Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-62 Hati yang Galau



Suara deburan ombak semakin keras, angin juga terasa berhembus kencang. Daun daun pohon kepala beriak riak tertebak tiupan angin.


Seorang pria dan seaorang wanita duduk di sebuah bungkahan pohon kelapa tumbang menatap kearah gelombang yang terlarian.


“Jadi kau tahu Hanna ada dimana?” tanya wanita itu tiada lain adalah Sherli.


“Iya,” jawab Cristian. Setelah malam pertemuannya dengan Hanna, Cristian memutuskan kembali pulang. Tidak ada lagi yang bisa dilakukannya di ibukota. Wanita yang dicarinya ternyata sudah menikah dengan Damian, rekan bisnisnya di proyek real estate yang baru saja akan dimulai.


“Jadi Hanna sudah menikah dengan pengusaha kaya?” tanya Sherli.


Cristian mengangguk.


“Pantas aku melihat cincin dijari manisnya,” ucap Sherli membuat Crisitian terkejut dan menoleh kearah wanita yang duduk disampingnya itu.


“Apa maksudmu? Kau bertemu Hanna? Dimana? Kenapa kau tidak cerita padaku?” tanya Cristian.


“Iya, dia memakai cincin berlian, cincin yang sangat bagus, harganya pasti sangat mahal, mungkin cincin pernikahannya. Hanna memintaku untuk tidak memberitahumu,” jawab Sherli.


“Dimana kau bertemu Hanna? Disini?” tanya Cristian.


Sherli mengangguk.


“Jadi benar, istri Damian yang sedang hamil itu Hanna,” gumam Cristian, kepalanya menunduk.


“Apa? Hanna sedang hamil? “ tanya Sherli yang berbalik menatap Cristian, pria tampan yang diam-diam dicintainya, tapi pria itu ternyata mencintai sahabatnya, Hanna.


Cristian hanya mengangguk, kemudian menoleh pada Sherli yang langsung gelapagapan ketahuan sedang menatapnya.


“Apa yang Hanna katakan? Apa dia mengatakan sesuatu tentangku?” tanya Cristian.


“Mm tidak, dia tidak bicara apa-apa, dia hanya mengatakan dia sedang bersama temannya dan mereka akan kembali ke kota,” jawab Sherli. Ada raut kekecewanan diwajahnya Cristian.


“Malam itu dia masih tidak mengakui kalau dia Hanna. Kenapa dia melakukan itu padaku? Kenapa dia tega menyakitiku? Meskipun dia mengelak, aku tahu dia Hanna. Aku tidak bisa dibohongi,” kata Cristian, kembali menatap deburan ombak.


Sherli diam, dalam hatinya dia merasa khawatir. Bagaimana jika Cristian tahu kalau dia penyebab kaburnya Hanna di pernikahannya? Boro-boro Cristian akan mencintainya, yang ada Cristian akan membencinya. Dia juga tidak mengerti kenapa Hanna memutuskan meninggalkan Cristian? Sepertinya dia memang sahabat yang jahat, memisahkan mereka. Seharusnya malam itu dia diam, tidak usah mengungkapkan perasasan rasa cintanya pada Cristian kepada Hanna. Tapi dia benar-benar patah hati melihat Cristian dan Hanna akan menikah. Tidak ada lagi yang bisa dilakukannya selain meratapi kesedihannya malam itu.


“Apa yang akan kau lakukan sekarang?Kau akan memberitahu ayahnya?” tanya Sherli.


“Tidak, aku ingin Hanna sendiri yang memutuskan kembali kepada ke orangtuanya,” jawab Cristian.


“Apakah suaminya Hanna itu akan kembali kesini? Bukankan dia ada proyek real estate bersamamu?” tanya Sherli lagi.


“Iya, tentu saja Damian akan kembali kesini, mungkin beberapa hari lagi,” jawab Cristian.


“Apa yang akan kau lakukan? Kau akan bicara dengan suaminya soal Hanna?” tanya Sherli.


