Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-31 Lebih Baik Cerewet



Damian keluar ruangan diikuti Hanna. Bu Siska langsung menghampiri.


“Semua sudah siap,” ucap Bu Siska.


“Baik, terimakasih,” jawab Damian.


“Selamat berbulan madu,” ucap Bu Siska, menoleh pada Damian dan Hanna, sambil tersenyum ramah.


“Bulan madu?”batin Hanna, tidak mengerti. Siapa yang berbulan madu? Tapi Hanna membalas ucapan Bu Siska dengan senyuman saja.


 “Terimakasih,” ucap Damian.


“Kita akan kemana?” tanya Hanna, berjinjit, berbisik ke telinga Damian, tapi Damian tidak menjawab. Dia malah beracting, tangannya meraih pinggang Hanna.


“Ayo sayang,” ajaknya, pura-pura mesra. Dalam hati Hanna mengutuk.


“Hem, tadi saja kau marah-marah, membentak- bentak, sekarang sayang sayang,” ucapnya dalam hati.


“Iya Sayang,” itu yang keluar dari mulutnya, sambil tersenyum manis pada suami palsunya itu. Merekapun meninggalkan tempat kerjanya Damian.


“Sebenarnya kita akan kemana?” tanya Hanna pada Damian, saat sudah berada di mobil.


“Ke bandara,” jawab Damian.


“Ke bandara? Memangnya kita mau kemana?” Hanna terkejut mendengarnya.


“Ke Bali,” jawab Damian, pandangannya lurus ke depan.


“Ke Bali? Dadakan begini? Mau apa ke Bali?” tanya Hanna, keheranan.


“Tentu saja melihat rumah itu, memangnya mau apa? Tadi aku mengajakmu melihat rumah itu kan,” jawab Damian tapi dengan nada kesal.


Hanna membelalakkan matanya kaget.


“Jadi rumah mahal itu ada di Bali? Benar begitu?” tanya Hanna berseru dengan keras. Damian hanya mengangguk. Raut muka Hanna langsung berseri-seri.


“Waah rumahnya ada di pantai di Bali! Pasti indah! Aduh senangnya..” serunya, bibirnya tersenyum senang. Tangannya menepuk nepuk.


“Kau ini kenapa? Salah minum obat?Lebay,” gerutu Damian.


“Kau ini kenapa? Usil saja. Aku senang rumahnya ada di Bali, pasti tempatnya sangat indah. Pantas harganya mahal,” kata Hanna, menoleh pada Damian.


“Ada yang lebih mahal lagi dan lebih bagus, tapi yang ini model rumahnya seperti yang kau mau,” ucap Damian.


“Kau bicara begitu seperti rumah itu buatku saja hahha…tidak mungkin buatku kan? Meskipun bukan buatku, tidak apa-apa, aku sudah senang hanya melihatnya saja,” kata Hanna sambil tertawa. Damian tidak menanggapi.


“Eh ngomong-ngomong siapa kekasihmu itu? Kau pasti sangat mencintainya sampai-sampai kau membelikan rumah indah buatnya. Aku juga semoga saja ada pria kaya yang tampan yang mencintaiku dan membelikan rumah seperti yang kau beli itu, biar kita tetanggaan, bagaimana? Tidak apa-apa kan kita bertetangga?” kata Hanna. Membuat Damian ilfeel, apaan bertetangga?


“Apa mulutmu tidak bisa diam? Kau mengoceh saja dari tadi,” gerutu Damian.


“Kau ini, kenapa kau marah-marah terus padaku? Aku minta maaf soal kejadian Koran tadi,” keluh Hanna. Damian tidak menanggapi.


“Oh iya, apa kekasihmu tau kalau aku memelukmu setiap malam? Dan kita menikah? Kau bilang kan pada kekasihmu itu kalau kita hanya pura-pura menikah saja? Pasti kekasihmu itu akan bersedih kalau tau soal itu,” ucap Hanna.


Damian tidak menjawab.


“Kenapa kau tidak menjawab? Atau sebenarnya kau tidak punya kekasih? Jadi rumah itu buat siapa? Buatku? Ah kau membuatku merasa senang saja! Ternyata kau suami yang baik dan tidak pelit,” celoteh Hanna, kini tangannya mencubit pipi Damian.


“Kau bisa diam tidak?” gerutu Damian. Dia merasa geli pipinya dicubit seperti anak kecil.


