Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-76 Lupa kalau dikira hamil



Hanna senang sekali dengan cincin yang dipakainya hari ini. Dia makan menu sarapannya dengan senyum tidak lepas dari bibirnya, sebenar-sebentar dia akan melihat pada jari-jari tangannya yang direntangkan untuk melihat cincin yang melingkar dijarinya. Melihat cincin itu dia sangat bahagia, ternyata benar cincinnya untuknya meskipun tidak ada ucapan lamaran dari Damian, dia tidak peduli yang penting cincinnya buat dirinya bukan buat wanita lain, titik.


“Kau kenapa?” tanya Satria yang juga sedang sarapan. Damian belum bergabung sepertinya dia masih mandi, karena tadi Hanna duluan yang mandi.


“Tidak apa-apa,” jawab Hanna sambil mengunyah makanan di mulutnya, jarinya kembali direntangkannya ke depan dan ditatapnya sambil tersenyum.


Satria menatapnya keheranan, apa wanita ini tidak waras, melihat cincin sambil senyum-senyum sendiri, fikirnya.


Terdengar langkah mendekat, ternyata Damian sudah mandi dan berpakaian resmi. Dia langsung duduk bergabung bersama mereka.


“Suamiku, kau sudah mandi? Ayo makanlah!” seru Hanna bersemangat menyambut suaminya. Satria mencibir melihat tingkahnya.


“Lebay,” gumamnya. Hanna hanya mendelik pada adik iparnya itu, dia tidak peduli dengan sikap rese Satria.


Hanna segera berdiri, menawarkan makan ini dan itu lalu disimpan di piringnya Damian. Damian menatapnya, tumben sekali wanita ini begitu perhatian, biasanya makan ya makan saja sendiri.


“Kau mau ini? Ini sangat enak, sama yang ini ya, ini juga enak, ini juga,” kata Hanna, memasukkan semau makanan ke piring Damian otomatis piring itu jadi terisi sangat penuh. Damian menatap piring yang ada didepannya.


“Ini apa? Perutku bukan karung!” umpatnnya.


Hanna dan Satria menoleh kepiringnya. Melihat makanan menggunung itu, Hanna jadi tertawa juga Satria. Melihat Satria ikut tertawa Hanna mendelik lagi pada pria itu. Kenapa adik iparnya itu harus ikut bersama mereka? Mengganggu momen romantis dirinya dengan Damian saja, umpatnya dalam hati.


“Oh iya kebanyakan,” ucapnya, lalu menyimpan kembali makanan itu. Damian memberengut kesal melihat kelakuan wanita ini pagi ini.


“Sudah, ini sudah cukup,” kata Hanna.


“Ayo makanlah,” lanjutnya dengan terus tersenyum manis.


Damian mulai makan, Hanna kembali melanjutkan makannya, seperti tadi dia tidak lupa sambil sesekali melihat cincin dijarinya, bukan sesekali lagi, setiap detik merentangkan jarinya sambil makan.


Damian memperhatikan tingkahnya itu, diliriknya jari yang ada cincinnya itu lalu pada wajah wanita itu yang terlihat sangat bahagia, dia hanya tersenyum dan kembali makan.


“Kau baru beli cincin baru?” tanya Satria pada Hanna.


“Suamiku yang membelikan,” jawab Hanna.


“Kau norak,” ucap Satria, membuat Hanna cemberut dan kesal.


“Apa maksudmu bilang begitu?” tanya Hanna menatap tajam Satria.


“Seperti yang baru dibelikan cincin saja, kakakku punya uang banyak untuk membelikan banyak cincin untukmu, tidak perlu dilihat terus-terusan begitu, norak,!” keluh Satria.


“Eh adik ipar reseh, diam saja bisa tidak?” maki Hanna pada Satria.


“Ehm ehm!” Damian berdehem melihat dua orang itu mulai bertengkar. Hanna dan Satriapun diam, merekapun meneruskan makannya.


Hanna sebal pada Satria yang reseh. Dia tidak tahu kalau cincin ini sangat special, ini tanda Damian sudah melamarnya, bukan cincin biasa, dasar adik ipar reseh, batin Hanna. Hanna kembali melihat-lihat cincinnya.


“Aku perhatikan kau tidak pernah ke Dokter, kau sangat sembrono,” kata Satria tiba-tiba membuat Hanna menatapnya.


“Ke dokter? Aku tidak sakit, ke dokter mau apa?” tanya Hanna.


Damian masih menyantap makannya tidak bicara. Dia tidak suka banyak bicara jika sedang makan.


“Kau kan sedang hamil, masa kau tidak cek kandunganmu,” kata Satria. Mendengar ucapan Satria, tiba-tiba Damian terbatuk batuk dan cepat cepat dia minum.


Hanna menghentikan makannya. Ups, Satria benar, orang-orangkan tahunya dia sedang hamil, kenapa lupa ya? Bahkan dia masih menggunakan sepatu tinggi dan kadang baju yang pas badan. Waduh. Hanna langsung memegang perutnya yang rata, bukankah seharusnya perutnya sudah mulai buncit sedikit?