“Aku tidak tahu, aku hanya ingin bicara dengan Hanna. Aku butuh penjelasannya kenapa dia tega meninggalkanku? Dan malah menikah dengan pria yang tidak dikenalnya itu?” jawab Cristian.


“Apa mungkin Hanna berselingkuh darimu?” tebak Sherli, menduga-duga.


“Hanna bukan wanita seperti itu, dia tidak mungkin berselingkuh,” jawab Cristian.


“Katamu suami Hanna pengusaha kan?” tanya Sherli lagi. Cristian menoleh kearahnya.


“Kalau dia pengusaha besar, pasti suka ada di tabloid bisnis. Mungkin pernikahan mereka diberitakan, kiat lihat saja kapan dia menikah dengan pria itu,” usul Sherli.


Cristian terdiam, ucapan Sherli ada benarnya juga. Sepertinya dia harus mencari tabloid bisnis yang memberitakan pernikahan mereka. Jadi dia bisa tahu kapan mereka menikah. Kenapa secepat itu mereka menikah bahkan Hanna sedang hamil sekarang.


“Kau benar, aku akan cari tahu kapan Hanna menikah. Aku masih tidak mengerti kenapa dia bisa menikah dengan Damian, padahal kata Damian dia baru beberapa kali kesini untuk meninjau lokasi real esatenya, kenapa tiba-tiba menikah dengan Hanna? Kapan mereka bertemu?” kata Cristian, kepalanya terus berfikir, menebak-nebak kemungkinan yang sudah terjadi.


Sherli melihat kesedihan dari raut wajahnya Cristian, dia tahu kalau pria itu sangat mencintai Hanna.


“Ku dengar ibumu akan kembali dari Luarnegeri, kau akan pulang?” tanya Sherli.


“Aku belum tahu, ibuku juga pasti ingin bertemu dengan kakekku disini,mungkin nanti juga akan kesini,” jawab Cristian, kemudian terdiam.


Sejak kecil ibunya jarang sekali di rumah, dia selalu bepergian menemani ayahnya berbisnis ke luar kota atau keluar negeri,  jadi dia sering dititipkan di rumah kakek nenek dari ayahnya. Disinilah awal dia bertemu dengan Hanna, saat waktu kecil bermain di pantai ini membuat rumah rumahan dari pasir. Kemudian mereka sekolah bersama sampai kuliahpun bersama. Waktu yang sangat lama itu, setiap hari bisa bertemu dengan Hanna, dan sekarang tiba-tiba berpisah begitu saja, dia sangat kehilangan wanita itu.


Dia masih ingat waktu ayah dan ibunya menjemputnya untuk pulang, dia menolaknya, karena dia ingin selalu bersama Hanna kecilnya, akhirnya dia menetap dengan kakek neneknya sampai sekarang. Hanya sesekali pulang jika orangtuanya ada di rumah yang berbeda kota dengan tempat tinggal kakek neneknya.


“Hanna aku merindukanmu.  Kau tahu, kau yang menyebabkanku tinggal dipantai ini, tapi malah kau yang sekarang pergi jauh dariku,” batinnya. Tidak ada kata-kata lagi yang terucap dari bibirnya, hanya hatinya yang terus bicara kalau dia sedang merindukan Hanna.


*****************


Di kantornya Damian.


Bukan berjam jam lagi tapi seharian Hanna menunggu Damian di ruang kerjanya. Pria itu benar-benar tidak mengajaknya bicara, membuat Hanna semakin kesal saja. Diapun berdiri berjalan menuju jendela, melihat keluar gedung. Entah sudah berapa kali dia melakukan itu. Berjalan dari tempatnya duduk lalu kearah jendela, melihat gedung gedung diluar, kemudian kembali ke sofa, membaca majalah, kemudian menonton tv, kemudian berjalan jalan lagi ke jendela, terus duduk lagi di sofa, begitu terus menerus. Dan pria itu, pria yang seharian ini marah-marah tidak jelas, masih duduk berkutat dengan pekerjaanya tidak menghiraukannya, tidak juga mengajaknya bicara. Benar-benar mirip batu.


