Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-28 Hukuman buat Hanna



Hanna mengerjapkan matanya, memcoba membuka matanya perlahan. Dan dia langsung berteriak saat melihat wajah seseorang tepat didepan wajahnya.


“Aaaww!!!” jeritnya dengan kencang, Tubuhnya langsung bangun dan cepat-cepat turun dari tempat tidur tapi karena gaun pengantin yang masih dikenakannya sangat ribet, kakinya menginjak gaunnya dan diapun terjungkal jatuh ke bawah tempat tidur.


Si pemlik wajah itu hanya mengerutkan dahinya, duduk di tempat tidur dan menatapnya.


“Kau mengaggetkanku!” teriak Hanna, masih terduduk dilantai, bahkan gaunnya ada yang sebagian menutup mukanya.


“Apa kau tidak waras? Kau membuatku jantungan!” teriak Hanna. Tangannya menurunkan gaun yang menutupi mukanya dengan kesal.


Damian melongokkan wajahnya ke bawah tempat tidur, melihat kondisi wanita itu. Wanita itu duduk dilantai dengan mengenaskan. Dia sama sekali tidak ada niat untuk membantunya bangun.


“Apa yang kau lakukan tadi? Kau hampir saja membuatku mati karena terkejut!” teriak Hanna, wajahnya ditekuk karena kesal.


“Aku? Melakukan apa?” Tanya Damian, merasa tidak bersalah.


“Tadi, wajahmu itu. Kenapa wajahmu ada di depan wajahku?” tanya Hanna, dengan telapak tangan di hadapkan ke wajahnya.


“Tidak ada, aku tidak melakukan apa-apa,” ucap Damian menggeleng.


“Tidak bagaimana? Jelas-jelas kau ada di depan wajahku dekat sekali! Jangan-jangan kau mau menciumku!” tuding Hanna, mengerucutkan bibirnya, memicingkan matanya, menyelidik Damian.


“Sudak aku katakan, aku tidak akan menghambur-hamburkan uang 80 Milyar hanya untuk menciummu! Dengan uang sebanyak itu aku bisa membeli ratusan wanita cantik yang bisa aku apakan saja,” jawab Damian.


“Apa maksudmu bicara begitu? Maksudmu aku terlalu mahal buatmu? Cih!” Hanna mulai naik darah.


“Tentu saja, sayang sekali uang sebanyak itu hanya untuk menciummu. Tidak tidak, itu benar-benar pemborosan!” kata Damian, kembali menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Huu..Memangnya siapa yang mau kau cium? Justru aku merasa aneh, buat apa wajahmu ada didepanku, kalau tidak untuk menciumku!” bela Hanna. Masih duduk di lantai.


“Aku sedang memeriksa apa kau masih hidup atau sudah mati,” ucap Damian.


“Kau ini bicara sembarangan! Kau menyumpahi aku mati? Biar kau bisa mengambil lagi uangmu, begitu?” tanya Hanna, menatap Damian dengan tajam.


Damian membenarkan letak duduknya, bersila, masih di tempat tidur dan menatap wanita itu yang masih duduk dilantai.


“Bantu aku bangun!” pinta Hanna.


“Bangun saja sendiri. Bukan aku yang menjatuhkanmu!” kata Damian.


“Kau yang menyebabkan ku terjatuh! Kalau tidak gara-gara wajahmu itu mengagetkanku, aku tidak akan terjatuh seperti ini,” ucap Hanna.


Damian malah melipat kedua tangannya di dadanya. Sama sekali tidak tertarik untuk membantu Hanna.


Hanna terpaksa bangun sendiri, sambil mengusap usap pantatnya yang sakit. Dia terlihat kacau dan awut awutan dengan gaun pengantin itu, rambutnyapun acak-acakan.


“Kau harus diberi hukuman!” kata Damian. Membuat Hanna terkejut dan menatapnya.


