Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-137 Kontrak Baru



Malam semakin larut, acara resepsi sudah usai. Keluarga mempelai perempuan dan laki-laki sudah kembali pulang dari gedung itu, begitu juga tamu-tamu.


Hanna terus saja menguap saat duduk diruang keluarga bersama Damian juga ayahnya. Dia sudah melepas baju pengantinnya, tapi tidak dengan Damian, dia masih menggunakan baju pengantinnya. Suaminya itu terus saja ngobrol tentang pekerjaan dengan ayahnya, sungguh topik yang sangat tidak menyenangkan.


Melihat istrinya yang terus menguap, Damianpun bicara.


“Sayang, kalau kau mengantuk, istirahatlah duluan,” kata Damian.


Hanna mendelik pada suaminya, orang-orang kalau sudah resepsi pengantin cepat-cepat masuk ke kamar, ini suaminya malah menyuruh istrinya tidur duluan. Damian lebih suka mengobrol dengan ayahnya daripada tidur bersamanya. Tapi karena saking mengantuknya jadi Hanna meninggalkan ruangan itu menuju kamarnya.


Damian masih mengobrol dengan Pak Louis, saat Bu Astrid masuk keruang keluarga itu mengingatkan.


“Pak, menantunya jangan diajak ngorol terus, masa pengantin begadang dengan mertuanya,” kata Bu Astrid, membuat Pak Louis tersadar lalu tertawa.


“Aku sampai lupa kalau hari ini hari pernikahanmu!” kata Pak Louis, menoleh pada Damian.


Damian hanya tersenyum.


“Istirahatlah Nak, kau pasti lelah,” kata Pak Louis lagi.


“Baiklah, aku istirahat duluan,” jawab Damian, bangun dari duduknya, dia juga merasakan kantuk mulai menyerang.


Saat membuka pintu kamar, dilihatnya istrinya sedang tiduran dibawah diatas karpet, tadinya dia fikir istrinya itu pasti sedang bermimpi kerena dari tadi sudah menguap terus, ternyat dia sedang sibuk menulis diatas karpet nonton tv sambil tengkurap, didepannya ada kalkulator yang besar. Istrinya terlihat sangat serius.


“Apa yang kau lakukan? Aku fikir kau sudah tidur,” tanya Damian.


“Aku sedang membuat daftar harga,” jawab Hanna, tanpa menoleh.


“Daftar harga? Kau akan buka restaurant seperti ibumu?” tanya Damian, berjalan mendekat lalu duduk dikarpet juga dekat kaki istrinya.


“Bukan, aku membuat daftar harga untuk lampiran kontrak kita,” jawab Hanna.


“Kontrak? Kontrak apa?” tanya Damian, tidak mengerti.


Hanna segera bangun, lalu duduk berhadapan dengan Damian, menatap suaminya dengan serius.


“Apa kau lupa? Kontrak kita berlaku selama satu tahun, jadi kontraknya belum usai,” jawab Hanna.


“Apa? Apa maksudmu bicara begitu?” Damian terkejut.


“Aku cuma mengingatkan saja. Kontrakku baru berjalan beberapa bulan, jadi masih tersisa lama, tentunya karena perjanjian diatas materai jadi itu masih berlaku,” kata Hanna.


Damian memicingkan kedua matanya, ini sudah gelagat-gelagat yang merugikannya.


“Terus apa lampiran itu?” tanya Damian, jadi penasaran.


Hanna menyodorkan lembaran kertas itu. Damian membacanya dan langsung melotot.


“Apa ini sayang?” tanya Damian, tidak percaya dengan isi kertas itu.


“Itu daftar harga,” jawab Hanna dengan tanpa merasa bersalah. Damian mulai membaca tulisan di kertas itu.


“Memegang ini…10 juta, memegang itu…10 juta…memegang ini dan itu 10 juta…bla bla bla… total 100 juta, belum termasuk ehm ehm 100 juta,” baca Damian, matanya semakin membelalak saja melihat angka-angka itu.


“Apa ini? Ehm Ehm 100 juta?” tanya Damian. Hanna malah tertawa.


“Itu harga dariku. Tidak ada diskon,” jawab Hanna.


“Sekali melakukannya harganya 200 juta? Bagaimana kalau dua kali, 3 kali, 5 kali?” tanya Damian, masih shock.


“Ya kau tinggal kalikan saja,” jawab Hanna dengan enteng.


“Sayang, diluar harganya tidak semahal itu,” kata Damian, kini Hanna yang melotot, dan langsung menjewer telinganya Damian.


“Apa maksudmu diluar? Apa maksudmu diluar? Kau akan jadi pria nakal, begitu?” bentak Hanna.


Damian meringis karena istrinya menjewer kupingnya.


“Maksudnya kata teman-temanku, bukan aku,” elak Damian.


“Awas kau ya! Macam macam diluar, kau tahu akibatnya!” ancam Hanna sambil melepas jewerannya.


“Lagian kau aneh aneh saja, masa sama suamimu pakai harga hargaan segala,” gerutu Damian, sambil memegang telinganya yang merah.


“Karena kontraknya belum habis,” ucap Hanna.


“Sayang, kita ini sudah membuat kontrak baru,” kata Damian, sambil bersandar ke sofa yang ada dibelakangnya.


“Kontrak baru apa? Aku tidak merasa menandatangani kontrak baru,” ucap Hanna.


“Kontrak seumur hidup! Me-ni-kah,” jawab Damian.


“Tidak ah, itu tidak jelas itungannya,” ucap Hanna.


Damian menyimpan kertas itu. Kedua tangannya menarik tubuh Hanna kedekatnya, merapatkannya ke tubuhnya, sampai wajah Hanna hampir bersentuhan dengan wajahnya.


