Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-119 Selangkah lagi menuju putraku



Setelah kepergian tamu-tamu itu, Bu Astrid pergi kekamarnya Hanna. Putrinya itu sedang tiduran menelungkup sambil memeluk bantal, dia tidak bisa keluar dari kamarnya karena ayahnya melarangnya.


Hanna bangun dari tidurnya lalu duduk diatas tempat tidur, menatap wajah ibunya yang tampak memerah.


“Bu!” panggil Hanna.


Bu Astrid duduk disamping tempat tidur, tangannya mengulur kearah Hanna, putrinya langsung beringsut duduk lebih dekat.


“Damian sudah pulang?” tanya Hanna.


Bu Astrid mengangguk. Tangannya membelai rambut putrinya dengan lembut.


“Apa yang dikatakan Damian?” tanya Hanna.


“Dia melamarmu sayang,” jawab Bu Astrid. Hanna langsung tersenyum lebar.


“Dia melamarku?” tanya Hanna lagi dengan hati yang bahagia, dia mengira ayahnya menerimanya.


“Aku yakin Damian pria yang bertanggung jawab, dia tidak akan ingkar janji, dia benar-benar melamarku pada ayah,” serunya.


“Tapi ayahmu menolaknya,” kata Bu Astrid, sontak membuat hati Hanna hancur.


“Ayah, ayah menolaknya?” tanya Hanna, menatap ibunya, matanya mulai memerah.


“Iya sayang, ayahmu menolaknya, karena kau sudah akan menikah lagi dengan Cristian, tidak mungkin dibatalkan,” jawab Bu Astrid.


Mendengarnya, wajah Hanna semakin memerah, matanya mulai berkaca-kaca lagi. Diapun menunduk, butiran airmata jatuh keatas bantal berkain putih yang ada dipangkuannya.


Satu tetes, dua tetes, tiga tetes, akhirnya diapun menangis. Tidak bisa terbayangkan betapa hancurnya hatinya, dia akan kehilangan Damian selama-lamanya.


“Aku mencintai Damian, Bu,” ucapnya dengan agak serak disela tangsinya.


“Damian pria yang baik Bu, dia benar-benar mencintaiku,” kata Hanna, kini menatap wajah ibunya.


“Soalnya pernikahanmu dengan Cristian sudah ditetapkan,” ucap ibunya.


Hanna tidak menjawab.


“Kau akan menikah dengan Cristian, kami tidak mungkin membatalkannya, bagaimana perasaan keluarga Cristian, mereka akan terluka untuk kedua kalinya,” kata Bu Astrid.


Hanna pun tidak bisa berkata-kata lagi, dia langsung memeluk ibunya yang balas memeluknya. Bu Astrid merasa sedih putrinya menangis dipelukannya. Bagaimana mungkin dia harus mengatakan kalau dia mencurigai Damian adalah putranya Bu Sony, yang tidak lain adalah kakaknya Cristian?


Dalam benaknya Bu Astrid, dia harus menemui ibunya Cristian dia ingin menyampaikan kalau ibunya Damian itu bernama Yulia, meskipun banyak yang nama itu tapi tidak semua nama yang sama itu memiliki kisah yang sama juga.


*************


Pagi itu setelah Pak Louis meninggalkan rumahnya berangkat bekerja, Bu Astridpun keluar rumah menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju restaurant miliknya juga tempat janjiannya dengan Bu Sony.


Setelah memberikan breefing pada karyawannya, Bu Astrid kembali ke ruang kerjanya, saat terdengar suara ketukan dipintu. Seorang karyawan masuk keruangannya.


“Bu, tamunya sudah datang, menungu di aula Melati,” kata karyawannya itu, berdiri dipintu yang sudah terbuka.


“Baiklah, aku akan menemuinya, terimakasih,” jawab Bu Astrid. Diapun bergegas membereskan berkas dimejanya lalu keluar dari ruangan itu menuju aula Melati. Salah satu bagian tempat makan outdoor yang cukup luas, dengan dikelilingi kolam kolam kecil berisi ikan ikan berwarna kuning.


Dilihatnya Bu Sony sudah berada di aula Melati itu, berdiri dekat pagar pembatas aula sambil melihat ikan-ikan di kolam.


“Selamat Pagi, Bu Sony,” sapa Bu Astrid, yang disapa segera menoleh.


“Pagi Bu Astrid,” jawab Bu Sony, lalu menghampiri dan mereka saling berpelukan.


“Telponmu membuatku kaget jadi aku buru-buru kesini menemuimu,” kata Bu Sony, ibunya Cristian.


