Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-107 Menangkap Martin



“Hei! Apa-apaan ini?” teriak Martin sambil memegang wajahnya, bersamaan dengan teriakan wanita diatas tempat tidur itu membuat Henry dan Shezie melihat kearah suara itu.


 Wanita tanpa busana yang terduduk diatas tempat tidur itu terkejut dengan kehadiran orang-orang yang masuk ke kamarnya. Diapun buru-buru menarik selimutnya menutupi tubuhnya yang tidak memakai sehelai benangpun.


Shezie menatap wanita itu terkejut bukan main.


“Yu, Yulia?” panggilnya.


Dia mangenal wanita itu adalah wanita panggilannya Matin yang ditemuinya di acara pertunangan temannya Martin itu.


“Dia sudah terbiasa tidur denganku, dia akan selalu mencariku,” ucap Yulia, membuat Shezie merasa jijik.


Henry menoleh pada Shezie.


“Kau mengenalnya sayang?” tanya Henry.


“Iya dia wanitanya Martin,” jawab Shezie, membuat Henry merasa kesal saja pada Martin, sudah terbayang bagaimana menderitanya Shezie kalau menikah dengan Martin.


Martin yang sedang berusaha bangun langsung mendapatkan tendangan dari kakinya Henry berkali-kali.


“Kau pria brengsek!” maki Henry.


Henry sama sekali tidak memberikan kesempatan Martin untuk membela diri, Henry langsung memukuli Martin sampai babak belur, di wajah, perut, dada, kaki tidak luput dari pukulan dan tendangannya Henry. Darah segar keluar dari mulutnya Martin.


“Hei apa yang kau lakukan!” teriak Yulia, sambil turun dari tempat tidur dengan selimutnya.


“Diam kau! Kau akan melihat pacarmu ini mati di tanganku!” teriak Henry, tidak mau menghentikan pukulannya.


“Henry! Sudah Henry! Sudah! Dia bisa mati!” teriak Shezie, melihat Martin sudah bersimbah darah, dia segera menarik tangannya Henry tapi Henry tidak mendengarkannya.


“Pria ini harus diberi pelajaran! “ teriak Henry, terus memukuli tanpa memberi celah sedikitpun untuk Martin melawan, wajahnya pria itu sudah babak belur berdarah-darah juga tubuhnya yang tidak berpakaian hanya menggunakan celana panjangnya.


“Jangan Henry, dia mati kau masuk penjara, aku sedang hamil, aku tidak mau kau di penjara!” kata Shezie, menyadarkan Henry.


Henrypun membatalkan pukulannya dan menjauh, dia marah sekali dengan kelakuannya Martin yang menjual Shezie, apalagi ditambah kepergok bersama wanita lain.


Martin beringsut mundur dengan keadaan babak belur, dia berusaha bangun dengan kesakitan. Diapun sempoyongan sambil mengusap darah dimulutnya.


Pak Jodi terkejut melihat Martin dipukuli habis oleh Henry tanpa ampun, tubuhnya ikut gemetaran takut diperlakukan sama oleh Henry.


Yulia langsung menghampiri Martin tapi pria itu malah mendorongnya sampai wanita itu jatuh terjungkal.


“Minggir! Aku tidak perlu dikasihani!” teriak Martin.


Henry berjalan mendekat menghampiri Martin.


“Aku tidak akan membiarkanmu lolos begitu saja, aku akan melaporkanmu ke polisi karena kau sudah menjual Shezie,” kata Henry.


Pak Jodi langsung menghampiri Henry.


“Pak Henry, tolong jangan memperbesar masalah ini, aku tidak mau terlibat,” kata Pak Jodi.


“Tapi Bapak sudah terlibat, Bapak harus menjadi saksi atas transaksi ini,” kata Henry.


Pak Jodipun


terdiam lesu, dia melirik pada Martin dengan kasal semua gara-gara Martin.


Shezie menoleh pada Martin dan berjalan mendekati Martin.


“Kau sangat keterlaluan Martin. Aku bersyukur aku tidak menikah denganmu, ternyata keputusanku untuk membatalkan pernikahanku denganmu adalah keputusan yang tepat, bahkan kau bukan pria yang setia,” kata Shezie, sambil menoleh pada Yulia.


