
Cristian mendatangi Pak Louis yang sedang berada dikantornya.
“Tumben sekali kau kesini?” tanya Pak Louis.
“Aku butuh bantuan paman,” jawab Cristian.
“Soal apa?” tanya Pak Louis.
“Paman kan banyak kenalan pejabat daerah, kira-kira ada yang bisa membantuku mencari informasi sesuatu?” tanya Cristian, setelah duduk di kursi yang ada diruangan kantornya Pak Louis.
“Tentang apa?” tanya Pak Louis.
“Tentang catatan pernikahan,” jawab Cristian, ragu-ragu. Tapi dia benar-benar penasaran dengan status pernikahannya Damian dan Hanna, dimana mereka menikah?
“Kau mencari data pernikahan siapa?” tanya Pak Louis.
“Maaf Paman, aku ingin tahu kapan Hanna dan Damian menikah,” jawab Cristian.
Pak Louis menatap Cristian.
“Kenapa? Kau mencurigai sesuatu?” tanya Pak Louis.
“Tidak apa-apa paman, aku hanya ingin tahu kapan mereka menikah saja,” jawab Cristian.
Sebenarnya dia juga tidak mau minta bantuan Pak Louis, cuma Pak Louis punya banyak koneksi pejabat tinggi, yang akan memudahkannya mencari informasi diberbagai daerah juga jika ternyata Damian tidak menikah dikota ini.
“Kenapa kau tidak langsung tanya Hanna saja?” tanya Pak Louis.
“Karena aku merasa mencurigai sesutau,” jawab Cristan.
“Mencurigai apa?” tanya Pak Louis.
“Ah aku hanya ingin memastikan saja,” jawab Cristian.
“Sebenarnya Paman juga merasa aneh kenapa Hanna menikah dengan orang asing? Dia pergi dari pernikahan kalian dan langsung menikah lagi dengan Damian, sungguh aneh. Tapi karena Hanna sedang hamil sekarang, tidak ada yang bisa aku lakuan,” kata Pak Louis.
Cristianpun terdiam. Dalam hatinya dia harus memecahkan teka teki ini.
“Baiklah kau boleh menghubungi seorang temanku yang bisa membantumu. Hasilnya kau beritahu aku,” jawab Pak Louis.
Kemudain Pak Louis memberikan sebuah nomor telpon yang akan Cristian hubungi tentang informasi pencatatan pernikahan.
“Terimakasih Paman,” jawab Cristian. Tidak berapa lama Cristian keluar dari ruangan itu, meninggalkan kantornya Pak Louis.
Sore harinya…
Pak Louis pulang kerumah, didapatinya Hanna tidak ada dirumahnya.
“Kemana Hanna?” tanya Pak Louis pada Bu Astrid yang menghampirinya sambil membawakan teh lalu disimpan diatas meja.
“Pulang lagi bersama suaminya,” jawab Bu Astrid.
Pak Louis tidak bicara lagi, dia menghela nafas panjang, duduk bersandar ke sandaran kursi.
“Putri kita sangat mencintai Damian, pria itu terlihat baik,” kata Bu Astrid, duduk disamping suaminya, menatap wajah yang terlihat lelah itu.
Pak Louis masih tidak bicara lagi, Dia masih kecewa pada Hanna yang memilih pria lain selain Cristian.
“Pak, Hanna berpesan supaya Bapak membantu pekerjaannya Damian,” kata Bu Astrid.
Pak Louis masih diam.
“Proyeknya Damian itu memakai namanya putri kita katanya itu hadiah buat putri kita. Apa benar begitu?” ucap Bu Astrid lagi.
“Aku tidak tahu soal itu, tapi memang nama proyeknya Hanna Grand Lakeside,” jawab Pak Louis.
“Itu katanya nama Hanna. Itu artinya pria itu sangat mencintai putri kita, Pak. Hanna ingin ikut peresmiannya nanti bersama suamainya, mungkin pas persmian bayinya sudah lahir,” kata Bu Astrid lagi.
Pak Louis tidak menjawab lagi.
“Bantu ya Pak. Mereka kan sudah menikah dan juga Hanna sedang hamil, jadi buat apa kita melarang-larangg mereka, sudah tidak perlu lagi,” kata Bu Astrid.
“Aku tidak tahu pria itu baik atau tidak perangainya, kita juga tidak mengenal keluarganya,“ ucap Pak Louis.
“Damian itu berpisah dengan ibunya sejak kecil Pak, sampai sekarang tidak pernah bertemu lagi,” ucap Bu Astrid, membuat Pak Louis mengerutkan dahinya dan menoleh pada istrinya.
“Jadi dia berpisah dengan ibunya?” tanya Pak Louis.
“Iya, kasihan dia. Jadi dia tinggal bersama ayahnya dan ibu tirinya di luar negeri,” jawab Bu Astrid.
“Kasihan sekali dia,” ucap Pak Louis.
“Ceritanya hampir sama dengan Bu Sony, dia juga berpisah dengan putranya saat putranya masih kecil,” kata Bu Astrid.
“Iya, Pak Sony itu menikah dengan ibunya Cristian saat Cristian umur beberapa bulan,” ucap Pak Louis.
“Cristian? Cristian bukan putranya Pak Sony? Bapak tidak pernah cerita soal ini,” kata Bu Astrid.