“Ayo duduklah,” ajak Bu Astrid, bersamaan dengan seorang pelayan yang membawakan minum buat Bu Sony.


 “Ada yang ingin kau sampaikan?” tanya Bu Sony. Setelah duduk, menatap wajahnya Bu Astrid, dia terlihat sangat penasaran.


“Iya,” jawab Bu Astrid.


“Tentang pernikahan anak-anak kita, apakah ada masalah?” tanya Bu Sony.


“Bukan, bukan itu,” Bu Astrid menggeleng.


“Soal apa?” tanya Bu Sony, menatapnya.


“Apa putramu bernama Damian?” tanya Bu Astrid, dengan hati-hati dan pelan mengatakannya.


“Damian? Bagaimana kau bisa tahu nama putraku Damian? Kau mengenalnya?” tanya Bu Sony, tangannya langsung meraih tangan Bu Astrid, menggenggamnya dengan erat.


“Katakan, katakan, kau melihat putraku? Dimana?” tanya Bu Sony. Jantungnya langsung saja berdebar tidak karuan, rasa gelisah, cemas, sedih, menyesak didadanya, dia sangat rindu pada putranya itu.


“Sebenarnya aku belum yakin,apa itu putramu atau bukan. Dia punya ibu tiri bernama Sofia,” kata Bu Astrid.


“Sofia?” Bu Sony tampak terdiam.


“Kau tidak mengenal Ny.Sofia?” tanya Bu Astrid.


“Aku punya teman bernama sofia, tapi aku tidak tahu kalau dia ibu tiri Damian,” jawab Bu Sony.


“Makanya aku juga tidak tahu apa ini putramu atau bukan. Karena Damian ini juga tidak pernah bertemu ibunya lagi sejak kecil, nama ibunya Yulia, kalau tidak salah itu maaf itu namamu kan?” tanya Bu Astrid.


Bu Sony tidak menjawab, matanya hanya berubah memerah, dia terlihat sangat gugup.


“Dimana aku bisa bertemu pria yang bernama Damian itu? Kau bisa mengantarku?” tanya Bu Sony, menatap wajah Bu Astrid penuh harap.


“Semoga dia putraku, ayo antar aku kesana,” ajak Bu Sony, tidak sabar.


Bu Astrid bisa merasakan tangannya yang begitu dingin memegangnya.


“Baiklah, ayo kita kesana,” ajak Bu Astrid. Bu Sony langsung buru-buru berdiri saja, dia tidak sabar ingin menemui pria yang bernama Damian itu, apakah benar Damian itu putranya?


Bu Astridpun segera bangun, dia kembali ke kantornya dulu untuk mengambil tasnya, lalu mereka menuju halaman parkir akan segera ke kantornya Damian.


Sepanjang jalan, Bu Sony menahan sesak di dadanya, airmatanya tidak bisa tertahankan lagi menetes dipipinya, meskipun dia belum tahu apakah Damian itu putranya atau bukan, dia berharap itu adalah putranya.


Hati kecilnya mengatakan dia adalah putranya. Karena dia ingat saat di pasar tumpah itu menemukan dompet yang ada foto dirinya waktu muda, kemungkinan pemilik dompet itu Damian, putranya. Jadi pemilik dompet ini tinggal di pantai ini, dan sekarang dia akan menemuinya. Semoga saja, semoga saja benar itu Damian putranya.


Di rumahnya Damian, Ny. Sofia sedang berdiri di teras rumah di dekat tangga bersama Satria, menatap halaman parkiran yang terlihat ramai dengan karyawan yang berdatangan dan juga tamu-tamu.


“Jadi ibu akan pulang hari ini?” tanya Satria.


“Benar, tapi ibu ingin berjalan-jalan ke pantai yang kemarin kita lewati itu,” jawab Ny.Sofia.


“Kenapa pantai? Ada apa?” tanya Satria.


“Tidak apa-apa, hanya ingin berjalan-jalan saja,” jawab Ny.Sofia.


“Baiklah Bu, sekarang aku akan menggunakan mobil kantor dengan kak Damian, ibu bisa pakai mobilnya kakak,” kata Satria.


“Kau akan pergi?” tanya Ny.Sofia.


“Iya, kami akan meninjau lokasi bersama kakak juga tamu-tamu yang lain. Para pemilik tanah sudah mulai menjual tanahnya lagi pada kakak, hanya saja aku tidak tahu apakah proyek ini akan dilanjutkan atau tidak, karena kakak pasti sangat patah hati,” jawab Satria.


