Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-39 Penculikan yang salah sasaran



Damian menoleh pada cristian, dan tersenyum ramah.


“Aku minta maaf, sepertinya istriku sedang keluar. Kau jangan khwatir nanti aku perkenalkan pada istriku,” ucap Damian.


“Iya tidak apa-apa. Aku melihat foto-fotonya sangat mirip dengan seseorang, tapi istrimu lebih cantik,” kata Cristian.


“Benarkah? Terimakasih,” jawab Damian, dia merasa senang ada yang memuji istrinya cantik. Tapi kemana istrinya itu? Menghilang begitu saja.


“Mari pak, kita langsung ke ruang meeting Anyelir,” ajak pak Indra, yang diangguki Damian juga rekan-rekan bisnisnya itu.


“Pak Indra, coba suruh orang mencari istriku, kemana dia tiba-tiba menghilang,” bisik Damian.


“Baik,”jawab pak Indra. Mereka pun berjalan beriringan menuju ruang Anyelir.


Hanna berada pinggir jalan raya di depan hotel mewah itu. Dia bingung apa yang harus dilakukannya? Bagaimana cara dia pergi dari sini. Diambilnya handphonenya, lalu dimatikan.


 “Pasti dia akan terus menelponku! Apa yang harus aku lakukan jika bertemu Cristian? Aku tidak mau pulang, orangtuaku pasti memaksa menikah lagi dengan Cristian, dan aku pasti akan di kerangkeng,Huh,” gumamnya, sambil berjalan sendiri menyusuri trotoar di depan hotel itu.


Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di sampingnya. Hannapun menghentikan langkahnya dan menoleh kearah mobil itu, tapi belum juga dia bisa melihat siapa, dua orang keluar dari dua sisi pintu mobil itu. Hanna yang terkejut tidak bisa berkutik saat salah seorang menyekap mulutnya dari belakang, diapun terkulai lemas tidak sadarkan diri. Kedua orang itu langsung membawanya masuk ke dalam mobil, kemudian mobil itu melaju dengan cepat meninggalkan tempat itu.


Di dalam ruang meeting, tampak Damian duduk dekat Cristian, karena kebetulan yang berusia muda hanya beberapa orang saja, itu juga karena mewakil ayahnya yang tidak bisa hadir, salah satunya seperti Cristian.


“Apa kau tinggal di Bali?” tanya Cristian.


“Tidak, kebetulan aku ada pekerjaan disini saja. Kalau kau masih lama disini, kau boleh mampir ke rumahku,” jawab Damian, ramah.


Pak Indra datang menghampiri Damian.


“Maaf Pak, kami tidak menemukan Nyonya,” bisik Pak Indra.


Damian menatap wajah pak Indra.


“Kau sudah mencari ke seluruh bagian hotel?” tanyanya.


“Sudah,” jawab Pak Indra.


“Gudang gudang, toilet, sudah kau periksa? Mungkin dia ketiduran,” tanya Damian lagi. Yang dia fikirkan Hanna akan ketiduran lagi seperti di acara resepsi.


“Sudah, tapi Nyonya tidak ada,” jawab pak Indra, masih berbisik ke telinga Damian.


Damian mengerutkan keningnya, kira-kira dia kemana? Diapun beranjak dari duduknya, keluar dari ruangan itu diikuti pak Indra lalu melakukan panggilan ke handphonenya ternyata hanya nada tutut tutut saja.


“Kemana dia? Handphone juga dimatikan,” gumamnya.


Pak Indra menatapnya.


“Coba kau cari salon salon terdekat, mungkin dia ke salon, atau ke tempat wisata!” perintahnya pada pak Indra, yang langsung mengangguk.


“Kenapa dia pergi-pergi dengan handphone dimatikan?” gerutunya.


“Maaf pak, rapatnya kita mulai lagi,” kata pria yang menyambut Damian saat tiba di hotel tadi, muncul di pintu ruangan yang bertuliskan Anyelir.


“Ya ya,” jawab Damian. Diapun kembali ke dalam ruangan. Pak Indra tampak melakukan pangilan telepon pada seseorang untuk mencari Hanna.


*************


Hanna merasakan kepalanya sangat pusing, dicobanya membukakan matanya. Pandangannya terlihat samar-samar, dilihatnya ke sekeliling, lalu menggosok gosokkan matanya berkali-kali. Lambat laun pandangannya semakin jelas, dan dia seketika merasa terkejut, melihat ada dimana dia sekarang. Di sebuah gudang  tua yang banyak sekali kayu kayu bekas. Sepertinya gudang bekas bahan-bahan bangunan.


Diapun melihat kearah jendela yang di halangi oleh kayu yang dipaku melintang. Dilihatnya keluar sepertinya sebuah kebun atau hutan, karena banyak pohon-pohon tinggi disekelilingnya.


“Ada dimana ini? Kenapa aku bisa ada disini?” gumamnya. Apakah dia diculik? Fikirnya. Tapi siapa yang menculiknya? Dan buat apa?


