Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-51 Perhatian Damian



Hanna masih tidak percaya dengan kata-kata Damian. Rasanya seperti mimpi,  tidak hujan tidak angin pria itu mengajaknya menikah. Sepertinya ada yang tidak beres dengan Damian.


Tangan Hanna menempel di kening Damian. Tidak panas, fikirnya.


“Kau serius dengan apa yang kau katakan?” tanya Hanna, menatap Damian yang duduk di sampingnya.


Damiang mengangguk.


“Aku tidak mau menikah denganmu,” jawab Hanna, membuat Damian terkejut.


“Kenapa?”tanya Damian.


“Aku tidak mau kau melamarku hanya dengan jeruk di tanganmu, itu harganya Cuma 2rb. Kau lamar aku dengan berlian ke apa ke yang lebih berharga gitu. Ini dengan jeruk,” keluh Hanna.


Damian langsung menoleh pada tangannya yang sedang memegang jeruk asam itu.


“Tapi kan nanti aku bisa membelikanmu cincin,” ucap Damian.


“Tapi aku tidak mau menikah denganmu,” tolak Hanna.


“Kenapa?” tanya Damian lagi, keheranan.


“Kau aneh, tidak hujan tidak angin mengajakku menikah. Aku tidak mau kejadian pernikahanku dulu terulang lagi,” ucap Hanna.


“Maksudmu?” tanya Damian lagi, masih tidak mengerti, kenapa Hanna tidak mau menikah dengannya, padahal katanya mereka sudah melakukan berkali-kali, bahkan sepertinya sekarang Hanna sedang hamil bayinya.


“Aku belum yakin kita saling mencintai, aku tidak mau kabur untuk yang kedua kalinya,” jawab Hanna.


Damian terdiam.


“Seharusnya kau menyatakan cinta padaku dulu, masa tiba-tiba mengajak menikah,” lanjut  Hanna, kembali memakan jeruknya dengan lahap, matanya beralih menonton tv. Damian yang melihatnya sampai ikutan meringis membayangkan jeruk yang asem itu. Tapi kenapa Hanna sepertinya menikmati saja makan jeruk asem itu? Damian tidak tahu kalau jerik yang dimakan Hanna jeruk yang manis.


“Tidak ada romatis romantisnya,” gerutu Hanna lagi, tanpa menoleh.


Damian tampak kebingungan. Kenapa Hanna sedang hamil tapi tidak mau menikah dengannya? Apa memang dia melamarnya tidak romantis? Bagaimana nanti dengan nasib bayi itu? Dia tidak mau dianggap pria yang tidak bertanggungjawab, atau Hanna tidak tahu kalau dia sedang hamil? Ya sepertinya Hanna benar-benar tidak tahu kalau dia sedang hamil.


“Bagaimana kalau kita ke dokter?”ajak Damian.


“Tidak ah, aku sudah mendingan, di kamar ini saja beristirahat,” tolak Hanna, padahal dia takut ketahuan bohong kalau tidak sakit.


Damian diam lagi, sepertinya butuh waktu untuk memberitahu Hanna kalau dia sedang hamil. Damian pun berfikir bagaimana caranya supaya Hanna mau diperiksa Dokter kandungan. Sepertinya dia harus benar-benar memperhatikan Hanna jangan sampai melakukan hal-hal yang akan mengganggu janinnya, sampai Hanna tahu kalau dia sedang hamil.


“Mulai sekarang, kau tidak perlu menungguku tidur,” kata Damian, membuat Hanna terkejut dan menoleh


“Kenapa? Kau meliburkanku lagi?” tanya Hanna, menoleh pada pria yang masih duduk disampingnya itu.


“Aku ingin kau istirahat yang cukup dan tidak sakit-sakitan,” jawab Damian.


Hanna mengerutkan keningnya. Ini Damian lama-lama semakin aneh. Kenapa dia menjadi perhatian sekali? Apa Damian benar-benar jatuh cinta padanya? Tapi kenapa dia tidak menyatakan cinta? Apa dia emang tipe pria yang tidak romantis? Datang datang mengajak menikah. Bilang cinta juga tidak, aneh.


Terdengar handphone Damian berbunyi, cepat-cepat diambilnya dari sakunya.


“Halo!’ sapanya pada si penelpon.


“Ya ya, sebentar aku ke lokasi lagi,” jawab Damian lalu menutup telponnya. Kemudian dia menoleh pada Hanna.


“Aku akan ke lokasi lagi. Apa ada yang kau inginkan?” tanya Damian, sambil berdiri.