Martin menatap Shezie dengan marah, berdiri sempoyongan, kepalanya benar-benar sangat pusing, untuk berdiri tegak saja tidak bisa, seluruh tubuhnya terasa sakit akibat pukulan dan tendangannya Henry yang tanpa henti.


“Kau, itu semua karena kau!” teriaknya pada Shezie.


“Karena kau terus terusan menolakku! Kau mempermainkanku! Aku telah melakukan segalanya utukmu! Untuk ibumu yang sakit-sakitan itu! Tapi kau tidak tahu berterimakasih! Kau malah mempermalukanku dengan kehamilanmu itu!” teriak Martin.


Shezie berjalan semakin dekat pada Martin.


“Apa maksudmu dengan ibuku? Kau telah berbohong mengatakan kau yang membayar biaya rumah sakit ternyata bukan kau yang membayarnya!” teriak Shezie dengan kesal.


Martin terkejut mendengarnya, bagaimana Shezie bisa tahu soal itu?


“Aku sudah tahu kebohonganmu Martin! Kau pura-pura membayar semua biaya rumah sakit supaya mendapat simpati dari ibuku!” kata Shezie.


Henry yang mendengar perkataan Shezie sangat terkejut, diapun mendekati Shezie.


“Sayang, apa maksudmu dengan biaya rumah sakit?” tanya Henry.


“Ada orang yang membiayai berobat ibuku dan dia mengaku ngaku yang membayarnya! Dasar pembohong besar!” maki Shezie pada Martin.


“Dia? Dia mengaku yang membayar biaya rumah sakit ibumu?” tanya Henry.


“Iya,  ada yang membayar biaya rumah sakit tanpa mencantumkan identitasnya,” jawab Shezie.


Henry langsung saja menoleh pada Martin dan bogem mentah kembali mendarat diwajahnya Martin, sampai Martin sempoyongan menabrak tembok dibelakangnya.


“Henry! Kenapa kau memukulnya lagi? Aku tidak mau dia mati!” teriak Shezie.


“Karena itu memang pantas buat pembohong besar seperti dia!” jawab Henry.


Henry menoleh pada Shezie.


“Aku yang membayar biaya rumah sakit ibumu,” jawab Henry, membuat Shezie terkejut begitu juga dengan Martin, ternyata dugaannya benar yang membayar biaya rumah sakit adalah Henry.


“Jadi…kau yang membayar biaya kemo ibuku?” tanya Shezie, dengan heran karena waktu itu dia baru mengenal Henry dan pria itu belum  mengatakan menyukainya ternyata Henry sudah sangat perhatian padanya dari dulu.


“Kenapa kau tidak bilang itu padaku?” tanya Shezie.


“Aku melakukannya karena aku tulus ingin membantumu,” jawab Henry.


Shezie benar-benar terkejut, terbongkar sudah  kebohongan Martin, ternyata yang membayar biaya rumah sakit adalah Henry dan ayah mertuanya. Dan Martin, Martin… Shezie menoleh pada Martin, dia langsung mendekat dan menatapnya tajam pria yang babak belur itu.


Tidak ada kata yang bisa diucapkannya selain… Plaaaak! Sebuah tamparan mendarat dipipinya Martin.


“Itu karena kau sudah membohongiku dan ibuku!” bentak Shezie.


Kemudian … Plaaak! Tamparan kedua.


“Itu karen kau sudah menjualku pada pria itu!” maki Shezie.


Martin merasakan tamparan itu dan memeganag pipinya dengan kesal. Berani-beraninya Shezie menamparnya. Diapun akan membalasnya, menaikkan tangannya tapi terhenti karena terdengar suara kaki-kaki memasuki kamar itu.


“Ada apa ini?” terdengar suara pria yang berdatangan ke tempat itu. Dua orang satpam masuk ke kamar itu.


“Kami mendapat laporan dari tamu, kalian sudah membuat keributan!” kata Pak Satpam.


“Bawa dia Pak! Dia menjual mantan istriku. Aku yang akan membuat laporan ke polisi!” kata Henry.