“Semua yang aku miliki adalah milikmu. Apa yang tidak aku berikan buatmu? Aku bekerja juga untukmu,” ucap Damian, matanya menatap mata cantik Hanna yang masih menempel bekas riasan pengantinnya meskipun sudah cuci muka.


Jari Damian menyentuh hitam-hitam di bawah kelopak mata Hanna. Jari itu berpidah ke hidung perlahan turun ke bibirnya Hanna.


“Hanya aku ada permintaan,” kata Damian.


“Permintaan apa?” tanya Hanna, karena dia membuka mulutnya, jari Damian jadi masuk kemulutnya saat berhenti bicara.


“Apa?” tanya Hanna, membuat jari Damian terlepas dari mulutnya.


“Jangan bersikap aneh!” seru Damian, memindahkan jarinya ke dahinya Hanna.


Mata Hanna mendelik menatap jari telunjuk yang menempel di dahinya.


“Seharusnya tadi aku menggigit jarimu!” keluhnya, membuat Damian tersenyum dan langsung mencium bibirnya Hanna.


“Aku sangat mencintaimu,” ucap Damian, kembali menatap istrinya itu.


“Kita hapus kontrak itu, kita pakai kontrak baru,” kata Damian, kemudian.


“Kenapa kau ingin memakai kontrak baru?” tanya Hanna.


“Karena kontrak barunya tidak ada batas waktunya, kau terikat olehku selamanya,” jawab Damian.


“Apa keuntungannya buatku?” tanya Hanna.


“Kau masih memikirkan keuntungan, tentu saja keuntungannya kau juga memilikiku, selamanya,” jawab Damian, membuat Hanna tertawa. Dia mendekatkan bibirnya pada bibirnya Damian lalu menciumnya.


“Aku hanya bercanda. Aku juga memilih kontrak baru,” ucap Hanna.


“Aku tahu, kau memang tidak ada kerjaan,” keluh Damian. Hanna kembali tertawa. Damian memeluk Hanna dengan erat.


“Katakan, kenapa kau pergi dihari pernikahan kita? Kau membuatku jantungan saja,” kata Damian.


“Aku takut,” jawab Hanna.


“Takut? Takut apa?” tanya Damian, mengerutkan dahinya, melonggarkan pelukannya dan menatap Hanna. Dia sangat penasaran dengan jawaban Hanna.


“Aku takut komitmen. Tiba-tiba aku takut kalau setelah kita menikah, setelah aku jadi milikmu, kau akan menyakitiku, atau meninggalkanku. Aku tahu diluaran sana banyak wanita cantik yang akan kau lihat. Aku takut kau menikahiku hanya obsesi semata, menghilangkan rasa penasaranmu saja,” Jawab Hanna dengan jujur, membalas tatapan suaminya itu.


Mendengar jawaban dari Hanna membuat Damian tertawa lalu menciumnya lagi.


“Bagaimana bisa aku dengan mudah meninggalkanmu, kalau hanya pelukanmu yang membuatku nyaman, membuatku bisa tidur nyenyak,” kata Damian.


Hanna tersenyum mendengar jawabannya Damian.


“Tapi…” ucap Hanna, tidak melanjutkan bicaranya.


“Tapi apa?” tanya Damian.


“Tapi yang membuat spanduk di jalan tol itu siapa?” tanya Hanna, menatap Damian, hidung mancungnya pria itu menyentuh hidungnya, bahkan Hanna bisa merasakan hembusan nafasnya Damian.


“Tentu saja aku, siapa lagi?” jawab Damian sambil tersenyum.


“Kau sudah tahu aku akan kabur?” tanya Hanna.


“Aku tahu karena kau wanita yang aneh,,” jawab Damian, kini tertawa, begitu juga Hanna.


“Aku mencintaimu, Damian,” ucap Hanna, menghentikan tawanya, menatap suaminya penuh cinta.


“Aku lebih-lebih mencintaimu,” jawab Damian.


Merekapun saling bertatapan.


“Apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanya Hanna, merasakan nafas Damian semakin memburu.


“Tentu saja yang biasa pengantin baru laukan,” jawab Damian, berbisik.


“Apa?” tanya Hanna, balas berbisik.


“Kita begadang,” jawab Damian.


“Begadang?” tanya Hanna.


”Iya,” jawab Damian, mengangguk,tanpa melepas tatapannya.


“Kita nonton Tom & Jerry lagi?” tanya Hanna.


“Bukan nonton, tapi kita jadi Tom&Jerry,” jawab Damian.


“Tidak ah, masa kita kejar kejaran di kamar,” keluh Hanna.


“Kau membuatku ingin secepatnya jadi si Tom saja,” kata Damian.


“Tidak, aku yang mau jadi si Tom.” Jawab Hanna.


“Ha???” Damian terkejut, semakin terkejut lagi saat Hanna mulai mencium bibirnya.


Mendapat ciuman dari istrinya, Damian tidak melepasnya begitu saja, diapun membalas ciumannya Hanna. Tentu saja dia tidak keberatan menjadi si Jerry, apa yang tidak dia kasih buat istri tercintanya?


Waktu terus berjalan, malam semakin larut. Dua raga menjadi satu, dua jiwa menyatu. Rasa cinta yang aus tersampaikan sudah, hanya ada rasa bahagia yang menyelimuti keduanya. Cinta yang tulus menyatukan mereka dalam ikatan yang suci, pernikahan.


 


********************


Maaf ya kita ngelebay dulu, tadinya mau end episode kemarin tapi masih kangen sama tokohnya jadi lanjut dulu ah ihik ihik…maaf bagi yang udah bosan.