“Hukuman? Memangnya aku berbuat salah apa?” tanya Hanna, tidak mengerti.


“Karena kau sudah berniat kabur dan meninggalkanku, meninggalkan kewajibanmu!” jawab Damian dengan serius.


“Kabur? Aku tidak kabur!” elak Hanna.


“Kau menghilang di resepsi kau bilang itu bukan kabur?” tanya Damian dengan kesal.


“Aku tidak bermaksud kabur. Aku ketiduran di ruangan kosong itu!” jawab Hanna. Kemudian dia teringat sesuatu.


“Tunggu, tunggu, aku ketiduran di ruangan itu, kenapa sekarang ada di kamar ini? Siapa yang memindahkanku? Menggendongku kemari?” tanya Hanna, menatap Damian.


“Tentu saja supir. Siapa lagi?” jawab Damian berbohong.


“Supir? Oh supir ya?” Hanna mengerucutkan bibirnya.


“Kenapa?” tanya Damian melihat reaksi Hanna begitu.


“Tidak apa-apa, aku fikir..kau yang menggendongku,” ucap Hanna sambil tersenyum malu, wajahnya langsung memerah.


“Tidak usah malu begitu! Kau fikir aku yang menggendongmu? Tidak! Aku tidak mau menggendong wanita yang tidur mendengkur!” elak Damian, dengan wajah yang serius, menatap wanita didepannya itu. Meskipun penampilannya sekarang acak-acakan, dia masih terlihat cantik dengan sisa sisa riasan pengantinnya. Bibirnya juga masih merah menggoda. Glek! Damian menelan air liurnya saat melihat bibir itu. Ada apa dengan bibir itu?


“Hemm, kau sebegitunya padaku!” keluh Hanna kembali cemberut.


“Jangan ke ge’eran! Aku tidak mnungkin menggendongmu 2 kali, tubuhmu kurus tapi sangat berat!” gerutu Damian.


Tiba-tiba Hanna berseru.


“Tuh kau kan yang menggendongku? Tau darimana tubuhku berat? Hem?” tanya Hanna, tersenyum menggoda.


“Dulu waktu di hotel itu, aku menggendongmu ke kamar. Kau sangat merepotkan!” lagi-lagi Damian mengeluh.


Hanna teriangat kejadian itu diapun tertawa.


“Kau jantan sekali menggendongku!” ucap Hanna. Membuat Damian memebelalakkan matanya.


“Apa maksud kata-katamu, jantan? Tidak ada kata yang lain apa,” ucap Damian.


“Memangnya ada apa dengan kata jantan?” Tanya Hanna, menatap lurus pria itu.


“Ah lupakan saja!” elak Damian, kini wajahnya yang memerah.


Hanna melihat pada gaunnya, lalu melirik ke jendela yang sudah siang.


“Kenapa bajuku tidak kau ganti? Aku tidur dengan baju pengantin ini pantas rasanya tidak nyaman,” kata Hanna, memegang gaunnya.


“Buat apa menggantinya?” tanya Damian.


“Dalam novel-novel kan begitu, pria biasanya menggantikan baju pengantin wanitanya,” jawab Hanna.


“Kau kebanyakan baca novel dan nonton sinetron! Tidak ada kerjaan apa mengganti bajumu!” kata Damian.


“Hemm kau memang suami yang tidak pengertian,” gerutu Hanna.


Damian turun dari tempat tidur, berdiri menatap Hanna.


“Jadi maksudmu aku harus seperti di film film begitu, membukakan baju pengantin wanitanya?” tanya Damian, melangkah maju.


“Biasanya sih dalam cerita-cerita begitu,” jawab Hanna, mengangguk.


Damian melangkah lagi lebih dekat.


“Kau mau apa?” tanya Hanna menatap Damian keheranan, karena pria itu menghampirinya semakin dekat.


“Aku akan membukakan baju pengantinmu,” jawab Damian.