“Tidak, aku tidak ingin apa-apa,” jawab Hanna, balas menatap Damian.


“Apa kau tidak ingin buah-buahan yang lain? Jeruk ini asem sekali,” ucap damian, melirik jeruk jeruk.


“Tidak aku tidak ingin apa-apa, ini jeruknya manis ko,” jawab Hanna. Lagi-lagi Damian meringis, mungkin karena masa mengidam jadi Hanna merasakan jeruk yang asem itu manis rasanya.


“Ya sudah, pokoknya kalau kau teringat mau apa kau bilang ya, aku tidak mau kalau ba…,” hampir saja Damian akan bilang bayi tapi dia tahan, takutnya Hanna Shock kalau tau dia hamil. Maksudnya takut bayinya ileran kalau sudah lahir, kata mbah google kalau ngidam tidak dituruti.


“Ya pokoknya telpon aku. Aktifkan handphonemu, nanti aku akan menelponmu,” kata Damian.


“Ya, nanti aku beritahu kalau aku ingin apa-apa,” jawab Hanna.


“Ya sudah aku berangkat ya. Kau istirahat saja. Makan yang banyak, kau bisa menelpon restaurant hotel ini,” kata Damian.


“Iya,” jawab Hanna, sambil mengangguk. Hatinya tetap merasa heran, kenapa Damian menjadi cerewet begitu? Lebih cerewet dari emak-emak.


“Oh ya Damian, apa kita akan lama tinggal disini?” tanya Hanna, baru teringat.


“Sepertinya agak lama, mungkin satu minggu atau bisa juga lebih,” jawab Damian.


“Apa? Satu minggu? Bisa lebih? Katamu sehari dua hari,” ucap Hanna. Kepalanya langsung saja nyut nyutan, yang tadinya tidak sakit sepertinya akan sakit beneran. Masa dia harus diam di kamar itu satu minggu? Bisa bisa berlumut entar.


“Iya banyak yang harus dikerjakan. Mungkin aku juga butuh rumah sekaligus kantor sementara,” ucap Damian.


“Apa? Rumah? Kantor?” Hanna semakin merasakan kepalanya berputar tujuh keliling.


“Rumah dan kantor?” gumamnya lagi, mengulang perkataannya tadi.


“Iya Rumah yang bisa dijadikan kantor juga,” jawab Damian, mengangguk.


Rumah kantor, itu artinya Cristian akan sering sering ke kantor Damian berarti ke rumahnya juga, bagaimana ini? Hanna merasakan pandangannya semakin berkunang-kunang.


“Ya sudah aku berangkat ya, nanti aku beritahu kalau aku sudah menemukan rumah juga buat kantor sementara,” ucap Damian.


Hanna mengangguk, dia sudah tidak konsentrasi lagi apa yang diucapkan Damian.


Damianpun bangun dari duduknya, mendekati Hanna. Dan lagi-lagi “Cup” Damian kembali mengecup kening Hanna untuk yang kedua kalinya, membuat Hanna semakin panas dingin dan pandangannya perlahan mulai gelap. Dia tidak kuat, dia mau pingsan.


“Kau jaga diri baik-baik, jangan keluyuran,” ucap Damian, sambil menyentuh pipi Hanna. Aaa  Rasanya seperti mimpi, sudah di kecup keningnya, Damian mengusap pipinya dengan lembut. Beberapa detik lagi dia benar-benar akan pingsan, tapi ditahannya.


“Aku berangkat,” ucap Damian lagi. Hanna hanya bisa mengangguk. Damianpun keluar dari kamar itu. Beberapa detik kemudian Hanna pingsan di sofa.


**************


Damian kembali sampai di tempat lokasi yang akan dibangun real estate.


“Bagaimana istrimu? Baik-baik saja?” tanya Cristian.


“Iya, dia sedang makan jeruk yang sangat asem, kenapa wanita hamil makan jeruk seperti itu?” jawab Damian.


“Itu bawaan bayi Pak, karena merasakan mual jadi maunya yang asem asem,” jawab Pak indra, yang sudah  pengalaman memiliki beberapa anak.


“Dia juga membeli jeruk banyak sekali,” kata Damian lagi.


“Tapi dia tidak mau ku ajak ke dokter,” keluh Damian.


“Mungkin sekarang masih mau istirahat. Besok saja kau ajak ke Dokter. Ada Dokter kandungan yang bagus tidak jauh dari Hotel,” ucap Cristian.


“Ya Coba besok aku bujuk istriku untuk periksa ke Dokter,” kata Damian.


