Henry tidak menjawab.


“Katamu ibumu menundang kita makan siang kesini, kenapa malah banyak ibu-ibu arisan?” tanya Shezie.


“Aku juga tidak tahu,” jawab Henry sambil bangun dari duduknya.


“Kau mau kemana?” tanya Shezie, menatap suaminya yang menaiki tangga.


“Mumpung libur, aku mau tidur saja,” jawab Henry.


“Terus apa yanga harus aku lakukan disini?” tanya Shezie.


“Kau bisa memijitku kalau kau mau,” jawab Henry.


“Tidak ada perjanjiannya kalau aku harus memijitmu!” teriak Shezie, bibirnya kembali memberengut. Suaminya itu semakin jauh menaiki tangga.


Shezie duduk sendirian diruangan yang luas itu, masih terdengar suara ibu-ibu mengobrol bersenda gurau.Akhirnya diapun beranjak, melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju kamar mereka.


Saat dia membuka pintu kamar, benar saja Henry sedang berbaring, sepertinya suaminya itu memang sedang ingin bersantai.


“Henry, kita pulang tidak terlalu sore kan?” tanya Shezie.


“Sepertinya sampai malam, atau ibu akan menyuruh kita menginap disini,” jawab Henry.


“Aku tidak bisa menginap disini,” kata Shezie berjalan medekati tempat tdur.


“Kenapa?” tanya Henry.


“Nanti malam aku ada perlu keluar,” jawab Shezie.


“Keperluan apa?” tanya Henry.


“Memangnya kau harus tahu?” tanya Shezie.


“Tentu saja, ibuku akan bertanya kalau kau keluar malam malam sendirian,”  jawab Henry.


“Makanya kita pulang sore saja, jangan menginap,” ujar Shezie.


“Memangnya kau ada acara apa?” tanya Henry.


“Aku ada janji makan malam dengan Martin,” jawab Shezie.


“Apa?” Henry terkejut mendengar jawaban Shezie, dia langusng bangun dan menatapnya.


“Kau akan makan malam dengan Martin? Kau belum memutuskannya?” tanya Henry.


“Bagaimana aku bisa memutuskannya? Dia sangat baik pada ibuku, ibuku malah menyuruhku untuk mempercepat pernikahan kami,” jawab Shezie.


Mendengar jawaban Shezie, kenapa Henry merasa tidak suka?


“Kau benar-benar akan menikah dengan pria itu?” tanya Henry.


“Entahlah, ibuku menginginkannya begitu,” jawab Shezie.


Henrypun terdiam, kenapa hatinya menjadi gelisah begini? Apa benar Shezie akan menikah dengan Martin? Ah masa bodoh itukan urusannya Shezie, dia tidak boleh ikut campur.


“Ya sudah kita pulang sore, jangan menginap disini, nanti ibuku banyak bertanya-tanya,” jawab Henry.


Mulut Henry mengijinkan tapi kenapa ada rasa tidak rela di hatinya? Shezie akan makan malam dengan tunangannya? Apa yang harus dilakukannya? Apa dia harus melarangnya? Tapi.. bukankah itu haknya Shezie?


*******