
Beberapa hari kemudian…
Di rumahnya Martin…
“Yah, yah!” teriak Ibunya Martin, berjalan bergegas bersamaan dengan Yesi menuju ruang kerja ayahnya Martin.
Suaminya itu menatapnya dengan tatapan kusut.
“Yah, kenapa kartuku diblokir?” tanya Ibunya Martin.
“Iya yah kartuku juga, aku tidak bisa belanja!” kata Yesi.
“Kita akan bangkrut!” jawab Ayahnya Martin dengan ketus.
“Apa? Bangkrut? Ko bisa?” tanya Ibunya martin.
“Ini semua gara-gara Martin! Berita Martin menjual Shezie sudah tersebar kemana-mana. Dan kau tahu siapa Shezie itu? Dia menantunya Pak Damian! Tentu saja rekan-rekan bisnisku langsung mundur tidak mau bekerja sama dengan perusahaanku,” jawab ayahnya Martin.
Ibunya Martin cemberut juga Yesi.
“Kalau bukan karena mereka membatalkan pernikahan, semua itu juga tidak akan terjadi,” kata ibunya Martin masih membela anaknya.
“Tapi tidak dengan menjual anak orang juga!” hardil ayahnya Martin.
“Terus bagaimana dengan kartuku yah?” tanya Yesi.
“Tida ada kartu-kartu lagi, kau belanja pakai uang gajimu sendiri,” jawa ayahnya Martin.
“Tapi Ayah, gajiku tidak cukup untuk belanja barang-arang mewah,” kata Yesi.
“Ya tidak usah belanja kalau begitu!” maki ayahnya, lalu bangun meninggalkan ruang kerjanya.
Yesi memberengut kesal, menoleh pada ibunya.
“Bu, bagaimana ini? Aku tidak mau miskin,” ucap Yesi.
“Ibu juga..masa ibu keluar dari grup arisan karena tidak bisa bayar,” keluh Ibunya Martin sambil duduk di sofa dengan lesu.
************
Sementara itu Hanna sedang mengikuti arisan disebuah restaurant mewah dengan ibu ibu arisannya Bu Yogi.
“Bu Damian, kapan Henry akan menikah dengan Andrea?” tanya seorang anggota arisan.
“Tidak ada pernikahan, soalnya Henry sekarang kembali bersama istrinya, istrinya sedang hamil.” jawab Hanna.
“Oh sedang hamil?” kata ibu-ibu itu.
“Kasihan dong Andrea dibela-belaian mutusin tunangannya demi dapat pria kaya ternyata prianya kembali pada istrinya,” jawab seorang.
“Maksudnya apa sih?” tanya Hanna.
“Bu Damian tidak peka sih, Andrea sengaja memutuskan tunangannya karena demi mengejar Henry yang lebih kaya, padahal tunangannya itu sangat baik,” jawab salah satu ibu-ibu itu.
Hanna terkejut mendengarnya.
“Tunangannya bukannya sangat kasar? Suka memukul begitu?” tanya Hanna.
“Kata siapa? Tunangannya sangat baik dan kaya tapi kalah dong kalau dibanding kekayaannya Henry, dia temannya putraku. Tentu saja Andrea milih Henry,” jawab seorang lagi.
Hanna semakian terkejut saja, jadi Bu Yogi berbohong?
“Kata Bu Yogi Andrea tidak bisa melupakan Henry,”’ gumam Hanna.
“Tidak bisa melupakan hartanya kali,” jawab yang lain lalu pada tertawa.
Hannapun diam. Ternyata begitu, Bu Yogi berbohong bilang kalau Andrea tidak bisa melupakan Henry dan tunangannya kasar padahal Andrea sengaja memutuskannya karena mencari pria yang lebih kaya.
“Halo ibu ibu , maaf aku telat!” kata Bu Yogi, yang baru datang.
“Halo Bu Damian,” kata Bu Yogi.
Hanna langsung berdiri menatapnya.
“Ada apa Bu? Kenapa kau menatapku begitu?” tanya Bu Yogi.
“Aku kecewa pada Bu Yogi, “ jawab Hanna.
“Lho kenapa?” tanya Bu Yogi.
“Ibu berbohong, katamu Andrea putus bertunangan karena prianya kasar ternyata Andrea sengaja memutuskan tunangannya demi kembali pada Henry karena Henry lebih kaya dari tunangannya dan bukan karena tidak bisa melupakan Henry?” tanya Hanna.
“lih tidak ko Bu, bukan begitu,,” ucap Bu Yogi, dengan wajah pucat.
“Untung Henry kembali pada istrinya. Kalau tidak, dia akan hidup dengan wanita yang mengincar hartanya saja. Aku keluar dari arisan ini!” kata Hanna langsung mengambil tasnya.
“Bu Damian, kau salah faham!” kata Bu Yogi.
“Sepertinya tidak Bu. Asal ibu tahu Henry sudah kembali bersama istrinya, sekarang istrinya sedang hamil. Kasih tahu Andrea untuk menjauhi Henry,” ujar Hanna lalu pergi meninggalkan ruangan itu.