Martin terkejut saat satpam itu menghampirinya, dia akan berontak tapi satpam itu segera


meringkusnya, memutar tangannya kebelakang membuatnya tidak bisa berkutik.


Martin menoleh pada Henry dan Shezie.


“Awas kalian!” makinya, lalu digiring oleh satpam supaya keluar.


Pak Jodi akan pergi ditahan oleh Henry.


“Pak Jodi, kau harus menjad saksi,” kata Henry.


“Tapi Pak,” ucap Pak Jodi.


“Aku akan meminta ayahku menarik saham diperusahaanmu kalau kau tidak mau jadi saksi,” kata Henry.


“Baik, baiklah, aku akan menjadi saksi,” ucap Pak Jodi, diapun berjalan mengikuti satpam.


Shezie menoleh pada Yulia.


“Ternyata kau benar, kau wanita yang dicari Martin, kau tidak perlu khawatir, kau bisa memiliki Martin karena aku batal menikah dengannya,” kata Shezie.


Yulia tidak menjawab, satpam mendekatinya.


“Tolong jangan bawa-bawa aku dalam masalah ini, aku tidak tahu menahu,” ujar Yulia.


“Anda akan jadi saksi atas kejadian ini, cepat berpakaian!” kata Satpam.  Yuliapun menurut dan segera berpakaian.


Henry menoleh pada Shezie. Tangannya langsung memeluk bahu Shezie.


“Aku akan menelopon pengacara untuk mengurus masalah ini, Martin tidak boleh lepas,” ucap Henry sambil mengeluarkan ponselnya lalu menelpon seseorang.


Shezie melihat satpam membawa Yulia keluar dari kamar itu. Dilihatnya pria yang sedang menelpon itu, pria tampan yang selalu dirindukannya. Ada bahagia yang tidak terkira saat melihatnya. Betapa hari perhari tanpa pria ini  begitu menyiksa batinnya, dia sangat mencintainya.


Henry selesai menelpon lalu menoleh pada Shezie yang sedang menatapnya.


“Pengacaraku akan ke kantor polisi,” kata Henry.


 “Setelah dari kantor polisi aku akan membawamu pulang,” lanjutnya.


“Kau akan mengantarku pulang?” tanya  Shezie.


“Bukan, aku akan membawamu pulang ke rumahku, ke rumah orangtuaku, mereka pasti senang tau kau hamil bayiku,” jawab Henry.


Airmata Shezie kembali menggenang dikelopak matanya, dia sangat terharu akan bersama lagi dengan Henry.


"Sudah jangan menangis lagi, kau sudah aman bersamaku,” ucap Henry, sambil memeluk Shezie dan sebelah tangannya kembali mengusap airmata itu.


“Ayo kita pulang, kasihan bayinya kedinginan,” ucap Henry, sambil membuka jasnya dan dipakai ke tubuhnya Shezie. Dirapih-rapihkannya jas itu supaya bisa menutupi seluruh tubuhnya Shezie lalu ditatapnya wanita didepannya itu.


Henry menundukkan kepalanya, mendekati wajahnya Shezie lalu mencium bibir wanita itu dengan lembut.


“Aku bahagia kita bisa kembali bersama,” ucap Henry, setelah melepas ciumannya.


“Kau belum bertanya apakah aku akan kembali padamu atau tidak,” kata Shezie.


“Aku tidak perlu bertanya, memang seharusnya kau kembali padaku,” jawab Henry, sambil tersenyum, membuat Shezie juga tersenyum.


“Kau memang suka memaksa,” ucap Shezie.


Henry kembali menunduk mencium pipinya Shezie.


“Ayo kita pulang,” ajak Henry, sambil memeluk bahunya Shezie.


“Kau antar aku pulang ke rumahku saja, Ibuku sudah menunggu, ini sudah terlalu malam, belum kita harus ke kantor polisi dulu kan,” kata Shezie.


“Hemm baiklah, besok aku akan membawamu kerumahku,” ucap Henry yang diangguki Shezie. Merekapun meninggalkan hotel itu.


*******


Readers ingat ya likenya di tiap bab


 ******