
Hanna sedang berada dikamarnya saat asisten rumah tangganya mengetuk pintu kamarnya. Dengan lesu dan wajah yang sembab karena terus saja menangis, dibukanya pintu kamarnya.
“Ada tamu, Non,” kata wanita itu.
“Siapa?” tanya Hanna.
“Pak Satria,” jawab ART nya lagi.
Hanna terkejut mendengar nama Satria. Tanpa fikir panjang lagi, dia langsung keluar dari kamarnya, berlari menuju ruang tamu.
Dilihatnya Satria sedang berdiri di dekat pintu, di dekatnya ada koper-koper miliknya.
“Satria!” panggil Hanna.
Satria menatap Hanna dengan keheranan, gadis itu terlihat lusuh dan matanya sembab, semakin membuatnya bertanya-tanya apakah ini ada kaitannya dengan kepergian kakaknya.
“Aku mengantarkan barang-barangmu. Sebenarnya kakakku menyuruh supir yang mengantarkannya tapi aku fikir lebih baik aku yang mengantarkannya,” kata Satria.
Mendengar perkataan Satria, hati Hanna semakin hancur, Damian mengembalikan semua barang-barangnya, apakah itu artinya Damian benar-benar memilih untuk meninggalkannya?
Matanya kembali berkaca-kaca, matanya sudah terasa perih karena terus saja menangis.
“Masuklah!” ajak Hanna.
Satria membawa koper-koper itu masuk lalu disimpan di dekat tembok tidak jauh dari pintu. Kemudian dia melangkah menuju kursi ruang tamu itu, duduk berhadapan dengan Hanna. Sejenak tidak ada yang bicara. Satria bisa melihat kesedihan di wajahnya Hanna.
“Apa telah terjadi sesuatu?” tanya Satria, menatap Hanna.
Kakak ipar palsunya itu tidak menjawab.
“Kakakku pergi tanpa memberi penjelasan padaku, tapi aku yakin pasti telah terjadi sesuatu, dia tidak pernah bersikap seperti ini,” kata Satria.
“Apa maksudmu Damian pergi?” tanya Hanna, balas menatap Satria.
“Dia meninggalkan kota ini, akan ke luar negeri dalam waktu lama,” jawab Satria.
Mata yang tadi berkaca-kaca itu ini meneteskan airnya kembali, membuat Satria yakin memang telah terjadi sesuatu antara kakaknya dan Hanna.
“Apa kalian bertengkar?” tanya Satria, sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya.
Hanna menggeleng, hatinya begitu sedih ternyata Damian benar-benar telah meninggalkannya.
“Kalian putus?” tanya Satria lagi.
Ditanya begitu Hanna malah terisak.
“Damian meninggalkanku,” ucapnya disela isaknya, membuat Satria terkejut. Rasanya tidak percaya kakaknya meninggalkan Hanna, dia tahu kakaknya sangat mencintai Hanna.
“Itu yang ingin aku tanyakan. Kakakku sangat mencintaimu, tidak mungkin dia pergi kalau tidak terjadi sesuatu,” kata Satria.
Hanna menghapus airmatanya lagi, kembali menatap Satria.
“Jadi kakakmu tidak bercerita kalau Cristian adalah adiknya?” tanya Hanna. Jawaban Hanna itu tentu saja membuat Satria terkejut.
“Kau ini bicara apa? Apa maksudmu Cristian adik kakakku? Itu artinya Cristian juga adalah kakakku?” tanya Satria, menatap Hanna.
Hati Satria serasa bercampur aduk, antara kaget dan tidak percaya, dia tidak mengerti dengan semua ini. Ibunya sebelum pulang tidak mengatakan hal itu, Damian juga pergi tidak mengatakan apa-apa.
“Saat Bu Sony berpisah dengan ayahmu, dia sedang hamil, dan bayi itu adalah Cristian. Damian baru mengetahuinya tadi saat dia dan Bu Sony kesini akan melamarku,” jawab Hanna.
Satria semakin terkejut saja, dia tidak menyangka kalau Cristian itu kakak seayah dengannya.
“Jadi itu yang menyebabkan kakakku pergi? Karena tahu kalau Cristian adalah adiknya?” tanya Satria.
Hanna mengangguk. Sariapun terdiam. Sekarang dia sudah tahu alasan kepergian kakaknya.
Satria menatap Hanna yang masih saja menghapus tetes-tetes airmatanya. Satria juga bingung kalau kenyataannya begini. Pastilah kakaknya mengalah melepaskan Hanna karena tidak mau bertengkar dengan adiknya.
“Kakakmu meninggalkanku,” ucap Hanna, airmata itu kembali menetes, lalu dihapusnya lagi.
