Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-54 Bertengkar Hebat



Damian menatap Hanna, dia masih tidak percaya kalau ternyata Hanna tidak hamil.


“Kau tidak hamil?” tanya Damian.


“Tidak,” jawab Hanna.


Damian masih  menatap Hanna.


“Yang kau katakan kita melakukan itu berkali-kali, itu benar atau tidak?” tanya Damian.


“Apanya yang berkali-kali?” tanya Hanna, tidak mengerti.


“Waktu itu kan aku bertanya apa kita pernah melakukan itu? Kau jawab berkali-kali,” jawab Damian.


“Melakukan itu maksudnya melakukan apa?” tanya Hanna lagi, masih tidak mengerti arah perkataan Damian.


“Ya itu melakukan itu,” jawab Damian.


“Ya melakukan apa maksudnya?” tanya Hanna lagi, membuat Damian kesal, dia kecewa merasa Hanna telah mempermainkannya.


“Melakukan hubungan suami istri!” teriak Damian dengan kesal karena Hanna tidak mengerti-mengerti juga. Hanna membelalakkan matanya, tangannya menutup mulutnya.


“Apa tidak bisa kau tidak teriak teriak begitu mengatakannya?” tanya Hanna, malah berbalik kesal pada Damian yang seenaknya berbicara keras padanya.


“Jadi sebenarnya kita memang tidak melakukan apa-apa?” tanya Damian semakin dengan nada tinggi. Tiba-tiba Hanna mengerutkan dahinya.


“Hei, jangan katakan kau yang melakukannya padaku saat aku tidur? Kau menggerayangiku?” tuduh Hanna.


“Kau ini macam macam saja. Aku hanya memelukmu tidak pernah menggerayangimu!” elak Damian semakin kesal saja  pada Hanna. Dia merasa Hanna sudah membohonginya.


“Aku kan tidak tahu kau jujur atau tidak!” ucap Hanna.


“Kenapa aku harus berbohong? Kau bukan tipeku,” jawab Damian.


Mendengar ucapan Damian, seketika hati Hanna merasa sakit mendengarnya. Sudah dari siang kata-kata Satria membuatnya menangis, sekarang Damian memastikan itu semua benar, dia bukan tipenya. Biasanya dia hanya mencibir jika Damian mengatakan itu, tapi tidak dengan sekarang, hatinya sangat kecwa, benar-benar kecewa.


Tiba-tiba Hanna terdiam. Damian memberengut.


“Jadi sebenarnya kita memang tidak pernah melakukan itu?" tanya Damian sekali lagi.


"Tidak." Hanna menggeleng.


"Kau juga tidak hamil?" tanya Damian.


"Tidak," jawab Hanna.


"Jadi kau menipuku?” tanya Damian, tiba-tiba, wajahnya terlihat sangat marah.


“Apa maksudmu menipu? Buat apa aku menipumu?” tanya Hanna, tidak menyangka Damian akan berkata begitu.


“Kau katakan kita melakukan itu berkali-kali, jadi aku berfikir aku sudah melakukan hal buruk padamu dan kau hamil olehku,” jawab Damian dengan ketus, dia semakin tersinggung karena Hanna ternyata mempermainkannya.


“Aku tidak pernah mengatakan itu!” sanggah Hanna.


“Aku dengar sendiri kau mengatakan kita melakukan itu berkali-kali! Hampir saja aku menikahimu! Dan ternyata kau sama saja dengan wanita-wanita murahan yang mencoba menjebakku untuk menikahimu!” teriak Damian. Dia benar-benar marah.


Mendengar perkataan Damian dengan nada tinggi itu, membuat Hanna semakin marasakan sakit dihatinya.


“Jadi itu alasannya kau waktu itu mengajakku menikah? Karena kau fikir aku sedang hamil? Dan kau fikir aku merencakan ini semua? Sengaja menjebakmu supaya kau menikahiku?” tanya Hanna, bibirnya terasa bergetar mengatakannya. Rasa kecewa yang amat sangat bertumpuk di dadanya.


“Tentu saja apa lagi? Dari awal aku sudah bilang kau bukan tipeku, aku tidak mungkin menikahimu kalau kau tidak hamil!” seru Damian, masih dengan nada tinggi, dia merasa kesal dan marah.


Damian merasa Hanna telah mempermainkan perasaannya, padahal dia sudah tulus akan bertangungjawab jika benar Hanna hamil olehnya. Hanna yang dia kira lugu dan tulus ternyata sama saja dengan wanita-wanita yang suka menggodanya. Damian benar-benar kecewa.


