
Hanna melirik suaminya. Dia mengerti dengan sikapnya Damian.
“Pergilah, dia ingin bicara denganmu,” ucap Hanna.
Damian menoleh pada istrinya sebentar, setelah mendapat ijin dari istrinya, barulah Damian menghampiri Bu Vina.
Shezie bangun dari duduknya, memberi tempat buat Damian duduk. Damianpun duduk disana.
Bu Vina menatap Damian tanpa bicara, perlahan airmata menetes dipipinyu Bu Vina.
Damian masih terdiam, dia bingung bersikap, dia tidak bisa memeluk atau menghiburnya, bisa -bisa Hanna akan marah jika dia melakukan itu.
“Jangan menangis..kau harus bertahan,” ucap Damian, akhirnya bicara.
“Aku..aku..masih mencintaimu Damian…” ucap Bu Vina, membuat seisi ruangan terdiam. Apalagi Hanna, dia tidak menyangka Ibunya Shezie akan mengatakan itu.
“Tapi…aku sudah bisa menerima kenyataan..” ucap Bu Vina.
Damian masih terdiam.
“Kau sudah tidak mencintaiku lagi…” lanjut Bu Vina.
“Aku minta maaf,” ucap Damian.
“Shezie…Shezie sedang hamil… “ ucap Bu Vina.
“Iya aku tahu,” jawab Damian.
Bu Vina terdiam lagi, dia mengatur nafasnya, sepertinya nafasnya semakin berat saja.
“Aku panggilkan Dokter,” kata Shezie, sambil segera berlari keluar ruangan.
Tidak berapa lama Dokter Arfan masuk dan langsung memeriksanya.
“Bagaiman Dok? Ibuku lebih baik?” tanya Shezie dengan tidak sabar.
“Tadi ibuku bisa bicara Dok,” kata Shezie.
“Sepertinya Ibumu tidak akan bertahan lama,” ucap Dokter.
“Ibumu sangat lemah,” lanjut Dokter.
“Jadi tidak bisa dibawa ke Luar Negeri Dok?” tanya Shezie.
“Kita tidak bisa membawanya ke Luar Negeri dalam keadan seperti ini, perjalanan ke Luar negeri juga akan membuatnya semakin lelah. Kita butuh waktu melihat perkembangannya, kata Dokter Arfan.
Sheziepun terdiam.
“Tolong dilihat jika ada perkembangan baru cepat beritahu,” kata Dokter Arfan.
“Baik Dok,” jawab Shezie.
Matanya bertemu dengan matanya Hanna.
“Kau yang sabar ya,” ucap Hanna. Sheziepun mengangguk. Diapun kembali mendekati Ibunya yang kini terpejam kembali, seperti tertidur. Dia merasa bingung dan hampa, apakah ini saatnya dia akan kehilangan ibunya untuk selama-lamanya?
Disentuhnya tangan ibunya lalu diciumnya.
“Aku sangat sayang Ibu,” ucapnya.
“Aku selalu berusaha supaya ibu bertahan dan bisa menemaniku lebih lama lagi,” lanjutnya.
“Tolong bertahanlah Bu, aku akan melakukan apapun untuk kesembuhan Ibu,” ucapnya.
Hanna yang melihat Shezie terus menangis, menghapus airimata yang menggenang di kedua matanya. Dia bisa merasakan bagaimana sedihnya Shezie. Manantunya itu rela menikah dengan putranya demi uang untuk berobat ibunya, sungguh anak yang sangat berbakti.
Terdengar suara langkah-langkah mendekati ruangan itu, ternyata Henry dan Bi Ijah tiba disana.
“Sayang, ini baju pengantinnya,” kata Henry sambil memeriksa bungkusan kain batik itu.
Hanna menatap bungkusan kain itu. Dia tidak tahu apa isi dari kain itu. Baju pengantin, baju pengantin apa? Apakah baju pengantin saat menikah dengan Henry?
Shezie menerima kain itu dan membukanya, ternyata benar, itu baju pengantinnya Shezie dan Henry saat itu Shezie meminta baju pengantin itu.
Shezie menoleh pada Hanna.
“Bu, ini baju pengantinku dengan Henry, aku bersikeras memintanya waktu itu, karena gaun pengantinnya banya mutiaranya, dan aku berenca menjualnya untuk pengobatan Ibu,” ucap Shezie, arimata kembali menetes dipipinya.
Henry tertegun mendengarnya. Dia ingat bagaimana dia sampai harus bertengkar dengan Shezie karena Shezie menginginkan baju pengantinnya itu gara -gara ingin menjual mutiaranya.
Hanna tidak bisa menahan airmatanya lagi, dia tidak tahu begitu besar perjuangannya Shezie untuk ibunya.
Didalam gulungan baju itu Shezie mengeluarkan sebuah kotak dan dibukanya, lalu menatap Henry.
“Ini, cincin pernikahan kita, cincin ini tidak pernah hilang atau aku jual, aku menyimpannya,” kata Shezie.
Tangan Henry mengulur menghapus airmata dipipinya Shezie. Ternyata dugaannya salah, dia fikir Shezie sudah menjual cincin pernikahan mereka.
Shezie menoleh pada Ibunya dan berjalan mendekat.
“Bu, aku akan memakai baju pengantin ini, ini baju pengantinku dengan Henry. Maaf aku berbohong waktu itu pada ibu dan masih terus menyimpan baju pengantin ini,” ucap Shezie, lalu mengusap airmatanya dan pergi ke kamar mandi, diapun memakai baju pengantin itu.
