Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-32 Rumah baru



Shezie masih menatap Henry


“Apa lagi?” tanya Henry.


“Semalam kau tidak melakukan apa-apa padaku kan?” Shezie balik bertanya.


“Maksudmu apa melakukan apa?” tanya Henry mulai kesal.


“Ya ya maksudku kau mungkin melakukan hal-hal yang tidak baik,” jawab Shezie.


“Yang tidak baik apa lagi? Menggerayangimu begitu?” tanya Henry.


Shezie mengangguk.


“Kurang kerjaan!” gerutu Henry lalu beranjak, masuk ke walk-in Closet.


“Cepat mandi, aku harus berangkat kerja,” kata Henry.


 “Baiklah!” jawab Shezie, menyibakkan selimutnya dan turun dari tempat tidur, diapun berjalan menuju Walk-in Closet, mengikuti Henry.


“E e kau mau apa? Aku menyuruhmu mandi bukan mengikutiku!” hardik Henry pada Shezie, menatapnya dengan tatapan tidak suka.


“Siapa yang mengikutimu? Kau kegeeran! Aku mau mengambil baju, aku kan harus berganti pakaian di kamar mandi!” kata Shezie.


“Ya cepatlah! Di rumah baru nanti aku tidak mau sekamar denganmu sangat merepotkan! Aku malas harus dimana-mana melihatmu,” keluh Henry.


“Kau fikir aku senang sekamar denganmu? Mau mandi saja kefikiran kau mengintipku!” jawab Shezie sambil berjalan terus menuju lemari tempat pakaiannya disimpan.


Henry menatapnya.


“Itu kepalamu saja yang harus dicuci, buat apa aku mengintipmu! Yang ada malah sakit mata!” keluh Henry sambil bersandar disalah satu lemari.


“Sakit mata! Hih!” cibir Shezie sambil mengambil bajunya.


Henry kaget saat melihat Shezie mengambil baju kemeja dan celana jinsnya yang dipakai kemarin.


“Hei, kenapa kau mau memakai baju itu lagi?” tanya Henry, segera menghampiri Shezie.


“Aku akan memakai ini, aku tidak bisa memakai gaun terus, aku ada urusan!” jawab Shezie, dia berniat menemui ibunya sebentar lalu bekerja di café.


“Tidak bisa! Tidak boleh!” larang Henry, dia  akan mengambil baju itu tapi Shezie segera menjauhkannya.


“Kenapa? Ini bajuku!” Teriak Shezie.


“Kau sudah aku belikan gaun-gaun bagus, kau juga sudah aku belikan mobil dan aku sediakan supir, masa kau pakai baju itu lagi! Aku tidak mau istriku jelek! Kusut, bau keringat dan rambutnya acak-acakan!”  Henry balas berteriak.


“Apa?” Shezie terkejut mendengar perkataannya Henry.


“Kau tidak mau istri yang jelek? Kusut, bau keringat, rembut acak-acakan?” tanya Shezie.


“Iya! Istriku harus cantik!” seru Henry.


Shezie berjingjit den mendekatkan wajahnya ke wajahnya Henry.


“Tapi sayangnya, istrimu seperti itu,” ucapnya sambil memonyongkan bibirnya lalu tertawa, membuat raut muka Henry langsung memerah.


“Kau!” tangannya akan mengambil bajunya Shezie, tapi gadis itu menghindar mundur ke belakang dan menjauhkan pakaiannya dari tangan Henry.


“Berikan padaku! Kau tidak boleh memakainya!” teriak Henry, sambil melangkah akan meraih baju itu lagi, Shezie segera mudur lagi, Henry tidak mau kalah dan kembali mendekat akan mangambil pakaian itu.


“Perjanjiannya kau harus menurut padaku! Masa untuk jadi cantik saja tidak mau!” gerutu Henry, kembali akan mengambil pakaian itu, Shezie cepat menghindar dan mundur semakin jauh.


“Tidak mau, aku akan memakai baju ini!” seru Shezie.


“Kau benar-benar ya, berikan padaku!” teriak Henry, dia benar-benar tidak suka Shezie kembali ka dandanannya semula.


Sheezie mencoba menghindar tapi ternyata kakinya Henry lebih panjang, dia berhasil mendekatinya dan menarik pakaiannya Shezie.


“Tidak, tidak boleh! Ini bajuku!” teriak Shezie, dengan sekuat tenaga memperhatikan bajunya dan memegangnya dengan erat, tapi ternyata tenaganya Henry lebih kuat, dia menarik pakaian itu dengan secepatnya dan bukan saja pakaiannya yang dia tarik tapi tangannyapun ikut tertarik dan Brugh! Malah Shezie yang terjatuh ke tubuhnya Henry membuat pria itu terkejut dan spontan menangkap tubuh SHezie biar tidak terjatuh dengan memeluknya.


Shezie terkejut bukan main, dia malah jatuh kepelukannya Henry. Wajahnya langsung memerah, dadanya berdebar kencang dia mendadak jadi gugup, merasakan pelukan tangan kokohnya Henry.


Henry juga terkejut dengan tragedi ini tapi dia lebih mudah mengembalikan emosinya.


“Bilang saja, kalau kau sengaja ingin ku peluk!” tuduh Henry .


“Ap, apa? Ingin dipeluk? Fikiranmu saja yang ngeres! Tidak ada untungnya aku dipeluk olehmu!” balas Shezie sambil melangkah mundur, bersamaan dengan Henry melepas pelukannya.


“Kau tidak boleh memakainya!” kata Henry.