Satria merasa kasihan melihatnya, tidak ada lagi senyum di bibir kakak iparnya itu juga kakaknya sebelum pergi.
“Apakah Cristian tahu soal ini?” tanya Satria.
“Sepertinya belum, karena ibunya Damian juga tahu Damian dan Cristian adik kakak saat mereka kesini,” jawab Hanna.
Satria tidak bicara lagi, dia juga merasa bingung kalau kenyataannya begini.
“Jadi Damian benar-benar pergi?” tanya Hanna dengan lirih seakan bicara pada diri sendiri.
“Iya. Tapi aku tahu dia sangat mencintaimu. Hatinya juga hancur. Kakakku tidak akan menyerah kalau kenyataannya tidak seperti ini. Kakakku pasti melakukannya karena dia tidak mau menyakiti Cristian,” jawab Satria.
Dalam benaknya dia terus berfikir apa yang harus dilakukannya untuk menyatukan kakaknya dan Hanna? Apakah dia harus bicara dengan Cristian? Karena dia juga tahu kakak iparnya itu mencintai kakaknya, tidak seharusnya mereka berpisah. Tapi mungkin Cristian akan sakit hati kalau Hanna kembali pada kakaknya.
Sepulangnya dari rumah Hanna, Satria berikir keras tentang hubungan kakaknya dengan kakak iparnya. Dia bukan berpihak pada kakaknya, tapi dia juga tahu kakak iparnya mencintai kakaknya, Hanna pasti terpaksa menikah dengan Cristian. Sepertinya dia harus bicara dengan Cristian, fikirnya.
*************
Malam semakin larut, sosok tubuh tinggi itu berdiri di pinggir kolam renang yang menghadap kearah pantai dikejauhan. Suara gemuruh ombak yang menghantam karang masih terdengar jelas dari sana. Sinar bulan yang bulat menyinari air di pantai itu menimbulkan cahaya di gemericik air yang beriak.
Angin malam terasa dingin menusuk-nusuk kulit, tapi sepertinya dinginnya malam tidak membuat sosok itu meninggalkan tempetnya berdiri. Matanya menerawang jauh ke pantai itu, menatap kegelapaan malam di kejauhan.
Sebuah gelas berisi minuman ada ditangan kanannya, dia beberapa kali meminumnya sampai isinya habis. Diapuan membalikkan badannya, mengalihkan pandangannya.
Kini tatapan matanya melihat bangunan megah rumah mewah yang dibelinya dengan harga yang fantastic. Sebuah rumah yang tidak terlalu besar tapi memilki lokasi yang sangat strategis di dekat pantai dengan arsitektur yang sangat indah. Rumah gambaran impian wanita yang dicintainya, wanita yang kini terpaksa harus dihapusnya dalam hidupnya.
Sosok pria itu adalah Damian, dia tidak pergi keluar negeri, dia memilih kembali ke Bali, tinggal di rumah impiannya Hanna, entah untuk sementara entah untuk selamanya.
Damian teringat kembali kapan dia membeli rumah itu, yang dibelikannya dengan secara tiba-tiba karena Hanna menginginkannya. Entah berawal darimana dia merasa selalu ingin membahagiakan wanita itu, dia tidak peduli dengan uang yang dimilkinya, dia hanya ingin wanita itu terlihat tersenyum dan tertawa.
Hanna adalah satu-satunyanya wanita yang membuatnya merasa harta bukanlah segala-galanya tanpa kehadirannya. Dia tidak peduli berapa banyak uang yang dihabiskannya asal wanitanya merasa bahasia. Tapi semua itu hanya tinggal kenangan, dia harus melupakan Hanna meskipun sangat berat.
Tiba-tiba terdengar suara langkah sepatu menaiki tangga menuju kolam renang itu. Dari samping kolam renang itu muncullah seorang gadis cantik dengan gaun yang mempertontonkan keindahan tubuhnya. Dari kejauhan gadis itu tersenyum manis, langkah kakinya semakin mendekati tempat berdirinya Damian.
“Kau menelponku sangat tiba-tiba, untung saja acara makan malam dengan tunanganku sudah selesai, kalau tidak, malam ini kau pasti akan terjun ke jurang itu!” kata gadis yang baru datang itu, berjalan semakin mendekati Damian.
Gadis itu berjinjit akan mencium pipinya Damian, tapi pria itu bergerak menjauh, membuat gadis itu keheranan menatapnya.
“Tumben sekali kau tidak mau kucium?” tanya gadis itu.
“Aku sudah terbiasa istriku yang menciumku. Aku tidak suka ciuman dari gadis yang lain,” jawab Damian membuat gadis itu tertawa lalu mencibir.
