
Beberapa menit kemudian Shezie keluar dari kamar mandi sudah berganti pakaian yang dia bawa.
Henry menatap Shezie. Memperhatikannya dari atas sampai bawah.
“Apa?” tanya Shezie, karena Henry bersikap seperti itu.
“Aku kan sudah membelikanmu gaun yang banyak, kenapa tidak kau pakai? Apa kau Feminim kalau sedang jadi selingkuhan saja?” tanya Henry, karena sekarang Shezie kembali menggunakan jinsnya.
“Kau lihat ibuku, dia selalu menggunakan gaun, dress yang cantik,” kata Henry.
“Aku kan harus naik bis, aku tidak bisa memakai gaun mengejar bis, repot, gaunnya bias robek!”
jawab Shezie, lalu mendekati Henry yang masih menatapnya.
“Antar aku pulang! Aku ada urusan!” kata Shezie, dia teringat ibunya, kemarin dia sehari semalam tidak melihat ibunya.
Henry terdiam.
“Kalau kau pergi nanti ibu marah,” ujar Henry, sambil berfikir.
“Ya makanya, kau bilang saja mau mengajakku jalan-jalan atau apa,” kata Shezie.
Henry terdiam, sepertinya itu cara yang terbaik, setelah Shezie pulang, dia tidak perlu mencarinya lagi, nanti tinggal bilang saja pada orang tuanya dia dan Shezie bertengkar lagi, beres. Henrypun mengangguk.
“Baiklah, tapi aku mau mandi dulu,” ujar Henry, sambil beranjak menuju kamar mandi.
“Jangan lama-lama nanti keburu siang,” ujar Shezie.
Heny menghentikan langkahnya, dan menoleh kearah Shezie.
“Aku yang membayarmu kenapa jadi kau yang mengaturku?” tanya Henry dengan kesal.
“Maaf, aku ada perlu siang ini! Penting!” ucap Shezie.
Henry tidak menjawab lagi, dia langsung masuk ke kamar madi.
Sambil menunggu Henry mandi, Shezie berjalan mondar mandir, memikirkan cara supaya berpisah dari Henry, pokoknya setelah Henry mengajaknya keluar dia tidak perlu kembali lagi ke rumah ini.
Cukup lama Henry berada dikamar mandi, kemudian terdengar suara pintu dibuka. Kakinya melangkah keluar dari kamar mandi itu.
“Henry aku ada ide!” seru Shezie, sambil menoleh kearah pintu kamr mandi. Sedetik kemudian dia berteriak kaget langung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan membalikkan badan membelakangi Henry.
“Aww! Apa yang kau lakukan!” teriaknya, dengan jantung yang berbedar-debar.
Henry lebih-lebih terkejut lagi dengan teriakan Shezie, dia lupa kalau dikamar ini ada orang asing apalagi orang itu seorang gadis, dan dia dengan santainya keluar kamar mandi hanya dengan memakai handuk kacil saja yang terlilit dipinggang.
Henry langsung kembali masuk ke kamar mandi.
“Sikapmu memalukan!” teriak Shezie. Bayangannya masih yang tadi melihat tubuh tegapnya Henry dengan dada bidang dan perut ratanya, pria itu sangat menawan. Dia tidak menyangka akan melihat pria hampir telanjang seperti itu, apalagi itu handuknya, kenapa handuknya begitu kecil? Hanya menutup bagian yang sensitive saja, ya ampun mimpi apa dia harus melihat pemandangan itu? Masa Henry tidak punya handuk lebar?
“Aku lupa kau ada disini! Ambilkan bajuku!” teriak Henry dari dalam kamar mandi. Seharusnya dia membawa baju ganti tadi. Dilihatnya dirinya yang hanya menggunakan handuk kecil itu, bagaimana gadis itu tidak berteriak melihatnya?
“Bagaimana caranya?” tanya Shezie masih belum membalikkan badannya, dia masih shock.
“Aku ada dikamar mandi sekarang!” jawab Henry.
“Kau piihkan baju terserah kau saja!” lanjut Henry, di benar-benar pusing dangan kejadian ini, bagaimana kalau setiap hari ada Shezie dikamarnya? Privasinya benar-benar terganggu!
Shezie perlahan membalikkan tubuhnya dan melihat Henry sudah kembali ke kamar mandi. Matanya kemudian mengedar di dalam kamar itu, tidak ada lemari pakaian satupun.
“Disini tidak ada lemari pakaian, dimana kau menyimpan baju?” teriak Shezie.
“Ada pintu di dekat jendela! Kau masuk kesana!” teriak Henry.
“Waah, seperti toko saja!” ucapnya, sambil melihat ke sekeliling.
Henry bersandar dipintu dengan kesal, kenapa Shezie tidak datang-datang juga ke kamar mandi? Diliriknya baju kotor yang dipakainya dari kemarin , masa dia harus memakai baju kotor itu lagi yang sudah basah terkena air saat dia mandi, tubuhnya bisa gatal-gatal dan dia harus mandi lagi!.