“Tidak,tidak, aku bercanda tadi,” jawab Hanna, mudur selangkah, wajahnya langsung pucat.


“Tidak apa-apa. Aku akan jadi actor dalam film itu, yang membukakan baju pengantin wanitanya. Sini, mendekat!” kata Damian, memngulurkan kedua tangannya.


“Oh tidak, tidak! Kau tidak bisa melakukannya! Ini bukan film! Aku cuma bercanda!” teriak Hanna. Berjalan mundur lagi ternyata kakinya kepentok sofa tempatnya biasa tidur. Damian semakin dekat. Hanna melirik ke sofa itu. Terpaksa dia naik ke sofa itu, saat tangan Damian akan menariknya.


“Itu sofa mahal! Kenapa kau menginjaknya? Turun!” omel Damian.


“Tidak kalau kau tidak mejauh,” jawab Hanna. Damian menatap wanita yang berdiri di atas sofa itu sambil mengangkat baju pengantinnya yang panjang.


“Baiklah, Sekarang turun! Tadi kan aku bilang akan memberimu hukuman!” ucap Damian.


“Kau benar-benar akan menghukumku?” Tanya Hanna.


“Tentu saja,” jawab damian.


“Emangnya kesalahanku sebesar apa sampai aku harus dihukum? Aku kan tidak sengaja ketiduran digudang itu,” ucap Hanna.


“Kesalahanmu sangat besar! Kau membuatku mencarimu seharian! Kau fikir aku tidak akan kehilanganmu?” jawab Damian. Hanna terdiam, lalu berfikir, tiba-tiba dia senyum senyum.


“Apa? Kenapa? “ tanya Damian, dengan kesal, Hanna malah menagggapinya dengan main-main.


“Jangan katakan kalau kau mulai jatuh cinta padaku! Dalam perjanjian itu tidak boleh saling jatuh cinta atau kena finalti. 40 Milyar lagi, berikan padaku!” seru Hanna sambil mengulurkan tangannya pada Damian, dengan senyum kemenangannya.


Damian menatap wanita itu.


“Kau fikir aku jatuh cinta padamu? “ bentaknya.


“Terus apa artinya kau merasa kehilangan?” tanya Hanna.


“Tentu saja, karena aku belum sembuh dari mimpi burukku, menurutmu apa? Jangan berhayal aku jatuh cinta padamu. Tidak akan,” jawab Damian.


“Hemm jadi kau kehilanganku karena itu? Mimpi burukmu belum sembuh?” tanya Hanna.


“Tentu saja, menurutmu apa lagi? Kau memang selalu mengada ada, supaya aku kena finalti dan memberimu uang banyak,” ucap Damian.


“Jadi kau mau menghukumku apa?” tanya Hanna.


Damian tampak berfikir.


“Kenapa kau lama sekali berfikir?” tanya Hanna.


“Hukumannya kau harus bersamaku 24 jam,” jawab Damian.


“24 Jam?” tanya Hanna dengan kaget.


“Iya, 24 jam. Kau harus selalu ada disisiku, kau harus ikut kemanapun aku pergi, kau juga harus tidur disampingku, tidak di sofa itu lagi,” jawab Damian, menunjuk arah sofa yang diinjak Hanna.


Hanna mengerutkan dahinya.


“Aku keberatan!” Hanna protes, mengacungkan tangannya keatas..


“Kau tidak boleh menolak! Itu konsekuensinya kau membuat kacau resepsiku,” kata Damian dengan tegas.


“Aku tidak mau menemanimu mandi dan ke toilet,” jawab Hanna, membuat Damian terkejut.


“Kau ini, tentu saja aku tidak mau kau temani mandi dan ke toilet,” gerutu Damian.


“Kau yakin tidak mau kutemani mandi?” tanya Hanna, senyum menggoda.


“Tentu saja,” jawab Damian dengan mantap.


