Billionaire Bride

Billionaire Bride
Extra Part - 3. Repotnya kalau Damian cemburu ( part 1 )



Flashback 3 tahun yang lalu…


Mobil Damian melaju menyusuri jalan yang didekat pantai. Bukan pantai yang biasa Hanna lihat di kampung halamannya, tapi pantai di Bali. Setelah pernikahannya dengan Hanna, Damian tidak membawa Hanna berbulan madu ke Luar negeri seperti pada umumnya pengantin baru melakukan bulan madu, tapi Damian membawa Hanna ke rumahnya yang di tepi pantai di Bali.


Mobil itu kini memasuki garasi. Ada yang berbeda dengan rumah itu. Rumah itu terlihat semakin cantik dengan catnya yang berganti warna. Terlihat lebih manis.


“Kau mengganti cat rumah ini?” tanya Hanna, saat turun dari mobil.


“Hemm,” jawab Damian. Hanna melirik suaminya yang juga keluar dari mobilnya, pria itu dari sebelum menikah sampai sekarang sudah menikah ya gitu gitu saja bawaannya, bicara seperlunya saja.


Hanna berdiri menengadah menatap rumah itu , karena memang rumah itu berada di atas bukit. Tiba tiba Damian sudah berdiri menghalangi pandangannya.


“Kau tidak boleh lama-lama berdiri menatap rumah ini,” kata Damian, menatap Hanna.


“Kenapa?” tanya Hanna keheranan, pandangannya jadi beralih menatap Damian.


“Kau hanya  boleh menatapku saja,” jawab Damian, membuat Hanna tertawa.


“Caelah, kau suka merayu sekarang? Padahal dulu kau sama sekali tidak ada romantis-romantisnya,” kata Hanna dengan wajahnya yang beseri-seri, tapi reaksi Damian biasa saja.


“Memangnya kau pantas dirayu?” ucap Damian membuat Hanna sebal, sudah disanjung dijatuhkan.


“Tentu saja, kenapa tidak?” jawab Hanna berubah cemberut. Damian tidak tahu cara membuat hati wanita senang.


“Ayo kita masuk,” ajak Damian,  tangannya meraih pinggangnya Hanna, merekapun berjalan berdampingan menaiki tangga menuju rumah itu.


“Kau mengganti interiornya juga?” tanya Hanna ,sambil mengedarkan pandangannya saat mereka sudah berada didalam rumah.


“Tentu saja, bagus kan?”tanya Damian. Hanna mengangguk.


Dilihatnya pria itu menaiki tangga menuju ruangan diatas lalu menuju pintu kaca yang dibuka dengan menggesernya kesamping. Pintu itu terhubung dengan kolam renang. Pintu yang sama dengan yang ada di kamar rumah itu.


Begitu pintu dibuka, angin pantai terasa berhembus begitu sejuk. Damian berjalan menyusuri pinggiran kolam renang. Hanna mengikutinya dari belakang.


“Kau suka tinggal disini?” tanya Hanna.


“Aku merasa lebih cocok tinggal disini, daripada kita berbulan madu keluar negeri,” jawab Damian.


Tiba-tiba Hanna mendahuluinya dan mengahalangi langkah Damian membuat Damian menghentikan langkahnya, mereka saling pandang.


“Kenapa? Kau tidak suka tinggal disini?” tanya Damian.


“Kau seperti kekurangan uang saja, masa bulan madu kesini? Kita kan pernah tinggal disini,” keluh Hanna.


“Aku akan kekurangan uang kalau setiap bercinta aku harus mengeluarkan uang ratusan juta,” kata Damian, membuat Hanna tertawa.


Hanna melangkah lebih dekat, tubuhnya menempel dengan tubuh Damian, dia mendongak menatap wajahnya Damian.


“Damian, kalau pada istri itu tidak boleh pelit pelit, nanti rejekinya seret,” ucap Hanna dengan mimic serius.


Damian balas menatap wanita yang sekarang menjadi istrinya itu, menunduk sedikit membuat hidungnya bersentuhan dengan hidung minimalisnya Hanna.


“Kalau soal uang kau sangat pandai bicara,” kata Damian.


