
Sepanjang jalan Henry terus berfikir, apa memang dia harus memperjuangkan cintanya? Cinta? Lagi-lagi hatinya bertanya apa benar itu cinta? Memikirkan keinginan Shezie untuk bercerai membuat kepalanya sangat pusing.
Apa dia harus mengikuti saran ibunya untuk memperjuangkan Shezie? Kata ibunya Shezie juga menyukainya apa benar begitu? Tapi sepertinya gadis itu tetap memilih Martin padahal dia tahu kalau dirinya sudah melamarnya pada ibunya.
Sesampainya dirumah, Henry ingin membuktikan perkataan ibunya kalau Shezie sedang menunggunya. Tapi saat dia membuka pintu ternyata diruang tamu tidak ada siapa-siapa, ternyata ibunya berbohong. Hati Henrypun kembali lesu. Ibunya hanya ingin menghiburnya saja.
Diapun melangkahkan kakinya ke kamarnya. Dibukanya pintu kamar itu perlahan, jangan sampai suaranya membuat Sheezie terbangun, tapi setelah pintu terbuka ternyata gadis itu tidak ada juga dikamarnya. Kemana dia? Hatinya langsung gelisah, dicarinya Shezie disemua sudut kamar, ke kamar mandi dan ruangan tempat menyimpan pakaian, ternyata gadis itu tidak ada.
Apakah Shezie pergi meninggalkan rumah ini tanpa pamitan padanya? Hati Henry kembali kecewa. Buat apa dia harus mengungkapkan cintanya kalau hanya akan mendapatkan penolakan atau jawaban yang sama, Shezie akan menikah dengan Martin.
Henry naik ke tempat tidur dan berbaring, mencoba memejamkan matanya tapi yang muncul di dalam benaknya adalah bayangannya Shezie. Diapun menggeleng-gelengkan kepalanya, dia harus melupakan Shezie. Dia harus bisa melepasnya. Memaksakan diri juga sangat tidak ada gunanya.
Beberapa saat berbaring tiba-tiba Henry bangun. Dia penasaran apa benar Shezie sudah pergi? Diapun turun dari tempat tidur dan menuju lemari pakaiannya Shezie, pakaiaan itu tidak ada tanda-tanda Shezie membawanya, semua penuh. Terus kemana dia?
Henrypun kembali mencari gadis itu, dia keluar dari kamarnya, mencari ke ruang tengah dan ruangan-ruanagan lainnya ternyata tidak ada. Gadis itu benar-benar telah pergi. Jangankan membayangakn Shezie menunggunya, batang hidungnyapun tidak kelihatan. Ibunya benar-benar sudah membohonginya? Tapi ya sudahlah, buat apa mencarinya? Fikirannya bisa bicara begitu, tapi langkah kakinya kembali ke kamarnya dan mencari-cari keberadaan Shezie, dia kembali membuka kamar mandi padahal tadi dia sudah mengeceknya, hati kecilnya masih berharap Shezie masih ada dirumah itu.
Henry kembali keluar dari ruangan itu, dia turun mencari diruangan lain. Tapi tetap saja gadis itu tidak ditemukan.
Tiba-tiba langkahnya terhenti saat mendengar ada suara dentingan di ruang makan. Suara apa itu? Seperti suara sendok dan gelas? Kaki Henry berbelok menuju ruang makan. Kepalanya mengintip dipintu yang terbuka. Saat melihatnya dia terkejut sosok yang dicarinya sedang membelakanginya dan mengerjakan sesuatu diatas meja.
Ada rasa lega saat melihat gadis itu masih ada dirumah. Henrypun menghampirinya.
“Apa yang kau lakukan?” tanyanya membuat Shezie terkejut dan langsung membalikkan badannya, dia tidak menyangka Henry akan pulang, karena pria itu sudah mengirim pesan dia tidak akan pulang.
“Kau pulang?” tanya Shezie menatap Henry.
“Apa yang kau lakukan malam-malam begin?” Henry malah balik bertanya tidak menghiraukan pertanyaannya Shezie.
Shezie langsung menggeser berdirinya menutupi apa yang ada dibelakang mejanya, membuat Henry penasaran, diapun berjalan lebih dekat.