“Aku akan memakainya!” jawab Shezie.


“Kau melanggar perjanjian, aku tidak akan membayarmu!” ucap Henry.


“Ya ya baiklah! Aku tidak akan memakainya! Aku akan memakai dress yang cantik! Tapi kalau didepanmu saja!” seru Shezie, sambil beranjak dan menuju lemari pakaiannya lalu mengeluarkan salah satu baju dari butik itu.


“Heran, disuruh cantik, susah amat!” keluh Henry, sambil keluar dari ruangan itu.


Shezie hanya meliriknya sekilas, dia tidak mungkin ke rumah ibunya dengan tampil cantik, ibunya akan curiga, apalagi kalau dengan memakai mobil dari Henry.


Henry menghampiri ibunya yang sedang ada di teras, baru saja Damian berangkat bekerja.


“Bu!” panggil Henry, membuat Hanna menoleh kearahnya.


“Ayah sudah berangkat?” Henry balik bertanya.


“Sudah, kau jadi melihat rumahmu?” tanya Hanna.


“Iya, mungkin kami akan sekalian pindah,” jawab Henry.


“Ya kalian bisa langsung menempatinya. Ayahmu sudah menyiapkan pegawai juga disana,” jawab Hanna, menatap wajah putranya itu yang sangat mirip Damian.


Melihat wajah Henry mengingatkannya pada Damian, wajah yang membuat banyak wanita menyukainya. Diapun teringat wanita yang sedang dicari Damian, dia harus segera mencari informasi apakah Damian pernah punya pacar bernama Vina pada Satria.


“Istrimu belum turun?” tanya Hanna.


“Dia masih mandi!” jawab Henry.


 “Ibu akan ke kamar dulu. Kalau istrimu mau sarapan, kau tinggal bilang pada koki,” ucap Hanna.


“Tidak Bu, mungkin aku akan langsung pergi kerumah baru,” jawab Henry.


“Ya, semoga kalian betah disana, nanti ibu akan menengok kalian kalau kalian sudah menempatinya,” kata Hanna, sambil menepuk bahunya Henry, lalu masuk kedalam rumah, melangkahkan kakinya menuju kamarnya.


Setelah berada dalam kamarnya, Hanna mendial nomor Satria.


“Halo! Ada apa? Tumben kakak iparku menelpon!” terdengar suara Satria di sebrang.


“Satria, ada yang ingin aku tanyakan,” kata Hanna.


“Soal apa?” tanya Satria.


“Tapi kau harus jujur menjawabnya,” kata Hanna.


“Memangnya mau bertanya apa?” tanya Satria keheranan.


“Kau harus berjanji dulu akan menjawabnya dengan jujur!” kata Hanna.


“Apa sih? Serius amat! Iya aku akan jujur!” jawab Satria semakin penasaran.


“Oke kalau begitu,” ucap Hanna.


“Mau bertanya apa?” tanya Satria.


“Apakah kakakmu pernah punya pacar yang bernama Vina?” tanya Hanna.


“Vina? Mantan pacar kakakku maksudmu?” tanya Satria.


“Iya!” jawab Hanna.


“Entahlah aku tidak tahu, kakakku kan memang selalu berpindah-pindah tempat, jadi aku tidak terlalu hafal dia pacaran dengan siapa, Cuma yang pernah aku lihat yang dibawa kerumah tidak ada yang namanya Vina.” Jawab Satria.


“Begitu ya,” gumam Hanna.


“Kau jangan khawatir, kakakku sudah cinta mati padamu, tidak akan melirik wanita lain,” ucap Satria.


“Masalahnya sekarang Damian menyuruh orang mencari kabar wanita itu,” kata Hanna.


“Kalau begitu tanyakan langsung saja pada kakak,” ucap Satria.


“Dia menyembunyikannya dariku, makanya aku menanyakannya padamu,” kata Hanna.


“Mungkin hanya teman kuliah saja,” ucap Satria.


“Kalau tidak ada yang rahasia tidak mungkin Damian tidak beecerita padaku,” kata Hanna.


Satriapun diam, kalau begitu dia juga heran kenapa kakaknya mencari mantan pacarnya?


“Ya sudah kalau kau tidak tahu. Aku minta kau jangan bilang pada kakakmu aku bertanya soal ini. Aku ingin dia sendiri yang jujur padaku,” ucap Hanna.


“Baiklah,” jawab Satria, dalam hatinya masih penasaran siapa wanita yang dicari kakaknya itu.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan dipintu. Hanna segera menutup telponnya dan membukakan pintunya. Sudah ada Henry dan Shezie berdiri disana.


“Bu, aku berangkat sekarang!” kata Henry.


“Kau sudah sarapan? Tadi suamimu sarapan duluan,” tanya Hanna pada Shezie.


“Aku sarapan nanti saja dirumah baru. Henry buru-buru akan bekerja,” jawab Shezie.


Hanna menoleh pada putranya.


“Jangan terlalu sibuk, kau urus istrimu dulu,” kata Hanna.


“Nanti makan dirumah baru juga kan bisa,” jawab Henry.


“Tidak apa-apa Bu, aku juga belum lapar,” ucap Shezie, padahal dia juga memburu waktu ingin pulang melihat ibunya dan memburu jam kerjanya di café.


“Baiklah kalau begitu,” jawab Hanna, mengangguk.


Putra dan menantunya itupun meninggalkan depan kamarnya. Kini Hanna berdiri mematung, dia kembali memikirkan Damian. Sekian lama menikah apa yang Damian rahasiakan darinya?


*************