“Kenapa? Biasanya pria suka ditemani mandi seorang wanita,” canda Hanna.


“Aku tidak mau kau melihat tubuhku! Kau ini memang wanita yang mesum, fikiranmu suka berfikir yang macam-macam,” jawab Damian.


“Apaan, wanita mesum. Aku kan cuma bercanda,” ucap Hanna.


Diapun menurunkan baju pengantinnya, dia mencoba turun dari sofa. Karena baju yang ribet itu, lagi-lagi kakinya menyangkut di gaunnya dan membuatnya hampir terjatuh.


“E E E!” teriaknya, tidak bisa menjaga keseimbangan, tubuhnya miring ke depan ke arah Damian.


Damian yang berada didekatnya, spontan menahan tubuhnya supaya tidak terjatuh. Tubuh Hanna tidak jadi jatuh, tapi bagian lain yang terkena. Bibirnya menyapu pipi Damin dan membekaskan goresan lipstick panjang sampai ke telinganya. Membuat mereka terkejut


“Kau menciumku ya?” tuduh Damian.


“Kau mengambil kesempatan dalam kesempitan!” seru Damian lagi, sambil menyentuh pipinya. Wajahnya langsung memerah. Sebenarnya dia benar-benar terkejut, bibir merah itu menempel lembut dipipinya dengan tidak sengaja.


“Tidak, aku tidak sengaja!” teriak Hanna, kebingungan.


“Kau kena finalti!” ucap Damian.


“Aku tidak sengaja! Kau yang salah, bukan aku!" teriak Hanna.


“Kenapa jadi aku yang salah lagi?” tanya Damian, menatap Hanna, yang kini sudah turun dari sofa.


“Tentu saja, karena kau menangkapku,seharusnya kau membiarkanku jatuh saja, jadi bibirku tidak akan menempel dipipimu,” ucap Hanna, bela diri, dia tidak mau kehilangan uangnya hanya karena ciuman tidak disengaja.


“Kau bisa saja bela diri!” keluh Damian.


“Memang begitu! Udah ah aku mau mandi!” ucap Hanna, menganggkat gaun pengantinnya, sambil berjalan menuju kamar mandi.


Damian menatap wanita itu yang masuk ke kamar mandi. Kemudian dia berjalan menuju ruangan khusus pakaiannya. Saat melewati kaca rias, dia terkejut sekilas melihat sesuatu di pipinya. Diapun melangkah mundur dan menatap kaca rias, memiringkan pipinya dan dia semakin terkejut, melihat sebuah garis merah menggurat panjang dipipinya. Pasti bekas ciuman saat Hanna akan terjatuh tadi. Damian memegang noda lipstick itu. Diapun tersenyum.


“Bibrinya sangat lembut,” gumamnya. Tiba-tiba Kepala Hanna keluar dari pintu kamar mandi, dilihatnya Damian sedang memegang pipinya yang kena noda lisptik.


“Perias pengantin itu berbohong. Katanya lipstiknya waterproof, ternyata menempel dipipimu. Dia harus memberi potongan harga!” kata Hanna, lalu kembali masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya.


Damian kembali menatap kaca itu, masih menyentuh noda lisptik itu. Seandainya bukan bagian yang terlihat orang, bekas lipstick itu tidak akan dia hapus.


Tiba-tiba dia tersadar dan menggeleng gelengkan kepalanya. Hanya ciuman tidak sengaja itu, kenapa dia berfikir kemana-mana? Bukankah dia sudah terbiasa dengan ciuman ciuman lebih hot dari itu?


**************


Wkkwkw..author ketawa sendiri nulisnya…hehe..


Garing abaikan saja ya..nulis suka-suka author saja. Minimal lucu lucu buat sendiri aj.


Jangan lupa like dan komen, juga vote. BTW ga buka buka aplikasi di hp, dapat vote ga ya?


Baca juga “My Secretary” season 2 (Love Story in London)