“Ya ya aku akan diam,” ucap Hanna, kembali melihat kearah depan.


Akhirnya mereka diam tidak ada yang bicara lagi. Hanna mulai menguap.


“Jangan tidur!” larang Damian, melihat tangan Hanna menutupi mulutnya.


“Aku mengantuk,” jawab Hanna.


“Kau kan tidak memelukku semalam, kenapa masih mengantuk?” tanya Damian.


“Aku tidak tahu, sejak aku memelukmu kenapa aku selalu mengantuk ya?” gumam Hanna.


“Jangan beralasan, dari pertama bertemu, kau memang tukang tidur. Kau tidur di kursi setelah perutmu kenyang,” ucap Damian dengan ketus.


“Aku benar-benar mengantuk,” keluh Hanna.


“Jangan tidur! Aku tidak mau terus terusan menggendongmu! Kalau kau tidur, aku tinggalkan kau di mobil! “ seru Damian.


“Aku tau, kau tidak akan meninggalkanku,” ucap Hanna, kembali menguap.


“Ku bilang jangan tidur! Atau jangan-jangan kau sengaja tidur supaya aku terus terusan menggendongmu? Modus!” gerutu Damian.


Tapi tidak ada jawaban dari wanita disampingnya itu. Hanya dengkuran kecil jawabannya. Hanna benar-benar sudah tertidur.


“Kenapa dia selalu tidur? Putri tidur saja sepertinya tidak gini-gini amat,” gerutu Damian. Kembali mempercepat laju mobilnya.


Hanna merentangkan kedua tangannya ke atas, menguap dengan lebar, badannya terasa pegal, diapun mengerakkan badannya dan Buk! Dia jatuh dari kursi. Spontan diapun terbangun dan melihat ke sekeliling. Dia ada dipesawat! Ini adalah kedua kalinya dia bangun di pesawat.


Diapun menoleh ke kursi yang biasa Damian tempati, terlihat pria itu sedang duduk menyelonjorkan kakinya dan membaca Koran, seperti yang biasa dia lakukan. Sepertinya dia memang hobby membaca, setiap perjalanan selalu diisi dengan membaca.


“Kau memang tidak punya perasaan ya. Setiap aku jatuh kau tidak peduli,” kata Hanna. Yang diajak bicara sama sekali tidak menoleh. Merasa diabaikan, Hannapun mencibir.


Tapi kali ini Hanna sedang tidak ingin bertengkar dengan Damian. Dia sibuk dengan handphonenya mencari-cari rumah di tepi pantai yang murah-murah supaya uangnya tersisa cukup banyak.


Merasa tidak ada yang mengoceh, Damian melirik pada wanita yang duduk di sebrangnya itu. Dilihatnya Hanna sedang sibuk dengan handphonenya. Damian kembali membaca korannya. 10 menit kemudian masih hening. Damian menoleh lagi pada Hanna yang masih sibuk dengan handphonenya. Diapun mulai merasa gatal, tidak ada yang mengoceh diruangan ini terasa seperti di kuburan.


“Ssst,Ssst,” Damian memberi kode. Hanna malah memiringkan tubuhnya membelakangi Damian, masih focus dengan handphonenya, membuat Damian sebal.


“Ssst, Ssst,” Damian memberi kode lagi, tidak ada reaksi.


“Hei, sebenarnya kau itu sedang apa?” tanya Damian, akhirnya berbicara. Yang ditanya tidak menggubrisnya, asyik dengan handphonenya.


“Hanna! Kau mendengarku tidak?” teriak Damian.


Yang diteriaki masih saja tidak mau menoleh.


“Hei! Aku bicara padamu!” teriak Damian lagi.


Hanna masih saja cuek, membuat Damian sebal.


“Kau benar-benar ya! Aku teriak teriak tidak kau hiarukan. Awas kalau kau tidur lagi, aku tinggalkan kau di pesawat!” gerutu Damian. Masih tidak ada reaksi.


“Hei! Kau benar-benar membuatku kesal!” teriak Damian lagi. Ternyata Hanna masih cuek saja.


Akhirnya Damian bangun dari kursinya, berjalan menuju kursinya Hanna.


“Hei, kau benar-benar menjengkelkan ya? Aku berteriak padamu kau cuekkan! Kau fikir aku ini apa?” maki Damian. Ternyata Hanna masih tidak menoleh juga.