“Kalau kau sangat mencintainya, seharusnya kau jangan meninggalkannya!” kata gadis itu sambil duduk di kursi kayu yang ada dipinggir kolam, menghadap kearah pantai.
Damian tidak menyahut, dia hanya menyimpan gelas kosong diatas meja, kemudian berjalan lagi lebih mendekati kearah pantai dan berdiri disana.
“Apa yang akan kau lakukan sekarang? Kau tinggal disini memilih untuk melupakannya?” tanya gadis itu.
“Tidak ada lagi yang bisa aku lakukan,” jawab Damian, lalu menoleh pada gadis itu dan menatapnya, membuat gadis itu keheranan.
“Ada apa?” tanya gadis itu.
“Aku sudah membohongi Hanna kalau kau seorang transgender,” jawab Damian membuat gadis itu terbelalak kaget.
“Apa maksudmu? Enak saja kau bilang begitu padanya! Pantas saja dia terus terusan melihatku dari atas sampai bawah! Kau keterlaluan!” teriak gadis itu.
“Aku suka saja menggodanya, Maria. Dia sangat lucu kalau sedang cemberut,” ucap Damian sambil tersenyum.
“Aku juga suka cemberut, tapi kau tidak pernah mengatakan aku lucu,” ucap gadis itu yang ternyata Maria.
“Kua kan bukandia,” jawab Damian, kembali membalikkan badannya menatap ke arah pantai lagi, membicarakan Hanna membuatnya semakin merindukannya saja.
“Aku merindukannya, selalu merindukannya. Meskipun aku sudah pergi jauh bayang-bayangnya seakan mengikuti kemanapun aku pergi,” ucapnya pelan.
Maria merasa sedih mendengarnya, matanya menatap punggung pria tinggi gagah itu.
“Seharusnya kau mau berjuang sedikit lagi, kau jangan menyerah seperti ini. Kau harus bicara dengan adikmu,” kata Maria. Damian tidak menjawab.
“Tidak pernah kau mencintai gadis seperti ini, kau akan sulit melupakannya, itu tidak bagus untuk dirimu sendiri,” lanjut Maria.
“Aku tidak mau menyakiti adikku, adikku lebih dulu mencintainya dari pada aku. Dia bahkan menyukai Hanna dari kecil makanya dia memilih tinggal bersama kakeknya,” ucap Damian. Sekarang Maria yang terdiam.
Damian membalikkan badannya menatap Maria, dia melihat sebuah kursi yang ada di sebelahnya Maria. Kini bayangan Hanna yang berbaring di kursi itu kembali muncul. Benar kata Maria dia tidak akan mudah melupakan Hanna. Dalam bayangannya, Hanna tidur di kursi itu sendiri dengan kedinginan menunggunya pulang. Kemudian bayangan itupun menghilang.
“Aku adalah kakaknya, aku merasa bertanggung jawab pada adik-adikku, apalagi Cristian tidak pernah melihat sosok ayah. Hatinya akan hancur kalau tahu kakaknya mengambil calon istrinya, dia akan membenciku seumur hidupnya, aku tidak mau itu terjadi,” lanjut Damian.
“Tapi kau menyakiti dirimu sendiri, juga istrimu. Apa kau tidak memikirkan perasaan istrimu itu? Dia juga mencintaimu kan? Apakah dia akan bahagia berpisah denganmu dan menikah dengan adikmu? Aku rasa tidak! Kau memikirkan adikmu tapi kau melupakan perasaannya! Dia juga tersakiti dengan sikapmu ini,” kata Maria.
Damianpun terdiam, Maria benar. Sekarang Hanna pasti sedang sedih karena dia meninggalkannya. Dia tidak sanggup melihat airmatanya Hanna, dia ingin melihat Hanna tersenyum tapi dia memberikan kesedihan pada gadis itu.
“Dia pasti sedang bersedih sekarang, dia pasti sakit hati kau meninggalkannya,” lanjut Maria.
“Aku tidak punya pilihan lain,” kata Damian, sambil membalikkan badannya kembali melihat ke arah pantai lagi.
Damian merasakanan separuh jiwanya hilang, dia merasa hampa, hatinya kembali kosong seperti saat dulu sebelum bertemu Hanna. Perlahan dia menghela nafas panjang, mencoba melepaskan segala beban yang dirasanya.
Tatapannya kembali jauh ke pantai itu. Pemandangan ini tidak berbeda jauh dengan pantai tempat Hanna tinggal, tempat dimana separuh jiwanya tertinggal disana.
*************
Jangan lupa like dan vote ya...dukung author biar semangat bisa menyelesaikan novel ini, cos authornya sudah mulai sibuk lagi dengan pekerjaan di dunia nyata.
**********