Sakit, semakin terasa sakit dihati Hanna. Untung saja dia tidak menerima ajakan Damian untuk menikah. Apa jadinya kalau dia mengiyakan dan akan menikah dengan Damian dan ternyata Damian tahu dia tidak hamil, hancur sudah masa depannya, pria ini pasti meninggalkannya. Pernikahan akan gagal untuk yang kedua kalinya.


Hanna menghela nafas panjang, mencoba menenangkan diri dan menguatkan hatinya. Dipandangnya pria tampan yang berdiri di depannya itu. Pria ini menyebutnya wanita murahan yang mencoba menjebaknya? Damian benar-benar keterlaluan menyakitinya.


“Sepertinya mungkin ini saatnya aku meninggalkanmu!” kata Hanna pada Damian. Damian hanya diam. Hanna  mengambil tasnya dan mengeluarkan kartu ATM dari tasnya itu, disimpannya di tempat tidur.


“Ini aku kembalikan semua uangmu, semuanya masih utuh. Aku tidak memiliki apapun saat aku bertemu denganmu, jadi akupun akan pergi tanpa apapun darimu,” ucap Hanna,  menatap Damian sebentar, lalu keluar dari


kamar itu.


Damian hanya terdiam melihat sikap Hanna seperti itu. Tidak dicegahnya Hanna keluar dari kamarnya. Dia masih sangat marah dengan kebohongan ini.  Kebohongan yang sebenarnya tidak disengaja juga oleh Hanna.


Biasanya pertengkaran seperti ini biasa saja baginya, tapi tidak dengan sekarang. Kenapa ucapan ejekan Damian terasa begitu menyakitkan? Bukankah sudah biasa kalau Damian mengejeknya? Kenapa di hatinya terasa lain? Dia teringat sikap manis Damian, ternyata itu sikap yang tidak seharusnya dia dapatkan. Damian tidak mungkin bersikap semanis itu kalau tahu dia tidak hamil. Tidak mungkin Damian akan memilki rasa padanya. Tidak mungkin. Airmata kembali menetes dipipinya, angin malam terasa begitu dingin di kulitnya, semakin membuat hatinya merasa berduka.


Hanna berjalan sudah cukup jauh, dia benar-benar tidak tahu harus kemana di kota besar ini? Selama ini dia hanya mengikuti kemanapun Damian pergi, dan sekarang semua kebersamaannya dengan Damian sudah berakhir sampai malam ini. Dia harus melupakan Damian.


Damian menatap kartu ATM itu.


“Kalau kau mau pergi kau pergi saja,” gerutunya dengan nada yang kesal, sambil duduk di pinggir tempat tidur.


5 menit, 10 menit, 15 menit, 20 menit, sudah 30 menit, hatinya mulai gelisah. Apakah Hanna benar-benar sudah pergi? Apakah Hanna benar-benar sudah meninggalkannya? Ah sudahlah, buat apa mengingat-ingat Hanna lagi? Masih banyak wanita yang lebih cantik dari Hanna. Dia akan dengan mudah mendapatkan pengganti Hanna. Pengganti? Pengganti apa? Pengganti pemeluk dirinya saat mengigau?  Aaah! Damian merasa kesal sendiri.


Dia berdiri sambil meremas remas rambutnya, dia merasa marah, kecewa dan segala macam kekesalan bercampur aduk dihatinya. Dia kecewa ternyata Hanna sama saja dengan wanita –wanita yang biasa di kencaninya sebelum mengenal Hanna.


Hampir saja, hampir saja dia benar-benar jatuh cinta pada wanita itu, dia hampir saja jatuh cinta!


Damian kembali duduk dipinggir tempat tidur, melirik lagi ATM itu. Wanita itu, wanita itu tidak menggunakan uangnya sama sekali? Damian tertegun. Kenapa Hanna tidak menggunakan uangnya? Kenapa Hanna mengembalikan semua uangnya? Kalau dia seperti wanita-wanita yang mencoba menjebaknya tidak mungkin Hanna mengembalikan uang yang jumlahnya puluhan milyar?


Apa ini? Apa dia sudah keterlaluan pada Hanna dan membuat Hanna sakit hati?


Damian bangun dari duduknya, berjalan mondar mandir dikamarnya, lalu duduk lagi dipinggir tempat tidur. Bagaimana dengan pelukan Hanna? Dia yakin bisa menemukan wanita yang pelukannya bisa membuat dia tidur dengan nyenyak? Bukankah selama ini dia sudah bergonta ganti pacar dimanapun dia berada? Adakah yang bisa membuatnya tertidur hanya dengan sebuah pelukan? Kenapa dia lupa akan itu? Berpuluh-puluh tahun dia ingin terbebas dari traumanya dan mimpi buruknya, kemudian Hanna datang memberinya kenyamanan dan dia dengan tega memarahinya? Dia tahu kadang Hanna bersikap konyol tapi dia sangat tulus dan tidak merugikannya. Kenapa dia bisa keterlaluan tadi? Amarahnya membuat Hanna sakit hati dan pergi.