“Iya aku lupa, karena aku kan ikut kakakmu pindah pindah, jadi lupa ke dokter,” ucap Hanna, matanya menatap Damian yang juga menatapnya.


“Kalau kakak sibuk, tidak apa-apa aku yang akan mengantar kakak ipar ke Dokter,” kata Satria sambil menoleh pada Damian.


“Tidak!” larang Hanna dan Damian bersamaan, membuat Satria terkejut dan kaget dengan sikap mereka.


“Nanti kau sempatkan mengantar Hanna ke Dokter,” ucap Damian. Satria mengangguk lalu kembali makan lagi. Kini suasana makan jadi sangat hening.


Damian juga lupa kalau ternyata Hanna tidak hamil sedangkan orang-orang mengira Hanna hamil. Benar-benar lupa.


Setelah sarapan Damian dan Hanna ke kamar mereka. Di dalam kamar Hanna duduk terdiam di kursi.


“Kau kenapa?” tanya Damian.


“Dari satu kebohongan tambah lagi kebohongan lain, kita semakin banyak berbohong. Kadang aku merasa bersalah pada banyak orang, aku lelah,” ucap Hanna sambil menunduk. Tangannya mengotak atik jari kukunya.


Mendengar ucapan Hanna, Damian yang tadinya akan mengambil handphone yang ada di atas meja rias, menghentikan langkahnya, diapun membalikkan badannya berjalan mendekati Hanna. Berdiri menatap wanita yang sedang menunduk itu. Diapan duduk disamping Hanna.


“Aku minta maaf membuatmu dalam kesulitan,” ucap Damian. Hanna menoleh pada pria yang disampingnya itu.


“Aku juga  minta maaf kalau bukan karena aku, kau juga tidak akan mendapat masalah ini,” jawab Hanna.


“Sudahlah, semua sudah terjadi,” ucap Damian.


“Tapi bagaimana dengan kehamilanku?Orang-orang mengira aku sedang hamil,” kata


Hanna.


“Ya kita bisa mengatakan kau keguguran atau salah menduga ternyata kau tidak hamil,” ucap Damian.


“Tapi aku takut berbohong lagi, kita terus terusan membohongi orang banyak,” kata Hanna.


Damian menatap Hanna mengusap rambutnya dengan lembut.


“Lihat aku,” ulang Damian.


“Aku sudah melihatmu,” jawab Hanna.


“Aku minta bersabarlah, nanti juga semua ini akan berakhir. Kau percaya padaku kan?” kata Damian masih menatap Hanna. Tangannya menyentuh pipi Hanna.


Hannapun masih menatap matanya Damian, terdiam beberapa saat, akhirnya diapun mengangguk.  Damian mengusap rambut Hanna sekali lagi. Mereka saling tatap tanpa ada yang bicara. Hanna masih menebak-nebak Damian mau apa lagi, tidak mungkin menciumnya kan, pasti dia kapok karena tidak pernah berhasil menciumnya.


Terdengar suara dering telponnya Damian di atas meja rias.


Tuh kan benar dugaannya pasti tidak akan jadi kalau Damian mau menciumnya, ada saja yang terjadi, batin Hanna.


Damian beranjak dari duduknya, melangkah menuju meja rias untuk mengambil handphonenya.


“Apa? Tambah orang lagi! Aku minta orang sebanyak banyaknya untuk mencari ibuku sampai ketemu!” tiba-tiba terdengar Damian berteriak.


“Aku tidak peduli berapapun bayarannya, aku ingin ibuku ditemukan secepatnya!” teriaknya lagi. Hanna sampai terkejut mendengarnya.


Damian sepertinya benar-benar berharap bisa segera menemukan ibunya. Hanna melihat Damian  menutup telponnya, wajahnya tampak merah karena kesal. Pria itu berbalik menoleh pada Hanna yang sedang menatapnya. Tidak ada yang diucapkan Damian, dia hanya berjalan kearah pintu.


“Aku banyak pekerjaan, aku berangkat dulu,” ucap Damian. Hanna tidak menjawab, kemudian terdengar suara pintu ditutup.


Hanna menghela napas panjang. Ternyata Damian minta tambah orang lagi untuk mencari ibunya, dia ingin cepat-cepat ibunya ditemukan. Kemudian Hanna memegang perutnya yang rata, mau sampai kapan dia hidup dalam kebohongan ini? Dari awal pertemuan yang tidak disengaja, semua terjadi begitu saja, dikira menikah dengan Damian kemudian blab bla bla…kebohongan semakin panjang.


Terdengar suara nada pesan di handphonenya. Hanna mengambil handphonenya. Ada pesan dari Cristian.


“Hanna, aku sudah menunggumu di pantai,” isi pesan dari Cristian. Hanna menatap tulisan itu. Diapun membalasnya dia akan segera menemui Cristian.


Deburan ombak dipantai pagi itu terasa cukup tinggi. Suaranya terdengar keras menghantam batu karang. Angin  juga bertiup kencang terasa agak dingin. Pria itu duduk di batang pohon kelapa yang tumbang, menatap kearah ombak yang bergulung gulung maju ke arahnya.