“Ya karena Pak Sony sudah mengangap Cristian anak sendiri. Pak Sony itu kurang sehat jadi dia tidak memiliki anak, makanya semua di rahasiakan, supaya Cristian tidak mencari ayah kandungnya,” jawab Pak Louis.
“Jadi Cristian tidak tahu kalau Pak Sony bukan ayahnya?” tanya Bu Astrid.
“Tidak. Pak Sony minta merahasiakan semua ini. Dia sangat menyayanginya, ” jawab Pak Louis.
Bu Astridpun terdiam, dia tidak menyangka kalau Cristian bukan anaknya Pak Sony.
“Kau jangan bicara lagi pada Cristian atau Hanna soal ini. Kasihan Pak Sony, dia sangat menyayangi Cristian, dia sangat menginginkan punya anak, sampai sekarang kan dia tidak punya keturunan,” kata Pak Louis.
“Apa Bu Sony tidak ingin mempertemukan putranya dengan ayahnya?” tanya Bu Astrid.
“Ya mungkin Pak Sony juga melarangnya,” jawab Pak Louis.
Bu Astridpun terdiam, dia merasa sangat terkejut ternyata Crsitian bukan anaknya Pak Sony.
“Pak soal proyek Damian yang tadi, dibantu ya Pak? Kasihan Hanna. Mau gimana- gimanapun Damian, dia menantu kita. Apalagi kita kan punya cucu. Restui mereka Pak, jangan sampai mereka bercerai, kasihan cucu kita, jangan sampai nanti ke depannya mereka berebut hak asuh anak, kasiha Hanna juga,” pinta Bu Astrid.
Pak Louis kembali menghela nafas panjang.
“Ya sudah aku akan membantunya. Tapi aku ingin Damian sendiri yang bicara padaku, aku tidak suka dia menikahi putriku tidak minta restu dariku,” kata Pak Louis, bangun dari duduknya.
Mendengarnya membuat Bu Astrid merasa senang. Dia ingin putri satu-satunya itu bahagia.
“Aku mau mandi terus ke pantai, ad aperlu dengan Pak Fery,” kata Pak Louis.
“Aku mau menemui Hanna ya Pak, aku ingin melihat tempat tinggalnya,” ucap Bu Astrid.
Pak Louis hanya mengangguk, kalau masuk ke dalam rumah. Bu Astridpun bersiap-siap akan pergi ke tempat tinggalnya Hanna.
Hanna baru selesai mandi dan berpakain saat mendengar bel rumah itu berbunyi.
“Siapa yang datang? Apa Damian pulang? Tumben sekali membunyikan bel,” ucapnya, sambil keluar dari kamarnya.
Saat membukakan pintu, dia tertegun saat melihat seorang wanita yang berdiri disana.
“Ibu!” panggil Hanna, wajahnya langsung berseri-seri.
Bu Astrid tersenyum lebar melihat putrinya menyambutnya.
“Ibu, ada apa ibu kemari? Sendiri?” tanya Hanna, sambil melihat keluar.
“Sendiri,” jawab Bu Astrid.
“Ayo Bu duduk Bu,” ajak Hanna memeluk ibunya masuk dan duduk diruang tengah.
“Jadi kau tinggal disini dengan suamimu?” tanya Bu Astrid.
“Iya Bu, rumah ini Cristian yang mencarikan,” jawab Hanna, sambil duduk bersama dengan ibunya.
“Ibu kesini ayah tahu?” tanya Hanna.
“Iya sudah ijin ayahmu,” jawab Bu Astrid, menatap Hanna.
“Ada apa?” tanya Hanna, hatinya langsung saja gelisah.
“Ayahmu akan membantu proyeknya Damian, asal suamimu itu menemuinya,” kata Bu Astrid.
“Benarkah Bu?” tanya Hanna terkejut, menatap ibunya dengan tidak percaya.
“Iya, ayahmu kecewa karena Damian menikahimu tanpa restunya. Kau bilang pada suamimu untuk menemui ayahmu dan minta restunya atas pernikahan kalian,” kata Bu Astrid.
“Sebenarnya waktu itu aku dan Damian sudah minta restu tapi ayah malah mengusirku,” jawab Hanna.
“Mungkin waktu itu ayahmu sedang marah. Tapi sekarang kan marahnya sudah reda, dia juga senang akan mendapat cucu, apa lagi yang bisa kami lakukan selain merestui kalian, menunggu kelahiran cucu kami” jawab Bu Astrid.
Hanna kembali diam. Satu sisi dia senang ayahnya mau berdamai dengan Damian, tapi sisi yang lain dia merasa bersalah kerena telah berbohong soal cucu pada orangtuanya.
“Kau bicara dulu dengan suamimu, besok temui ayahmu dikantornya,” kata Bu Astrid.
“Iya Bu,” jawab Hanna, mengangguk.
“Bagaimana hubungan Damian dengan Cristian?” tanya Bu Astrid.
“Baik, mereka baik-baik saja, meskipun belakangan ini Damian agak cemburuan pada Cristian,” jawab Hanna.
“Sebenarnya ibu juga merasa tidak enak pada Cristian, tapi ya mau bagaimana lagi? Kau sudah menikah dengan Damian dan sedang hamil sekarang.
Merekapun bicara panjang lebar hal yang lainnya.
***********