Damian kembali duduk dipinggir tempat tidur, menatap lagi ATM itu. Hanna pergi tanpa ATM itu, bahkan tidak ada barang apapun yang dia bawa. Kemana dia akan pergi tanpa uang? Tidak ada sanak saudaranya dikota besar ini. Bagaimana kalau sampai dia tidur di di emperan toko, beralas Koran, terus ada orang jahat terus Hanna..Hanna..ah tidak tidak! Dia harus mencari Hanna sekarang juga!


Damian bangun dari duduknya, segera keluar kamarnya, berlari keluar rumah dengan tergesa-gesa. Tidak dihiraukannya Satria yang memanggilnya saat berpasasan di ruang tamu. Adiknya itu Cuma menatap kakaknya yang berlari tergesa-gesa dengan cepat keluar rumah.


Damian bingung saat sudah sampai diluar gerbang rumahnya. Kira-kira Hanna pergi kemana? Dilihatnya jalanan yang terang benderang dengan banyak lampu mobil-mobil di jalanan yang padat. Dilihatnyya lagi arah kanan dan kiri. Apa mungkin Hanna naik taxi? Sepertinya tidak, dia tidak membawa uang, tapi kearah mana Hanna berjalan? Kanan? Kiri? Sepertinya arah Kanan. Damianpun berlari kearah kanan trotoar sambil memanggil manggil Hanna.


“Hanna! Hanna!” panggilnya, kepalanya melihat kanan kiri barangkali Hanna berhenti dipertokoan atau dimanapun tempat dia berteduh.


“Hanna! Hanna! Kau dimana? Hanna!” teriak Damian.


“Hanna!Hanna!” Damian terus berteriak teriak  mencari Hanna, tidak dihiraukannya orang orang yang masih ada yang lewat di trotoar itu memperhatikannya.


“Kemana dia?” gumamnya kebingungan. Damian mencoba bertanya-tanya pada orang yang lewat.


“Apa kau melihat wanita yang berbaju hijau? Yang..yang..” ucap Damian tampak bingung mau medescripsikan Hanna seperti apa. Orang itu menggeleng. Damian kembali bertanya pada orang lain yang lewat lagi. Setelah itu sepi tidak ada orang yang lewat.


Damian tidak henti memanggil manggil Hanna, sudah cukup lama dia encarinya. Apakah Hanna sudah berjalan jauh? Atau mungkin Hanna pergi ke arah kiri bukan arah kanan? Dia benar-benar putus asa.


Di dekat sebuah pohon besar, Hanna mendengar seseorang memanggil-manggilnya. Diapun menengok ke arah suara itu, dilihatnya Damian sedang bertanya pada orang yang lewat, dan orang itu hanya menggeleng lalu melanjutkan perjalanannya.


“Hanna!” panggil Damian lagi, saat menoleh ke arah Hanna berdiri, Hanna bersembunyi dibalik pohon besar itu.


“Hanna! Hanna! Kau dimana?” teriak Damian.


“Pak, pak Maaf aku mau bertanya apa kau melihat wanita memakai baju hijau, tingginya segini?” tanya Damian pada orang yang lewat lagi.


Hanna mengintip dibalik pohon, airmata kembali menetes di pipinya, melihat Damian mencari-carinya.


Damian berhenti tidak jauh dari pohon besar itu.


“Hanna kau dimana?” terdengar Damian bergumam, dia putus asa tidak bisa menemukan Hanna.


Hanna masih berdiri dibalik pohon itu dan terus menangis. Apakah dia harus muncul lagi di hadapannya Damian? Kembali padanya? Tidak! Dia tidak akan kembali pada Damian.


“Aku minta maaf Damian, aku takut jatuh cinta padamu, semua akan semakin menyakitkan bagiku,” gumam Hanna, menangis tersedu, menempelkan tubuhnya di pohon itu supaya tidak terlihat oleh Damian.


“Hanna! Hanna!” terdengar Damian berteriak lagi.


Hanna menatapnya diantara airmatanya yang tidak henti menetes dipipinya, pria itu berjalan semakin menjauh mencarinya.


********************


Bersedih sedih dulu ya..


Jangan lupa like vote dan komen


Baca juga karta author yg lain ya.


-         “Kontes Menjadi IStri Presdir”


-         “My Secretrary 3” Always Loving You (jodoh yang tertukar)


           Episode 2 : Kedatangan Pengusaha muda tampan ke kampus