“Damian!” panggil Hanna,masih berdiri dekat jendela kaca besar itu, diluar sudah mulai gelap.


Damian tidak menjwab.


“Damian!” panggil Hanna lebih keras.


“Tidak usah berteriak, bicara saja,” jawab Damian masih dengan anda ketus.


“Aku berteriak kau protes. Kau sendiri berteriak seharian,” gumam Hanna.


Damian tidak bicara lagi.


“Aku bosan. Aku pulang saja ya,” kata Hanna.


“Tidak,” jawab Damian.


“Kenapa tidak?” tanya Hanna, lalu berjalan mendekati Damian yang sedang menulis di kertas yang ada di hadapannya.


Pria itu tidak menjawabnya.


“Damian!” panggilnya lagi. Pria itu masih tidak menoleh.


Hanna duduk di kursi yang ada di depan meja kerjanya Damian.


“Apakah ada kabar tentang ibumu?” tanya Hanna lagi,menatap Damian.


Kini pria itu menatapnya, lama tapi tidak bicara membuat Hanna salah tingkah.


“Kau ingin bertemu ibuku?” tanya Damian akhirnya bicara.


“Ibumu? Tidak,  aku ingin kau bisa bertemu ibumu,” jawab Hanna.


Damian masih menatap Hanna, dia tidak bisa mengalihkan pandangannya pada wanita yang duduk didepannya itu. Melihat Damian seperti itu membuat Hanna salah tingkah dan ingin bersembunyi dibawah meja kerjanya Damian. Tapi apa bisa begitu? Bukankah itu lebih memalukan? Aduh Damian, jangan menatapku seperti itu, batinnya.


Damian berfikir kalau dia berniat serius pada Hanna bukankah akan lebih bagus juga dia memperkenalkan Hanna pada ibunya? Tapi ibunya tidak tahu ada dimana sekarang.


“Damian, ada Bu Siska!” ucap Hanna berbohong, supaya Damian mengalihkan pandangannya dari menatapnya.


“Pintu ada di depanku, Hanna!” ucap Damian.


“Oh iya aku lupa,” kata Hanna, maksudnya mau berbohong tapi tentu saja jika Bu Siska datang, Damian duluan yang akan melihat kedatangannya Bu Siska, bukan dirinya. Lagipula kenapa pria itu menatapnya lama-lama, seperti mau memakannya saja.


Yang datang ternyata bukan Bu Siska, tapi office boy, yang tampak melintas membawa alat pel dan ember. Terdengar suara lap pel beradu dengan ember. Hanna menoleh ke arah pintu.


“Apa ini sudah waktunya pulang?” gumam Hanna, lalu berjalan menuju pintu dan menatap officeboy itu.


Dilihatnya meja Bu Siska juga kosong.


“Apa sudah jam pulang?” tanya Hanna pada OB itu.


“Iya Bu, sudah jam pulang kantor,” jawab OB itu. Hanna menoleh pada Damian yang kembali melanjutkan pekerjaannya.


“Damian, ini sudah sore, kenapa kita tidak pulang? Aku gerah, gatal-gatal,” ucap Hanna.


Damian menatapnya.


“Kita cari hotel saja,” jawab Damian.


“Hotel? Buat apa? Kenapa harus ke hotel? Kan ada rumahmu,” tanya Hanna tidak mengerti, diapun mendekati meja Damian.


Damian tidak menjawab.


“Masa ada rumah kita tidur di hotel? Itu pemborosan nemanya. Meskipun kau kaya, kau tidak bisa hidup dengan cara seperti itu, sangat tidak ekonomis,” kata Hanna.


Damian tidak menjawab, dia kembali bekerja.


“Aku lelah, aku mengantuk, aku ingin berbaring,” keluh Hanna, sambil beranjak berjalan dengan lesu menuju sofa. Dai tidak tahu kalau pria itu memperhatikannya.


“Ya sudah ayo kita pulang,” kata Damian. Membuat Hanna tersenyum berbalik menatapnya.