“Kau sedang apa?” tanyanya. Shezie menghalanginya, tapi Henry memaksa dan melihat apa yang dibelakang Shezie. Ternyata gadis itu sendang membuat kopi. Hanya membuat kopi kenapa harus ditutupi segala?
“Kau sedang membuat kopi? Tumben sekali,” kata Henry.
“Aku hanya ingin minum kopi,” jawab Shezie sembil mendorong tubuhnya Henry menjauh dari kopinya.
Henry menatap Shezie yang juga menatapnya. Kenapa Shezie membuat kopi selarut ini? Apa dia sengaja akan begadang? Begadang utuk apa?
“Kau akan begadang?” tanya Henry.
“Ah tidak, tidak, aku hanya ingin minum kopi saja,” jawab Shezie tapi raut wajahnya langsung berubah memerah, membuat Henry keheranan, ketahuan membuat kopi dengan reaksinya begitu?
“Kau begadang ada yang akan kau kerjakan? Mengerjakan apa?” tanya Henry lagi.
“Tidak, sudah aku bilang aku hanya minum kopi,” jawab SHezie.
“Kau masih ingin menungguku pulang jadinya mau minum kopi biar tidak mengantuk?” tebak Henry.
“Apa? Kau ini bicara apa?” tanya Shezie, langsung membalikkaan badannya, kembali mengaduk kopinya sambil menunduk, kentara sakali dia tidak mau Henry menatapnya.
Henry terdiam melihat sikap Shezie itu, apa benar Shezie minum kopi supaya dia tidak mengantuk menunggunya pulang?
“Kau sendiri kenapa kau pulang?” tanya Shezie.
“Aku?” tanya Henry, tidak langsung menjawab.
“Iya, kau, kenapa kau pulang? Katamu kau akan tidur dirumah orang tuamu,” kata Shezie sambil mengaduk aduk kopinya dan memegang piring kecil yang menjadi alas cangkir kopi itu. Diapun membalikkan badannya dan menatap Henry.
“Aku…” Henry bingung mau menjawab apa. Ibunya menyuruhnya mengatakan cinta pada Shezie. Apa benar dia mencintai Shezie? Dia malah menatap gadis itu.
“Aku apa?” tanya Shezie.
Henry melihat cangkir yang ada ditangan Shezie. Tiba-tiba dia mengambil cangkir kopi itu dari tangan Shezie.
“Ini buatku, kau bikin lagi,” ucapnya, membuat Shezie terkejut. Setelah pria itu merebut kopinya, Henry langsung keluar dari ruangan itu, Shezie mengerucutkan bibirnya, dia sudah capek-capek bikin kopi malah diambil Henry. Dia juga heran kenapa Henry pulang?
Shezie membalikan badannya dia kembali membuat kopi baru untuknya.
Ketika Shezie akan menutup pintu, dia melihat sosok pria itu sedang berdiri diteras rumahnya, dengan kedua tangannya dimasukkan ke saku celannya mungkin menahan rasa dingin angin malam itu.
Shezie berjalan menuju teras. Dilihatnya di atas meja ada cangkir kopinya Henry yang masih penuh.
“Kau tidak minum kopinya?” tanya Shezie.
“Masih terlalu panas,” jawab Henry, tanpa menoleh. Pandangannya ke atas langit yang terang oleh bulan dan bintang.
Shezie tidak menjawab, dia masih berdiri meniupi cangkir kopinya yang memang sangat panas. Angin diluar sangat dingin, pasti minum kopi panas akan sangat menghangatkan. Shezie kembali meniupi kopinya, lalu diangkatnya cangkirnya akan meminumnya sedikit, baru cangkir itu akan menempel di bibirnya, tiba-tiba sebuah tangan menarik tangannya yang memegang cangkir itu. Bukan didekatkan kemulut Shezie tapi malah kemulut si pemegang cangkir tadi. Shezie terkejut pria itu meminum kopinya.
“Kenapa kau meminum kopiku?” tanya Shezie, menatap cangkir kopinya yang berkurang setengah.
“Aku malas meniupi kopi,” jawab Henry. Shezie langsung cemberut. Dengan susah payah dia meniupinya malah diminium Henry, padahal tadi dia sudah merebut kopinya yang lain.