“Nanti aku kirim alamatnya ya,” ucap Cristian, diangguki Damian.


“Oh Iya, Apa kau punya kenalan yang bisa menyewakan rumah yang juga bisi aku jadikan kantor sementara?” tanya Damian, menoleh pada Cristian lalu pada Pak Indra.


“Bapak akan menetap disini?” tanya Pak Indra.


“Kita butuh kantor dan biar istriku nyaman saja tinggal dirumah. Kalau terlalu lama di hotel dia pasti bosan,” jawab Damian.


“Boleh nanti aku carikan,” jawab Cristian.


“Mungkin sekalian dengan mess buat karyawan, Pak,” ucap Pak Indra, menoleh pada Damian.


“Ya ya kau atur saja dengan Cristian,” jawab Damian.


“Baik, Pak,” jawab Pak Indra.


Mereka pun mulai berjalan lagi  menyusuri tanah kosong  yang luas itu.


****************


Hanna merasakan kepalanya puisng. Sepertinya dia akan sakit beneran. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana kalau Damian benar-benar menetap sementara di daerah ini? Bagaimana kalau sampai ada yang mengenalinya dan memberitahukan keberadaannya pada ayahnya? Bagaimana? Apa dia harus berterus terang pada Damian? Tapi kasihan nanti bagaimana dengan proyeknya? Dia tidak mau gara-gara keberadaannya, proyek Damian terganggu, apalagi ada pak Indra juga karyawan lain yang bekerja, belum kejasama dengan ayahnya juga Cristian, dia tidak mau membuat kacau segalanya.


Terdengar handphonenya berbunyi. Buru-buru Hanna berlari ke tempat tidur, karena Handphoenneya tadi di cas dimeja kecil dekat tempat tidur. Dilihatnya muncul nama Damian.


Hanna langsung mengangkatnya.


“Kau tidak sedang tidur?” tanya Damian.


“Tidak,” jawab Hanna.


“Kau baik-baik saja?” tanya Damian.


“Ya aku baik-baik saja,” jawab Hanna.


“Ya sudah kalau begitu,” Damianpun menutup telponnya.


30 menit kemudian…


Tulilit tulilit…hpnya Hanna kembali berbunyi. Buru-buru Hanna melihat Hpnya yang masih di cas itu, ternyata Damian.


“Ada apa Damian menelpon lagi?” tanyanya dalam hati.


“Halo!” sapa Hanna.


“Kau sedang tidur?” tanya Damian.


“Tidak,” jawab Hanna.


“Kau lebih baik sekarang?” tanya Damian lagi.


“Iya,” jawab Hanna.


“Ya sudah kalau begitu,” Damian kembali menutup telponnya.


30 menit kemudian..


Tulilit tulilit.. Hanna buru-buru melihat handphonenya lagi, masih muncul nama Damian.


“Halo!” sapa Hanna, dia penasaran kali ini Damian mau bicara apa.


“Apa kau sedang tidur?” tanya Damian.


“Tidak,” jawab Hanna.


“Seharusnya kau tidur, kau istirahat ya,” ucap Damian.


“Iya,” jawab Hanna, dengan sedikit kesal yang ditahan.


“Ya sudah kau istirahat, jangan nonton tv terus,” kata Damian.


“Iya,” jawab Hanna hampir kehilangan kesabaran, lalu telpon ditutup.


30 menit kemudian, hpnya itu kembali berdering.


“Ini Damian apaan sih nelpon mulu,” gerutu Hanna. Tapi saat menelpon dia lembut-lembutkan suaranya.


“Ya Hallo,” sapanya.


“Kau sedang tidur?” Tanya Damian


“Bagaimana aku bisa tidur, kau menelpon terus,” keluh Hanna.


“Oh begitu ya. Ya sudah kau tidur ya. Nanti kalau kau sudah bangun, telpon aku,” kata Damian.


“Ya,” jawab Hanna. Telponpun di tututup.


Hanna menatap handphonenya. Damian terus terusan menelpon membuatnya pusing. Akhirnya Hanna mematikan handphonenya, lalu naik ke tempat tidur. Ah lebih baik dia tidur beneran, tidak berapa lama diapun tertidur.


*************


Jangan lupa like vote dan komen ya


Maaf ya baru up, nunggu like episode berjalan nyampe 600 like ternyata harus tiga hari baru


nyampe 600 like hehhe…


Baca juga karya author yang lain :


-         “My Secretary” season 2 (Love Story in London)


-         “Kontes Menjadi Istri presdir”