Hanna kemudian mendekat kearah pintu, menempelkan telinganya ke pintu itu, tidak terdengar apa-apa. Tiba-tiba dari arah pintu terdengar suara langkah kaki mendekati pintu. Hanna cepat-cepat kembali ke tempatnya tadi, berbaring di lantai dan pura-pura masih pingsan.


Terdengar suara pintu itu dibuka. Hati Hanna semakin berdegup kencang tidak karuan, dia takut orang-orang jahat itu akan melukainya. Dia harus minta pertolongan pada siapa? Handphonenya juga tidak ada. Hatinya langsung teringat pada Damian. Pria itu pasti sedang mencarinya, dan orang-orang ini pasti menculiknya untuk mendapatkan uang dari Damian.


“Dia belum sadar?” tanya suara salah satu laki-laki itu.


“Belum,” jawab satunya lagi, Hanna merasakan pria itu mendekatinya, jantungnya berdebar semakin kencang, dia mulai ketakutan. Ingin sekali dia membuka matanya melihat wajah penculik itu tapi dia takut, bagaimana kalau wajah penculik itu menyeramkan? Ah lebih baik dia pura-pura pingsan saja.


Terdengar suara handphone orang itu berbunyi.


“Ya. Misi berhasil!” kata yang mengangkat telpon. Hanna mendengar dua pria itu keluar dari ruangan itu. Terdengar pintu itu di tutup dan dikunci dari luar.


Dia menarik nafas lega, setidaknya, dia selamat sampai detik ini, karena pria-pria itu tidak menyakitinya.


Hanna segera bangun, berjalan perlahan mendekat ke pintu, kembali menempelkan telinganya ke pintu itu. Terdengar suara langkah mereka menjauh. Tapi samar-samar, dia masih mendengar percakapan pria itu dengan si penelpon karena penculik itu berbicara dengan keras karena kaget.


“Apa? Apa maksudmu? Jadi wanita itu tidak jadi menginap di hotel itu?” tanya suara penculik itu. Hanna semakin menempelkan telinganya ke pintu, menajamkan pendengarannya.


“Tidak? Apa maksudmu tidak? Kami berhasil menculik wanita berbaju merah itu!” terdengar lagi suara penculik itu.


“Apa? Apa maksudmu? Wanita itu sedang makan di restoran?” terdengar suara penculik itu terkejut.


“Jadi siapa wanita yang kita culik itu?” tanya temannya.


“Aku juga tidak tahu, ternyata wanita yang akan kita culik itu sedang makan di restoran,” jawab si penelpon tadi.


“Jadi kita salah sasaran?” tanya temannya.


Mendengar obrolan mereka membuat Hanna merasa lega, ternyata penculik itu salah menculiknya. Dasar penculik bodoh, umpatnya. Tapi kemudian dia tersadar, bagaimana dia bisa keluar dari gudang ini? Siapa yang akan menemukannya disini? Masih mending diculik, penculik itu akan menelpon Damian dan meminta tebusan uang, dan dia akan selamat kembali ke rumah Damian. Kalau sekarang? Penculik itu pergi, siapa yang akan menebusnya? Hannapun menjadi gelisah dan was-was. Bisa –bisa dia akan terus berada digudang itu berhari-hari. Dan malam nanti, pasti akan banyak tikus yang menemaninya tidur di gudang ini. Diapun  bergidik. Apalagi dengan gudang yang tidak ada lampunya, dia akan kegelapan semalaman.


Diapun berusaha mendobrak-dobrak pintu. Tapi tidak berhasil. Lalu berlari kearah jendela, barangkali ada orang yang lewat di hutan itu.


“Tolong! Tolong!” teriaknya. Tapi sama sekali tidak ada orang  yang lewat.


Hannapun kembali mencoba mendobrak pintu sekuat tenaga, tapi tenaganya tidak kuat untuk mendobrak pintu yang keras itu.


“Haduh bagaimana ini?” gumamnya, keringat dingin mulai membasahi wajahnya.


Diapun kembali berteriak teriak  minta tolong dengan keras, sampai suaranya menjadi serak. Tapi sama sekali tidak ada yang mendengar, diapun menjadi putus asa, membayangkan Damian muncul menyelamatkannya. Tapi Damian tau dari mana dia diculik kalau penculik itu tidak menghubunginya?


***********


Hari sudah sore… Rapat sudah selesai, Damian keluar dari ruangan itu sambil bersalaman dengan rekan-rekannya.


“Jangan lupa kalau kau masih di Bali, mampir ke rumahku,” ajak Damian pada Cristian dan juga yang lainnya.


“Baiklah, nanti kita janjian lagi untuk berkunjung,” jawab Cristian.


“Ya aku akan senang sekali. Kita bisa adakan pesta barbeqyu di belakang rumah. Kebetulan rumahku dekat pantai,” kata Damian.


“Ya itu ide bagus,” kata yang lainnya.