“Kenapa tidak? Proyeknya bisa kau kerjakan atau karyawan lainnya, kakakmu tidak perlu tinggal disini,” kata Ny.Sofia.


“Iya Bu, terserah kakak saja yang mengambil keputusan, tapi sepertinya sangat sulit Bu. Kakak punya harapan besar dengan proyek ini. Ini Proyek buat kakak ipar,” ucap Staria. Hatinya menjadi sedih mengingat kisah kakaknya itu. Dia bisa tahu kakaknya sangat mencintai kakak iparnya.


“Aku kasihan padanya Bu, aku tidak tega melihat kakak patah hati, tapi ya bagaimana lagi, kakak ipar sudah duluan dilamar Cristian,” kata Satria.


Ny.Sofia tidak bicara apa-apa lagi, dia melihat Damin keluar dari kantornya bersam tamu-tamu itu, putra tirinya itu meskipun sedang dilanda masalah, tapi masih terlihat giat bekerja.


“Aku berangkat ya Bu, Kakak sudah menunggu,” kata Satria. Ny.Sofia mengangguk.


Putranya itu menuruni tangga rumah menuju halaman parkir dan menghampiri Damian. Putra tirinya sempat menoleh kearahnya tapi tidak bereaski apa-apa. Kemudian dilihatnya orang-orang yang tadi sibuk dihalaman itu satu persatu menaiki kendaraannya mereka masing-masing dan meninggalkan halaman kantor itu.


Mobilnya Bu Astrid berhenti di depan rumah kantor itu. Membuka kaca jendelanya menatap rumah kantor itu.


“Ini rumah kantornya Damian,” kata Bu Astrid.


Bu Sony melongokkan kepalanya keluar dari jendela, menatap rukan itu yang terlihat sepi.


“Kita bisa kesana sekarang?” tanyanya tidak sabar ingin bertemu Damian.


“Baiklah, kita kesana,” jawab Bu Astrid, diapun menjalankan mobilnya memasuki halaman parkir rukan itu.


Merekapun turun dari mobilnya yang diparkir disamping mobilnya Damian.


Satpam menghampiri mereka.


“Siang Bu, ada yang bisa dibantu?” tanya satpam.


Bu Astrid menatap satpam itu.


“Kami ingin bertemu dengan Pak Damian, bisa?” tanya Bu Astrid.


“Kebetulan Pak Damian sedang keluar Bu, dikantor hanya ada beberapa karyawan saja,” jawab Pak Satpam membuat kedua ibu-ibu itu kecewa.


“Kembalinya kapan ya?” tanya Bu Astrid.


“Mungkin sore, tidak tentu juga,” jawab Pak Satpam.


Bu Sony menoleh pada Bu Astrid.


“Mungkin nanti sore aku harus kesini lagi,” kata Bu Sony.


“Iya sepertinya begitu, kita juga tidak mungkin menyusul Damian,” jawab Bu Astrid.


“Baiklah kalau begitu Pak, terimakasih. Kami akan kembali nanti sore,” kata Bu  Astrid pada pak Satpam.


“Sama-sama,” kata Pak satpam.


Dengan lesu, Bu Sony dan Bu Astrid kembali melangkah mendekati mobil mereka. Ibunya Cristian hanya menghela nafas panjag, dia masih belum bisa bertemu Damain sekarang, dia harus besabar menunggu sore. Tapi setidaknya, dia sudah tahu kemana dia akan mencari putranya itu, semoga saja benar Damian ini adalah putranya.


Tapi langkahnya terhenti saat mendengar suara satpam bebicara lebih keras.


“Ny. Sofia! Anda akan keluar?” tanya satpam, saat Ny.Sofia menuruni tangga rumahnya.


“Benar Pak Satpam, aku ada perlu ke pantai sebentar,” jawab Ny.Sofia.


Bu Sony menghentikan gerakan tanganya yang sudah membuka pintu mobil. Tangannya seketika terasa gemetar, dia hafal dengan suara itu, dia hafal pemilik suara itu, seorang yang dikenalnya, sangat dikenalanya, Sofia.


Dengan perlahan Bu Sony membalikkan badannya, matanya tertuju pada seseorang yang sedang menuruni tangga rumah itu, matanyapun bertatapan dengan mata Ny. Sofia yang kebetulan melihat kearahnya.Ibu tirinya Damian itu langsung menghentikan langkahnya.


***************


Readers jangan lupa votenya, biar author semangat menyelesaikan novel ini.