Tidak berapa lama, Shezie keluar dari kamar mandi itu sudah berbaju pengantin. Henry mengulurkan tangannya menuntun Shezie mendekati Ibunya.
“Bu..Bu… aku sudah memakai bajunya,” kata Shezie dengan lirih, airmaat terus mengalir menganak sungai.
Tidak ada reaksi apa-apa dari Bu Vina. Sampai akhirnya kelopak matanya bergerak.
“Bu…” panggil Shezie lagi, berdiri menatap Ibunya.
Bu Vina membuka matanya perlahan, menatap Shezie yang berdiri di dekatnya sudah memakai baju pengantin.
“Aku minta maaf, Ibu tidak menghadiri pernikahanku,” ucap Shezie.
Bu Vina menatapnya lalu tersenyum.
“Kau sangat cantik,” ucapnya, dari sudut matanya kembali menetes airmatanya.
Lalu mata itu beralih pada Henry.
“Jaga putriku,” ucapnya.
“Aku akan menjaga putrimu dengan baik,” ucap Henry.
Matanya Bu Vina beralih pendangannya kesudut ruangan itu. Disana ternyata Hanna sedang berdiri sambil terisak-isak menghapus airmatanya. Dia tidak kuat melihat momen menyedihkan ini.
Semua mata kini melihat kearahnya.
Hanna menatap semua mata itu satu persatu lalu pada Bu Vina.
“Kau ingin bicara denganku?” tanya Hanna pada Bu Vina, tapi ibunya Shezie tidak menjawab, dia terlihat semakin lemah.
Hanna menghampiri ibunya Shezie, perlahan, berdiri disamping Henry.
“Aku…aku titip putriku…” ucap Bu Vina dengan lirih.
“Ya..aku akan menjaga putrimu,” jawab Hanna, mengangguk.
Bu Vina menoleh pada Shezie lagi, menatapnya terus. Semua hening tidak ada yang bicara.
“Jaga cucuku,” ucapnya hampir tidak terdengar.
Shezie mengangguk dengan deraian airmata, sudah tidak bisa berkata-kaata lagi.
Bu Vina mencoba mengambil nafas perlahan, kemudian terlihat susah sekali bernafas.
“Bu, Bu!”Shezie mendekati Ibunya.
“Bu!” panggil Shezie.
“Bu!” panggil Shezie lagi.
Kemudian terdengar tuuuuuuuuuut….alat pendeteksi jantung itu kini hanya menjadi garis lurus.
“Bu! Ibuu!” teriak Shezie panik.
“Dokter! Dokter! Ibuku Dokter!” teriaknya histeris.
Henry segera memanggil Dokter Arfan yang segara datang memeriksanya.
“Ibu!” Shezie beranjak menjauh sambil terus menangis, Hanna segeramemeluknya.
Shizie melihat Dokter membantu menyelamatkan ibunya dengan segala macam cara dibantu asistennya.
“Kau yang sabar,” ucap Hanna, terus memeluk Shezie.
“Maaf,” tiba-tiba ucapan itu keluar dari mulutnya Dokter Arfan.
Shezie menoleh kearah Dokter Arfan. Menatap mata Dokter itu.
“Ibumu tidak bisa diselamatkan,” jawab Dokter Arfan.
“Ibuuuuu!” teriak Shezie, langsung berhambur menghampiri ibunya dan memeluknya.
“Bu! Bangun Bu! Bangun!” teriaknya.
“Bu jangan tinggalkan aku!” teriak Shezie, terus memeluk ibunya dan menangis.
Hanna terus-terusan menghapus airmatanya. Damian menghampiri dan memeluknya. Dia juga sedih menyaksikan wanita yang pernah ada dalam hidupnya dimasa lalu itu menghembuskan nafas terakhirnya didepannya didepan keluarganya.
“Bu! Aku minta maaf karena aku kurang berkerja keras untuk mengobati Ibu,” ucap Shezie.
“Tidak sayang, kau sudah berbuat yang terbaik, kau sudah melakukan semaksimal mungkin,” kata Henry, menyentuh bahu Shezie.
Shezie bangun dan menatap Henry.
“Ibumu sudah tidak merasakan sakit lagi,” ucap Henry, lalu memeluk Shezie yang terus saja menangis meratapi kepergian ibunya.
********
Kuburan itu terlihat masih merah dengan bunga-bunga yang bertaburan diatasnya. Inilah tempat tidur terakhir Ibunya Shezie.
Kedua mata Shezie tampak sembab karena terus menangis. Kehilangan keluarga satu-satunya yaitu ibunya sangat begitu menyesakkan dada, dunia ini terasa begitu hampa. Penyemangat hidupnya untuk berjuang sudah tidak ada lagi.
“Sayang, ayo kita pulang,” ajak Henry, sambil menoleh pada ayah dan ibunya yang sudah menunggu mereka dipinggir jalan raya.
Shezie menoleh pada Henry. Henry mengangukkan kepalanya.
“Kita pulang ke rumahku, kau akan selalu bersamaku, aku sudah berjanji pada ibumu, akan selalu menjagamu dan bayi kita,” ucap Henry.
Shezi hanya mengangguk. Henry mencium keningnya Shezie, lalu memeluk bahunya, mengajaknya meninggalkan pemakaman itu.
*************
Jangan lupa Like di tiap bab.
**************