“Sampai jumpa,” kata Damian.


“Sampai jumpa lagi,” ucap mereka sebelum akhirnya mereka meninggalkan hotel itu.


Damian menoleh pada pak Indra.


“Kau sudah menemukan istriku?” tanya Damian.


“Belum pak, kami sudah mencari ke salon-salon terdekat. Kalau untuk ke tempat wisata, kita kesulitan, Karena banyak sekali lokasinya dan penuh dengan pengunjung,” jawab pak Indra.


Damian kembali melakukan panggilan telponnya, masih tetap tidak aktif.


“Ya sudah, aku akan pulang. Kau tetap mencarinya,” kata Damian, sambil menutup handphonenya, lalu meninggalkan pak Indra yang menjawabnya dengan anggukan.


Hari sudah gelap, Damian berdiri dipinggir kolam renang itu, menatap pantai yang berombak agak besar amalam ini, udara juga terasa sangat kencang. Ternyata tidak ada wanita itu berjam-jam rumah ini terasa sepi. Disimpannya minuman di tangannya itu ke atas meja. Diraihnya telponnya, menelpon pak Indra. Jawabannya masih sama, Hanna belum ditemukan.


“Wanita itu kemana? Seluruh bagian hotel sudah di obrak-abrik tapi dia tidak ada, dia ketiduran dimana lagi? Tidak mungkin dia diculik, tidak ada penculik yang mengubungiku,” gerutunya, sambil menyimpan kembali handphonenya.


Sejam kemudian…sudah satu jam dia duduk di pinggir kolam ini. Masih tidak ada tanda-tanda wanita itu pulang. Damian kembali menelponnya masih tidak aktif.


Kemudian dia kembali menelpon pak Indra.


“Coba kamu cek mungkin dia menggunakan atmnya untuk menarik uang atau berbelanja,” perintahnya, handphone kembali ditutup.


Kemudian Damian bangun, berjalan beberapa langkah menuruni bukit yang lebih dekat ke pantai. Angin bertiup semakin kencang. Diapun kembali ke kolam renang. Saat tiba di tempatnya tadi dia kaget melihat  wanita yang dicarinya itu sedang tidur disalah satu kursi untuk berjemur tanpa selimut, dibiarkannya angin dingin menerpa tubuhnya.


“Hanna!” panggilnya, dengan senyum mengembang di bibirnya.


“Ternyata kau tidur disitu? Kenapa tadi aku tidak melihatnya? Kau membuatku jantungan saja, ku fikir kau kabur!” seru Damian. Hatinya menjadi lega karena ternyata wanita itu sedang tidur di kursi berjemur itu.


“Seharian ini aku mencarimu! Ku fikir kau tidak akan kembali pulang,” ucapnya, kembali mengalihkan pandangannya kearah pantai.


“Seharusnya kau menggunakan selimut kalau tidur diluar. Karena aku tidak mau menggendongmu terus, ku biarkan kau tidur disitu sampai pagi,” ucapnya.


 “Kau dengar kan?Apa yang aku katakan? Kenapa kau tidak menjawab? Kau tidur memang seperti orang mati,”  gerutunya, sambil kembali menoleh kearah Hanna yang sedang tidur di kursi. Seketika dia terkejut, karena kursi itu kosong, tidak ada wanita yang tidur disana.


“Hanna! Hanna!” panggilnya, sambil mendekati kursi itu.


Diedarkannya padangan ke sekelilingnya sepi.


“Hanna!”teriaknya semakin kencang. Tadi dia melihat Hanna tidur di kursi itu atau hanya halusinasinya saja? Apa dia sudah tidak waras? Berbicara dengan orang yang tidak ada? Coba barangkali Hanna sudah masuk lagi ke rumah.


Damian berlari menyusuri kolam, mencari Hanna kedalam rumah.


“Hanna! Hanna!” panggilnya, matanya melihat ke semua sudut kamar, kosong. Dibukanya kamar mandi juga  tidak ada. Kemudian dia menuruni tangga ke ruang tengah sambil memanggil manggil Hanna, tadi dengan jelas dia melihat Hanna tidur dikursi itu.


“Hanna! Hanna!” panggilnya semakin kencang, tidak ada diruang tamu juga, diapun ke dapur, ke ruang makan,sepi.


Akhirnya Damian keluar rumah barangkali Hanna ada di teras, tapi tidak ada. Dia berjalan memutar menaiki tangga samping rumah, berputar menuju kolam renang yang disebelah kamarnya, diapun kembali sampai ke kursi di kolam renang itu. Tidak ada Hanna disana. Apa dia sudah gila? Berhalusinasi Hanna tidur di kursi itu?


*****************


Readers, Damian kehilangann Hanna, author jadi terharu…


Jangan lupa like dan komen


Maaf ya waktu upnya tidak teratur…


Yang belum baca “My Secretary” season 2(Love Story in London) yuk mulai baca yuk.  Tidak usah dibandingkan ya, karena genrenya juga memang berbeda.