“Ayo!” serunya sambil membawa tasnya. Benar-benar hari yang membosankan!


Akhirnya mereka pulang ke rumah, saat mobil Damian berhenti di halaman, Hanna merasakan sesuatu yang aneh, tapi dia tidak tahu apa itu? Hanna menutup pintu mobil itu, begitu juga Damian. Saat memasuki rumah, dia masih merasa ada sesuatu yang beda, apa ya?


Damian terus saja berjalan memasuki teras rumah. Hanna mengikutinya dari belakang. Tapi kemudian langkahnya terhenti, dia tetap merasakan sesuatu yang aneh. Dan dia sangat penasaran apa itu? Diapun menoleh kearah taman, dia mengernyitkan keningnya. Buru-buru dia berlari ke taman, sedangkan Damian masuk ke dalam rumah.


Hanna berdiri menatap taman itu. Sudah tidak ada ayunan lagi disana, juga meja kursi ditaman itu hilang. Kemana ayunan dan kursi taman itu? Hannapun kembali masuk ke dalam rumah menyusul Damian dengan tergesa-gesa.


Pria itu sedang membuka sepatunya saat Hanna masuk ke kamar mereka.


“Damian, apa ada tukang rongsokan ke rumah?” tayanya. Damian tidak menjawab.


“Ayunan dan Kursi ditaman tiba-tiba menghilang. Tidak mungkin tukang rongsokan yang mengambilnya kan?” kata Hanna, berdiri dekat pria yang melepas sepatu satunya lagi.


“Aku menyuruh orang untuk membuangnya!” jawab Damian, kini melepas kaos kakinya.


“Apa? Membuangnya? Kenapa?” tanya Hanna, terkejut.


“Aku tidak suka saja seperti taman kanak kanak,” jawab Damian, sambil berbaring menjatuhkan tubuhnya ke tempat tdiur.


“Taman kanak-kanak? Ah tidak juga,” gumam Hanna, tidak mengerti kenapa Damian harus membuang ayunan di taman itu? Membuatnya tidak bisa main ayunan lagi.


“Daripada bengong begitu, kenapa kau tidak memijit kakiku saja. Seorang istri yang baik, jika suaminya pulang bekerja, harus mau memijit kakinya,” kata Damian.


Mendegar ucapan Damian, Hanna berfikir sejenak.


“Kau mau dipijit? Baiklah, aku sedang berbaik hati sekarang,” ucap Hanna, sambil naik ke tempat tidur lalu duduk menghadap kakinya damian. Ditatapnya kaki pria itu.


Damian mencoba memejamkan matanya tapi terganggu saat mendengar wanita itu tertawa tertahan.


“Ada apa?” tanya Damian, menatap Hanna, wanita itu hanya menggeleng. Membuat Damian curiga dan diapun bangun.


“Ada apa? Kenapa kau tertawa?” tanya Damian lagi. Tangan Hanna menunjuk jari kakinya Damian.


“Ada apa dengan jari kakiku?” tanya Damian. Hanna lagi-lagi menahan tawa, membuat Damian penasaran saja.


“Apa?” tanya Damian.


“Kata orang-orang kalau ingin melihat punya laki-laki lihatlah jempol kakinya. Dan aku melihat jempol kakimu, apa punyamu seperti…?” jawab Hanna tapi tidak berlanjut karena Damian sudah membungkam mulutnya dengan tangannya.


“Aku memintamu memijitku, bukan melihat jempol kakiku! Dan kau tidak perlu membanding bandingkannya dengan punyaku, kau mengerti?” kata Damian dengan kesal dan wajah yang memerah.


Hanna buru-buru mengangguk. Damianpun melepaskan tangannya dari mulut Hanna, eh wanita itu malah terkikik lagi.


“Tidak usah memijit!” bentak Damian, kembali berbaring menelungkup.


Hanna menatapnya sambil tersenyum, apa Damian sedang malu?


**************


Jangan lupa like vote dan komen


maaf ya kalau banyak banyak typo, ngantuk nulisnya.