Bu Yogi terkejut mendengarnya, gagal sudah rencananya berbesan dengan konglomerat. Teman-temannya menatapnya dan langsung saja bergosip.
“Apa yang kalian lihat?” bentaknya, membuat teman-temannya diam.
*************
Di kantornya Henry…
Terdengar langkah sepatu memasuki kantornya Henry.
“Pak Henry sedang ada…” belum selesai Bu Riska bicara, pemilik kaki itu terus saja masuk dan terhenti saat melihat sepasang pria wanita duduk disofa berdampingan.
Henry sedang makan siang dengan seseorang wanita.
“Andrea!” panggil Henry saat melihat ke pintu.
Andrea menatap wanita yang bersama Henry itu.
“Shezie? Kau, sedang apa kau disini?” tanya Andrea, menatap Shezie yang duduk disamping Henry.
“Aku sedang menemani suamiku makan,” jawab Shezie.
“Apa? Kau akan menikah dengan Martin,” kata Andrea terkejut bukan main.
“Aku sedang hamil bayinya Henry, aku tidak mungkin menikah dengan Martin, apalagi Martin sekarang dipenjara,” jawab Shezie.
“Apa? Hamil? Penjara?” tanya Andrea,semakin terkejut.
“Aku sudah kembali bersama istriku,” ucap Henry, semakin membuat hati Andrea hancur.
“Tapi Henry…aku…” kata-kata Andrea terhenti.
“Maaf Andrea, kau bisa mendapatkan pria yang lebih baik dariku,” kata Henry.
“Apa? Mana ada pria yang lebih kaya darimu?” teriak Andrea dengan kesal, membuat Henry dan Shezie terkejut dengan ungkapan yang tiba-tiba itu.
“Maksudku..” Andrea keceplosan dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
“Itu yang membuatku sulit mencintaimu, sebaiknya kau keluar dari kantorku! Kau merusak makan siangku!” ucap Henry dengan kesal, lalu mulai makan lagi.
Andrea menatap Henry dan Shezie dengan menahan marah, tapi tidak ada yang bisa dilakukannya, Henry sudah mengusirnya, diapun terpaksa perdi keluar dari ruangan Henry. Dengan hati yang kembali patah, dia benar-benar gagal mendapatkan Henry.
***********
Malam semakin dingin dan gelap, Shezie berdiri dibalkon kamarnya Henry, sambil memeluk kedua sikunya karena angin yang terasa dingin.
“Sayang! Kenapa kau berdiri diluar?” tanya Henry, segera menghampiri istrinya.
Dilihatnya Shezie malah melamun sendirian, diapun mendekati dan memeluknya dari belakang.
“Istri cantikku, tidak seharusnya ibu hamil malam malam melamun sendirian,” ucap Henry menempelkan pipinya ke pipi istrinya.
Shezie menoleh menatap wajah Henry, kedua tangannya memegang tangan Henry yang memeluk perutnya.
“Aku hanya rindu ibu,” ucap Shezie.
“Iya aku mengerti, tapi kau jangan meratapinya terus, ibumu akan sedih kalau kau sedih,” kata Henry. Shezie terdiam, masih menatap wajah disampingnya itu.
“Kau juga tidak akan kesepian, kan sudah ada aku yang menemanimu juga bayi kita,” ucap Henry, sambil mencium pipinya Shezie.
“Aku mencintaimu,” ucap Henry, balas menatap wanita itu.
“Aku juga,” jawab Shezie, mengangkat sedikit wajahnya dan mencium bibirnya Henry.
“Ayo kita masuk, jangan sampai kau dan bayi kita sakit,” ajak Henry, sambil kembali mencium bibirnya Shezie.
“Iya, tapi sepertinya aku butuh bantuanmu,” kata Shezie.
“Bantuan apa?” tanya Henry.
“Kakiku sedikit pegal-pegal, mungkin karena aku hamil,” keluh Shezie.
“Pegal-pegal karena hamil? Tapi kan perutmu belum besar,” kata Henry kebingungan.
Shezie langsung cemberut, Henrypun tersenyum.
“Baiklah sayangku, aku mengerti!” serunya dan tiba-tiba Shezie menjerit kaget saat merasakan tubuhnya melayang, dalam sekejap berada dipangkuannya Henry.
“Henry, aku tidak memintamu menggendongku!” teriaknya.
“Kau tidak perlu malu!” jawab Henry.
“Aku hanya ingin kau memijat kakiku, bukan mengendongku!” kata Shezie, terpaksa mengalugkan tangannya ke leher Henry.
“Iya nanti aku akan memijatmu,” jawab Henry, sambil mencium kening Shezie.
Shezie semakin mempererat pelukannya saat Henry membawanya masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya.
*********
Di kamar sebelah…
Hanna melipat kedua tangannya menahan dinginnya angin malam. Dia berdiir di balkon kamarnya sendirian.