“Shezie! Kenapa kau lama sekali?” teriak Henry.
Yang diteriaki tidak mendengar, karena lokasi kamar mandi dan tempat pakaian itu cukup jauh saking luasnya kamar itu.
Shezie memilih-milih baju apa yang akan di kenakan Henry. Saat memilih baju-buaju itu dia semakin mengerutkan keningnya, baju-baju itu sangat bagus dan bermerk.
“Pantas saja supir itu lebih keren dari supir yang lain, pakaiannya bagus semua, bermerk juga pasti mahal-mahal,” gumam Shezie, tangannya menyentuh baju-baju yang menggantung itu.
“Dia supir yang sangat beruntung!” lanjut Shezie.
Henry masih berada di dalam kamar mandi, dia kesal gadis itu ngapain saja belum datang-datang juga! Dia kesal menunggunya. Yang ditunggunya malah asyik memilih-miih baju dan melihat-lihat isi lemari-lemari itu.
Shezie melihat sebuah lemari kaca yang menyimpan jam tangan-jam tangan.
“Pria itu seperti artis saja,” gumamnya, lalu mengambil salah satu jam tangan itu. Dia tercengang saat melihat merk jam tangan itu, apalagi dia menemukan beberapa jam tangan baru yang belum dipakai masih terpasang harga disitu, dia menelan ludah melihatnya.
“Busyet! Ini jam tangan mahal semua! Kalau diuangkan jadi berapa ini, satu lemari penuh dengan jam tangan berbagai model dengan merk yang terkenal!” kata Shezie, sambil melihat-lihat lagi jam tangan yang lain.
“Tapi kenapa supir itu sangat pelit? Dia membayarku cuma 500 ribu, untuk jadi pengantinnya menawarku cuma 5 juta! Sangat pelit! Dia itu digajih berapa oleh majikannya?” gumam Shezie.
Kini Shezie melihat sepatu-sepatunya Henry, satu lemari penuh terpajang sepatu-sepatu mengkilat yang keren.
“Ya ampun, sepatunya juga! Keren-keren!” ucapnya , menyentuh sepatu-sepatu itu.
Karena asyik melihat barang-barang itu, Shezie lupa kalau Henry sedang menunggu dikamar mandi.
Henry terpaksa duduku di kloset sekian lamanya karena dia merasa pegal kakinya berdiri terus sampai kesemutan. Bahkan air di tubuhnya kering sendiri tidak perlu dihanduk lagi.
“Sedang apa sih gadis itu? Aku dikamar mandi begitu lama!” keluh Henry. Akhirnya diapun bangun berjalan perlahan menuju pintu. Dibukanya sedikit, mengintip ke kamarnya ternyata sepi.
“Mana dia?” tanyanya pada diri sendiri.
Akhirnya Henrypun keluar dari kamar mandi, berjalan menuju tempat pakaiannya, dilihatnya pintunya terbuka.
“Dia kemana?” gumamnya lagi.
“Shezie!” teriak Henry sambil masuk keruangan itu, masih dengan handuk kecil yang melilit di pinggangnya.
Mendengar suara teriakan Henry, Shezie terkejut, diapun langsung berlari menuju pintu.
“Ini pakaianmu!” jawab Shezie , sambil menyodorkan baju ditangannya dan dia langsung berteriak lagi saking terkejutnya, lagi-lagi melihat pria itu hanya berhanduk kecil. Shezie langsung memejamkan mata dan membalikkan badannya lagi.
“Apa yang kau lakukan? Kenapa kau keluar dari kamar mandi?” teriak Shezie dengan kesal.
“Seharusnya aku yang bertanya, aku didalam kamar mandi sampai kedinginan kau tidak datang-datang, apa yang kau lakukan disini! Mana bajuku?” maki Henry, sama-sama kesal.
“Ini!” Shezie mengulurkan pakaian yang ada ditanganya ke belakang karena dia tidak mau membalikkan badannya.
Henry berlajan mendekat. Mendengar langkah kakinya Henry, jantung Shezie langsung berdebar kencang. Pria itu bertelanjang dada dan hanya memakai handuk kecil, bagaimana kalau pria itu macam-macam padanya? Di dalam kamar ini begitu sepi, hanya mereka berdua, dia juga tidak begitu mengenal Henry, bagaimana kalau Henry adalah pria hidung belang? Kenapa dia sampai tidak memikirkan hal ini? Dia menerima pekerjaan jadi pengantin tidak berfikir bagaimana kalau Henry menyentuhnya? Shezie langsung merasa merinding.
“Jangan dekat-dekat denganku! Dan jangan macam-macam padaku!” teriak Shezie tiba-tiba, membayangkan hal yang tidak-tidak yang akan dilakukan Henry.
Henry menghentkan langkahnya mendengar perkataan Shezie.
********************