Shezie menatap cangkir yang ada ditangannya itu, tiba-tiba tangan pria itu menarik tangannya lagi dan meminum kopinya lagi, membuat Shezi kembali bengong dan hanya bisa menatap kopinya yang kini sudah habis.
“Kau menghabiskan kopinya,” keluhnya, melihat cangkir yang kosong lalu menatap Henry.
“Kopinya sangat manis, jadi aku menghabiskannya,” kata Henry.
“Apa? Manis?” tanya Shezie terkejut mendengar perkataan Henry, karena dia memuat kopi itu tanpa gula.
“Iya manis,” jawab Henry.
“Apa kau tidak salah?” tanya Shezie, sambil menatap cangkirnya yang kosong itu.
“Benar, sangat manis,” jawab Henry.
“Aku tidak percaya kopi tanpa gula rasanya manis,” ucap Shezie kebingungan.
“Kau coba saja sendiri,” kata Henry.
“Kopinya juga sudah habis,” jawab Shezie sambil menunggingkan cangkir kosong itu, hanya ada satu tetes diujung cangkir.
“Kau harus merasakannya jadi tahu kalau kopi itu manis atau tidak,” ucap Henry.
“Bagaimana aku merasakannya, kau menghabiskannya,” kata Shezie, kembali menyimpan cangkir diatas piring kecil itu.
“Kau bisa merasakannya manis atau tidak tanpa harus meminunnya,” ucap Henry.
“Bagaimana caranya?” tanya Shezie semakin bingung saja, diapun mengangkat wajahnya menatap Henry masih dengan kebingungannya. Tiba-tiba dia terkejut saat Henry menunduk dan mendekatkan wajahnya dan langsung mencium bibirnya.
Shezie merasakan bulu bulunya merinding karena kaget dan shock merasakan bibir pria yang sudah meminum kopinya itu mecinciumnya, hingga tercium aroma kopi. Bukan sekedar kecupan saja , bibir itu menggigit bibirnya habis dan ********** dengan lembut. Sungguh diluar dugaan pria itu akan menciumnya seperti itu. Belum sampai dia sadar apa yang sedang terjadi, Henry sudah melepas ciumannya dengan perlahan, sedangkan Shezie masih terpaku belum menyadari apa yang sudah terjadi.
“Apa kau sudah merasakannya? Kopinya sangat manis,” ucap Henry, masih menatap wajahnya Shezie yang berubah pucat.
Shezie berdiri mematung saking kagetnya. Pria itu sudah melepaskan ciumannya tapi rasanya bibirnya itu masih menempel dibibirnya. Wajahnya yang tadi pucat pasi karena kaget berubah menjadi merah. Badannya sampai gemetaran saking tidak menyangkanya Henry akan menciumnya.
“Kopinya sangat manis kan?” tanya Henry.
“I iya,” jawab Shezie dengan gugup. Setelah itu dia terkejut kenapa dia menjawab iya? Padahal dia tahu kopinya tanpa gula.
“Tidak, kopinya sangat pahit, kopinya tanpa gula!” seru Shezie dengan keringat membasahi keningnya padahal malam sangat dingin tapi dia malah berkeringat. Kenapa dia dengan bodohnya menjawab kopi itu manis? Wajahnya semakin merah saja.
“Kau masih belum yakin kopinya manis?” tanya Henry, kini jarinya menyibakkan rambutnya Shezie yang menutupi sebagian wajahnya kerena angin bertiup kencang.
Mendengar pertanyaan itu dan gerakan tangan Henry yang menyentuh rambutnya, langsung muncul di benaknya Shezie kalau pria itu akan menciumnya lagi, tidak, dia tidak sanggup kalau harus dicium Henry seperti itu lagi.
“Manis, kopinya sangat manis,” jawabnya dengan cepat, membuat Henry tersenyum, menatap wajah yang memerah itu.
“Bukan kopinya yang manis, tapi bibirmu yang manis,” ucap Henry, semakin membuat Shezie gugup, ada apalagi dengan pria itu? Apakah Henry sedang merayunya? Wajahnya pasti sangat merah sekarang, dan dia tidak tahu harus menyembunyikan dimana wajahnya yang merah itu atau pria itu akan terus menggodanya.
Shezie mengeluh dalam hati kenapa dia jadi bodoh begini karena sebuah ciuman?
**********