“Sayang! Kau sedang apa diluar? Udara sangat dingin!” Terdengar suara Damian masuk kedalam kamar mencari Hanna. Ternyata istrinya ada diluar.
Damian segera menghampiri dan berdiri disampingnya.
“Kalau kau menyendiri begini pasti ada yang sedang kau fikrikan,” tebak Famian.
Hanna menoleh menatap wajah disampingnya itu, menatapnya tajam.
“Kenapa? Ada apa? Apa aku berbuat salah?” tanya Damian.
Hanna masih menatapnya tajam.
“Kau harus berjanji padaku,” ucap Hanna.
“Berjanji soal apa?” tanya Damian.
“Berjanji kalau tidak akan ada lagi wanita-wanitamu yang bermunculan dari masa lalumu,” jawab Hanna.
“Wanita siapa maksudmu?” tanya Damian.
“Wanita yang seperti ibunya Shezie, aku tidak mau muncul lagi wanita yang mengaku-ngaku mendapat janji palsu darimu!” ucap Hanna.
Damian terdiam mendengarnya.
“Kenapa kau diam? Masih banyak wanita wanita itu? Aku curiga kau memang playboy,” ucap Hanna, memalingkan mukanya melihat kearah lain.
“Aku tidak merasa memberi janji palsu, tapi… “ Damian menghentikan bicaranya.
“Tapi apa?” tanya Hanna, kembali menoleh pada Damian.
“Tapi tidak tahu kalau wanitanya berfikir begitu,” jawab Damian.
“Berarti masih banyak wanita yang lain?” teriak Hanna, langsung memukul dadanya Damian.
“Ternyata kau playboy ya,” hardiknya.
Damian langsung menangkap tangannya Hanna dan tertawa, malah menariknya membuat Hanna jatuh kepelukannya.
“Kita menikah sudah berapa lama?” tanya Damian.
“Seusia Henry saja,” jawab Hanna.
“Selama itu masa kau tidak percaya kalau kau satu-satunya wanita dalam hidupku?” tanya Damian, mendekatkan hidung mancungnya ke hidung Hanna.
“Aku tidak suka posisi ini,” jawab Hanna.
“Apa maksudmu?” tanya Damian.
“Karena kau menunjukkan kalau hidungmu lebih mancung dariku,” keluh Hanna.
Damian tertawa mendengarnya dan langsung mencium bibir Hanna, lalu mencium pipi kirinya, pipi kanannya juga mencium keningnya.
“Aku sangat mencintaimu,” ucap Damian, menatap Hanna lekat-lekat.
Hanna malah memberengut menatap suaminya.
“Kenapa lagi? Aku sedang menyatakan cinta, jangan mulai cemburuan lagi,” keluh Damian.
“Kau mengalihkan pembicaraan,” kata Hanna.
“Mengalihkan apa? Aku bicara sejujurnya, hatiku sudah penuh oleh cintamu, masa kau tidak bisa melihatnya?” ucap Damian.
Hanna menempelkan wajahnya kedada Damian.
“Tidak terlihat,” ucapnya. Damian langsung tertawa.
“Kau tahu, aku selalu bahagia bersamamu,” ujar Damian.
“Kau sedang merayuku,” ucap Hanna, kembali menatap Damian.
“Tidak,aku tidak berani merayu,” jawab Damian, menggelengkan kepalanya.
“Iya, kau sedang merayu sekarang,” ucap Hanna.
“Tidak,” Damian menggeleng lagi.
“Iya,” jawab Hanna.
“Tidak, aku bicara sebenarnya,” ujar Damian, menatap Hanna lekat-lekat.
“Aku tidak mau kau marah padaku,” lanjutnya dengan serius, membuat Hanna diam.
“Aku bukan suami takut istri tapi aku…aku memang tidak mau menyakitimu, aku akan merasa bersalah jika membuatmu sedih, aku ingin kau merasa bahagia bersamaku,” ujar Damian.
“Itu yang membuatku mencintaimu, Damian,” jawab Hanna.
“Jadi kau tidak perlu curiga berlebihan padaku, kau harus percaya hatiku hanya untukmu,” kata Damian.
“Kau sedang merayuku lagi? Kata-katamu membuatku senang,” ucap Hanna.
“Tidak, tadi aku sudah bilang,” keluh Damian, membuat Hanna tertawa, dan memeluk tubuh suaminya dengan erat.
“Aku percaya padamu, aku tahu kau mencintaiku,” ucap Hanna.
Damian balas memeluk tubuhnya Hanna, lalu mencium pucuk kepala Hanna yang bersandar ke dadanya.
“Aku mencintaimu Damian, aku tidak mau ada wanita lain dihatimu selain diriku,” ucap Hanna, memeluk Damian semakin erat.
“Iya, kau satu-satunya wanitaku,” jawab Damian, kembali mencium rambutnya Hanna.
THE END
*************
Jangan lupa like dan vote terakhir ya...
*************