“Kalau istri itu kan Menteri keuangan dalam rumah tangga,” jawab Hanna sambil tersenyum.


“Sejak kapan istri jadi Menteri keuangan?” tanya Damian.


“Dari dulu juga begitu,” jawab Hanna, masih dengan senyumnya.


Melihat gerakan dibibir tipisnya Hanna membuat Damian ingin menciumnya. Tangannya langsung memeluk Hanna, diapun menundukkan wajahnya akan mencium istrinya, tapi gerakannya terhenti saat mendengar bel pintu.


Ting Nung! Ting Nung!


“Sayang, kita kan sudah menikah kenapa gangguan itu masih selalu datang? membuatku kesal saja,” keluh Damian.


Melihat wajah muramnya Damian, Hanna langsung berjinjit lalu mencium bibir suaminya itu.


“Aku sudah menciummu,” ucapnya sambil melepas ciumannya.


Ting Nung! Lagi-lagi bel pintu berbunyi.


“Kau sedang menunggu seseorang?” tanya Hanna pada Damian.


“Tidak,” jawab Damian, menggelengkan kepalanya.


“Terus siapa yang datang?” tanya Hanna.


“Coba aku lihat,” kata Damian, sambil melepas pelukannya, dia meninggalkan kolam itu masuk ke dalam rumah, Hanna mau tidak mau mengikutinya, dia penasaran siapa yang bertamu padahal mereka baru saja tiba.


Hanna menghentikan langkahnya diatas tangga saat melihat Damian membuka pintu.


Damian terkejut saat melihat siapa yang datang, Arya! Tepatnya I Made Arya! Mau apa pria itu kemari?


“Kau? Mau apa kau kemari?” tanya Damian dengan ketus, wajahnya langsung masam melihat kehadiran Arya.


“Aku membawa lukisan baru buat Hanna,” jawab Arya, memperlihatkan sebuah kotak besar yang terbungkus kertas warna coklat pada Damian.


“Hanna tidak butuh lukisan itu!” kata Damian masih dengan nada ketus.


“Arya! Apa kabarmu? Lama kita tidak bertemu!” seru Hanna, mencoba bersikap ramah pada tamunya.


“Baik, kabar baik, aku membawa lukisan baru untukmu! Lihatlah! Lukisan ini sangat bagus!” jawab Arya, menatap Hanna sambil tersenyum senang. Dia mengangkat benda yang ada ditangannya itu sambil melangkah melewati Damian.


Damian yang melihat Arya masuk merasa sebal bukan main.


“Eh aku tidak menyuruhmu masuk!” hardik Damian.


“Aku hanya ada perlu pada Hanna,” jawab Arya, membuat Damian semakin sebal saja, apa Arya tidak tahu kalau dia suaminya Hanna yang sah sekarang?


“Arya! Kau tambah tampan saja sekarang!” puji Hanna, saat sudah ada didepan Arya.


Melihat Hanna tersenyum pada Arya dan memujinya tampan membuat Damian merasa jengkel dangan tingkahnya Hanna, yang menurutnya kegenitan. Dia melirik tajam pada istrinya.


“Lihatlah lukisan ini! Ini sangat mirip dengan rumahmu kan?” seru Arya, sambil membuka bungkus lukisan itu.


Hanna memperhatikan lukisan itu, Damian berdiri tidak jauh dari mereka. Kedua tangannya dilipat didadanya, dia sedang menahan marah sekarang, dia tidak suka Hanna berakrab-akrab dengan pria apalagi pria itu adalah Arya, pria tampan yang terlihat borjuis, dia merasa disaingin oleh Arya.


Hanna menerima lukisan dari Arya dan menatap lukisan itu.


“Kau benar, ini sangat mirip rumah ini!” seru Hanna, lalu menoleh pada Damian.


“Damian, lihat ini! Lukisannya sangat mirip dengan posisi rumah ini kan?” tanya Hanna, memperlihatkan lukisan itu pada Damian.


Damian melihat lukisan itu, memang benar lukisan itu sangat mirip dengan posisi rumah mereka. Tapi karena dia tidak suka dengan Arya, Damian masih memasang wajah masamnya.