Damian pun melongokkan wajahnya ke dekat kepala Hanna yang sedang melihat handphonenya, Damian ingin tau apa yang dilihat Hanna sampai tidak menghiraukannya.


Karena kepala Damian tiba-tiba di dekatnya, membuat Hanna kaget dan diapun berteriak.


“Aaww!!” teriaknya dan tangannya langsung bergerak menepis benda yang ada di sampingnya dan Duk!! Sikutnya mengenai hidung mancung Damian.


Pria itu langsung kesakitan, membuat Hanna semakin terkejut dan menoleh kearah Damian yang terhuyung sambil memegang hidung yang yang tersikut tangan Hanna dengan keras.


“Kau kenapa? Maaf aku tidak sengaja! Kau mengagetkanku!” seru Hanna, saat tersadar Damian yang sudah dia sikut. Hannapun bangun menatap Damian yang meringis kesakitan.


Damian menatap Hanna yang melepaskan handsfree handphonenya dari kedua telinganya. Ternyata dia sedang mendengarkan lagu. Pantas dia tidak mendengar apa yang dikatakannya.


“Kau tidak apa-apa? Aku abilkan es batu, ada di kulkas kan?” ucap Hanna, sambil bergegas ke ruangan lain, mencari es batu yang kemudian dia masukan dalam sapu tangan lebar dan digulungnya.


“Mungkin ini bisa membantumu mengurangi rasa sakitnya! Kau duduklah!” ucap Hanna, setelah kembali.


Damian duduk di kursinya masih meringis menahan sakit.


“Yang mana yang sakit? Hidungmu?” tanya Hanna, sambil duduk di samping Damian, menempelkan lap berisi es batu itu.


“Apa kau terluka?” tanya Hanna lagi. Menempel nempelkan lap itu lagi di sekitar hidung Damian.


“Sebenarnya kau tadi mendekatiku mau apa? Kau kan bisa memanggilku!” ucap Hanna. Damian tidak menjawab, dia hanya menatap wanita itu yang menyentuh hidungnya dengan lap berisi es batu itu.


Dalam hati dia tersenyum, menatap wanita itu, lega rasanya mendengar wanita itu bicara lagi. Ternyata lebih baik mendengar dia cerewet daripada tidak bicara samasekali.


“Kau belum menjawab pertanyaanku, tadi kau mau apa?” tanya Hanna, menghentikan gerakannya, menatap Damian.


“Aku ingin tahu apa yang sedang kau lakukan dengan handphonemu?” jawab Damian, akhirnya bicara.


“Aku sedang melihat rumah di tepi pantai yang murah-murah, yang sesuai dengan uangku,” jawab Hanna. Damian terdiam mendengarnya.


“Aku kan tidak mempunyai suami kaya yang bisa aku mintai untuk membelikan rumah di tepi pantai yang mahal itu. Jadi kita tidak jadi bertetangga,” ucap Hanna sambil menggeleng gelengkan kepalanya.


“Tidak apa-apa kan kalau kita tidak bertetanggaan?” tanya Hanna. Membuat Damian mengerutkan dahinya.


“Aku tidak mau bertetangga denganmu,” ucap Damian. Sambil meraih lap ditangan Hanna dan ditempelkan ke hidungnya.


“Memangnya kenapa? Aku tetangga yang baik,” kata Hanna, menatap Damian.


“Ah tidak saja,” jawab Damian. Kenapa harus bertetangga segala, fikir Damian.


Terdengar suara pemberitahuan dari pramugari kalau pesawat akan mendarat.


“Ada pramugarinya? Tau begitu tadi aku menyuruhnya saja membawakan es batu,” ucap Hanna, membuat Damian menatap tajam ke arahnya.


“Kau itung-itungan sekali. Kau yang menyebabkan hidungku sakit begini!” keluh Damian.


“Itu kan tidak sengaja, salah sendiri mengagetkanku. Heran, kenapa wajahmu selalu ada didekatku tiba-tiba? Aneh!” ucap Hanna, sambil berdiri menuju kursinya. Damian tidak bicara lagi. Diapun mulai memasang sabuknya, karena pesawat akan mendarat.


*******************


Flat ya readers..authornya lagi tidak mood ah…


 


Jangan lupa like dan komen