Hanna berdiri sebentar melihat punggung pria itu, setiap kali melihat sosok tinggi tegap itu , dia serasa melihat sosok Damian. Tapi sekarang dia tahu pria itu bukan Damian tapi Cristian.


“Kau sudah lama diisni?” tanya Hanna, membuat Cristian menoleh, pria itu langsung menatapnya. Pria itu menggunakan stelan jasnya yang rapih, sepertinya memang mau berangkat bekerja hanya menyempatkan untuk menemuinya karena ada yang ingin dibicarakan.


Tiba-tiba Cristian bangun dan melepas jasnya, lalu memakaikannya pada Hanna.


“Kau kan sedang hamil, cuaca dingin seperti ini seharusnya kau menggunakan jaket atau sweater, kau akan sakit nanti kena angin pantai,” ucap Cristian, membaut Hanna terkejut. Lagi-lagi ada yang mengingatkannya kalau orang-orang di sekitarnya mengira dirinya sedang hamil. Dia merasa bersalah pada semua orang, tapi dia juga tidak tahu kenapa jadinya dikira hamil begini?


Hanna hanya tersenyum, mau melepas jasnya Cristian, dia merasa tidak enak.


“Terimakasih,” ucapnya pada Cristian.


Cristian kembali duduk di pohon kelapa itu diikuti Hanna.


“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Hanna.


Cristian menoleh ke arahnya, menatap wanita itu yang balas menoleh padanya.


“Kenapa kau melakukan kebohongan ini?” tanya Cristian. Mendengarnya membuat Hanna terkejut. Apakah Cristian tahu dia berbohong soal pernikahannya dan soal kehamilan in? Tapi..barusan dia memberikan jasnya untuk dipakainya, itu artinya Cristian masih menganggapnya sudah menikah dengan Damian.


“Kalau kau mencintai Damian seharusnya kalian menikah dengan benar. Kenapa kau harus berpura-pura membawa orangtua palsu segala di acara resepsi pernikahanmu?” tanya Cristian.


Hanna semakin terkejut saja mendengarnya, Cristian tahu darimana soal itu?


“Apa maksudmu bicara begitu?” tanya Hanna.


“Jangan ditutup-tutupi lagi, keponakan sekretarisku bekerja di agency artis di ibukota, dia mengenali kalau orangtuamu figuran di agency artis di ibu kota. Kau juga menamakan mereka Sanjaya dan sulastri, kenapa kau harus membuat kebohongan seperti itu?” jawab Cristian kini melihat kearah pantai.


Hanna tertegun mendengarnya, dia tidak menyangka Cristian sudah mengetahui kebohongannya, tapi semoga saja dia tidak tahu kalau pernikahannyapun adalah bohong. Dia tidak pernah menikah dengan Damian, tapi dia berharap bisa menikah dengan Damian.


Dia tiap malam tidur bersama pria itu meskipun hanya sekedar memeluknya saat mengigau, tidak ada yang lain, bahkan berciumanpun tidak pernah, dia benar-benar sudah terbiasa hidup bersama pria itu. Dia tidak bisa membayangkan kalau berpisah dengan Damian. Dia mencintai Damian.


“Cristian,” panggil Hanna, menatap pria yang sedang melihat kearah pantai itu.


“Aku tahu kau adalah teman yang bisa diandalkan, bisakah kau merahasiakan semua itu dari orangtuaku?” tanya Hanna pada Cristian.


Cristian menoleh pada Hanna dan menatapnya.


“Aku bisa menuruti permintaanmu, tapi sepintar-pintarnya kau menyembunyikan bangkai, baunya akan tercium juga. Kebohonganmu lambat laun akan terbongkar,” kata Cristian.


“Aku tahu, aku tidak bermaksud seperti itu,” jawab Hanna.


Cristian masih menatap Hanna.


“Apa kau tidak berfikir, mungkin orangtuamupun akan sangat senang mendengar kau hamil? Kenapa kau tidak pulang? Bawa Damian bersamamu, semua masalah ini akan beres,” kata Cristian. Dia hanya tahu kalau sekretarisnyanya melaporkan bahwa orangtua Hanna itu artis figuran, tapi Cristian tidak tahu kalau Hanna dan Damian tidak pernah menikah.


Hanna diam mendengarnya, apa benar apa yang diucapkan Cristian kalau bertemu orangtuanya semua akan beres? Kebohongan ini benar-benar membuatnya pusing.


Lalu ditatapnya pria itu, Hanna tahu ada raut wajah kekecewaan di wajah Cristian, tapi pria itu selalu bersikap baik padanya, selalu berusaha melindunginya. Cristian benar-benar sahabat yang sangat baik.


“Aku belum berani menemui orangtuaku,” ucap Hanna. Dia tidak mungkin memperkenalkan Damian sebagai suaminya sedangkan dia sendiri sebenarnya belum menikah. Dia tidak berani secara langsung berbohong pada orangtuanya. Begitupun yang dilakukan Damian, dia pasti tidak bisa berbohong saat bertemu dengan ibunya.


Kini mereka terdiam.


**************


Bersambung dulu ya readers ga cukup satu bab… maaf telat up authornya ketiduran.


Jangan lupa like vote dan komen