“Tidak juga, banyak rumah-rumah seperti itu, pasaran!” jawab Damian dengan ketus.


“Benarkah? Tapi menurutku sangat mirip,” ucap Hanna, kembali menatap lukisan itu sambil mengerutkan dahinya, dia tidak merasa kalau yang diajak bicara sedang cemburu.


“Kau memang tidak punya selera seni,” keluh Hanna pada Damian, lalu menoleh pada Arya.


“Ini yang melukisnya pelukis pavoritemu itu kan?” tanya Hanna.


“Iya, kalau kau mau aku bisa mengajakmu berkenalan dengannya, kau bisa memintanya melukismu, bagaimana?” tawar Arya.


Hanna akan menjawab tapi dipotong oleh Damian.


“Tidak ada melukis-melukis! Lukisan ini jelek, kalau Hanna di lukis hasilnya akan lebih jelek,” ucap Damian, berjalan mendekat dan berdiri didepan Hanna, menghalangi pandangannya Arya.


“Tidak, dia pelukis profesional,” seru Arya.


“Tidak, lukisannya jelek, kau saja yang seleranya rendahan,” ucap Damian.


“Damian, kau ini bicara apa? Tidak boleh mencemooh karya orang begitu,” kata Hanna, sembil memegang tangan Damian.


“Kau sudah memberikan lukisan itu, pergi sana!” usir Damian pada Arya.


“Damian bolehkah aku dilukis?” tanya Hanna, masih dibelakang punggungnya Damian. Pria itu langsung membalikkan badannya.


“Sudah aku bilang, lukisannya jelek, kau akan tambah jelek kalau dilukis,” kata Damian, membuat Hanna cemberut.


“Apa maksudmu aku jelek, jadi tidak pantas dilukis?” tanya Hanna. Damian tidak menjawab.


“Heh, ayo pergi dari rumahku, sudah aku bilang jangan kesini-sini lagi!” usir Damian dengan ketus.


“Iya, aku juga cuma sebentar,” ucap Arya.


Damian menoleh pada Hanna.


“Suruh temanmu pergi!” kata Damian, lalu beranjak meninggalkan ruangan itu. Arya menatap kepergiannya dengan kebingungan.


“Saudaramu itu sangat aneh. Sepertinya dia benar-benar tidak menyukaiku,” ucap Arya sambil menoleh pada Hanna yang kini menatapnya.


“Arya, dia bukan saudaraku, dia suamiku,” jawab Hanna membuat Arya terkejut dan menatap Hanna.


“Apa? Suamimu? Bukankah katamu dia saudaramu?” tanya Arya, kebingungan.


“Dia suamiku, kami sudah menikah,”jawab Hanna.


Arya mematung mendengarnya, jelas-jelas dulu Hanna bersikeras mengatakan bukan istrinya, benar-benar membingungkan! Ternyata dia telah melakukan kesalahan dia tidak tahu kalau pria itu benar-benar suaminya Hanna.


Hanna bisa melihat sorot mata kecewa dimatanya Arya, tapi dia tidak mau memperpanjang pembicaraan ini.


“Baiklah, aku pulang sekarang. Aku minta maaf pada suamimu,” kata Arya.


“Iya, terimakasih lukisannya. Berapa aku harus membayarnya?” tanya Hanna.


“Tidak perlu, itu hadiah pernikahanmu,” jawab Arya, tanpa bicara banyak lalgi, dia beranjak keluar dari ruangan itu. Hanna mengantarnya sampai Arya masuk mobilnya, dan melambaikan tangannya saat mobil itu melaju.


Damian duduk di sebuah kursi  di balkon rumahnya dilantai atas, dia bisa melihat Hanna mengantar Arya ke mobilnya dari sana, hatinya semakin dibakar cemburu.


Merasa ada yang memperhatikan, Hanna menengadah melihat kearah Balkon. Melihat Hanna menoleh kearahnya, Damian kembali membaca korannya, menghalangi wajahnya dengan Koran itu.


Hanna terdiam melihat sikapnya Damian itu, dia baru sadar, sepertinya sedang ada yang cemburu.


*************